
Aurel sudah berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Jiwa yang rapuh dan hati yang kesepian tiba tiba saja menghampiri dirinya. Melihat wajah menggemaskan Thiago hatinya sedikit tergelitik. Tadi Matteo berdehem karena aurel ketahuan menciumi kepala Thiago dan bermain main dengan tangan mungil bayi itu. Tatapan Matteo sudah seperti mesin gerinda yang siap mengoyak siapa saja. Dan sekujur tubuh Aurel bergetar melihat tatapan itu.
Aurel membuka pintu kamar dan mendapati Juna suaminya sedang duduk sambil mengotak ngatik laptop miliknya. Pekerjaan memang selalu menjadi pendampingnya kapan pun dan dimana pun.
Aurel pergi ke kamar mandi tanpa menyapa Juna sama sekali. Di kamar mandi dia melihat pantulan dirinya. Body cantik dan seksi. Air matanya menetes membasahi pipinya.
Mama..
Papa...
Aku tidak bahagia. Hidup kelilingi harta tapi aku tidak sebahagia orang orang. Sebut saja Altea.
Aku tidak seberuntung wanita itu.
Tidak adakah yang spesial dari diriku dihadapan semua orang.
Aurel mencoba untuk tetap kuat. Diambilnya tissue dan segera menghapus aliran air mata yang setia turun. Aku harus kuat. Jadilah dirimu sendiri Aurel. bermonolog dengan dirinya sendiri. Setelah itu dia keluar tanpa bersuara sedikit pun. Kemudian dia bergulung dibalik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dibalik selimut dia masih tidak bisa membendung air matanya.
Juna menutup laptop dan menoleh kepada Aurel. Ada yang aneh pikirnya. Biasanya ketika Juna pulang Aurel akan selalu menyapanya bercoleteh panjang lebar kadang dia menawarkan ini dan itu.
Sayang kau sudah pulang ?
Mau aku bantu ?
Aku isi air panas untukmu ya ?
Mau aku pijat ?
Sayang.. mau peluk !
Kalimat ini selalu Juna dengarkan setiap dia pulang kerja. Telinga Juna bahkan sudah kebal mendengar celoteh Aurel yang menurutnya tidak berguna. Ah perhalus saja tidak terlalu penting. Kalau dikatakan tidak berguna sedikit mengerikan bukan?. Ya ya ya Juna memang jarang bicara apalagi bercanda. Dia hanya bicara jika perlu saja.
Wanita itu tidak segan segan langsung bergelayut manja di lengan Juna. Tapi hari ini berbeda. Hari ini Aurel tidak melakukan apa-apa. Seperti ada yang hilang.
Juna membaringkan tubuhnya dan menatap punggung Aurel. Wanita yang dia peristri satu tahun lalu itu membelakanginya.
Juna tidak tau ada apa dengan istrinya. Seperti biasa Juna memang tidak pernah menanyakan apa yang dilakukan wanita itu seharian. Juna memberikan semua fasilitas untuk istrinya dan Juna rasa itu jauh dari kata cukup.
.
.
.
.
__ADS_1
Pagi hari Juna berangkat ke kantor. Dilihatnya Aurel sedang berada di balkon kamar. Juna semakin yakin bahwa istrinya sedang tidak baik baik saja. Juna menghiraukan dia memakai jas kemudian turun.
Aurel melirik kebelakang. memastikan Juna sudah pergi. Kemudian dia menarik senyum getirnya menggelengkan kepalanya mencoba tetap kuat. Dia tau tadi Juna melihatnya tadi. Tapi... ahh kenapa dadaku sesak sekarang.
Aurel melihat cincin pernikahannya dengan Juna masih melilit cantik di jari manisnya.
Sadar atau tidak dia membuka cincin itu dan menyimpannya di dalam saku.
Baiklah...
Sepertinya kita memang tidak berjodoh
Aurel menuruni anak tangga. Dia pergi meninggalkan kediaman Mahaprana. Meninggalkan semua hal yang dia dapatkan dari Juna. Apakah wanita itu sudah menyerah untuk mendapatkan Cinta Juna ?.
Cinta ? Bukankah motto Aurel harta? hanya harta ? . Lalu kenapa dia pulang dan meninggalkan semuanya?.
Bahkan didalam dompetnya hanya ada uang cash 50rb sebagai ongkos taksinya. Kartu debit dan kredit dia tinggalkan di kediaman Mahaprana. Seolah menegaskan jika dirinya tidak membutuhkan itu.
Didalam taksi dia terus berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata.
Aku harus kuat pikirnya. Aku tidak boleh cengeng. Aku Aurel ! wanita yang kuat dan tahan banting.
Taksi yang dia naiki berhenti di depan kediaman kedua orangtuanya. Aurel membuka pintu dan mendapati ruangan tengah keluarganya kosong. Asisten rumah tangga keluarnya menyapa Aurel.
"Halo non... nyonya dan tuan sedang ke luar negeri. kemungkinan pulang lusa. Jika non inginkan sesuatu panggil saya didapur non. "
Asisten rumah tangannya mengangguk kaku.
Ada perubahan yang dia lihat dari nona muda itu.
"Baik non... tapi itu... " wanita paruh baya itu sudah planga plongo harus memulai dari mana menjelaskan.
"Kenapa Bi... " Aurel tadinya sudah berdiri mau melangkah tapi diurungkannya karena dia belum selesai bicara dengan asisten rumah tangga keluarganya.
"Itu non.. kamar non di kunci sama nyonya " Asisten rumah tangganya sudah getar getir sambil menunduk.
"Oh itu. Gak papa Bi . Kunci salinannya ada kok sama ku " Aurel menunjukkan kunci kamarnya nya dengan menggoyangkan jarinya.
"Bukan itu masalahnya non. Kamar non tidak pernah di cek dari pertama non Aurel menikah. Jadi bibi tidak tau apakah kamar nona bersih atau tidak " Wanita paruh baya itu menunduk.
"baiklah bibi. Nanti aku bisa cek sendiri saja. Gak papa " Aurel berdiri. "Jangan lupa nasi gorengku pakai udang yang banyak dan tidak pakai bawang ya bi.. " Aurel tersenyum sambil berlari lari kecil menuju kamarnya.
Bibi asisten rumah tangga itu mendongak tidak percaya. Itu non Aurel kan ? . Dimana non Aurel yang dulu ?. Wanita angkuh yang semaunya memperlakukan pekerja dirumah kediaman orangtuanya.
Pakaiannya harus di cuci dengan penuh kehati-hatian. Salah sedikit saja kena maki. Begitu derita semua pelayan dirumah kediaman orang tuanya dulu. Hingga saat kabar beredar nona muda itu menikah mereka semua bernafas lega.
__ADS_1
Tapi masalahnya dia datang lagi sekarang. Tapi, dia berbeda dari yang dulu mereka kenal.
Bibi asisten buru buru ke dapur mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi setelah ini.
Bukan karena melihat tingkah Aurel yang lebih baik dia langsung percaya itu nona muda mereka sudah berubah. Tidak segampang itu. Dia tau seperti apa Aurel yang asli. Yang asli itu ya Aurel yang cerewet dan angkuh. Itu baru asli.
"Terimakasih bibi " Aurel meletakkan piring kosong kedalam wastafel. bibi asisten langsung gelagapan tidak tau mau bilang apa dan ngapain.
"Iya non sama sama " terakhir dia berbicara juga.
Di malam harinya Aurel sudah berbaring di atas tempat tidur Hati yang sepi dan jiwa yang tidak tenang memenuhi ruang lingkup hatinya.
Aku merindukan mu...
Dia berjalan membuka vertikal blend jendela kaca, menatap gelap malam yang menyelimuti bumi dan isinya.
Dia menerawang kedalam kehidupannya selama satu tahun ini. Tidak ada yang perlu dikenang. Selain Juna pernah mengecupnya ketika penyematan cincin pernikahan selesai.
Wanita itu menangis. Menangis di dalam diam.
Setelah puas menangis dia kembali duduk diatas tempat tidur. Ponselnya dia buka dan melihat layar. tidak ada notifikasi yang masuk. Aurel semakin yakin jika ada dan tidak adanya dia memang tidak ada ngaruhnya untuk Juna suaminya. Buktinya lihat ini sudah jam 10 malam tapi suaminya tidak menghubunginya. Bahkan siapa pun dari keluarga mahaprana tidak ada yang mencarinya.
****
Juna turun dari mobil. Dia berjalan melonggarkan seutas tali dari lehernya. Dibukanya pintu kamar namun kedatangan disambut dengan suasana kamar yang gelap.
"Kemana Aurel ? " Gumamnya sambil melepaskan jas. Kunci mobil berada diatas nakas. itu artinya istrinya keluar dari rumah tidak mengendarai mobil.
Dia akhirnya turun dan bertanya kepada semua pelayan namun mereka juga tidak tau. David dan Ratna juga tidak melihat Aurel dari tadi siang. Keyakinan Juna bertambah jika istrinya sedang tidak baik baik saja.
Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Aurel namun panggilan darinya tidak mendapatkan jawaban.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi " Kalimat itu yang menjawab panggilan Juna.
Ada rasa khawatir dengan wanita itu namun Juna tidak bisa memperlihatkan. Biasanya Aurel stand by menyambut Juna pulang. Jam berapa pun Juna pulang dia selalu ada. Tidak terlewatkan sedetik pun. Kalau pun terlewat jika Juna pulang larut malam atau subuh saja.
Tapi sekarang kenapa dia tidak ada ?
Juna mendesah panjang. Ada apa ini pikirnya.
"Apa sudah diangkat nak ? " Ratna datang tergesa gesa. Panik!. Wanita itu panik. Aurel menantunya dimana sekarang ? .
"Belum mah..mama istirahat saja biar Juna yang menghubungi".
Ratna mengangguk. Dia kemudian berbalik badan.
__ADS_1
Kau dimana ? Juna.
Bersambung...