Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Toko Buku


__ADS_3

Satu minggu setelah Altea memutuskan untuk tidak bekerja , sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan belajar.


Di kampus tidak jarang Altea pergi ke perpustakaan meminjam atau sekedar membaca buku untuk mengisi waktu luangnya.


Dia juga sering menghabiskan waktu dengan sahabatnya, karena semenjak Altea berhenti bekerja, Feren sahabatnya juga ikut berhenti.


Dia tidak seperti minggu minggu yang sudah lalu, setelah pulang kampus dia harus segera pulang untuk bekerja lagi. Bahkan dia juga harus pintar mengatur waktu nya untuk fokus belajar dan bekerja.


Tidak tanggung tanggung Altea bahkan sering tidur subuh untuk menyelesaikan tugas nya. Dia juga sering menggunakan jam break nya di tempat kerja untuk menyelesaikan beberapa tugasnya , beruntung saat itu WiFi di restoran Ibra sangat mendukung setidaknya Altea tidak susah payah untuk mengirim tugas via email kepada dosennya.


Dengan nasehat kedua orangtuanya setidaknya sekarang dia sudah bisa lebih banyak waktu untuk belajar dia juga sangat bersyukur karena kakaknya Albert mau membantu untuk mendukung finansial Altea.


Jadi beban dan tanggungjawab kedua orangtunya sedikit terbantu untuk memfasilitasi semua pembiayaan kuliah Altea.


"Altea.... Feren yang berjalan tergesa menghampiri Altea.


"Ngapain lari lari, kayak dikejar anjing gila saja " ucap Altea sambil memasukkan beberapa buku kedalam tasnya.


"Kita ngobrol di kafe depan ya, ada hal penting yang mau aku ceritakan" ucap Feren.


"Aku bukan anak orang kaya yang bisa nongkrong di cafe, kita duduk disitu aja ayok " Altea menunjuk salah satu stand jualan kolak dingin di pinggir jalan.


Feren hanya memutar bola mata malas, berteman dengan Altea dia sudah hapal jika Altea memang jarang mau diajak nongkrong ditempat mewah seperti mahasiswa lainnya.


Feren tau jika Altea sebenarnya punya uang tapi sahabatnya itu memang tipikal wanita yang tidak mau menghamburkan uang dengan tujuan yang tidak jelas.


Setelah duduk mereka memesan pesanan masing masing.


"Kamu mau bicara apa, kayaknya penting banget " ucap Altea sambil membenarkan anak rambutnya yang beterbangan.


"Ini adalah hari terakhir kita bersama " ucap Feren menunduk.


"kenapa ? kau mau kemana ? " Altea terkejut


"Aku mau pindah, mama dan papa ku memutuskan pulang kampung ke Medan" ucap Feren dengan ekspresi sedihnya.


"Kan kau bisa kuliah disini dan ngekos disini,kenapa harus pindah? " Protes Altea merasa tidak rela berpisah dengan sahabat lamanya.


"Mama dan papa tidak mengizinkan " ucap Feren sedih.


"Aku tidak tau harus bilang apa Feren" Altea meletakkan sendok dan menatap sahabatnya itu dengan dalam.


Dengan berat hati Altea memeluk Feren. Disini Altea lah yang paling sedih, untuk kedua kalinya dia ditinggal pindah oleh sahabatnya. Dulu semasa SMA dia juga pernah ditinggal oleh sahabatnya dan kejadian itu terulang lagi hari ini.


Setelah drama temu pisah ,Feren bergegas pulang, sedangkan Altea memilih kembali ke pinggiran jalan untuk menghentikan angkutan umum.


Sebelum mereka berpisah Altea berjanji akan mengantar Feren besok ke Bandara.


Altea merenung dipinggir jalan, baru saja dia bahagia bisa menghabiskan waktu bersama sahabatnya , nah sekarang dia harus menerima kenyataan pahit.


.


.

__ADS_1


.


Mobil sport warna hitam berhenti didepan Altea yang sedang merenung, dia tidak menyadari ada seseorang yang datang mendekat kearahnya "Kau disini rupanya".


"Kak Rafael " ucap Altea terkejut.


"Iya aku mencari mu" sahut Rafael.


"Aku ? Altea menunjuk dirinya untuk memastikan.


" Iya , ayo aku antar pulang" Rafael membuka pintu mobilnya.


"Tidak usah kak, aku mau ke toko buku kakak duluan saja" Altea menolak dengan berasalan ke toko buku.


Setelah melalui perdebatan kecil,Altea akhirnya mengalah dan Rafael memutuskan untuk mengantar Altea ke toko buku.


"Sudah satu minggu ini aku datang ke restoran tempat mu bekerja tapi tampaknya kamu tidak ada " ucap Rafael sambil membenarkan jam tangan miliknya.


"Iya kak, aku tidak bekerja lagi" Altea tersenyum kaku.


"Kamu tidak bekerja lagi? kenapa ?"


"Ayah dan ibu mau aku fokus kuliah dulu"


"Oh ,jika itu yang terbaik kamu ikuti saja, ada bagusnya apa yang dikatakan oleh kedua orangtuamu" Rafael menimpali.


"Kenapa ucapannya sama dengan Matteo"


Altea hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya,dia tidak mau terlalu banyak bicara. Sama halnya ketika bersama Matteo, Altea sendiri merasa canggung yang begitu luar bisa .


"Altea kamu tidak buru buru bukan? , aku rasa kita makan siang terlebih dahulu" Ucap Rafael seolah meminta persetujuan kepada Altea.


Ingin rasanya Altea menolak tapi dia tidak bisa egois membiarkan orang lain kelaparan. "Baiklah" akhirnya Altea menyetujui.


Mereka berhenti disebuah restoran, semua mata wanita yang ada di restoran itu tertuju kepada Rafael. Wajarlah Rafael mempunyai wajah tampan apalagi dia juga dilengkapi dengan postur tubuh yang tinggi membuat pria itu tampak gagah.


Setelah menyelesaikan makan siang, Rafael dan Altea pergi ke toko buku terdekat, Altea sebenarnya tidak berniat membeli buku tapi karena alasan dia terpaksa membeli beberapa buku.


Dari jauh Rafael memandangi Altea yang sibuk membaca cover buku, dia menarik senyumnya.


Kemudian dia mengirim pesan singkat kepada supir pribadinya agar pulang terlebih dahulu menggunakan taksi.


.


.


.


Setelah menimang akhirnya Altea mengambil beberapa buku, sebagian adalah buku belajar untuk mendukung materinya di kampus, sebagian lagi dia membeli beberapa buku tentang kewirausahaan. Total ada delapan buku yang dipegang oleh Altea.


"Sudah selesai?" ucap Rafael datang membantu Altea memegang buku.


"Sudah kak" Ucap Altea.

__ADS_1


Altea melihat Rafael juga memegang sebuah buku yang memiliki ketebalan berbeda dari buku yang dia pilih.


Mereka mengantri di kasir, Altea meletakkan bukunya di meja kasir dan segera meraih dompet didalam tas.


"Totalnya 337.000 mbak" ucap seorang kasir wanita kepada Altea.


"Baiklah sebentar ya " Altea membuka dompetnya dan mengeluarkan 3 lembar uang seratus ribuan dan satu lembar uang lima puluh ribuan.


Tapi sebelum Altea menyerahkan uang yang sudah dia pegang Rafael sudah duluan menyodorkan kartu debit miliknya "Pakai ini saja mbak , sekalian sama punya saya dihitung juga" Rafael meletakkan buku yang dia pegang diatas meja.


"Tidak usah kak, aku ada uang cash" tolak Altea namun dihiraukan oleh Rafael.


Setelah selesai Rafael membantu Altea memegang paper bag yang berisi buku yang mereka beli sambil keluar dari toko buku.


"Inilah yang tidak aku suka kalau belanja dengan laki laki,suka sekali berbuat semaunya kan aku jadi berhutang kek gini" Altea menggerutu sendiri sambil memasukkan dompet kedalam tasnya.


Mendengar itu Matteo tertawa kecil sambil mencubit hidung mancung Altea karena gemas. "Jangan seperti itu, kau tidak berhutang sama sekali" Rafael mengacak rambut Altea.


Setelah tiba di parkiran , Rafael membuka pintu untuk Altea.


"Bapak yang tadi kemana? tanya Altea menyadari jika tadi mereka diantar oleh supir.


"Sudah pulang duluan"


"oh itu... " Altea hanya menjawab seadanya.


Tampak Rafael memutar arah dari biasanya karena melihat didepan ada macet berkepanjangan. Selama beberapa menit hanya keheningan yang terjadi antara mereka.


"Apa kamu sudah punya pacar ? Matteo membuka suara namun pandangannya tetap fokus ke depan.


"aku ? Altea menunjuk dirinya sendiri.


"Iyalah, memangnya ada siapa lagi disini" ucap Rafael datar sambil melirik Altea.


"Oh.. tidak " Altea tersenyum kaku.


"Sudah pernah pacaran sebelumnya? " Rafael bertanya lagi


"hehehe tidak pernah " Altea tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya.


Akhirnya Rafael tau jika Altea tidak punya pacar lebih tepatnya belum pernah pacaran.


Bersambung........


Hai reader


Kepindahan Feren ke kota Medan juga akan aku tuangkan di sebuah novel.


Nantinya novel itu akan menceritakan kisah Feren,Mario dan Daniel.


Masih ingat Mario bukan?


Baiklah.

__ADS_1


Tetap pantengin terus ya episode selanjutnya.


__ADS_2