
Mobil sport hitam memasuki kawasan perumahan milik keluarga Mahaprana. Disepanjang perjalanan Matteo tidak hentinya menggenggam tangan istri.
Hari persalinan sudah mulai dekat. Tinggal menunggu hari saja mereka akan melihat sosok Matteo kecil.
"Sayang butuh sesuatu ? " Matteo masih mengenakan jas. Tadi sebelum dia berangkat ke kantor Altea mengerang kecil.
Matteo yang panik langsung membawa Altea ke rumah sakit.
Tempo hari dokter sudah mengatakan jika persalinan di perkirakan akhir bulan.
"Mana yang sakit ? " Matteo sudah gusar membayangkan apa yang sedang dialami Altea.
"Jangan khawatir .... " Altea menyandarkan tubuhnya merapat ke dada Matteo. Pria itu langsung mendekap erat tubuh Altea.
"Bagaimana aku tidak khawatir !! " Matteo setengah berteriak. Dia tau Altea sedang menahan sakit. "Atau kita kembali ke rumah sakit saja ??? " Matteo harus siap siaga untuk memastikan bahwa Altea dan anaknya baik baik saja.
"Gimana sayang ?? " . Matteo bahkan terlihat lebih frustasi daripada istrinya. Pria dingin yang ekstrim itu tidak lagi seperti dulu.
"Apanya? " Mendongak sebentar.
"Kita kembali ke rumah sakit saja ya ? "
"Teo... apa kau tidak mendengar kata dokter tadi?. Perkiraan persalinan ku itu tiga hari lagi kamu tenang saja ya.. " Menepukkan kedua tangannya di pipi Matteo.
Pria itu mendengus jengkel. Dilihatnya perut Altea yang semakin membulat.
Hei anak kecil !
Kenapa kau menyebalkan sekali!.
Aku akan bikin perhitungan dengan mu nanti. lihat saja.
Keluar ! keluar kau dari tubuh istriku sekarang !.
jangan bikin repot !
Memaki bayinya yang dia anggap sebagai penyebab istrinya kesakitan. ah sama sekali tidak masuk akal.
Apa semua suami akal sehatnya hilang melihat istrinya kesakitan menuju hari bersalin ?.
"Sayang... " Altea membuka suara lagi. Mengambil tangan Altea dan meletakkan diatas perutnya. "Dia bergerak gerak lagi " Altea tersenyum kecil.
Tuh kan !
kau anak yang tidak berakhlak!
Masih bisa kau menari diatas penderitaan ibu mu. Dasar nakal !
"Apa kau bisa merasakan gerakannya ? " Altea sudah mulai merasa tenang. Kecemasannya hilang setelah merasakan tendangan tendangan kecil dari dalam perutnya.
"Iya dia sedang bergerak. ". ucap Matteo malas.
"Sedang apa dia didalam ya ? " penasaran juga si kecil didalam sana sedang apa.
"Dia sedang menendang nendang " hihihi. Altea sudah bahagia kepalang membayangkan bayi mungil itu keluar, besar nantinya dan tumbuh menjadi anak yang baik.
Tapi tidak dengan Matteo. Dia kesal bukan main.
Menendang ?
apa dia pikir perut ibunya adalah lawan main ? . Hei bayi nakal kalau kau mau bertarung jangan didalam sana.
Cepat keluar biar ku bawa kau ke arena. Sepertinya kau lawan yang menantang....
Sambil merasakan gerakan janin. Matteo gemas.
Ingin sekali dia menangkap kaki mungil itu agar berhenti bergerak.
Pikirannya sudah membayangkan sesakit apa dinding perut Altea jika ditendang terus menerus.
__ADS_1
Lihat bayi nakal ini.
bukannya berhenti malah semakin menjadi jadi.
Tidak melihat senyum istrinya semakin mengembang sempurna. Jika dulu dia pernah mengatakan ingin menggugurkan kandungannya itu adalah penyesalan yang menyesakkan hati.
Altea menyesali semua kata kata yang terlontar dari mulutnya.
Kehidupan yang dia rasakan setelah kehadiran bayi jauh lebih baik dari bayangan pikirannya.
Matteo memperlakukannya bak seorang putri.
Mertuanya juga sering datang mengunjungi.
Memasuki bulan ke 8 Ratna meminta agar Altea tinggal dirumah besar Mahaprana. Tujuannya agar dia bisa memperhatikan menantu.
Dia tau Altea masih muda sekali, tidak pengalaman apa apa sekitar kehamilan.
Namun Matteo menolak. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya sanggup mengurus istri. Ratna pun tidak mau memaksa. Dia tau seperti apa jiwa putranya. Jika iya maka iya. Jika tidak maka tidak. Seperti itu prinsip Matteo.
Ratna tidak pernah absen menghubungi Altea. Setiap hari menanyakan keadaan wanita itu. Setiap hari dia menanyakan apa yang di lakukan wanita itu.
Dan setiap hari Ratna selalu mengirimkan makanan khusus untuk Altea.
Begitulah kasih sayang Ratna untuk menantunya.
Tidak bisa stay menjaga Altea paling tidak memperhatikan dari jarak jauh.
Sampailah hari ini Matteo mengalah. Padatnya jadwal di kantor membuat Matteo sering terlambat pulang.
Walaupun sudah ada perawat yang stand by menjaga Altea dirumah namun dia tidak sepenuhnya percaya.
Matteo menerima tawaran mama untuk mengizinkan Altea tinggal dirumah besar sampai hari bersalin.
Dari rumah sakit mereka langsung menuju rumah kediaman Mahaprana. Di depan pintu sudah ada Ratna, diva Dan juga Aurel sudah berdiri menyambut.
"Ayo masuk sayang... " Fokus pada wanita hamil hingga melupakan putranya Matteo yang sudah terlihat gusar.
"Sudah Teo.. berangkatlah kerja sana " Altea sudah duduk bersandar di sofa.
Matteo berjongkok. "kau masih bisa mengusirku ya.. padahal aku ingin selalu disampingmu " Matteo memilih untuk setia mendampingi Altea. Masa bodoh dengan kantor.
Bukan itu yang lebih penting. Percuma pergi ke kantor toh ujung ujungnya pikirannya tetap saja tidak berpaling dari Altea.
"Bukan begitu Teo, kan sudah ada mama sama kak Aurel juga disini "
Matteo tidak peduli. Dia melepaskan jasnya. Pakaiannya sudah berganti dengan setelan kaos rumahan.
Pesan dia kirimkan kepada Mike perihal ketidakhadirannya. Mike sudah mengetahui penyebab Matteo tidak hadir.
Dia hanya bisa berdoa untuk kelancaran persalinan istri Presdir. Kelak anak yang dilahirkan wanita itu menjadi pemuda hebat penerus Orion company.
Begitulah sepenggal doa penuh harap yang dia panjatkan kepada Tuhan.
"Kamu tidak ke kantor ? " David tidak sengaja berpapasan dengan Matteo. Pria itu berjalan sambil memasang arloji di pergelangan tangan.
"Tidak pah " Jawabnya singkat.
"Sebaiknya kamu ke kantor lah hari ini saja. Ini pertemuan penting. Setelah itu kamu bisa stay menjaga istrimu " David sebenarnya tidak memaksa. Tapi rapat yang akan mereka hadiri adalah rapat penting.
David sebagai Owner sekaligus pemilik Mahaprana Group akan memimpin rapat tertutup itu nanti.
Matteo bahkan melupakan agenda penting ini.
Padahal Mike dari semalam sudah memberikan informasi penuh.
"Iya sayang. Benar kata papa. kamu ke kantor saja ya. " Altea menimpali pembicaraan kedua pria ayah dan anak itu.
Matteo menengadah. Kemudian mendengus "Siapa yang mengizinkan mu keluar dari kamar ? "
__ADS_1
Menarik tangan Altea agar kembali ke tempatnya semula.
Matteo keluar dari kamar dengan setelan kerja yang dia lepaskan tadi. Didalam kamar dia dan istrinya sedikit berargumen.
Berhasil meyakinkan suami. Akhirnya Matteo memutuskan untuk berangkat kerja.
"Sakit sedikit saja langsung hubungi aku ! " Titahnya sebelum keluar kamar.
Matteo sudah berada didepan pintu rumah. Dia melihat asisten ayahnya sudah membukakan pintu untuk David.
"Ayo berangkat dengan papa saja. Kita langsung ke kantor mu ". David berjalan mendahului Matteo.
Matteo masuk kedalam mobil ayahnya. Sejak tumbuh dewasa, ini pertama kali dia duduk berdampingan dengan sang ayah.
Akhir akhir ini Matteo menyadari jika ayahnya jauh berbeda. Mereka sudah banyak terlibat pembicaraan.
David juga sudah berungkali mengunjungi rumah Matteo bersama dengan Ratna.
Walau alasannya untuk menemani istri mengantar makanan untuk Altea namun jauh di lubuk hatinya satu hal yang membuat langkahnya ringan adalah untuk melihat putranya juga.
Dia bahkan sudah lupa ayahnya yang dulu.
Mereka sudah tiba di kantor Mahaprana Group.
Rapat akan mulai sekitar 1 jam lagi.
Juna mengajak ayah dan adiknya untuk menunggu waktu didalam ruangannya.
"Biarpun ayah jarang berbicara denganmu, namun ayah peduli akan masa depanmu. Ingatlah satu hal, jika kamu sudah memiliki sebuah tujuan. kejarlah sampai mendapatkannya. Dalam perjalananmu pasti akan ada banyak rintangan, hambatan dan halauan. Jangan menyerah karena disetiap kesulitan pasti ada celah kesempatan yang bisa kamu raih. Jangan berhenti sampai disini saja. Sebentar lagi kau akan menjadi ayah. Dan akan merasakan bagaimana memiliki seorang anak laki laki "
"Mungkin selama ini ayah kurang perhatian kepadamu. Maafkan ayah. Selama ini ayah telah banyak menyakiti perasaanmu. Semua ini ayah lakukan demi kamu, papa rela bekerja hingga larut malam demi mencukupi semua kebutuhan anak anak papa dan papa mau kalian menemui jalan terang walau diatas cucuran keringat bahkan darah papa sekali pun . Papa rela "
Sebuah ungkapan hangat yang dia ucapkan kepada Matteo. Matteo yang mendengar curhatan seorang ayah sangat tersentuh.
Benar kata papa sebentar lagi dia akan memiliki anak laki laki.
Apa yang dirasakan oleh papanya akan dia rasakan.
"Melihat kalian tumbuh seperti ini mengingatkan papa akan masa muda yang papa lewati. Seusia kalian pasti banyak tantangan dan hambatan. Jika kesulitan datang padamu jangan pendam sendirian. Berbagilah dengan papa dan kakak mu . Kami selalu ada di belakangmu "
"Papa.... " suara Matteo tercekat.
"Nak, maafkan papa jika selama ini kurang memperhatikanmu. papa sebetulnya sangat memperhatikanmu, hanya saja caranya berbeda dari mama kalian "
Begitulah ketulusan seorang ayah. Cara setiap ayah mendidik anak kadang berbeda namun tujuannya sama. Demi kebaikan anak anak juga.
Ayah adalah sahabat pertama bagi anak laki laki nya. Dan anak laki laki adalah jagoan dan Raja untuk seorang ayah.
Memang bukan ayah yang menyusui anak. Ayah tidak seperti ibu yang mengandung anak 9 bulan lamanya. Dan juga ayah tidak merasakan ngilu dan sakit saat melahirkan.
Tetapi, setiap tetesan air susu yang kita minum terselip hasil keringat ayah disana. Ayah bekerja keras agar bisa memberi asupan makanan sehari-hari untuk seorang ibu agar bisa menghasilkan air susu untuk kita minum.
Secara tidak langsung ayah juga menyusui anaknya.
Saat seorang ibu tidak bisa bekerja pasca melahirkan seorang ayah rela menggantikan posisi ibu.
Matteo melepas semua egonya. Memeluk David untuk pertama kalinya diusianya yang sudah matang. Merasakan hangatnya tubuh tegap yang mulai menua itu. Matteo begitu haru.
Saat memeluk tubuh david kenangan masa kecil matteo terlintas begitu saja.
Kenangan saat dirinya jatuh dari sepeda dan David datang menolongnya.
Semua kenangan masa kecilnya mengingatkan kembali Matteo bahwa David selalu ada untuknya. Dialah yang tidak pernah memahami itu. David setia menemani setiap inci perkembangan tubuh anak anak nya.
Juna juga melakukan hal yang sama memeluk sang ayah.
Ayah adalah pahlawan untuk mereka.
Rasa haru menyeruak di seluruh ruangan.
__ADS_1
Ratna yang sedari tadi mengamati pemandangan itu tidak bisa membendung airmata. Ketiga laki laki yang dia sayangi akhirnya bisa saling memahami.
Bersambung.