
Cerita berlanjut.....
Gio menutup mulutnya dengan rapat setelah mendengar ancaman dari Matteo. Siapa yang tidak takut coba dengan ancaman sang ketua gengstar yang satu ini,jangankan diancam, Matteo berbuat baik dan tulus saja pasti menakutkan baginya apalagi mengancam.
Pembawaan Matteo yang gampang emosian memang sering mengundang reaksi negatif dari beberapa orang.
"Sebelum perusahaan sepenuhnya stabil aku belum bisa menyatukan kalian untuk magang bersama di Orion" Ucap Matteo tanpa melirik Gio.
"Jadi untuk sementara kamu tetap bersamaku dan anak anak yang lain biar saja urusan Daniel kami sudah sepakat " Ucap Matteo lagi.
Meskipun Matteo sudah hampir tiga bulan tidak menginjakkan kaki di Arena akan tetapi dia merasa ke 11 orang anggota geng itu adalah tanggungjawabnya meskipun tidaklah sepenuhnya.
Masa depan anggota geng itu juga menjadi salah satu beban Matteo diantara setumpuk beban yang dia tanggung. Masa depan anak anak itu menjadi beban pikiran tersendiri bagi Matteo akhir akhir ini, entah bagaimana akhir dari perjalanan mereka di arena MMA masih belum menemukan titiknya.
Seluruh anggota geng sudah memasuki waktunya magang, Matteo juga sudah punya tanggungjawab jawab besar jadi boleh dikatakan bahwa geng itu bisa bisa bubar dengan sendirinya tapi entah kapan waktu itu kita tidak tau.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sederhana Matteo bersama Altea.
"Kamu mau kemana Al ??? " Altea sudah didepan pintu memakai piyama tidur dibalut oleh sweater rajut.
"Aku... "
"Aku apa ?? " Melirik jam sudah pukul 00.00.
"Aku mau keluar " lirih Altea memegang perut ratanya kemudian mempererat balutan sweater agar menutupi perutnya.
Matteo mengusap wajahnya perlahan, pikiran Matteo sudah bercabang kemana mana, memikirkan Altea yang masih takut dengannya hingga wanita itu nekat kabur ditengah malam.
Belum lagi penampilan Altea memakai tas sling bisa ditebak apa isi tas itu, pasti ponsel dan dompet karena hanya benda kecil yang muat di dalam tas sekecil itu.
"Apa aku harus berubah dulu jadi orang jahat Al agar kau mau mendengarkan ku?" suara Matteo dingin menahan emosi yang sudah di puncak ubun.
Altea hanya menggeleng akan tetapi matanya tertuju ke arah pintu yang masih terbuka, ingin sekali dia keluar dari pintu itu akan tetapi karena ada Matteo dia tidak mungkin melakukannya.
Semenjak Altea positif hamil Matteo sudah berusaha mengubah dirinya menjadi seorang lelaki yang disukai Altea akan tetapi wanita itu masih saja belum luluh. Sakit itulah perasaan Matteo mendengar Altea mau pergi darinya.
__ADS_1
Dirinya sekuat tenaga menahan emosi yang dari siang selalu memuncak karena masalah perusahaan , disuguhkan lagi dengan sikap Altea seperti ini membuat dirinya takut jika wanita hamil itu menjadi pelampiasan kemarahannya.
"Apa mau mu Al...katakanlah aku beri waktu untuk mu bicara " Suara Matteo terdengar datar penuh penekanan, melangkah menuju sofa dan terduduk memejamkan kedua mata menunggu Altea membuka mulut. "Katakan Al apa mau mu " sekali lagi terdengar suara Matteo lirih. Aku akan menghadapi mu dengan kepala dingin pikir matteo.
"A ... a.. aku mau makan kerak telur " Altea menunduk menyadari Matteo sedang tidak baik.
Mata Matteo seketika terbuka sempurna mendengar suara Altea. "Apa tadi ? " Segera berdiri karena terkejut ternyata dugaannya salah.
"Kerak telur seperti di alun alun tadi siang " Altea menunjuk arah alun alun kota melalui telunjuknya ke sebelah Utara.
Matteo segera melangkah mendekati Altea "kenapa tidak langsung bilang dari tadi! aku pikir kau seperti kemarin keluar ditengah malam huh " Matteo memutar kembali ingatannya tentang pertengkaran mereka ditengah malam.
"memang aku mau keluar membelinya " Imbuh altea bingung.
Matteo benar benar malu dengan sikap tadi kepada Altea. Wajarlah dia tau jika Altea belum menerimanya jadi pikirannya yang selalu di hantui rasa takut kehilangan membuat dia kadang tidak bisa berpikir positif.
"Aku akan keluar membelinya tunggu disini" Senyum manis menghiasi wajah Matteo.
"Aku mau.... "
Altea menganggukkan kepalanya pelan pelan.
"kau tunggu disini saja aku akan membelinya " Matteo berucap dengan tatapan tidak bisa dibantah. "Kalau ini siang hari aku masih beri toleran tapi ini sudah malam tidak baik untuk kesehatan mu " imbuh Matteo.
"Iyalah " ucap Altea pasrah membenarkan apa yang dikatakan oleh Matteo, kemudian tangannya membuka tas dan mengambil dompet serta mengeluarkan selembar uang.
"Aku tidak tau harganya berapa tapi kata orang di alun alun kerak telur mahal, beli saja sesuai uang ini " menyodorkan uang 50.000 ke tangan Matteo.
Ingin rasanya Matteo jungkir balik melihat Altea menyodorkan uang kepadanya.
"Hahaha " Matteo tidak bisa menahan tawa melihat tingkah polos Altea yang murni tanpa dibuat buat, sepertinya diagnosa awalnya mengenai Altea telah berubah salah total, wanita itu tetaplah Altea yang polos seperti pertama kali mereka bertemu, hanya saja akhir akhir ini kepolosannya sedikit tertutupi mungkin efek dari kejadian pahit malam itu.
"Apa ini kurang ?" melihat Matteo menertawainya altea kesal, kemudian dia membuka kembali dompetnya berniat mengambil lembaran uang, akan tetapi Matteo menahan tangannya. "Jangan buat aku tertawa lagi "
"Aku bahkan bisa membeli seratus bahkan seribu kerak telur untuk mu kalau bisa sekalian penjualnya aku angkut kesini " Matteo berucap masih di iringi tawa geli.
__ADS_1
"Apa kau sedang memamerkan seberapa banyak uangmu, aku tidak butuh" gerutu Altea merasa kesal.
"Aku akan membelinya" Matteo mengacak rambut Altea sambil tersenyum kemudian berbalik.
Lihat wajahnya benar benar menggemaskan hahaha. Aku mau dia setiap hari seperti ini.
Didalam mobil Matteo masih tertawa cekikikan.
Sampai akhirnya dia tiba di alun alun kota namun tampaknya stand para pedangan sudah tutup. Kenapa mereka sudah tutup gerutu Matteo didalam hati, ya jelaslah tutup ini sudah jam berapa? tengah malam ini bos bukan siang hari.
"Pak apa masih ada yang menjual kerak telur ?
Matteo bertanya kepada salah satu penjual yang sibuk membersihkan gerobak.
"wah kalau jam segini sudah tidak ada lagi pak ini mah tengah malam" jelas pria itu.
Matteo menelan ludahnya berkali kali. Janjinya kepada Altea bahkan bisa membawa penjualnya kehadapan wanita itu pupus tidak ada harapan.
"Biasanya dimana lagi bisa menemukan makanan seperti itu pak? "
"Jam segini sudah tidak ada lagi, tapi biasanya di restoran tertentu itu disediakan mas " ucap istri dari lelaki yang diajak bicara oleh matteo.
Didalam mobil Matteo terus berusaha mengedarkan pandangannya beharap menemukan stand penjual yang masih buka namun nihil pinggir jalan tampaknya sudah sepi.
Sampai akhirnya dia memutuskan meminta bantuan Ibra untuk menghubungi koki restoran mewah milik sahabatnya itu, awalnya koki tersebut menolak karena restoran tidak menyiapkan menu menu itu ,untungnya saat itu bahan untuk membuat kerak telur ada didalam lemari pendingin dengan bermodal resep sederhana koki tersebut bisa membuat kerak telur ala kadarnya.
"Terimakasih,cek rekening mu besok " ucap Matteo segera pulang.
"Tidak apa apa pak sudah menjadi tugas saya " Ucap koki merasa tidak enak hati.
Matteo tidak menggubris dia segera menginjak pedal gas, wajah Altea cantik sudah memenuhi pikirannya. Ada rasa bahagia yang ia rasakan, selalu ada untuk Altea ketika wanita itu butuh bantuan, setidaknya ini adalah awal Altea membuka hati untuknya, ahhh tidak juga entahnya Altea sebenarnya sudah membuka hati.
Bersambung....
Bantu like, vote dan komen.. 👌❤️
__ADS_1