
Sore ini hari terlihat mendung. Suara gemuruh hujan mulai terdengar dari langit. Sepertinya hujan akan turun.
"Pulanglah.... " Matteo mengambil kemudi mobil dan menyuruh Mike pulang.
Mobil terus berjalan di iringi rintik rintik hujan.
Hari ini pikiran Matteo sedikit terusik. Sepertinya ada yang mengganjal di dalam hatinya.
Altea...
Kau sedang apa ....
Aku ingin segera pulang dan memelukmu. Mencium aroma tubuhmu. Tapi...
Tidak ! ini semua harus selesai sekarang.
Aku tidak mau wanita gila itu datang dan mengusik pikiranku
Akhirnya Matteo berhenti di depan sebuah restoran mewah milik sahabatnya Ibra.
Dari kejauhan dia sudah melihat ada Daniel dan Ibra. Dia segera mendorong pintu kaca dan mendudukkan dirinya di sofa di hadapan Daniel.
"Ada masalah apa ? " Daniel dan Ibra sudah menebak pasti ada yang tidak beres jika raut wajah Matteo kesal seperti ini.
"Clarish " satu nama yang terucap dari mulut Matteo. Dia memejamkan matanya sejenak mencoba berbicara dengan tenang.
Wanita itu adalah masa lalunya.
"Ada apa dengan Clarish. " Daniel yang tadinya ingin menenggak minuman tidak jadi. Dia meletakkan gelasnya kembali. "Dia mengganggu atau..."
"Dia membuat keributan di kantorku tadi. Cih.. menjijikkan" Matteo bergidik ngeri mengingat betapa lancangnya Clarish memeluknya tadi.
Daniel menghela nafas sejenak. Clarish sepupunya. Sedangkan Matteo sahabat baiknya. Tidak tau harus bilang apa lagi.
"Aku tidak suka memukul wanita. Tapi aku tidak bisa membiarkan orang menghina istriku ! " Matteo masih memejamkan matanya tapi terlihat dia menekankan kata menghina istriku.
Daniel dan Ibra masih diam mencerna.
"Clarish masih sangat mencintaimu" Akhirnya Daniel membuka suara. "Tempo hari dia datang menemui ku dan menceritakan bahwa kau... "
"Telah menidurinya ???? " Tanya Matteo sinis.
Daniel mengerutkan keningnya lalu menganggukkan kepala.
"Lalu kau percaya? "Tanya Matteo sinis.
Daniel diam. Dia tidak menjawab dan juga tidak menggeleng. Sepertinya Daniel seperti mengatakan jika dia percaya.
"Mengapa aku bisa meniduri Altea? Itulah jawaban mengapa aku bisa menidurinya waktu itu. Dan itu kemauannya. " Ucap Matteo terkekeh.
Daniel tidak menampakkan wajah terkejutnya.
"Ya. Aku tau. Tapi bukan itu yang membuat aku mengizinkannya menemui mu. Dia mengatakan jika pada waktu itu dia hamil anakmu " Ucap Daniel takut takut.
Matteo memperbaiki posisinya. Membuka mata lebar dan tersenyum devil. "Itu bukan anakku ! Itu anak Max ! "ucap Matteo tersenyum mengejek.
Ibra dan Daniel saling memandang. Bagaimana bisa Clarish membohongi mereka sendiri.
"Dan kau tau ? dia menggugurkan bayinya? " Matteo tertawa lagi. "Dia pembunuhan sadis ! " Ucap Matteo sambil menampilkan seringai di bibirnya.
Daniel hampir saja tersedak mendengar omongan sahabatnya sendiri. Seperti tidak percaya Sepupunya Clarish melakukan itu.
"Saat itu Max ingin menikahinya. Namun sepupumu itu tidak mau. Dia memilih melenyapkan janinnya ketimbang harus menikah dengan Max yang notabenenya adalah bandar narkotika! " Ucap Matteo tertawa.
__ADS_1
Daniel terdiam terpaku. Merasa jika ini tidaklah beres.
"Urus sepupumu itu. Sebelum kesabaran ku habis melihatnya. Dia sedang di dipenjara" Matteo berlalu begitu saja. Meninggalkan Ibra Dan Daniel.
Tidak ada candaan seperti biasa diantara mereka.
****
Altea bergetar memegang ponselnya. Ada buliran air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Dia menyandarkan tubuhnya di sofa. Mencoba untuk tidak terprovokasi dengan video yang baru saja diterimanya.
Tapi tidak mungkin itu bohong. Altea sampai berkali kali menghapus titik titik air mata yang terus bercucuran.
Tidak mungkin Matteo segampang itu berpaling darinya. Video memperlihatkan Matteo masuk kedalam ruangan dengan seorang wanita. Ya. Altea mengenal siapa wanita itu.
Dan itu lagi Video tanpa suara dengan durasi 7 detik. Clarish memeluk erat suaminya. Dan Matteo tidak memberikan reaksi seperti menerima pelukan wanita lain.
Altea terduduk sebentar. Menenangkan hati dan pikiran serta perasaannya yang mulai terengah tidak bisa dikendalikan.
Cobaan apa ini tuhan. Apa yang terjadi dengan diriku?
Altea bahkan tidak bereaksi saat Thiago merengek-rengek diatas tempat tidur. Sepertinya bayi itu kehausan atau kelaparan.
Altea masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
*Matteo memang tampan dan mapan.
Semua wanita di dunia ini pasti akan menggilainya*.
Cukup lama melamun hingga akhirnya dia tersadar saat anaknya Thiago menangis dengan keras.
Bahkan terlihat wajah Thiago sudah dipenuhi dengan air mata dan juga keringat di sekitar lehernya. Itu menandakan bayi itu sudah cukup lama menangis.
Memandikan anaknya dan juga menemani bermain main sambil makan bubur.
Thiago yang pintar sudah mulai rakus dengan makanan.
Dia tidak lagi mengandalkan Asi ibunya sebagai bekal.
Altea terus menatap pintu depan. Berharap suaminya pulang. Namun nihil. Sampai senja datang belum ada tanda tanda suaminya akan pulang.
Hati Altea semakin resah. Tapi dia tidak dapat berbuat apa apa.
Dia terus saja menimang anaknya berharap bisa cepat tidur.
"Maaf non. Ada seorang perempuan muda di luar ingin menemui non Altea " ucap bi asih.
"Siapa ? " altea mengerutkan keningnya.
"Gak tau atuh non. Katanya dia mau menemui non Altea " Bi asih mengulurkan tangannya dan Altea pun memberikan Thiago padanya. "Tolong ya Bu ".
"Iya non. Si kecil biar sama saya aja sebentar" Bi Asih sudah berlalu dengan langkah pelan karena Thiago mulai melek. mata indahnya sayup sayup mulai tertutup. Bahkan empeng di mulutnya sudah terlepas.
Altea dengan langkah penasaran berjalan menuju pintu dimana seorang wanita cantik dengan paras elegan berdiri dengan memegang map di tangannya.
"Hai.... " Dia terlebih dahulu menyapa Altea.
"Hei..." Altea sedikit mengeryit ternyata yang datang adalah tetangga sebelah rumahnya. "Saya pikir entah siapa tadi " Ucap Altea dengan senyumnya.
"Ada apa mencari saya mbak? ahh saya bahkan belum tau nama mu hehehe" ucap Altea.
"Oh iya panggil saja aku Naura. jangan sungkan begitu " Ucap Naura.
__ADS_1
"Ah apa pak Matteo ada ? tadi kami sudah ada janji untuk bertemu disini " Ucap wanita itu dengan menyelipkan rambut halus nya di belakang telinga.
Altea bisa melihat tatapan mata wanita ini sedikit berbeda.
"Oh suami saya? "Berusaha tenang. "Suami saya belum pulang. Mungkin sebentar lagi " Ucap Altea sambil terus tersenyum mengusir canggung.
"oh begitu ya. " Wanita itu tampak berpikir sebentar. "Saya permisi saja kalau begitu. Sepertinya pak Matteo masih di kantor ya "
"Sepertinya begitu "
Sepeninggalan Naura, Altea hanya bisa sibuk dengan pikirannya sendiri.
Dia meraih ponselnya dan memutar video tadi.
Ini tidak salah.
Matteo masuk kedalam sebuah ruangan dengan perempuan itu. Hanya berdua!
Dan tadi perempuan itu datang kesini mau bertemu disini .
Tadinya Altea berusaha untuk bisa menguasai pikirannya. Menepis semua hal buruk tentang suaminya.
Tapi saat tetangga sebelahnya datang tadi pikirannya semakin terusik.
Altea melihat jam sudah pukul 11 malam. Suaminya belum juga pulang. Resah pada akhirnya datang melanda.
Dia melangkah menuju balkon kamar. Suasana di luar cukup sepi. Tidak ada lagi aktivitas.
Taman belakang juga hanya di hiasi dengan lampu lampu yang indah.
"Kenapa disini sayang... " Altea tersentak kaget saat melihat Matteo memeluknya dari belakang. Tangan kekar Matteo melilit di pinggang mungilnya.
Terlebih lagi saat ini Matteo sudah mengenakan pakaian rumahan. Rambut Matteo pun masih basah.
Itu artinya Altea sudah lama berdiri di balkon dengan pikiran pikirannya yang beterbangan.
"Kamu sudah pulang? " Altea memutar tubuhnya.
Tanpa menjawab Matteo langsung membenamkan bibirnya dengan bibir istrinya.
Mereka berciuman cukup lama.
Karena merasa nyaman Matteo menuntun Altea menuju kamar mereka dengan tautan bibir yang tidak lepas.
Perlahan dia mendorong tubuh Altea hingga rebah diatas tempat tidur.
Sejauh apa pun hati Altea rapuh karena hal tadi siang, namun dia tetap mau melanjutkan percintaan mereka.
Tidak ada tanda tanda Altea menghindar.
Pada akhirnya mereka bercinta gila gilaan saling memberikan kenyamanan satu sama lain.
Malam ini tidak ada yang berubah.
Semua terjadi dengan penuh cinta yang berkobar. Suara halus milik istrinya yang selalu dia rindukan terdengar merdu.
Hari sudah menjelang subuh mereka baru selesai dengan olahraga yang menguras tenaga. Matteo menarik selimut hingga menutupi bagian dada istrinya.
Satu kecupan manis di dahi Altea. "Tidurlah sayang" Dia menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.
Sebenarnya ingin sekali Altea bertanya soal tetangganya itu tapi untuk saat ini dia bahkan tidak punya tenaga untuk bicara. Tubuhnya sudah kehabisan tenaga walau hanya sekedar mengeluarkan suara.
Tangan kekar Matteo mengelus rambut istrinya dengan sayang. Sampai mereka berdua tertidur...
__ADS_1
Bersambung.