
"Aku tidak mau menikah dengan manusia Iblis seperti itu " Tegas Altea dengan sorot mata tajam. Dirinya benar benar jijik melihat Matteo sekarang.
"Aku sudah sekuat tenagaku menolak tapi dia memaksaku. Niatku murni menolong dia malam itu karena aku tidak tega , tapi dia malah menghancurkan hidupku, ada dendam apa dia sama ku hiks.... hiks..."
David dan Ratna hanya terdiam mendengar suara lirih Altea yang dibumbui dengan isak tangis. Mereka merasa begitu bersalah dengan wanita polos yang sudah terlanjur mengandung cucu mereka itu.
Dari ucapan Altea mereka semua menangkap jika kehamilan gadis itu bukan disebabkan oleh hubungan suka sama suka, melainkan dengan paksaan. Mereka memang tidak tau apa yang terjadi dengan putra mereka sehingga begitu tega melakukan itu, yang jelas itu semua diluar dugaan mereka.
Sebagai orang tua Altea ,Ilham dan Sofi semakin terpukul mengetahui jika kehamilan perempuannya adalah akibat pemerkosaan oleh lelaki yang dekat dengan mereka. Ketakutan yang selama ini mereka pikirkan benar benar terjadi. Niat baik mereka membiarkan putrinya tidak menjauhi pria itu ternyata mengakibatkan hal yang begitu sakit. Sungguh menyiksa begitulah kira-kira isi pikiran Ilham dan Sofi.
"Nak, dengarkan tante sebentar" Ratna menangkup kedua pipi Altea yang masih dibanjiri dengan bulir bulir bening . "Tante tidak tau apa yang terjadi dengan kalian berdua, tapi apa pun penyebab semua itu ketahuilah ada baby kalian disini , Matteo juga sudah berjanji untuk mempertanggungjawabkan kalian bukan?" Ratna menunjuk perut rata Altea.
"Jangan menangis dirimu tidak sendirian, Ada Tante ,om, papa mama mu , kami semua ada disini untukmu dan baby mu " ucap Ratna menenangkan Altea.
"Tapi aku tidak mau menikah dengannya " Altea masih bersikukuh menolak.
David dan Ratna saling memandang, kemudian mereka mereka secara bersamaan melirik Ilham dan Sofi, seolah meminta agar mereka mengeluarkan suara.
"Sebaiknya kita bicarakan ini diluar" Hanya itu yang keluar dari bibir Ilham tanpa menunggu dia sudah berlalu.
"Nak, kamu tenang ya... sebaiknya dirimu berbaring dan istirahat tapi jangan lupa tetap pikirkan semuanya baik baik sayang, ini demi dirimu dan calon cucu saya disini" Ratna kembali menunjuk perut rata Altea.
Sofi yang melihat kelembutan dalam diri Ratna merasa mendapat dukungan baru, dia tau jika keluarga Matteo bukan kalangan biasa seperti mereka. Dalam situasi buruk seperti ini Ratna tetap menunjukkan sisi ke ibu an yang begitu sederhana.
"Kami akan membicarakan semua ini dengan kedua orang tua mu, kamu cukup istirahat disini ya " Ratna melirik Sofi sejenak, seolah mengatakan ayo keluar. Sofi yang paham arti lirikan itu kemudian memakai blazer nya dan segera mengikuti langkah Ratna menyusul suaminya mereka yang sudah keluar duluan. Sebelum mereka hilang dibalik pintu Ratna berpesan kepada diva agar tetap berada di ruangan Altea dan mengawasi gadis itu. " Baik ma, aku akan disini" balas Diva.
Sepeninggalan mereka Altea masih menangis sambil memeluk lututnya. Dia benar benar dihadapkan dengan keadaan yang begitu menyiksa. Rasa sakit dan rasa tidak terima dengan kenyataan begitu menyiksa dirinya. Dia tidak pernah menyangka akan menghadapi kehidupan yang begitu rumit ini. Menikah ? mungkin itu adalah impian semua orang namun jika menikah dengan terpaksa karena mempertanggungjawabkan kesalahan itu sangat berat bagi Altea.
"Al, jangan sedih kenapa ... kasihan baby mu kalau kamu sedih dia akan otomatis sedih " Diva tersenyum kaku. Mendengar kata baby sedih Altea perlahan menghapus air matanya.
Biar bagaimana pun baby itu adalah darah dagingnya.
"Sebaiknya kamu istirahat, kamu perlu memulihkan pikiran mu Al ... " Diva menarik selimut untuk menutupi tubuh Altea.
Sedangkan Altea hanya diam dengan tatapan kosong. Dirinya masih berkecamuk, dunianya serasa berputar jungkir balik.
.
__ADS_1
.
.
.
Mereka semua sekarang berada di salah satu ruangan VIP sebuah restoran milik keluarga mahaprana yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit.
"Tempo hari mertua saya pernah meminang putri kalian untuk menjadi menantu kami, tapi Altea belum siap karena dia kuliah maka dari itu kami tidak memaksa, dan istri saya juga memberinya pilihan agar tunangan terlebih dahulu " Ucap David membuka percakapan.
"Apa itu dendam yang dimaksud Altea ?"
Gemuruh Ilham sebagai orang tua belum stabil. Dia berpikir jika Matteo sengaja memperkosa Altea agar mau menikah dengannya.
"Aku tidak yakin ,sebagai orang tua Matteo aku bisa memastikan tidak ada dendam disini, Aku mengenal putra saya dengan baik " tutur David. Dia melihat bagaimana Matteo memperlakukan Altea ketika ulangtahun istrinya, jadi jika tuduhan sebagai dendam rasanya tidak mungkin putranya memiliki dendam kepada gadis polos seperti Altea.
Keheningan sejenak tercipta, mereka sibuk dengan pikiran masing masing.
"Semua sudah terjadi, mau bagaimana lagi.
Kita hanya bisa mengobati dan memberi solusi kepada putra dan putri kita " tutur David .
"Saya akan berbicara dengan putra saya agar pernikahan segera diadakan " ucap David.
"Dan pernikahan ini harus kita sepakati bersama sekarang, karena putra saya juga mengakui kesalahannya dan mempertanggungjawabkan semuanya " Tambah david.
"Baiklah, saya juga akan berbicara dengan putri saya" Ilham akhirnya menyepakati.
"Silahkan dimakan dulu" Ratna melihat jika pelayan restoran sudah meletakkan beberapa hidangan di atas meja.
Situasi begitu canggung, bagaimana tidak mereka belum saling mengenal satu sama lain tetapi sudah dihadapkan dengan kenyataan jika dalam beberapa waktu dekat status mereka sudah besanan. Sambil menikmati hidangan makan malam, mereka tidak luput dari pembahasan Altea dan Matteo. David dan Ratna juga meminta maaf atas kelakuan putra mereka yang sudah menyebabkan kekacauan ini.
Setelah itu mereka memilih kembali kerumah sakit untuk membicarakan hal serius ini kepada Altea dan Matteo. Mereka semua sebagai orang tua sudah sepakat keruang rawat inap Altea, setelah semua permasalahan sudah mendapat kesepakatan bersama.
.
.
__ADS_1
Mereka masuk dan mendapati Altea masih diposisi berbaring dengan tatapan kosong masih membingkai wajah cantik nya. Mata sembab dan wajah pucat menandakan jika wanita itu masih tidak terima dengan kenyataan ini.
Tidak berapa lama pintu kembali terbuka menampilkan Matteo dan Juna masuk. Matteo memang memilih menenangkan diri di luar sambil bertukar pikiran dengan kakaknya Juna. setelah mendapat panggilan dari Ratna mereka segera datang.
"Kami sebagai orang tua kalian sudah sepakat untuk melaksanakan pernikahan kalian secepatnya " Ucap David memandang putranya dengan tatapan tajam kemudian beralih kepada Altea.
"Aku sudah bilang bukan ,aku tidak mau menikah dengannya " Altea menengadah dan menolak kesepakatan itu.
"Kau mau anak mu lahir tanpa ayah nak?
Apa kata orang diluar sana jika anak gadisku hamil diluar nikah ? " Sofi mendekati Altea membelai rambut gadis itu dan berusaha meyakinkan .
"Atau dirimu masih berencana menggugurkan bayimu seperti yang kamu katakan tadi dan menanggung dosa seumur hidup ?
Ayah sendiri yang akan mengantarmu ke penjara jika itu terjadi " Ilham yang sudah lama menahan gemuruh dan sesak didalam hatinya akhirnya terpancing juga.
Altea melihat jelas wajah ayahnya yang sedang tidak bersahabat, dengan perlahan dia menggeleng dan melirik perut ratanya.
"Sekarang bisa saja kamu menolak nak, tapi kamu butuh pernikahan ini untuk membuat status kepada anak kalian " Tutur Sofi melirik Matteo yang hanya diam.
"Aku tidak butuh status !!! , Dan aku tidak mau menikah dengan manusia seperti itu!!" suara Altea naik satu oktaf dia segera memalingkan wajahnya.
"Apa kau tidak menghargai kami disini ? " Ilham tidak tinggal diam, dia juga sama dengan Altea menaikkan volume suaranya, dengan raut wajah yang mulai kehabisan kesabaran dia mendekati putrinya yang sudah kembali terisak.
"Jika kamu ingin di mengerti tolong mengerti kami juga !!! " Ilham menekankan kalimatnya sambil memandang wajah Altea dengan perasaan campur aduk.
Rasanya vertigo Ilham kambuh melihat putrinya yang begitu bebal dan sulit menerima kenyataan. Dia sebenarnya paham dengan apa yang dirasakan putrinya, tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, hanya pernikahan lah keputusan paling akurat untuk menyelesaikan semuanya.
"Aku mau bicara berdua dengan Altea " Matteo melihat suasana semakin tidak kondusif, Altea masih bersikukuh dengan egonya sedang Ilham sudah mulai emosi menghadapi suasana canggung itu,akhirnya dia berniat untuk menyelesaikan nya bersama dengan Altea.
Didalam ruangan hanya tertinggal Matteo dan Altea. "Maafkan aku yang membuat mu berada di dalam kehancuran ini " Matteo membuka suara.
"Aku mengerti dirimu sulit menerima aku, tapi ketahuilah aku melakukannya diluar kesadaran ku, kau bisa menolak diriku tapi kau tidak bisa menolak Matteo kecil yang mulai hidup didalam perut mu . Dia membutuhkan kita berdua untuk kelangsungan hidupnya. Aku mohon mengertilah " Matteo mencoba bersikap dewasa untuk membuat Altea mengerti.
BERSAMBUNG......
......Hai reader aku mau memberitahu jika author mulai besok update sekali sehari karena diriku juga bekerja longsift. ......
__ADS_1
Akan tetap aku tetap mengajak kalian semua tetap setia menjadi pembaca ceritaku ini ya 😁🤣🤣
Tetap dukung aku melalui like,komen dan vote kalian . Terimakasih 👍