
Matteo dan keluarga kecilnya sudah tiba di tanah air.
Matteo yang merasa lelah langsung merebahkan diri diatas kasur empuk di kamarnya.
"Sayang... aku tidur sebentar. Jika perlu apa apa bangunkan saja aku ".
Mata Matteo sudah terpejam. Padahal istrinya belum menjawab apa apa.
Altea hanya berjalan mendekati suaminya.
Sekilas senyum membingkai wajah cantiknya sore ini. Di belainya rambut Matteo yang tertata rapi.
Matteo semakin terpejam menikmati hangat belaian istri. Bercampur dengan kantuk yang menyerang akhirnya dia benar benar tidur pulas.
"Ayo main dengan mommy saja. Daddy sedang istirahat sayang. " Altea membawa thiago keluar dari kamar membiarkan Matteo tidur.
Ya dia paham jika suaminya sangat ngantuk. Beberapa jam selama di pesawat Matteo bahkan tidak bisa memejamkan mata karena Thiago mengajaknya untuk bermain.
"Bu. ambil satu untuk ibu " Sambil menggendong Thiago Dia menunjuk tas branded yang sudah tersusun rapi diatas sofa.
Bibi pelayan melirik sekilas. Seperti tidak percaya. "Non, itu berlebihan. Saya..."
"Ambillah Bu. Itu aku yang pilihkan lho untuk ibu. Ambil saja. Itu hadiah untuk ibu ".
Karena tidak enak hati untuk menolak akhirnya bibi mengangguk. "Kalau begitu non saja yang memilih untuk saya. "
Altea berjalan mengambil satu tas berwarna hitam mengkilat dan memberikan kepada bibi pelayan.
Bibi pelayan yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Semoga ibu suka "
"Pasti non. Saya sangat suka. Terimakasih atas kebaikan nona " Bibi pelayan masih menunduk. Tangannya bergetar memegang handle tas.
Dia tau tas itu pasti bukan tas biasa yang seperti dijual di pasaran. Dari mereknya saja dia bahkan menelan ludahnya dengan sudah payah.
Bagaimana bisa nona segampang ini memberikan tas mahal untuk pelayan seperti saya.
Dia melihat Altea dan Thiago sudah menghilang di balik pintu belakang. Pintu itu adalah pintu menuju halaman belakang rumah mewah mereka.
Altea sudah meletakkan kaki Thiago diatas rumput hijau di taman belakang.
Taman bermain itu sengaja di desain untuk tempat bermain thiago.
Rumput hijau bersih yang terawat dengan baik.
Suasana tenang tanpa ada kebisingan kendaraan bermotor seperti di kota pada umumnya.
Di dapur. Para pelayan terlihat mulai mengerjakan pekerjaan mereka karena sebentar lagi malam tiba.
Jam makan malam dirumah itu tidak boleh terlewatkan. Itu perintah dari Nyonya besar yang menugaskan mereka.
Beberapa diantara mereka adalah pelayan dari rumah utama.
Dibalik kaca seorang wanita sedang berdiri. Matanya tertuju melihat Altea dan Thiago sedang tertawa bermain diatas rumput.
Dari jendela kamarnya dia bisa melihat jelas aktivitas di belakang rumah mewah Matteo.
Cahaya matahari sudah mulai meredup. Ini sudah senja. Sebentar lagi malam akan tiba.
"Maaf non. Apa tidak sebaiknya si kecil di bawa masuk kedalam?
Di luar sudah mulai terasa dingin ". Bibi pelayan datang dengan celemek masih menempel ditubuhnya.
"Benar juga. Iya Bu terimakasih sudah mengingatkanku "
Bibi pelayan mengangguk.
"Saya akan membantu non untuk membersihkan tubuh si kecil " Ucap bibi pelayan tanpa menunggu persetujuan sudah melangkah ke kamar thiago yang bersebelahan dengan kamar Altea dan Matteo.
Sambil memandikan Thiago. Altea mulai penasaran dengan bibi pelayan yang hampir sudah setahun dia kenal.
"Bu. Apa aku boleh bertanya hehehe"
Percikan air di bathtub tempat Thiago merembes ke wajah Altea.
__ADS_1
"Silahkan non. "
"Apa bibi sudah lama bekerja di rumah utama ? " Altea menelan salivanya. Merasa jika pertanyaannya tidak layak untuk di tanyakan.
"Sudah non. Dari den Matteo masih kecil " Ucap bibi pelayan dengan lugas dan santun.
"Maksudnya? "Tampak Altea terkejut. "Apa maksud Bu asih sewaktu suami saya masih se kecil Thiago ? " . Semakin penasaran.
"Tidak begitu juga non. Waktu itu den Matteo sekitar berumur 3 tahun non " .
"Oh begitu ya Bu. Lalu apa ibu tidak punya keluarga ? suami contohnya " . Bi asih sudah mengangkat Thiago dari bath up. Dia meraih handuk kecil.
"Saya punya 2 orang anak non. Dan suami saya sudah meninggal 7 tahun yang lalu ".
"Maaf Bu. Pertanyaan ku membuat ibu jadi sedih begitu ".
"Tidak non. Saya tidak apa apa ".
Obrolan mereka tidak lagi berlanjut setelah selesai memandikan Thiago. Altea mengintip dari balik pintu , Suaminya masih tidur pulas dengan posisi sudah tengkurap seperti biasa.
Sepertinya dia memang sangat lelah sekali.
Altea melirik jam sudah menunjukkan pukul 19.30.
Jam makan malam sudah mundur beberapa menit. Namun tidak ada tanda tanda Matteo akan bangun.
"Sudah biarkan saja Bu. Ayo kita makan. "
sisa kan saja untuk suami saya sesuai porsinya. Nanti saya bawakan ke kamar. "
"Silahkan di makan saja non. Kami akan makan di ruang belakang ". Wanita paruh baya itu menarik kursi agar Altea bisa duduk.
Dia menarik nafasnya sejenak.
"Kalau begitu ayo kita makan di ruangan belakang saja " Altea berdiri dan berjalan menuju ruang belakang.
"Tapi non... " Wanita paruh baya itu terlihat gusar melihat Altea melenggos begitu saja.
"Non. makanlah di depan non. Ini tempat makan para pekerja. Tidak pas untuk non Altea ".
Sungguh persoalan makan ini membuat kepala Bu asih berdenyut denyut.
"Ayolah Bu. Panggilkan mereka kita makan bersama. Ini pasti menyenangkan"
Bu asih terlihat ragu untuk melangkah.
Anda adalah nyonya di rumah ini. Bagaimana mungkin anda makan bersama dengan kami.
Namun dia berjalan memanggil para pekerja agar makan malam seperti biasa.
Meja makan panjang yang di kelilingi banyak kursi sudah mulai ramai terisi. Masing masing diantara mereka berusaha untuk menguasai diri. Karena keberadaan Altea nyonya mereka.
Mereka mulai makan dengan tenang ketika Altea menyapa mereka satu persatu dengan ramah untuk pertama kalinya.
Jiwa Ramah Altea memang selalu membuat hati siapa saja pasti terpana.
Makan malam mereka sudah selesai. Kini mereka hanya menikmati buah segar sebagai pencuci mulut.
Matteo menutup pintu dengan pelan. Tadi dia sudah melihat jika istrinya makan malam bersama dengan para pekerja.
Dia memilih kembali ke kamar. Sebelum itu dia juga mengintip ke kamar anaknya. Hanya ada satu perawat yang duduk di samping tempat tidur Thiago.
Dia kembali melanjutkan langkahnya. Segera mandi dan mengganti pakaian.
"Sayang... kau sudah bangun ternyata" Altea datang membawa nampan berisi makan malam suaminya.
"Kamu makan ya. Tadi aku sudah duluan karena kamu masih tidur "
Iya aku tau.
"Mau aku suapin " Wajah Matteo langsung berbinar saat Altea berinisiatif melakukan hal yang di senangi Matteo.
Tanpa menunggu jawaban Altea sudah meraih garpu dan sendok.
"Kau tidur nyenyak sekali tadi, Kau ngantuk sekali ya. " Altea berusaha membuka topik pembicaraan karena dari tadi Matteo diam saja.
__ADS_1
"Iya.. dan kau meninggalkanku" Ketus
"Hehehe sayang.. aku tidak meninggalkan mu kok. Aku bermain main dengan Thiago di belakang, dan aku....
Altea terlihat ragu untuk bicara.
"Dan apa ?? " Matteo mimicing. sebelah tangannya menolak suapan altea. "Aku sudah kenyang".
Dan aku melihat tetangga baru itu juga bermain tenis di belakang rumahnya.
"Tidak apa apa kok. "
"Yakin sudah kenyang ? " Menunjuk piring Matteo masih tersisa setengah nasi dan juga lauk.
Matteo mengangguk. Dia menerima gelas berisi air putih dan menenggaknya sampai habis.
"Sayang lepas dulu... "
Kenapa dia suka sekali mengagetkan...
Matteo menarik Altea duduk di pangkuannya. Padahal tadi Altea ingin mengembalikan nampan berisi piring itu ke dapur.
"Kau tidak merasa bersalah gitu meninggalkan aku tadi sendirian". hisapan kecil di ceruk Altea membuat wanita itu meraung.
aaaa.... Geli sekali.
"Hahaha... sayang lepas dulu. Nanti kau tidak bisa menahan dirimu "
Matteo yang sedang bermain main di ceruk Altea menoleh. " memangnya kenapa ??? kau kan istri ku " Bermain lagi.
Mengecup sana sini sambil tangannya sudah bergerilya di balik punggung Altea.
Ini adalah tanda-tanda pengenal mau kemana permainan ini sebentar lagi.
"Sayang aku lagi PMS" Sebelah tangan Altea mendorong tubuh Matteo agar menjauh. Namun mustahil tenaganya tidak sebanding. "PMS itu apa ?? " kedua tangan Matteo sudah aktif di sana sini.
"Datang bulan lho !!"
"Oh " Matteo tampak tidak perduli. Dia tetap melanjutkan apa yang sudah dia mulai tadi semakin membuat Altea kesal.
"Jangan membohongiku. Aku tau jadwal mu setiap bulan! "
Apa !!
Apa sepenting itu bagimu hingga kau Sampai menghapal jadwal aku menstruasi
Gila apa ya...
Matteo semakin menjadi jadi. Baju tidur Altea sudah tersingkap dari tubuhnya.
"Iya aku menulisnya di dinding ! " ucap Matteo asal. Seperti tau apa yang di pikiran istrinya.
Wajah Altea semakin masam wkwkwk dia ketahuan berbohong.
Sudah pindah keatas tempat tidur. tapi masih dengan posisinya yang tadi. Altea di bawah kungkungannya.
Altea alih alih menahan kesal namun reaksi tubuhnya tidak bisa berbohong.
Sudah hampir tengah malam Matteo baru saja keluar dari kamar mandi melilitkan handuk di pinggangnya.
Altea dengan wajah kusam juga terlihat mengikuti dari belakang.
"Sana pakai bajumu. Atau mau melanjutkan yang tadi ??? " Sorot mata Matteo menunjuk tempat tidur yang hancur lebur. Selimut dan juga bantal sudah berantakan di lantai.
"Tidak !!! tidak !! " Dia segera menuju ke lemari pakaian. Terdengar mengumpat kesal namun Matteo tertawa.
Bersambung....
Hai. Aku Radar Neptunus. Aku ganti nama penaku. Karena aku belum percaya diri untuk mencantumkan nama.
Hari ini aku usahakan untuk update dua bab.
Seminggu lalu aku di sibukkan dengan berbagai aktivitas yang menguras tenaga. Dan baru ini aku bisa mengotak ngatik keyboard laptop ku.
Tetap dukung dengan like dan komentarnya ya...
__ADS_1
🤗🤗❤️❤️