
Matteo terus memandang Altea dari kejauhan, sampai akhirnya dia memutuskan pergi setelah melihat Gio sudah menunggu di depan pengadilan.
Dia melewati Altea dan rafael yang masih berbincang bersama dengan ibunya tanpa menoleh atau memberikan sapaan sedikit pun.
Untuk saat ini dia tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak bisa berpikir jernih apalagi melihat Altea dengan Rafael rasa cemburu itu kembali hadir.
"Kenapa dia melewati ku begitu saja" Altea.
Matteo kemudian melajukan motornya ke apartemen miliknya, di sana sudah ada Ibra dan Daniel sedang duduk sambil menikmati minuman keras.
"Jauhkan benda haram ini dari hadapanku! " Matteo melemparkan jaketnya disembarang tempat.
Ibra hanya mendengus jengkel melihat tingkah Matteo.
"Maaf aku tidak bisa datang di persidangan mu tadi" Daniel memang sengaja tidak datang karena dia sudah mengetahui jika Matteo besar kemungkinan tidak bersalah.
"Aku juga tidak membutuhkanmu " Ketus Matteo.
"Dia hanya butuh Altea, Altea dan Altea " Ibra menyelipkan tawa kecil ketika mengucapkan kalimatnya.
"Jangan bawa nama Altea " Matteo menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Ngomong ngomong soal Altea, Bagaimana bisa hal itu terjadi? Ibra bertanya seolah belum tahu cerita sebenarnya.
"Aku dan Altea sepakat bertemu saat itu karena aku mau membahas soal pertunangan ....
"Tunggu !!!!" mendengar kata pertunangan,Ibra spontan menyilang penuturan Matteo karena dia terkejut. "Memangnya kalian mau tunangan?? apa dia secepat itu luluh dengan mu?? .
"Tidak bisakah kau mendengarkan aku dulu baru berkomentar? Matteo langsung melayangkan tatapan tajamnya.
"oke oke baiklah " Ibra mengalah.
"Aku mengajaknya ketemu di jam makan siang, tapi Altea menolak karena dia ada jadwal diskusi dengan kelompoknya "
Matteo sejenak menarik nafas kemudian pelan pelan melanjutkan kalimatnya kembali. " Akhirnya kami sepakat bertemu setelah diskusinya selesai, dia mengabari ku setelah jam 5 sore tepat dengan jam ku pulang dari kantor" Matteo kembali menghela nafasnya sedangkan Ibra dan Daniel mendengar dengan seksama tanpa berniat memotong.
"Saat itu aku tidak langsung menemuinya karena aku bertemu Clarish di kantor"
"Lalu ??? Daniel merasa terpanggil untuk ikut masuk kedalam cerita Matteo, dia mengingat bagaimana sore itu Clarish sepupunya datang, dan dia sendiri yang meminta Clarish menemui Matteo setelah jam kantor berakhir.
"Aku membuang waktu mendengarkan alasan Clarish sehingga tanpa sadar membuat Altea menunggu terlalu lama, saat itu juga Altea pulang tanpa mengabari ku disaat aku sedang dijalan, beruntung saat itu Gio melintas dengan anggota dijalankan"
Matteo mengingat kembali kejadian malam itu dimana dia sudah memiliki firasat buruk, beruntung saat itu gengnya sedang melintas di jalanan maka dia bisa menaiki motor gio dan menitipkan mobilnya kepada Guntur.
__ADS_1
"Setelah itu aku menelpon Altea berkali kali ,panggilan itu masuk tapi tidak diangkat, dan akhirnya aku melacak Altea melalui GPS dan saat itu GPS menunjuk Altea sedang di belakang GOR (gelanggang olah raga) "
"Bagaimana bisa Alex masih berada di kawasan kampus jam 7 malam ?" Ibra mulai curiga.
"Apa sebelumnya Altea dan Alex saling kenal? Daniel menyambung kecurigaan Ibra seakan meyakini jika ini bukan kejadian yang terjadi secara kebetulan.
"Ini bukan pertama kali Alex ingin memperkosa Altea " Matteo memutar ingatannya di pengadilan tadi siang.
"Apa maksudmu ??? ibra mengerutkan dahinya.
"Saat itu Rafael lah yang menolong Altea" Ucap Matteo.
"Aku menduga Alex membalaskan dendamnya untuk mu melalui Altea " tutur Daniel
"Atau ada hal lain yang mungkin diluar dugaan kita ? Daniel kembali mengeluarkan kecurigaannya.
"Aku tidak tau, untuk sementara aku hanya bisa menyelidiki kasus ini pelan pelan, aku juga tidak mau ada hal hal yang buruk terjadi lagi, dan Alex sialan itu tidak akan lolos begitu saja" ucap Matteo.
"Aku akan membantumu" Daniel menepuk pundak Matteo.
"Bukan dia saja tapi aku juga ikut membantumu, termasuk untuk kelangsungan acara pertunangan mu dengan Altea " senyum licik penuh sindiran terpampang di wajah Ibra.
Matteo hanya memutar bola mata malas " kalau itu aku tidak bisa memastikan" ucap Matteo.
"kakek Raymund yang meminta kami menikah , tapi Altea tidak bersedia , belum bersedia lebih tepatnya , maka dari itu mama memberi solusi agar tunangan dulu, dan Alte juga tidak langsung menerima solusi itu" tutur Matteo.
"Tapi kau sangat bersedia bukan? " ujar Ibra
"Jangan tanya " Matteo
"Jadi bagaimana kelanjutan pertunangan mu?" Daniel
"Aku tidak bisa berkata banyak, akibat kejadian malam itu ayah Altea mengancam ku" Raut wajah Matteo berubah seketika.
"Bahkan dia terang terangan merendahkan harga diriku didepan Altea dan ibu Sofi" suara Matteo terdengar berat mengingat bagaimana Ilham menegaskan alasannya agar Altea menjauhi Matteo tanpa toleransi sedikitpun.
"Mungkin saat itu ayah Altea sedang dalam keadaan emosi" Daniel berusaha menenangkan pikiran Matteo.
"Apa mereka sudah mengetahui soal pertunangan itu?" tanya Ibra.
mereka yang dimaksud adalah orang tua Altea.
"Tidak" singkat Matteo.
__ADS_1
"Apa kau tidak langsung meminta restu mereka, atau kau tidak berani? tanya Ibra sambil menyelipkan tawa kecil seolah menyindir.
"Apa kau pikir aku bodoh meminta restu orang tua sedangkan Altea sendiri belum memutuskan apa apa" umpat Matteo kesal.
"iya juga , aku rasa orang tua Altea pun tidak akan merestui mu dengan putrinya" goda Ibra.
"Kau benar " ucap Matteo datar dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Ibra terdiam dan menelan saliva nya.
Mampus sepertinya aku salah bicara, aku lupa jika si bodoh ini sekarang gampang terbawa suasana.
Ibra merutuki dirinya yang masih bisa menggoda Matteo disaat keadaan seperti ini.
Matteo sadar jika cinta dan perasaan nya saja belum bisa diterima oleh Altea karena kehidupannya buruk.
Dia sudah berusaha untuk meyakinkan Altea tapi gadis itu terang terangan menuduhnya jika kejadian yang hampir saja menimpanya adalah suatu unsur kesengajaan.
Tuduhan Altea tersebut bagikan hantaman batu besar dipundak Matteo. Itu menandakan jika Altea sama sekali belum membuka hati atau bahkan belum memercayainya.
Ditambah lagi dengan Ilham yang juga terang terangan mengusirnya dari IGD kemarin sudah pastilah membuat harga diri Matteo semakin terinjak.
Disaat seperti ini dirinya benar benar terpuruk. Tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang, rasanya dia perlu menjernihkan pikirannya terlebih dahulu agar bisa mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi besok dan seterusnya.
"Apa tadi kau bertemu dengan Altea? tanya
Daniel.
"Tidak, aku hanya melihatnya dari jauh" ucap Matteo merasa frustasi .
"Kenapa kau tidak menemuinya? tidak berani? " tanya Daniel sinis.
"Aku tidak mau mengganggunya dengan sepupu mu itu " Matteo kembali dalam ingatannya tentang Altea dan Rafael yang sedang berbincang.
"Rafael maksud mu? apa dia ada saat kau disidang?
" Ada, dia juga yang menambah kesaksian dan itu memperkuat bukti" Ucap Matteo sambil menghembuskan nafasnya ke udara.
"aku rasa kau harus berjuang lebih keras, atau Altea akan jatuh kedalam pelukan sepupu ku itu " Daniel menekankan kata sepupuku dalam kalimatnya.
"Aku masih semangat, hanya saja aku butuh istirahat "
BERSAMBUNG.....
__ADS_1