Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Sempurna


__ADS_3

Altea sedang berada di area kampus. ini adalah hari terakhirnya untuk kuliah tatap muka. Setelah perdebatan panjang dengan Matteo dia akhirnya menerima saran agar melanjutkan kuliah berbasis online.


Matteo sendiri bukan tanpa alasan untuk menyarankan semua itu. Ini juga demi kebaikan altea dan kenyamanan wanita itu.


Perut yang semakin besar, rasanya Mateo tidak tega membiarkan wanita itu beraktivitas di luar ruangan.


Sedangkan untuk kuliah saja Matteo sebenarnya tidak menyarankan lagi karena Biar bagaimanapun masa depan altea sudah menjadi tanggung jawabnya.


Namun Altea selalu mengatakan jika pendidikan itu bukan hanya untuk sukses di masa depan saja. 'Menjadi istri atau ibu rumah tangga juga perlu berpendidikan '. Kata kata inilah yang membuat Matteo mengalah.


"Lihat perutnya! seminggu tidak masuk kuliah sudah membengkak saja! " Gosip para mahasiswa masih terdengar.


"Sebenarnya kau sudah menikah Belum sih ? " Salah satu mahasiswa yang kekepoan nya melebihi standar bertanya langsung.


"iya aku sudah menikah " Jawab Altea dengan lembut. seperti biasa dia tidak suka adu mulut meskipun dia sering di bully.


"Halahh paling nikah karena hamil duluan ! iya kan ! " ngaku aja " . yang lain juga ikut ikutan menyolot.


Ingin rasanya Altea menangis sekarang. Karena apa yang dikatakan oleh mereka adalah nyata. Iya kalian benar aku hamil diluar nikah. Hanya bicara dengan batin saja.


"Maaf saya harus ke ruangan dosen".. "Mari " Altea berniat untuk menghindar.


"Hah... air tenang menghanyutkan " perumpamaan yang diucapkan oleh salah satu lawan bicara altea sambil mencegah agar Altea tidak menghindar.


"Dasar wanita Murahan ! "


"Jadi wanita ada harga diri kenapa sih .. "


"Biarkan saja dia pergi. dia kan hamil kasihan !! " seperti ucapan pembelaan berbasis penghinaan.


Altea hanya diam seribu bahasa. memberikan ruang bagi mereka menerka nerka dirinya seburuk apa. Altea tidak peduli.


Terserah kalian mau bilang apa toh besok kita tidak akan bertemu.


Sedikit saja kalian menyentuhku, akan ku kupas kulit kalian sampai menyisakan tulang. Geramnya menunggu salah satu diantara mereka menyentuh.


Sepertinya jiwa jiwa keganasan Matteo menular kepada Altea. Perbedaannya dia tidak gampang emosi.


"Sayang ... kenapa masih disini? " suara bariton Matteo terdengar. Matteo datang dengan senyuman yang menakutkan. " ini teman teman mu ? " tatapannya sudah seperti mata pisau yang baru di asah. Ketiga wanita itu saling memandang.


"Matteo kamu disini? " Altea langsung gelagapan. oh iya aku kan ada janji makan siang dengannya ah menyebalkan. Melihat tatapan Matteo dia bisa menebak jika pria itu mendengar pembicaraan mereka. Tidak peduli situasi.


Matteo menghujamkan ciuman bertubi-tubi di pucuk kepala Altea. Wanita itu merona menahan malu.


Inikan anak pemilik kampus ini kalau tidak salah. Batin salah satu diantara ketiganya.


"Aku sudah satu jam menunggumu lho.... " ucapnya. Namun tatapannya tidak berpaling dari ketiga manusia yang menghakimi istrinya.


Ketiga wanita tersebut hanya bisa menautkan jemari mereka. Melihat gelagat aneh Matteo. Habislah kami .


"Sudah ayo pulang " Altea menarik tangan Matteo. Aura mematikan sudah mulai tercium dari seringai tipis yang terlihat di wajah suaminya.


"Mike! "


"Iya.. anda butuh sesuatu ? " Mike tidak menyematkan nama panggilan khusus untuk Matteo karena permintaan Matteo sendiri. Mike pernah memanggilnya dengan Tuan tapi Matteo tidak suka. Baginya tetaplah sang kakek Raymund yang layak dengan sebutan Tuan.


"Berikan hadiah untuk ketiga nona cantik teman istriku ini.. yang spesial yaaa " Ucapannya sinis terdengar dingin, dengan tatapan meledek.


"Baik... "


"Mari ikut saya nona " Mike menunduk. seperti biasa jiwa kepemimpinannya akan selalu melekat dalam memperlakukan siapa saja.

__ADS_1


"Tunggu! kami mau dibawa kemana ? " Jalan menuju ruang administrasi kampus.


"Apa nona tidak mendengar bahwa aku akan memberi hadiah spesial? " Mike terus berjalan dibuntuti oleh ketiga orang yang sedang merasa gusar. Sepertinya kita salah sasaran. Batin mereka.


Dan Hadiah spesialnya adalah ketiga wanita itu dikeluarkan dari kampus.


Memohon dengan cara berlutut pun tidak mendapatkan pengampunan.


"Kami hanya bertanya saja apa dia hamil diluar nikah itu saja! " Masih berusaha untuk membela diri. "Jika dia memberi tahu suaminya adalah anak pemilik kampus ini mana berani kami mengganggu" Ucapnya lagi.


"Bukan itu alasannya nona " Mike masih memberikan waktu untuk mendengarkan keluhan ketiga wanita yang tidak beruntung. Baru semester dua sudah di drop out dari kampus impiannya.


"Lalu apa!! " teriak mereka lagi.


"Berhenti mengurusi urusan orang lain " Tegas Mike. "Selamat mencari kampus yang baru nona , tetap semangat " ucapnya datar seperti meledek.


Mike menghidupkan kembali mobilnya dan melajukan menuju kantor.


Dia memang sudah menjadi tangan kanan Matteo sekarang. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan karena Gio sekretaris Matteo, masih dirawat dirumah sakit.


"Maafkan aku sudah membuatmu tidak nyaman di kampusmu... " Matteo membuka suara sambil menggenggam tangan Altea. Inilah alasan Matteo sebenarnya.


Walau altea tidak pernah cerita namun hembusan hembusan angin selalu terdengar oleh Matteo.


Peristiwa penghinaan terhadap istrinya masih menari nari dibenak Matteo.


Apa yang dilakukan Mike tadi ya?


Matteo menerka hadiah apa yang diberikan Mike kepada ketiga gadis itu.


"kamu pasti malu bukan? " Matteo cukup cerdas memahami wanitanya. Walau dia tidak ada romantis romantisnya.


"Aku tidak malu ! " Tegas Altea.


"Aku wanita yang beruntung, walau aku tidak sempurna " ucap Altea lirih menyadari sikapnya kepada Matteo selama ini.


Matteo menghentikan laju mobilnya. Menatap lekat Altea.


"Kau begitu sempurna di mataku"


"Ayo jalan! jangan buat kemacetan disiang hari " Kekeh Altea melirik kaca spion mobil. Tampak dibelakang mereka banyak mobil yang berbaris.


"Ich " Matteo menginjak pedal gasnya.


"Kita mau kemana ? " Altea melihat persimpangan tempat dimana dia biasa nongkrong bersama dengan Feren dulu.


"Makan siang ke rumah ayah dan ibu mertuaku " Godanya dengan bangga.


Altea hanya mengerutkan keningnya. "Lebay kali " gumamnya.


"Ibu dan ayah siang begini tidak dirumah. Ibu pasti ke tempat nenek dan ayah di bengkel " ucap Altea. Makanya bertanya dulu sebelum bertindak pikirnya Matteo tidak tau.


"Apa peduliku? Aku bilang apa jawab mu apa " Ketus Matteo jahil. "Aku bilang makan siang kerumah mertuaku bukan bertemu mertuaku " ucap Matteo lagi.


"Apa! " Geram Altea merasa kalah.


"Hahahah" Ayo turun sudah sampai . Matteo memarkirkan mobilnya di depan teras rumah Altea.


Menenteng tas Altea. Matteo membuka pintu mobil agar Altea keluar. Sofi sudah tersenyum hangat menyambut putrinya.


"Apa kabar Bu ? " Matteo lebih dulu menyapa.

__ADS_1


Semenjak menikah baru kali ini dia Mengunjungi kediaman mertuanya. Selain aktivitasnya yang semakin padat. Matteo selama ini masih belum siap untuk menampakkan dirinya dihadapan kedua orang tua Altea.


"Baik nak, ayo masuk "


Di meja makan. Sofi sudah menyiapkan ini dan itu untuk makan siang mereka. Tidak lupa sate yang sengaja dia belikan untuk Altea.


Beberapa hidangan pencuci mulut juga tersedia.


"Ibu tau kami mau makan siang disini? " Altea tidak pernah melihat ibunya menyiapkan makan siang sebanyak itu.


"Iya.. Matteo bilang kalian mau kesini jadi ibu sempatkan memasak. Kau pasti rindu masakan ibu bukan."


sambil menuang sayur rebusan kedalam wadah.


Oh.. jadi ini sudah direncanakannya.


"Ibu lihat hubunganmu dengan Matteo semakin baik nak " Membuka obrolan sambil menunggu Ilham datang dari bengkel. Makan siang sekitar pukul 13.00.


"Matteo tidak seperti yang......"


"Al... bagaimana cara menghidupkan AC nya ???? " Teriak Matteo dari dalam kamar Altea.


"Sana temani saja suami mu berbaring di kamar. ayah biasa datang sekitar setengah jam lagi " Sofi tidak melanjutkan pertanyaannya lagi. Melihat luar Matteo saja dia tidak lagi meragukan kebahagian putrinya.


"Ada apa .... " Altea masuk ke kamarnya menemui Matteo. Pria itu sudah berbaring diatas tempat tidur Altea menjadikan boneka beruang raksasa bantalnya.


"Tidak ada apa apa " Menepuk ranjang kosong agar Altea naik.


"Tadi kau berteriak karena AC " Altea menatap tajam. Aku tau itu hanya alasanmu agar aku datangkan ? . Memang benar-benar menyebalkan.


"Cepatlah kemari !!! " Matteo menepuk lagi.


"Aku sedang berbicara dengan ibu" Altea sudah mau keluar dari kamar. "Pilih ibu atau aku " Bertanya dengan mata tertutup.


Dasar sialan ! memaki.


Altea mau tidak mau naik keatas tempat tidur. Dengan gumaman halus yang nyaris terdengar.


Namun belum sempat dia berbaring sudah terdengar suara motor ayahnya berhenti di samping rumah.


Selamat .. aku selamat pikir Altea.


Altea tidak lagi melanjutkan acara baring baring dengan Matteo. Wanita itu langsung menghampiri ayah lalu menghambur ke pelukannya.


"Ayah... " Ilham hanya menepuk punggung Altea setelah itu melepaskan. "kau sudah menikah nak, jangan seperti anak kecil lagi " melerai pelukan Altea.


"Ayah.... " menghentakkan kakinya.


"Apa kabar mu ? " Ilham menepuk pundak Matteo. "Baik pak " .


Melirik Ilham sudah berlalu Matteo merengkuh pinggang Altea. "Ini yang terakhir kau memeluk laki laki lain " ucapnya.


"Apa ! ". "diakan Ayahku ! "


"Tidak boleh ada laki laki lain memeluk mu selain aku ! tanpa terkecuali ! tanpa alasan apapun ! " Matteo sudah mendaratkan bibirnya di bahu altea.


"Catat itu disini dan disini " menunjuk Otak Altea kemudian beralih ke dada Altea. "Hanya aku yang bisa memelukmu, dan hanya kau yang bisa memelukku "


"Paham ! "


Altea hanya melenggos. Malas sekali untuk menanggapi ucapan Matteo. Bilanglah sesukamu pikirnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2