Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Stay with me


__ADS_3

Merasa tidak dicintai membuat seseorang menjadi minder. Rasa percaya diri yang dulu perlahan hilang ditelan keadaan.


Malu, Aurel malu melihat dirinya yang setiap hari mengemis cinta dari laki laki yang tidak pernah mencintainya.


Keyakinan dirinya pasti bisa menaklukkan hati Juna setelah menikah ternyata tidak segampang yang dia pikirkan dan tekadkan.


Sekarang dia mengerti. Adegan romantis di Film dan novel yang sering terjadi dari benci menjadi cinta adalah sebuah misteri. Dunia nyata rupanya berbeda dengan semua itu.


Selama 30 menit keheningan tercipta di dalam ruangan.


Aurel menatap kosong hamparan kota dari balik kaca, Sedangkan Juna berperang dengan pikirannya sendiri.


"Maafkan aku yang datang karena merasa pantas duduk bersanding denganmu. " Satu tarikan nafas panjang dari Aurel.


Juna belum juga mengeluarkan suara. Ditatapnya punggung wanita itu dengan mata mulai menyipit. Dia sebenarnya tau itu.


"Maafkan mama dan papaku yang sudah tidak tahu malu mendatangi mama Ratna dan papa David agar kita bisa menikah. Karena hanya cara seperti itu agar aku bisa menikah dengan mu. Dan mendapatkan mu ".


"Aku minta maaf.... " . Walau dia berbicara dengan membelakangi Juna. Pria itu tau jika Aurel sedang menangis. Suara parau terdengar jelas disela kalimatnya.


Sejenak Juna menghela nafas. Inilah hal yang tidak disukai Juna sebenarnya. Cara Aurel menarik perhatian menurut Juna salah dan egois.


Aurel tidak memliki keberanian untuk mendekati Matteo waktu itu karena tau seperti apa jiwa Matteo. Akhirnya dia mendekati Juna, namun saat itu Juna konsentrasi dengan Visi misanya. Sehingga dia sama sekali tidak tergiur dengan wanita. Sikap dinginnya selalu membuat wanita takut mendekat. Kecuali Aurel , wanita yang dia peristri sekarang.


"Dan maafkan aku yang sering jahat sama Altea".


"Aku salah... Aku minta maaf " . Aurel membalikkan badannya.


Ekspresi Juna masih belum bisa dibaca. Wajah datar dan dinginnya menyembunyikan semua isi pikirannya sehingga sulit untuk ditebak apa yang dipikirkan pria itu.


Walau Juna tidak perduli sama Aurel namun dia diam diam melihat tingkah laku Aurel dari selama ini.


Momen saat Aurel sengaja membuat Altea kecapean di Mall ternyata tidak hanya disaksikan oleh Matteo saja. Namun, Juna juga melihat semua itu. Dia juga geram melihat Aurel pada saat itu.


Dan bukan hanya itu saja. Juna juga sering melihat tatapan Aurel yang tidak bersahabat ketika melihat Altea.


Mungkin itulah mengapa Juna sulit membuka hati untuknya. Dia merasa jika Aurel adalah wanita yang licik yang munafik serta penuh drama.


Aurel tau jika Juna mengetahui sikapnya. Maka dari itu dia terang terangan minta maaf dan mengaku salah.


"Aku hanya tidak terima melihatnya." suara Aurel kembali terdengar.


"Dia disenangi semua orang dan dicintai semua orang. Apalagi saat dia hamil. Aku Iri melihat Altea yang dibanjiri cinta dari Matteo. Dari mama Ratna dan papa David juga ".


Juna terdengar menghela nafasnya dengan kasar.


"Maafkan aku... " Lirihnya lagi mengulangi kalimat sebelumnya.


Wanita itu menunduk. Dia tidak berani menatap wajah Juna. Sekarang dia sudah rela dengan apa pun keputusan Juna.


"Aku wanita jahat. dan aku tidak layak ada disampingmu".


"Sekarang aku rela apapun keputusanmu. Kita tidak boleh memaksakan diri kita melangkah lebih jauh jika memang tidak bisa ".


Sekarang bahkan jika Juna menceraikan Aurel sekalipun dia sudah mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan. Dia pasrah. Tapi untuk saat ini dia juga perlu diberikan maaf. Dia berpikir bahwa dengan begitu dia bisa menjalani hidupnya dari awal lagi. Memulai semua dari nol.


"Aku tidak pantas untuk mu...". Suara Aurel terdengar tegas. Bayangan saat dia di acuhka oleh Juna kembali membuka keberanian agar dia leluasa bicara.


"Pergilah... cari kebahagiaan mu " Dia berbalik lagi menyembunyikan airmata yang membanjiri pipinya.


"Kau layak untuk bahagia dengan wanita pilihanmu. Aku rela.... " Tubuh Aurel bergetar menahan sesak di dadanya.


"Ayo pulang....". Akhirnya suara datar Juna terdengar. Sedari tadi dia hanya diam tanpa suara.


Gadis itu masih diam. Seolah tidak tertarik untuk pulang. Dia teramat sakit hati sebenarnya melihat Juna.


"ikut pulang denganku " Juna sudah berdiri. Dia sudah mengulurkan tangannya bersiap menarik lembut tangan Aurel.


Melihat Juna seperti ini. Aurel seratus persen luluh. Namun Dia seperti tidak yakin dengan uluran tangan Juna. Dia masih mematung. Ini adalah perlakuan yang langka yang pernah dia lihat dari Juna.


"Apa kau tidak mau pulang denganku? " Juna mengangkat sebelah alisnya. Tatapannya masih sulit diartikan.

__ADS_1


Sejenak Aurel memberanikan diri untuk melihat wajah Juna. Tatapan mereka bertemu. Aurel perlahan menerima uluran tangan Juna.


"Ayo " Juna sudah menarik lembut tangan Aurel keluar dari kamarnya. Sebelum keluar, aurel masih menyempatkan diri meraih tissu dan untuk mengeringkan pipinya. Dia kemudian menyambar ponselnya. Juna meraih ponsel aurel dari tangan gadis itu. Kemudian mereka menuruni anak tangga menuju halaman tempat dimana mobil Juna parkir.


Sebelum mereka keluar. Juna masih menyempatkan diri meraih dompet dan memberikan banyak lembaran uang untuk bibi asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman orang tua Aurel.


"Saya jadi tidak enak hati tuan. "


"Tidak apa apa Bu. " Juna kembali melangkah keluar sambil menarik tangan Aurel. Bibi menundukkan kepalanya sambil melirik nona mudanya yang digandeng oleh juna.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mereka sama sama diam. Juna menyetir dengan konsentrasi karena jalanan terlihat macet karena ini jam pulangnya para pekerja berburu nafkah. Terlihat disetiap persimpangan lampu merah banyak sepeda motor yang dikendarai oleh orang orang yang masih mengenakan seragam kerja.


.


.


.


"Kak Aurel .....ish.. kakak dari mana saja sih. aku menghubungi kakak tapi ponsel kakak tidak bisa dihubungi."


"Aku sama Diva mau ngajak kakak belanja hari ini ke mall tempat kita waktu itu".


Altea masih memegang botol susu hangat untuk Thiago. Dia terlihat kegirangan karena sudah bertemu dengan Aurel.


"Iya ponsel kakak mati. " Aurel menunjukkan ponselnya yang terhubung dengan power bank.


"Pantas saja. " Ucap Altea sedih.


Hari ini adalah weekend. Matteo membawa anak dan istrinya kerumah kediaman Mahaprana. Karena permintaan David sang papa. Dan sekarang bayi itu sedang di goda oleh Ratna dan David di ruang tengah.


"Kakak kenapa ? kok wajah kakak seperti..


"Aku ke kamar dulu ya. " Aurel menghindari Altea. Dia merasa Altea sedang memperhatikan wajahnya yang baru menangis.


"Oia... Shopping nya besok gimana ? Boleh ya.." tatapan Aurel memelas. " Kakak lagi tidak enak badan ".


"kakak sakit? .


"Yakin? " . Aurel mengangguk.


"ya sudah.. Sebaiknya kakak langsung istirahat saja." ucap Altea prihatin.


Aurel tersenyum. Dia sudah menaiki anak tangga.


"Aku menunggui mu dari tadi. ternyata kau sibuk dengan orang lain disini". Ucap Matteo tiba tiba memeluk Altea dari belakang. Tidak lupa bibirnya sudah kesana kemari menciumi seluruh wajah Altea.


Wanita itu menggeliat. "Isshh... awas dulu " .


"Aku tidak mau... Kau istri ku ". Matteo membenamkan wajahnya di ceruk Altea. Dan memberikan kecupan kecupan kecil di sekitar leher Altea.


Ibu satu anak itu mendorong tubuh Matteo agar menjauh namun kekuatannya kalah. Matteo semakin memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Altea.


Sekarang pasangan itu sudah terlihat jauh berbeda dari sebelumnya.


Bahkan terkesan tidak tau malu lagi. Adegan mesra sering terjadi tidak pada tempatnya. Altea sebenarnya risih namun dia juga maklum.


Semenjak Thiago lahir waktu mereka untuk untuk bermesraan dan bercinta sedikit berkurang. Karena harus berbagi poin memberikan cinta untuk Thiago juga.


"Di sebelah kanan sana ada kamar yang kosong jika kalian tidak sabaran atau kejauhan naik ke lantai dua " Suara Ratna terdengar membuat Altea dan Matteo terlonjak. Altea refleks mendorong tubuh Matteo.


Wajahnya sudah memerah menahan malu. Di kepalkan nya tangan seolah ingin meninju wajah Matteo. Dia benar benar malu sekarang.


"Mama ngapain sih kesini, ganggu aja " Matteo dengan tidak tau malu sok marah.


"Kalian yang tidak tau tempat " . Ucap Ratna sedikit mengejek.


"Mana susu untuk Thiago? " Ratna sudah meraih botol berisi susu dari tangan Altea. Dia kemudian berbalik. Tapi sebelum itu dia masih sempat melirik kepada Altea. Dan itu membuat Altea semakin malu.


"Kau ya!!! " Altea menarik Matteo setelah Ratna ibu mertuanya berlalu.


"Sayang sakit. " Matteo pura pura meringis karena Altea mencubit tangan Matteo.

__ADS_1


"Bisa tidak sih kalau mau menciumku lihat tempat ! " umpat Altea dengan kesal. "di kamar kek atau dimana aja yang tidak dilihat orang" gumam Altea. Mereka sudah berada didalam kamar.


"Aku sudah disini dari tadi menunggumu. Tapi kau tidak kunjung datang " Ucap Matteo tanpa dosa.


"Aku lagi menampung air susu untuk Thiago. Dia sudah kehausan " Ucap Altea masih nada kesal.


"Aku juga sudah kehausan dari tadi dan ingin minum susu. " ucap Matteo dengan tidak tau malunya. "Tapi.... "


"Tapi apa ! " Ucap Altea memotong kalimat Matteo.


"Aku mau minum langsung... " ucapnya sambil tersenyum licik yang menyeringai.


Altea langsung membulatkan kedua matanya.


"Jangan macam macam ! ini masih Minggu ketiga " Ancam Altea dengan menunjuk wajah Matteo.


"Memangnya aku bilang apa?. aku bilang aku mau minum susu bukan yang lain " ucapnya sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda Altea. Yang di goda sudah merona menahan malu.


.


.


.


.


Juna masuk kedalam kamar kemudian disusul oleh Aurel.


"Apa kau sudah memaafkan aku " Ucap Aurel dia masih berdiri di dekat pintu sedangkan Juna sudah duduk sambil melepaskan sepatunya.


"Jelaskan"


"jelaskan kenapa aku harus memaafkan mu " ucap Juna datar seperti biasa.


"Karena a.. aku..mencintaimu " ucap Aurel dengan nada terbata bata. "Dan ingin selalu ada disampingmu" ucapnya lagi.


"Bukannya tadi kau bilang jika dirimu tidak pantas untuk ku? dan kau rela aku mencari kebahagiaan ku dengan wanita lain ? " Ucap Juna mengingatkan kembali ucapan Aurel satu jam yang lalu.


Aurel yang tadinya sudah mulai merasa tenang seolah kembali merasa tertohok. Ingin rasanya dia kembali menangis sekarang. Tadinya dia berpikir bahwa Juna sudah memaafkannya.


Aurel tersenyum miris terkesan getir. Hatinya seolah semakin teriris sekarang. Padangan gelap. Nafasnya sudah tercegat.


"Baiklah " ....


Dengan segala kekecewaan dan rasa sakit yang berlipat kali ganda dia membalikkan badannya. Dipejamkannya kedua mata sambil menahan sakit hati. Perlahan meraih handle pintu kamar bersiap untuk keluar.


kuatkan aku tuhan..... Aurel.


"Stay with me " .


Belum sempat kakinya melangkah suara Juna kembali terdengar. Aurel menghentikan langkahnya. Tangannya sudah turun dari handle pintu namun dia masih belum kuat untuk membalikkan badannya. Takut suara itu hanya halusinasi.


Juna berjalan mendekat. Dia meraih tangan aurel dan perlahan membawa wanita itu kedalam pelukannya.


Tangis langsung Aurel pecah. Berada didalam pelukan Juna seperti ini. membuat dia tidak bisa menguasai dirinya. Tubuh wanita itu bergetar menahan rasa emosionalnya. Suaranya tangisnya parau sambil sesenggukan.


Ini adalah pertama kalinya Juna memeluk Aurel selama mereka setahun menikah. Pertama kalinya? . Iya ini adalah pertama kalinya Juna memeluk Aurel.


Apa segitu renggangnya rumah tangga mereka ? Sampai Samapi suami istri tidak pernah berpelukan padahal sudah menikah setahun?. Huh... meresahkan.


"Maafkan aku .... " Ucapnya disela sela tangisnya.


Aurel masih sesenggukan di dalam pelukan Juna. Pria itu kemudian mengelus rambut dan punggung istrinya.


"


Bersambung


Seperti biasa. Bantu komen dan like ya....


🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2