
Pagi ini Mike datang menemui Matteo. Pria itu sudah terlebih dahulu memastikan agar kedatangannya tidak mengganggu.
Matteo sebenarnya malas sekali menyetujui Mike datang. Karena dia tau tujuan Mike adalah karena berkas.
Walaupun Matteo memilih cuti akan tetapi itu tidak bisa sepenuhnya.
Badannya saja yang tidak ke kantor. Kalau Otaknya tetap dipakai untuk urusan perusahaan.
Matteo sudah selesai dengan urusan mengabadikan momen ketika Thiago di mandikan.
Kamera digital yang modern sengaja dia beli untuk memotret seluruh perkembangan putranya.
Rencananya foto itu akan dia abadikan nantinya dalam sebuah album agar kelak saat Thiago besar dia bisa melihat dirinya ketika bayi. Entah dari mana dia mendapatkan ide itu.
Mike sudah selesai menemui Matteo. Terlihat dia keluar dari ruangan Altea sambil menundukkan kepalanya mewakili bibirnya menyapa Altea.
"Teo.. jangan sampai kamu melupakan urusan perusahaan hanya karena aku melahirkan. Tetaplah bekerja aku bisa sendiri disini ".
"Habiskan Makan mu... ". Matteo tidak menggubris perkataan Altea.
Dia sibuk dengan kameranya menyensor foto mana yang akan dia simpan dan yang mana yang akan di hapus. soalnya hampir ratusan foto yang dia ambil sedari tadi.
Senyaman apapun ruangan VVIP dirumah sakit , namun kamar dirumah jauh lebih nyaman.
Setelah selesai makan pagi, Altea mulai merengek minta pulang. "Aku tidak betah disini, lihat aku sudah sehat ".
Dan Matteo pun menyetujuinya.
Matteo sebenarnya takut menyetujui Altea pulang. Takut nanti terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya ketika jauh dari pengawasan dokter.
Namun dia selalu kembali luluh setelah Altea memohon.
Melihat bola mata wanita itu ,Matteo seolah tersihir.
Beberapa saat.
Ratna dan David datang. David berjalan mendahului Ratna untuk melihat Thiago yang tidur pulas di atas box bayi.
"Kamu yakin hari ini pulang nak? " . Dia bertanya kepada Altea. wanita itu mengangguk.
"Baiklah. Biar papa siapkan semuanya " David sudah melangkah keluar.
Matteo mendorong kursi roda Altea menuju lobby. Sedangkan Thiago berada di gendongan Ratna.
Bayi itu masih tidur setelah dengan rakus setelah dia melahap asi yang diberikan Altea. Ratna mengatur langkah kakinya agar tidak mengganggu tidur Thiago.
Para dokter dan perawat yang menangani Altea selama masa persalinan sampai pemulihan mendapatkan hadiah khusus dari pemilik rumah sakit yakni David ayah Matteo.
Tidak hanya itu juga.
Semua staf dan karyawan dari yang terendah hingga tertinggi juga dapat bonus tunjangan.
Beberapa diantara mereka sujud sukur. Mendoakan agar tuan kecil Orion sehat selalu.
__ADS_1
Mobil sudah memasuki kawasan rumah milik Mahaprana.
"Ayo sayang " Matteo membantu Altea keluar dari mobil. Telapak tangannya sigap melindungi kepala Altea menghindari benturan dari pintu mobil. Tangan mereka terus bertautan.
Setelah memasuki ruang tengah. Altea terperangah melihat dekorasi ruangan tengah Mahaprana.
Hidangan makan siang juga tidak ketinggalan.
Diatas meja sudah tersusun rapi.
Setelah terperangah dia kemudian terharu melihat orang orang yang hadir juga ramai menyambut kedatangan mereka. lebih tepatnya kedatangan baby Thiago.
Keluarga Altea tersenyum.
Sofi,Ilham dan juga Albert ada disana. Tadi pagi Ratna sendiri yang menghubungi Sofi agar datang merayakan pesta sederhana untuk kelahiran cucu mereka.
Ayah... ibu .... kak Albert.. aku ingin memeluk kalian...
"Ini Jagoan kecilnya... " Ratna memiringkan pangkuannya untuk memperlihatkan baby Thiago. Semua orang ingin mencubit pipi tembem Thiago. Bayi itu sangat menggemaskan.
Altea masih memandangi dekorasi ruang tengah. "Sayang " Altea melihat Matteo.
Pria itu tersenyum. "Mama dan papa yang menyiapkan ini semua " Ucap Matteo.
"Terimakasih sudah mengundang ayah dan ibuku datang kemari" . Altea menyadari jika kediaman Mahaprana tidak boleh didatangi sembarang orang.
Status Mahaprana Group yang disegani semua kalangan membuat penjagaan di area kediaman begitu ketat.
"Ayah dan ibu mu juga adalah orang tuaku sekarang. Jadi jangan berterimakasih " . Dengan tidak tau malunya Matteo menarik pinggang Altea dan menciumi seluruh wajah Altea. Wanita itu membulatkan matanya.
Walaupun pesta itu disiapkan oleh David dan Ratna namun semua itu tidak luput dari persetujuan Matteo.
Pesta itu berlangsung dengan baik. Walaupun hanya kerabat dekat saja yang diundang akan tetapi itu cukup bermakna untuk merayakan kelahiran Thiago.
Perasaan Ilham dan Sofi menghangat melihat Altea. Perlakuan keluarga mahaprana meyakinkan mereka jika Altea bahagia.
Menurut mereka Altea menikah dengan orang yang tepat. Bukan karena Mahaprana bergelimang harta atau keluarga yang terpandang.
Akan tetapi sebagai orang tua Ilham dan Sofi melihat banyak cinta dan kebaikan dari keluarga Mahaprana.
Tidak perlu pengakuan, Sofi juga melihat bagaimana Matteo memperlakukan Altea selama ini.
Kadang mereka kasihan melihat Matteo yang selalu diacuhkan oleh Altea. Namun pria itu selalu melakukan hal yang membuat altea nyaman. Dia tidak pernah mengabaikan Altea walaupun wanita itu beribu kali mengabaikannya.
.
.
.
Setelah acara makan bersama selesai. Mereka sibuk mengambil kegiatan masing masing.
Di sudut ruangan David sedang mengobrol dengan Ilham.
__ADS_1
Sikap David yang dingin bertemu dengan sikap Ilham yang dingin juga.
Namun terlihat mereka sedang berbicara akrab bersama dengan Juna dan Albert. Ibra dan Daniel juga ikut mengobrol. Sesekali tawa terdengar dari obrolan mereka.
Ilham semakin menyadari bahwa Altea berada di tengah-tengah orang orang yang baik.
Di ruang tengah Sofi dan Ratna juga terlihat lebih Akrab.
Kedua wanita paruh baya itu terlibat banyak sekali percakapan.
Semenjak Altea dan matteo menikah baru pertama kalinya mereka mengobrol leluasa.
Mereka pernah bertemu sebelumnya ketika membahas pernikahan Altea dan Matteo, tetapi saat itu mereka masih canggung.
Bersama dengan Diva dan Aurel dan beberapa wanita paruh baya kerabat dari Ratna.
Mereka menghabiskan waktu menggoda baby Thiago.
Bayi mungil itu sudah membuka mata.
Tidak ada garis senyum dari bibirnya. Mungkin sikap dingin Daddynya seperti turun kepada Thiago.
Bayi mungil itu sibuk memandangi wajah orang orang yang sedang menyapanya. Sesekali dia menggeliatkan tubuhnya.
Mata jernihnya melirik satu persatu wajah orang orang.
"Lihat matanya... hihihi manis sekali ". Diva menciumi pipi Thiago.
Pergantian jam yang terlalu cepat membubarkan perkumpulan mereka.
"Nak.. ayah dan ibu pulang dulu. Kau harus banyak makan agar asi mu lancar ya". Sofi menautkan pipinya kepada Altea.
Setelah acara selesai. Matteo dan Altea sudah berada di balkon kamar. Tadi mereka sudah menidurkan Thiago.
"Terimakasih untuk semuanya ". Altea merebahkan kepalanya di bahu Matteo. Wanita itu merasakan kelegaan dan kebahagiaan.Lega keluar dari rumah sakit.
"Maaf aku pernah menyakiti perasaan mu" . Kata kata telak yang selama ini keluar dari bibir Altea seringkali melukai perasaan Matteo. Altea menyadari semua itu. Namun itulah cara dia meluapkan kekesalannya ditengah ketidakseimbangannya menjalani rumah tangga dengan Matteo.
"Akulah yang seharusnya tidak pantas bersanding denganmu. "
"Kau memiliki segalanya sedangkan aku tidak ada apa apa". Altea masih menatap lekat kedua bola mata Matteo. Pandangan mereka beradu.
"Kau pria yang sempurna... sementara aku..
"AKU MENCINTAIMU TANPA SYARAT". Matteo menyilang ucapan Altea. Pria itu menekankan semua kalimatnya.
Menekankan jika cintanya tidak memiliki aturan kepada Altea.
"Berhenti membahas yang sudah berlalu. Ayo kita jalani hidup kita dengan baik mulai sekarang".
"Apa kau mau menjalani semuanya bersamaku?. menerimaku dan Thiago dalam hidupmu dan kita akan hidup bersama selamanya. Apa kau mau ? " Matteo menggenggam kedua tangan Altea. Kemudian menciumnya.
"AKU MAU !!! " ucap Altea menekankan kalimatnya lagi. Tidak diragukan lagi bagaimana sempurnanya seorang Matteo di mata Altea.
__ADS_1
Bersambung....