Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Aku Bertanggungjawab


__ADS_3

"Aku ada dimana ? " Altea yang baru saja bangun dari tidur panjangnya merasa heran dengan tempat dimana dia berada.


"Kau sudah sadar cantik?, ini minum dulu " Ratna memberikan gelas berisi air putih .


.


.


.


"apa dengan anak saya ? " Raut wajah khawatir menghiasi wajah Sofi.


"Maaf telah membuat repot " Ilham juga membuka suara sambil menatap kepada Ratna dan diva bergantian.


"Tidak apa apa om , Altea juga adik junior saya di kampus wajar dong aku tolong in " Diva tersenyum.


Tidak berapa lama salah satu dokter yang di yakini sebagai dokter SpOG datang bersama dengan salah satu perawat.


"Ini adalah hasil akurat dari pemeriksaan yang kami lakukan, silahkan dibaca terlebih dahulu nyonya "


Ratna menerima surat itu dan memberikannya dengan hati hati kepada Sofi selaku orang tua Altea. Meskipun dia sudah mendengar diagnosa awal dokter tadi ,tapi dia juga berharap diagnosa itu salah.


Sofi melirik wajah Altea dengan sedih, pikirannya sudah berkelana kemana mana membayangkan penyakit apa yang sedang di derita putrinya mengingat sebulan lalu Altea dirawat selama 3 hari dirumah sakit.


Melawan rasa takut Sofi mulai membuka lipatan surat itu dengan perlahan.


"Bolehkan dokter menjelaskan maksud isi dari hasil pemeriksaan ini??? " Mata Sofi sedikit menyipit seolah meminta kepastian. Tidak kalah dengan ekspresi wajahnya juga sudah mulai dipenuhi guratan tidak terima.


Tanpa membaca keseluruhan isi, dia sudah tau inti dari isi surat hasil pemeriksaan itu karena dia juga pernah mengalaminya waktu dirinya positif hamil Albert anak pertama mereka.


"Ini tidak benar iya kan ? " Sofi melipat kembali surat itu sambil menatap dokter, hal yang sama di lakukan oleh Ilham dia juga tidak kalah menampilkan ekspresi penasaran.


"Sebagai seorang medis aku menyatakan jika itu benar adanya, Pasien sedang hamil muda kira kira usia kandungannya sekitar 3 minggu " ucap dokter.


Sontak Semua mata tertuju pada Altea.


Altea yang menyimak seketika membeku dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Ingatannya kembali ketika Matteo memerkosanya. Dia memang tidak pernah kepikiran dengan efek dari insiden menyakitkan itu.


Terlalu sibuk membangun semangat baru agar bangkit dari rasa trauma dan syok mengakibatkan dirinya melupakan akibat dari pemerkosaan yang dilakukan Matteo kepadanya.


"Ini tidak mungkin !


"katakan ini bohong !!!!


Altea mulai merancau dengan pelupuk mata sudah berkaca kaca. Rasa hampa menyelimuti perasaan nya sekarang.


"Ini bohong bukan ? " Altea meraih surat hasil pemeriksaan itu dari tangan sang ibu dan membaca ulang berharap semua itu hanya rekayasa.


Chelsea Altea M. Positif hamil tulisan itu berada di akhir dengan huruf tercetak tebal dan dibubuhi garis bawah. Tubuh Altea kembali bergetar melihat namanya.

__ADS_1


"Aku tidak mau hamil"


"Aku tidak mau hamil anak manusia iblis itu !


Altea mulai terisak dengan air mata membasahi seluruh wajahnya. Rasa hancur dan rasa tidak terima bercampur aduk menjadi satu. Baru saja dia bangkit dan sekarang jatuh lagi dan kejatuhannya juga tidak tanggung tanggung. Jiwanya kembali rapuh dan hancur berkeping keping. "Aku tidak mau hamil"..…


Ilham dan Sofi hanya diam menahan sesak di dadanya. Mendengar anak gadisnya positif hamil membuat jiwa raga Ilham dan Sofi hancur teriris benda tajam. Perasaanya sebagai orang tua terkoyak koyak dengan berita kehamilan itu. Ingatan mereka hanya tertuju dengan waktu dimana Alexander melakukan percobaan pemerkosaan terhadap putrinya.


"Gugurkan ini !!!


"Aku tidak mau hamil !!


"Gugurkan ini sekarang juga...."


Wajah cantik Altea dipenuhi dengan buliran air mata ,ia menunjukkan sisi rapuhnya kembali sambil mengusap kasar perut ratanya yang di tutupi oleh baju yang ia gunakan seakan tidak terima bahwa dirinya hamil. Hal baru yang tidak pernah terbayang dalam pikirannya sama sekali.Menekuk kedua lututnya Altea terisak sampai sesenggukan.


Ilham segera mendudukkan bokongnya di sini sofa sudut ruangan untuk menenangkan jiwanya yang sudah dipenuhi dengan amarah.


Dia begitu hancur mendapati putri emasnya salah melangkah.


"Keluar dari sini !!!! " Sorot mata tajam Altea mengarah kepada Ratna dan Diva.


"Sayang.... kamu tenang yah " Ratna mendekati Altea berusaha menenangkan gadis yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Keluar !!!!! " Altea kembali mengeluarkan suaranya yang sudah dipenuhi emosi.


"Nak jangan seperti itu, tidak baik " Sofi membelai rambut Altea yang sudah acak acakan.


"Aku mau sendiri , kalian keluarlah !"


"Sebaiknya kita keluar dulu, kita berikan waktu untuk Altea memenangkan dirinya setelah itu kita bisa berkomunikasi dengannya lagi " Ucap Ratna


Didalam ruangan itu hanya ada Altea dengan pandangan kosong.


Bisakah aku mengakhiri semua ini ?


Matanya mengarah ke jendela yang terbuka dengan geraian gorden terbuai karena tiupan angin. Dia mulai mendekati jendela itu berniat bunuh diri, namun insting kemanusiaannya masih berjalan dengan baik, memegang perut ratanya dia berjalan mundur dan kembali duduk diatas brankar.


.


.


.


David sudah tiba di rumah sakit setelah mendapat panggilan telepon dari sang istri. Bukan tanpa alasan David datang melainkan karena mereka berpikir jika anak yang dikandung oleh Altea adalah anak dari Alexander keponakannya yang telah melakukan percobaan pemerkosaan terhadap Altea.


Namun sebelum mengambil langkah ,mereka berniat menanyakan kepada Altea secara langsung tentang kebenaran itu setelah itu mereka akan mendatangi kediaman adiknya Dirga Mahaprana.


Mereka semua masuk kedalam ruangan Altea, David terlebih dahulu mengetuk pintu matanya langsung tertuju kepada gadis cantik yang sedang duduk merenung diatas brankar. Dia menatap wajah gadis itu dengan prihatin.


"Sebagai keluarga dari Alexander om meminta maaf untuk mu " David membuka suara sambil menatap wajah Altea.

__ADS_1


"Tapi kami disini tidak tinggal diam, kamu adalah tanggung jawab kami karena aku adalah om dari Alexander".


"Tidak ada sangkut paut pria disini" Altea langsung memotong kalimat David sambil mengusap perutnya seolah mengatakan jika dia hamil bukan karena Alexander.


"Maksudnya bagaimana nak ? " Ratna semakin bingung, dia menatap wajah kedua orang tua Altea secara bergantian.


Bersamaan dengan itu pintu terbuka dan menampilkan Juna datang menenteng tas Altea, di ikuti oleh Matteo dengan ekspresi datar. Mereka baru saja menemui sang kakek yang juga dirawat di rumah sakit yang sama dengan Altea. "Ini tas mu, tadi tertinggal di ruang IGD"


Melihat Matteo yang juga ada di ruangannya membuat jiwa Altea Kembali bergemuruh, air mata yang tadinya sudah berhenti sekarang mengalir lagi melihat pria penyebab dirinya hamil.


"Boleh Om tau siapa pelakunya nak ? " David kembali memfokuskan diri kepada topik pembicaraan, menatap kedua bola mata Altea yang masih dialiri oleh cairan bening.


Tadinya mereka semua berpikir itu bayi Alexander keponakannya, maka dari itu dirinya datang dan melakukan diskusi bersama kedua orang tua Altea di koridor rumah sakit namun, setelah mendengar sanggahan Altea dirinya semakin bingung.


"Katakan siapa pelakunya nak " Ratna lebih antusias ingin mendengar siapa pelaku penyebab gadis cantik itu hamil.


"Kamu tidak sendirian, katakan nak " Sofi menggenggam erat jemari Altea yang sudah dingin akibat terlalu lama menahan sesak di dadanya.


"Kami semua butuh jawaban mu untuk menuntaskan secepatnya masalah ini nak " David kembali membuka suara.


"Matteo " Dengan lirih Altea menyebut siapa penyebab dirinya hamil, sebenarnya dia begitu jijik mengucapkan nama itu. Mengingat bagaimana pria itu memerkosa dirinya dengan brutal, biar bagaimana pun itu tetap membekas di relung hatinya.


Mendengar bibir indah Altea menyebut nama putra mereka, seketika membuat David dan Ratna mematung. mereka sama sekali tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Apa kamu tidak salah nak ? " Ratna menatap Altea dan kemudian tatapannya beralih kepada Matteo. Dia mengenal putranya dengan baik, meskipun Matteo bar bar di luar namun jika urusannya tentang perempuan itu bukan tipe putranya. "Jawab tante sayang "


Altea sama sekali tidak mau membuka suara lagi, dia memilih mengalihkan pandangan kearah lain. Rasanya dia begitu jijik dan benci kepada Matteo.


"Itu benar, Baby yang ada didalam rahim Altea itu adalah anakku " Dengan tegas Matteo membuka suara, dirinya tidak bisa tinggal diam.


Dia ingat betul ketika dirinya memperkosa Altea satu bulan lalu darah perawan Altea menandakan jika dialah orang pertama yang menyentuh tubuh suci gadis itu.


Ketika di ruang IGD dia memang sudah 80% yakin jika bayi itu adalah anaknya , dan pernyataan dari Altea semakin menaikkan kenyataan 100% itu adalah baby Matteo Avhdio Mahaprana.


David dan Ratna semakin mematung dan membeku mendengar pengakuan dari putra mereka. Sedangkan Diva hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil menatap Matteo kakaknya.


Ilham yang tadinya duduk langsung berdiri dengan tatapan berapi api, jika saja Sofi tidak menahan tangan suaminya bisa jadi Matteo akan korban amukan dari Ilham.


"Kurang ajar sekali dirimu " Suara Ilham terdengar berat.


"Sudah ayah masalah ini tidak selesai jika dihadapi dengan emosi " Sofi mengelus pundak suaminya.


"Papa mau mau bicara dengan mu !! " Suara David naik satu oktaf bersamaan dengan tatapan membunuh mengarah kepada putranya .


"Tidak ada yang perlu dibicarakan , aku bertanggungjawab dengan Altea dan anakku" Matteo memandang Altea yang masih terisak kemudian dia melangkah keluar, dia benar benar tidak tahan melihat wanita yang dia cintai itu menangis


"Kita selesaikan setelah keadaan lebih tenang " David menoleh kedua orang tua Altea bergantian. "Kamu tenang sayang, jangan khawatir Matteo akan menikah dengan mu secepatnya " Ratna menghapus air mata Altea .


"Aku tidak mau menikah dengan manusia Iblis seperti itu " Tegas Altea dengan sorot mata tajam


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2