
Pesta ulang tahun Ratna masih berlangsung dengan meriah, berbagai acara keluarga pun sudah berlalu. Altea memperhatikan penampilan orang orang yang hadir di sana.
Altea menilai jika keluarga Matteo bukan orang sembarangan, tampak dekorasi ruangan sangat elegan dan terkesan mewah.
"Para undangan yang terhormat untuk mensyukuri berkah hari ini, mari berdoa menurut agama dan kepercayaan masing masing setelah itu, kami mempersilahkan bapak dan ibu untuk menikmati hidangan makan malam yang sudah kami persiapkan, terimakasih" Ucap pembawa acara .
Ratna dan David mendekati meja dimana anak anaknya duduk. Meja itu memang sengaja diletakkan paling depan dan membentuk bundar,desainnya juga berbeda dengan meja lainnya.
Matteo masih menggenggam tangan mungil Altea dengan erat, sebisa mungkin dia menciptakan kenyamanan untuk gadis itu.
Altea sendiri tidak bisa berbohong dia harus mengakui jika dia mendapat kenyamanan dari genggaman Matteo.
Ratna memilih duduk ditengah tengah Diva dan Altea, sedangkan David duduk ditengah kedua putranya Juna dan Matteo.
Mereka menikmati hidangan makan malam ,sesekali David membuka obrolan kepada kedua putranya, namun Matteo seperti biasa cuek , bahkan tidak menanggapinya sama sekali.
"Nak ayam saus cola nya kenapa tidak kamu cicip? ini sangat enak " Ratna mengambil ayam dengan garpu dan meletakkannya di piring Altea.
"Dia tidak suka makanan aneh, dia lebih suka menu sederhana " Matteo menimpali ibunya tanpa menoleh.
Mendengar itu David memanggil pramusaji dan meminta agar menghidangkan menu ringan yang tersedia.
Beberapa menit kemudian pramusaji meletakkan 3 jenis sate diatas meja. Altea lebih menikmati sate ayam dan memakannya dengan lahap.
Aurel yang melihat perhatian kedua mertuanya kepada Altea jelas merasa risih. Dibawah meja dia mengepalkan tangannya sambil menahan geram.
Dia merasa jika Altea merebut perhatian mertuanya, Ratna dan David memang bersifat seadanya. Ratna juga sering memberikan perhatian kepada Aurel menantunya yang paling besar.
David sendiri tercipta memiliki sifat dingin dan cuek. Dirumah saja dalam satu hari bisa dihitung berapa kali David mengeluarkan suara. Bahkan bisa dikatakan jika David jarang sekali membuka percakapan dengan Aurel menantunya. Bukan karena tidak suka tetapi itulah dia.
Dan kedua putranya merupakan titisannya, perbedaanya Matteo mempunyai sikap negatif pelengkap jati dirinya.
Namun untuk Altea entah mengapa pria paruh baya itu tidak mau cuek, meskipun Altea tidak membuka pembicaraan dengannya tadi ,tapi David senang melihat Altea datang.
"Lepaskan tanganku, aku malu" bisik Altea
Bukan melepaskan ,Matteo malah menaikkan gengganggman tangan mereka keatas meja, seketika Altea membulatkan matanya dengan tindakan konyol Matteo, buru buru dia menurunkan kembali tangan itu.
Melihat itu Ratna dan Diva menarik senyumnya tipis, berbeda dengan Aurel yang semakin dibakar api amarah.
Aurel memang tidak mengenal Matteo lebih jauh seperti dirinya mengenal Diva adik iparnya, karena ketika pernikahannya dengan Juna saja Matteo tidak hadir.
Bahkan selama tiga bulan terakhir baru hari ini dia melihat Matteo kembali, setelah pertemuannya pertama kali ketika makan malam yang menyebabkan Matteo pindah ke apartemen.
Namun,berbekal informasi dari Diva dan sebagian pelayan dirumah mertuanya dia tahu jika sikap Matteo sama dengan suaminya hanya saja ada plus minus antara keduanya.
Setelah acara makan selesai, David dan Ratna juga mengumumkan Juna sebagai anak sulung menduduki posisi CEO sementara di perusahaannya.
Sebagai orang tua mereka tidak membedakan kedua putranya, disela sela itu David juga mengumumkan jika dalam waktu dekat tetap dilaksanakan perombakan atau penyusunan ulang kedudukan ketika Matteo putra keduanya sudah bersedia.
Mereka juga menegaskan jika kedua putranya mendapatkan hak yang sama atas perusahaan. Sedangkan Diva putri semata wayangnya akan mendapat bagian tersendiri nantinya.
Mendengar itu Matteo sama sekali tidak memberi tanggapan, dia bahkan tetap bersikap bodoh amat.
Acara masih tetap berlangsung, Matteo memilih pamit mundur dari acara karena dia menyadari Altea tidak boleh pulang terlalu malam.
"Ma ,pa aku dan Altea pulang dulu" Ucap Matteo,tanpa persetujuan Matteo langsung berdiri dan menarik lembut tangan Altea.
"Tunggu dulu" Altea menepis tangan Matteo kemudian dia berbalik.
"Ah om ,tante aku izin pulang" ucap Altea sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya hati hati dijalan sayang" ucap Ratna mewakili David yang hanya melempar senyum tipis.
Belum juga Altea menyelesaikan acara berpamitan nya, Matteo sudah menarik kembali tangan Altea dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
Melihat itu David hanya menggelengkan kepala. "Masih sama " Batin David
Matteo berjalan mengabaikan tatapan semua orang yang tertuju padanya. "Aku malu" ucap Altea yang berusaha melepas tangan Matteo dari pinggangnya.
Matteo malah semakin mempererat lilitan tangannya dan tidak memberi celah sedikit pun. " Apa kau tidak melihat semua orang disini memegang pinggang pasangannya" ucap Matteo santai.
"Tapi kan kita bukan pasangan" gerutu Altea sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya sudah ayok kita pacaran, kan gampang" ucap Matteo santai melewati satpam yang berjaga didepan rumahnya.
Altea langsung membulatkan matanya , dia tidak percaya Matteo menyalah artikan aksi protesnya.
"Mau ? Ucap Matteo sekilas sambil menghentikan langkahnya.
"Ah ayo pulang ini sudah larut malam, nanti ibu marah" ucap Altea sambil melangkahkan kakinya.
Menyadari bahwa Altea mengalihkan pembicaraan, Matteo hanya tersenyum geli melihat tingkah kekanakan Altea.
Dia paham untuk menaklukkan hati wanita yang satu ini bukan perkara mudah, dan ini tantangan serius untuk Matteo.
"Baiklah ini masih permulaan" Batin Matteo memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Matteo kemudian membukakan pintu mobil untuk Altea dan menutupnya kembali.
Kemudian dia berbalik dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Altea meremas ujung gaun yang dia kenakan karena merasa aneh dan canggung melihat Matteo. Malam ini rasanya dia kembali kedalam pertemuan pertama nya dengan Matteo.
"Apa setelah mengantarku kau kembali kesini?
"Lalu kau kemana?
"Ke apartemen" ucap Matteo sambil melirik Altea sekilas.
"Rumah mu luas sekali,kenapa kau tinggal di apartemen? " Altea melihat jelas kemegahan rumah Matteo rasanya dia perlu tau apa alasan Matteo tinggal di apartemen.
"Sudah kubilang bukan, tiap orang punya selera masing masing" Matteo membunyikan klakson mobilnya karena didepan ada gerobak yang berhenti.
.
.
.
"Sejak kapan kau menyukaiku? pertanyaan Altea berhasil memancing wajah datar Matteo berubah.
"Aku bukan menyukaimu" Matteo menggantungkan kalimatnya.
"Tapi aku Mencintaimu " ucap Matteo sambil menepikan mobilnya dan menatap Altea.
"Memang apa perbedaanya? Altea memutar tubuhnya dan menghadap kearah Matteo.
Sejenak Matteo menghela nafasnya.
"Menyukai adalah hal yang menuntut, sedangkan Mencintai adalah saling memberi dan menerima dalam sebuah keikhlasan" Ucap Matteo menatap lekat gadis yang dia sukai dengan nada lembut seolah mewakili perasaannya.
Entah sejak kapan Matteo bisa berbicara banyak dengan lembut penuh perasaan. Biasanya dia hanya bersikap dingin dan arogan kepada semua wanita termasuk kepada Ratna ibunya dan Diva adiknya.
__ADS_1
Perlahan Altea memutar tubuhnya dan menghadap ke depan " Lalu sejak kapan kau mencintaiku?
"Kalau itu aku tidak tau" Ucap Matteo melakukan hal yang sama dan kembali melajukan mobilnya.
"Kenapa tidak tau?
"Semua itu muncul dengan sendirinya, awalnya aku berpikir sedang mengagumimu saja, tapi melihatmu dengan orang lain aku cemburu" ucap Matteo sambil mengambil tisu dan menghapus embun dari kaca mobilnya agar pandangan nya tidak buram. "Dan akhirnya aku sadar ternyata aku sudah mencintaimu".
"Melihatku dengan Rafael? Ucap Altea.
"iya " Matteo membenarkan ucapan Altea. karena memang dia merasa hancur ketika melihat Altea dengan Rafael.
"Aku hanya membantunya waktu itu, karena kau memukulnya tanpa sebab" Ucap Altea mengingatkan kelakuan brutal Matteo.
"Maafkan aku " ucap Matteo lirih.
"Maafkan aku juga yang menamparmu, aku tidak sengaja" sebenarnya Altea sangat menyesali tamparan itu.
"Itu tidak ada apa apanya" ucap Matteo tertawa kecil. Dirinya sudah terbiasa dengan pukulan tendangan dan aksi brutal lainnya, dan tamparan Altea baginya hanyalah sentuhan manja.
"Apakah kau menerima permintaan maaf ku? ucap Altea
"Aku akan memberikan apa pun yang kau minta" Balas Matteo sambil tersenyum.
"Jika aku meminta traktiran darimu?
"Aku akan memberikannya"
"Jika aku meminta es krim?
"Aku akan membelikannya"
"Jika aku memintamu berubah ?
"Aku akan melakukannya" ucap Matteo tanpa sadar, kemudian dia melirik Altea sekilas.
Bersamaan dengan itu mobil Matteo berhenti didepan rumah orang tua Altea "Sudah sampai" ucap Matteo sambil menunggu reaksi dari Altea.
"Hah baiklah terimakasih banyak,kamu hati hati " Altea melepas seat belt dan segera turun.
Matteo hanya tersenyum penuh arti melihat gadis itu, setelah memastikan jika Altea sudah masuk, dia memajukan mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Altea.
Diperjalanan ke apartemen dia masih tersenyum membayangkan beberapa jam dia menggenggam tangan Altea dengan hangat.
Dia memandangi tangan kanannya dan mendekatkan tangan itu ke depan hidungnya aroma tangan kiri Altea masih menempel ditangan kanan Matteo.
Dia kemudian mencium aroma itu dalam dalam sambil membayangkan dirinya sedang mencium tangan Altea.
"Kau membuatku gila " Batin Matteo.
Bersambung.....
Hai reader bantu like dan komen nya dong
Agar aku kembali semangat .
terimakasih semoga kalian suka part ini
jangan lupa pantengin terus ya
.
__ADS_1
.
.🤗