
Memeluk tubuh Altea seperti itu membuat pikiran Matteo berakhir buntu, perasaan yang campur aduk memenuhi ruang lingkup didalam hatinya. Sembari mengelus punggung mungil wanita itu ada penyesalan yang dia rasakan setelah mengungkapkan Unek Unek nya semalam yang berujung seperti ini.
Seharusnya aku lebih bersabar menghadapi mu. Matteo.
Tanggungjawab Matteo di perusahaan yang semakin meningkat sepertinya sangat mempengaruhi sistem kerja otaknya. Terkadang dia bisa setegar karang menghadapi sifat kekanakan Altea namun juga kadang dia seperti menyerah melihat respon wanita itu yang sepertinya tidak menunjukkan reaksi apa apa.
Dan hal seperti ini adalah wajar untuk setiap insan manusia.
Altea masih nyaman di pelukan Matteo, laki laki yang sedari tadi malam sangat dia rindukan dan khawatirkan. Membenamkan wajahnya di dada bidang Matteo dan merasakan detak jantung pria itu saat ini sangat membuat jiwanya nyaman.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Matteo, pelukan yang sangat dia rindukan dari Altea. Terakhir kali mereka berpelukan seperti ini ketika Matteo menemui Altea setelah kejadian dirinya divonis tidak bersalah akibat penganiayaan terhadap Alexander.
"Kau harus istirahat Al..." Altea yang nyaman di pelukan Matteo perlahan melepaskan lilitan tangannya, kemudian dia menengadah dan menatap wajah Matteo. Pandangan keduanya berhenti dan saling mengunci.
Matteo yang terhipnotis dengan tatapan Altea secara tidak sadar langsung membenamkan bibirnya di bibir ranum Altea. Semakin memperdalam ciumannya dengan memberikan gigitan kecil sehingga Altea spontan membuka sedikit mulutnya.
Matteo mulai menyesap rasa manis dan nikmat yang begitu membangkitkan gairahnya, serta mengalirkan rasa rindu dan cinta kepada wanita yang saat ini mengandung anaknya. Wanita itu tidak membalas ciuman Matteo namun juga tidak menolaknya. Dia hanya diam dan membiarkan Matteo menjelajah didalam mulutnya.
Suara kecapan yang samar samar terdengar memecahkan keheningan subuh. Kedua insan seolah melupakan pertengkaran mereka tadi malam.
Seharusnya mereka sekarang menyelesaikan semua inti dari masalah mereka semalam bukan malah berciuman seperti ini. Sangat membingungkan sekali.
Ciuman hangat itu berakhir setelah Matteo menyadari jika Altea sudah mulai kehabisan oksigen.
"Maaf " Sambil mengatur deru nafas yang memburu, Matteo mengusap sisa basah yang dia ciptakan di permukaan bibir Altea.
"Cup.... " kecupan singkat mendarat di dahi Altea kemudian menarik wanita itu kembali ke pelukannya dengan hangat. Ada rasa yang tidak bisa di definisikan sedang menjalari seluruh tubuh dan perasaan Matteo setelah selesai dengan adegan pertemuan dua bibir itu.
Altea yang merasa malu kepalang langsung membenamkan wajahnya di dada Matteo sekali lagi dia merutuki kesalahannya sendiri.
Seminggu yang lalu dia menciumi seluruh wajah Matteo karena emosi ,dan sekarang langkahnya semakin jauh yaitu menikmati ciuman bibir pria itu karena... entah karen apa dia menikmati ciuman itu. hanya dia yang tau.
"Ini kenapa !!!!! " Setelah melepaskan pelukannya , panik melihat tangan Altea mengeluarkan banyak darah.
"Aku tadi mencabut itu " menunjuk selang infus yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Kenapa dicabut !!! " Matteo yang panik langsung menekan tombol emergency call dipinggir bed.
"Supaya aku bisa berjalan dan... dan me.. memeluk mu " Takut takut Altea naik lagi keatas brankar.
"Bodoh !! kan kau bisa memanggilku kemari tidak perlu menyakiti dirimu sendiri" Setengah berteriak ditengah kepanikannya. Padahal Altea tadi sudah memanggil namanya akan tetapi dia tidak mendengar karena pikirannya berkelana entah kemana.
"Permisi ada yang bisa dibantu ? " Seorang perawat datang.
"Tolong istri saya tangannya berdarah karena dia mencabut ini " memperlihatkan selang infus .
"Apa ibu masih merasa pusing atau sakit di bagian tertentu ? " Altea menggeleng.
Perawat akhirnya membersihkan seluruh tangan Altea dengan alkohol dan menempelkan plester agar darah yang mengalir berhenti. "kondisi ibu sudah jauh lebih baik jadi infusnya tidak perlu lagi dipasang, cukup ibu istirahat yang cukup".
Setelah kepergian perawat, Altea membaringkan tubuhnya setelah Matteo memberikan instruksi yang sedikit memaksa. Setelah itu Matteo keluar sebentar untuk menyadarkan pikirannya dari imajinasi imajinasi liarnya sebagai seorang lelaki normal.
__ADS_1
Bayangan bayangan lidahnya bertemu dengan lidah Altea masih terngiang di kepalanya.
"ich.... bodoh bodoh... kenapa kau menciumnya " gumam Matteo pelan. Bagaimana tadi kalau dia malah berteriak karena takut?
Tapi tunggu, tadi dia tidak ketakutan kok... Iya tadi Altea tidak ketakutan.
Senyum tersungging dibibir Matteo mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Saat tengah duduk di luar Altea malah datang menyusulnya. "Kenapa kesini ? aku sudah bilang bukan kamu istirahat "
"A.. aku takut didalam " Masih menunduk sambil meremas ujung baju pasien yang dia gunakan.
Menghela nafas sebentar akhirnya Matteo berdiri dan menarik lembut tangan Altea. "tunggu !!!! " Altea menghentikan langkahnya.
"Apa lagi ? " Menatap wanita itu dengan tatapan malas.
"Aku tidak mau tidur lagi " menampilkan senyum manis dengan deretan giginya.
"Mau kesitu .... " Menunjukkan taman belakang rumah sakit yang tembus pandang dari kaca . Tampak di taman itu banyak pasien yang sedang duduk di kursi roda dengan penjaganya sambil menikmati udara pagi.
Matteo melirik jam di pergelangan tangannya.
Ternyata sudah pukul 06.00 pagi. "Baiklah ayo " Tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan Altea, karena tampaknya wanita yang sedang hamil itu terlihat bersemangat.
Setelah tiba di taman belakang, tidak banyak yang dilakukan Altea. Dia hanya duduk sambil melihat lihat pasien yang sedang belajar berjalan contohnya.
Matteo yang melihat itu hanya mendengus kesal. Untuk apa coba capek capek datang kesini kalau hanya duduk saja. Namun dia tidak berani menampilkan wajah kesalnya di depan Altea bisa bisa nanti wanita itu merajuk dan kembali dingin bagaikan hamparan es.
Mata Altea tertuju kepada sosok ibu hamil yang sedang duduk di pojok. Tampak perut wanita itu sudah membesar. Altea perlahan melirik perutnya yang mulai membulat, meskipun belum terlalu tampak karena usia kandungannya tengah memasuki bulan ke 3, akan tetapi Altea sudah mulai merasa sesak lebih tepatnya kenyamanan saat duduk seperti ini mulai berkurang.
senyum kecil tertarik diujung bibir Altea membayangkan akan selucu apa dirinya nanti dengan daster yang menutupi perut besarnya. Seperti ibu ibu hamil pada umumnya.
"Nanti aku akan seperti ibu itu " Tanpa sadar Altea mengeluarkan suara. Matanya tertuju kepada sosok wanita hamil itu yang sekarang posisinya sudah berdiri.
Mengikuti arah tatapan mata Altea ,Matteo menelan ludahnya berkali membayangkan perut Rata Altea akan membengkak bagaikan balon yang siap meletus.
Setelah mereka tiba di dalam kamar rawat inap Altea, menutup pintu dengan rapat.
Matteo yang sedari tadi penasaran perlahan jongkok agar bisa menjangkau perut Altea dengan kedua tangannya.
Glek !!!
Matteo semakin menelan ludahnya sendiri merasakan perut Altea tidak lagi rata seperti dulu.
"Kenapa ? " Altea yang terkejut langsung menepis tangan Matteo.
"Kenapa kau memegang perut ku ??? " Ucap Altea tajam.
"Memangnya salah? " Matteo tidak perduli Altea yang bergerak gerak, dia semakin meraba perut Altea mengikuti bulatan yang mulai terbentuk. Entah mengapa dia sedikit terkagum dengan apa yang dia pegang.
.
__ADS_1
.
.
.
"Buka mulut mu " Matteo sudah memegang mangkok berisi bubur.
"Aku mau makan sendiri " Altea meraih mangkok dari tangan Matteo tapi langsung dijauhkan pria itu.
"Kenapa masih membantah ?? " kesalnya.
"A...aku ".....
"Jangan banyak menolak ! buka mulut mu! " tegas Matteo.
"Tapi kau marah " lirih Altea sudah berkaca kaca, sekali kedip saja tik.... air mata itu akan menetes.
Kenapa kau sulit dipahami huh...
Untung saja aku mencintai mu kalau tidak aku sudah melempar mu keluar.
hah Apa yang ku katakan ? melemparnya ???tidak tidak maafkan aku.
"Aku tidak marah , sekarang buka mulutmu "
Matteo dengan telaten menyuapi Altea sampai wanita itu tidak mau lagi membuka mulut.
"Terimakasih " lirihnya pelan.
"Jangan berterimakasih ,kau istriku dan tanggung jawabku aku akan selalu ada untuk mu" Matteo.
"Tapi semalam kau meninggalkanku ku...." Mulai lagi mata itu berkaca kaca. Ternyata
urusan persoalan tadi malam belum selesai. Dan sepertinya itu akan menjadi topik mereka selanjutnya.
"Apa kita harus membahas itu disini ? " Suara dingin Matteo terdengar.
"Kau pasti pergi ke klub malam itu lagi kan ? aku tau itu ! waktu kita ciuman tadi mencium aroma alkohol dari mulut mu "
Deg ......
Bersambung..
Hai reader bantu like dan komen ya ... sesekali vote . 🤭
Sebagai author aku tidak akan membatasi komentar kalian, mau apa pun kalian catatkan untuk ku aku selalu menghargai dan mengharapkan itu.
Jangan berhenti berkomentar, karena komentar kalian lebih memotivasi buat ku!
Tambahkan karyaku ini ke favorit kalian agar bisa mendapatkan notifikasi saat aku update bab baru.
__ADS_1
Thank you !
🤗👌