Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Ayah Mertua


__ADS_3

Sore ini Altea sedang berada di area kampus. Bayangan bayangan Matteo menciumnya tadi pagi masih setia menemani pikirannya sepajang hari.


"Ich .... " Masih tidak habis pikir dengan insiden menggelikan tersebut. 22 tahun sejak dirinya lahir ke dunia ini adalah momen pertama Altea. berciuman. Tidak terhitung ketika Matteo memerkosanya waktu itu, karena itu pengecualian yang tidak dapat dielakkan.


Baiklah, mari lupakan tentang hal itu ,aku anggap itu hanyalah mimpi. Tapi itukan nyata bukan mimpi. Batin Altea lagi bermonolog dengan dirinya sendiri.


Setelah memastikan jadwal kuliahnya sudah berakhir Altea dengan perasaan lega mulai berjalan menelusuri koridor kampus. Tujuan utama dia adalah pulang.


Sejak Altea hamil, dia sudah mulai mengurangi jadwalnya di kampus salah satu contoh mengunjungi perpustakaan. Jika biasanya dia bisa menghabiskan waktu berjam jam di samping rak buku yang berjejer rapi, terhitung sejak dua bulan lalu hal itu mulai hilang.


Sedangkan untuk makan di kantin atau sekedar membeli jajanan saja dia memilih untuk membelinya di luar kampus untuk mengurangi intens tatap mukanya dengan mahasiswa lain.


Seiring dengan bertambahnya usia janin ukuran bagian tubuh terutama perutnya Altea semakin besar, ada perasaan minder dengan semua mahasiswa yang melihatnya. Walaupun pernikahannya dengan ayah dari bayi yang dikandungnya sudah sah akan tetapi tetap saja itu belum bisa membuat Altea percaya diri.


Semenjak perut Altea mulai membesar banyak gosip gosip miring terdengar dari mahasiswa seangkatan apalagi satu jurusannya, namun Altea tidak dapat berbuat banyak hal itulah yang membuat dirinya sering hilang mood.


Sama halnya seperti kita juga , apabila ada orang masih sebatas mengobrol tentang orang lain, tak ada yang salah dengan itu. Namun, kalau sudah bergeser menjadi membicarakan kejelekan, kelemahan, keburukan, atau kekurangan orang lain yang sampai melewati batas sudah pasti membuat kita tidak nyaman. Apalagi jika apa yang dibicarakan tersebut belum terbukti kebenarannya.


Sebelum melewati kerumunan mahasiswa yang sedang berebut melihat beberapa pengumuman di mading Altea merapatkan sweater rajutnya untuk menutupi bagian perut. Setelah berhasil melewati lautan manusia matanya memicing melihat lelaki paruh baya dengan setelan rapi yang sepertinya dia kenali. "papa "..


"Aku tidak salah lihat bukan ? "


Tampak lelaki paruh baya itu juga di dikerumuni oleh orang lain yang berpakaian rapi dengan setelan jas hitam. Altea bisa mengenali salah satu dari mereka yaitu direktur utama universitas tempat dia kuliah.


Tidak mau terlalu banyak berpikir akhirnya Altea memutuskan untuk berbalik, kalaupun yang dilihatnya benar dia juga tidak punya keberanian untuk menyapa ayah mertuanya itu.


Namun ternyata David sudah duluan memanggil Altea sebelum wanita itu melangkah pergi.


"Papa disini ? " Tanya Altea gugup menyapa ayah mertuanya yang sudah selesai bertegur sapa dengan pihak kampus.


"Iya papa ada urusan tadi ? kamu sendiri sedang apa disini nak ?" menepuk bahu Altea dengan senyum ramah.


"Baru selesai dengan mata kuliah Ayah"


Altea yang merasa segan hanya bisa mengikuti langkah langkah santai mertuanya menuju parkiran. Tampak dibelakang mereka ada juga orang orang yang memakai setelah jas hitam juga mengikuti langkahnya dengan mertuanya.


Sejauh ini Altea memang tidak tau apa apa mengenai mertuanya. Akan tetapi melihat orang orang yang mendampingi David sekarang ini, Altea bisa memastikan dugaannya dulu jika mertuanya bukanlah kalangan sembarang.


"Kamu sudah mau pulang berarti nak?? " David masih menempelkan tangannya di bahu Altea menantunya.

__ADS_1


"Iya pa" ...


"Iya sudah ,ikut dengan papa kalau begitu kita ke rumah ayo.. " Asisten pribadi David sudah membuka pintu mobil untuk mempersilahkan Altea masuk. "silahkan nona " .


Ya tuhan kenapa aku segan sekali...


tolong selamatkan aku.


"Terimakasih pak " Tidak ada pilihan lain selain mengikuti mertuanya. Tidak mungkin juga dia menolak, kalau tadinya itu mama mertuanya masih ada kemungkinan Altea menolak halus atau menggunakan alasan lain.


Dengan perasaan yang canggung luar biasa, Altea secepat mungkin mengumpulkan ceceran keberaniannya yang sudah menciut karena dia duduk berdampingan dengan mertua laki lakinya. Siapa yang tidak segan dengan mertuanya coba ?.


Tampak di kursi depan supir pribadi menyetir dan sebelahnya ada lelaki paruh baya yang juga adalah asisten pribadi David.


"Hubungi Matteo, katakan padanya agar menjemputmu nanti ke rumah utama " David terdengar membuka suara sambil menoleh kepada Altea.


"Iya pa " Altea mengangguk kecil.


Mobil melaju kencang membelah keramaian jalanan menuju kediaman Mahaprana.


"Apa kekasihmu itu masih sering merayap di jalanan ? " Suara David memecahkan keheningan.


"memangnya kekasihmu ada berapa ? " suara David di iringi tawa kecil seolah menggoda menantunya.


"Hehehe papa ada ada aja" .... menutup wajahnya karena malu. "Matteo maksud papa ? "


"Iya .. ikat dia jika masih suka merayap kemana mana " Kekeh David.


"Hahaha apa papa pikir dia kerbau "


Altea sudah paham arti merayap yang diucapkan mertuanya. Apa lagi kalau bukan kebiasaan buruk Matteo "Matteo tidak lagi seperti itu pa "


Maaf aku berbohong ,padahal kemarin dia kan ke klub. tapi tidak mungkin aku kasi tau sama papa soal itukan.


David hanya mengangguk, apa yang dikatakan Altea adalah benar. David juga merasa jika akhir akhir ini putranya seperti memberikan perubahan yang signifikan. Sudah lama dia tidak lagi mendengar ada masalah yang disebabkan putranya diluar.


Belum lagi belakangan ini perusahaan Orion menjadi sorotan beberapa media karena kepemimpinan putranya sudah mulai terlihat.


Walaupun masih belum yakin sepenuhnya akan tetapi dia tetap mengakui jika putranya sudah mulai memberikan perhatian kecil untuk Orion Company ,karena beberapa waktu lalu media menyorot Matteo sedang berada di pengadilan tinggi untuk memberikan tuntutan hukum kepada para pengganggu perusahaan Orion.

__ADS_1


Mobil telah berhenti di depan kediaman keluarga mahaprana. Sekretaris pribadi David yang sudah turun terlebih dahulu langsung membukakan pintu untuk tuannya dan juga untuk Altea.


"Terimakasih pak " menunduk malu malu.


"Sama sama non "...


Altea masuk terlebih dahulu, karena melihat David mertuanya sedang mengatakan sesuatu kepada beberapa orang pendampingnya.


"Kamu kesini nak ? mana matteo ? " Ratna menautkan pipinya kepada Altea.


"Matteo masih bekerja ma"


"Loh.. kamu sama siapa kesini sayang ?" menarik tangan Altea agar mengikutinya duduk di Sofa.


"Sama papa ,tadi kami tak sengaja bertemu di kampus "


"Sama papa ? " merasa tidak percaya, Ratna beralih menoleh kebelakang karena mendengar suara derap langkah kaki dan ternyata itu suaminya David.


"Tadi papa bilang supaya dia mengikat Matteo jika masih suka merayap di jalanan" Canda David menggoda kedua wanita yang sudah duduk terlebih dahulu.


"Tapi sayangnya putra kita tidak lagi suka merayap rayap benar bukan sayang " Ratna beralih kepada Altea lagi.


"Iya ma benar, hehehe "


"Jika Matteo menyakiti mu ada papa dan mama disi menjadi tempat pengaduan mu, jika menurutmu sedikit segan kamu juga bisa mengadu kepada kakak mu Juna, jangan sungkan " ucap David menatap Altea.


David sadar jika putranya Matteo adalah pria yang penuh amarah dan gampang emosi. Kebiasaan Matteo yang sering mabuk membuat David sebagai orang tua patut waspada terhadap kemungkinan buruk diluar kesadaran Matteo. Karena sampai saat ini keluarga mahaprana meyakini jika hamilnya Altea karena Matteo memperkosanya dalam keadaan mabuk. Jadi wajar saja David merasa khawatir terjadi lagi hal hal buruk kepada Altea.


Dalam hati Altea cukup tertegun, selain orang yang terpandang Altea bisa memastikan jika mertuanya adalah orang yang sangat baik. Altea bisa melihat sosok David mertuanya ada didalam pribadi Matteo suaminya. Dibalik wajah datar dan dingin itu , Altea selalu mendapat kenyamanan yang diciptakan Matteo.


"Apa Matteo pernah melakukan kekerasan sayang ? " Ratna juga merasakan apa yang dipikirkan oleh suaminya. "kasi tau sama mama "


"Hehehe apa yang mama katakan, Matteo tidak seperti itu "


Tapiii.... tadi pagi dia menciumku aaaaaaaa.


Kasi tau gak ya....


tapikan itu bukan kekerasan. ich.....

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2