
Altea sedang berdiri di depan cermin memandang lekuk tubuhnya. Tampak body itu semakin hari semakin berisi.
dress yang dia gunakan terlihat lebih pendek karena tertarik oleh tonjolan perutnya.
Melepas dress dan menyisakan pakaian dalaman yang terbuka.
Lekuk indah yang dulu mempesona sekarang terlihat lebih berisi, namun tidak mengurangi kecantikan alami wanita itu.
Memang seperti itu. Wanita hamil terlihat lebih berisi kata kasarnya gemuk, namun tetap saja cantik.
Aura dan pesona ibu hamil selalu terpancar indah.
Senyum tersungging dibibirnya melihat bulatan perut yang semakin menonjol.
My baby Boy ...
Ingatannya kembali ketika menonton live suaminya tadi. Ungkapan Matteo membuat altea sedikit terharu.
Ia dia tau Matteo begitu mencintainya namun ketika ucapan itu keluar lagi membuat Altea semakin yakin jika Matteo lah jodoh yang dikirim tuhan untuk nya.
Matteo bukan tipe pria romantis. Namun, setiap kata yang keluar dari bibir Matteo selalu hal yang berbaur bentuk keseriusan. Sepatah kata pun kalau Matteo berbicara selalu kenyataan.
"Sayang...." Altea terlonjak ketika mendengar suara pintu terbuka. Dan menampilkan Matteo dengan tatapan penuh intimidasi. Seringai penuh dengan kelicikan.
Altea mencari cari dimana dia tadi melepaskan bajunya. Kenapa dia datang secepat ini.
Matteo sudah duduk sambil melepaskan sepatunya. Kemudian dia melempar pakaian Altea kedalam keranjang kain kotor.
"Kau sengaja menggodaku yaa " tangan nakalnya sudah mulai bergerilya dibalik punggung Altea. Wanita itu menggeliat. "awas dulu ich " .
"Kenapa ! "
Matteo menahan tubuh Altea. Menikmati aroma sabun yang masih menempel di kulit wanita itu. "hmhmh.. kamu wangi sayang. Baru mandi ya " . Dagunya sudah menempel di bahu Altea.
"Jangan macam macam Teo ! " Tangan Matteo mulai mengarah ke area favorit nya. Altea berusaha menahan tangan itu agar jangan sampai menyentuh.
"Kamu bilang apa tadi ??? " Dia memanggilku dengan Teo?. Kenapa aku senang ya. Wajah Matteo sudah merona alami. Dia menyembunyikan wajahnya dibalik kepala Altea agar tidak terlihat dari pantulan cermin. Tangannya sudah mulai sibuk memainkan setiap gelombang rambut Altea.
"Lepaskan !!! " Suara Altea naik satu oktaf.
"panggil aku seperti tadi ! "
"Seperti apa ? jangan aneh aneh deh "
"Tadi itu kamu panggil aku dengan sebutan apa itu? Teo ya ? iya kau memanggilku dengan Teo "
__ADS_1
"Lalu ? " altea mengernyit.
"Kenapa kau memanggilku dengan sebutan itu? " Menarik Altea untuk duduk di pangkuannya. wanita itu langsung menyambar jas Matteo untuk menutupi sebagian tubuhnya. Dia sudah menghapal isi pikiran Matteo yang mulai berkelana.
"Itu singkatan namamu" Ucapnya malas. "Nama Teo aku ambil dari nama belakangmu " Tambah nya lagi.
"Oh sekarang kau sudah mulai bersuka suka membuat nama panggilanku ya " Menempelkan bibirnya di bahu Altea.
"Bukan seperti i....
Matteo menutup mulut Altea dengan bibirnya. Tangannya sudah menarik paksa jas dan dilemparnya jas yang menutupi tubuh Altea itu tanpa peduli entah dimana nanti jas malang itu mendarat. "Sepertinya ukurannya tambah besar "
Tuh kan...
Ini masih siang bolong !!
aaa kenapa tadi aku tidak kunci pintu.
Altea tau kemana arah tujuan Matteo sebentar lagi. Pasrah ! . Memberontak pun gak ada guna.
Dan terjadilah penyatuan itu dan berakhir sempurna disiang bolong.
Deru nafas keduanya masih saling memburu. Matteo menarik Altea kedalam pelukannya. Kemudian membalut tubuh mungil itu dengan balutan selimut.
"Terimakasih Tea ".
"Kamu memanggilku dengan nama belakang ku, dan aku memanggilmu dengan nama belakang mu juga " Tea juga nama yang manis bukan. Semanis wajahmu yang selalu membuatku tergila-gila.
"Teo dan Tea " Altea mendongak. Secara tidak sadar menyatukan nama belakang mereka berdua dan kedengarannya manis.
Kemudian wanita itu tersenyum. Menarik tangan kiri Matteo dan mempertemukan dengan tangan kirinya. tampaklah dua cincin bulatan pengikat hubungan mereka ketika mengikat janji suci. Lingkaran itu menempel sempurna di jari manis keduanya.
"Apa kau suka panggilan tea? " Matteo menciumi punggung tangan Altea.
"Hmhm suka " jawab suka ajalah biar cepat. "Apa kau juga suka nama Teo ? " Bertanya lagi.
"Jelas " Jawabnya singkat. "Tapi aku lebih suka dipanggil sayang " cup cup cup. Ciuman bertubi tubi mendarat di wajah Altea. Pria itu mengabsen seluruh wajah Altea dengan kecupan manja.
Yang dicium hanya bisa pasrah. Seperti seorang yang sedang kehausan dan melepas dahaga tanpa berhenti.
...----------------...
Altea keluar dari bath up dengan melilitkan handuk kecil menutupi sebagian tubuhnya. kalau ada handuk besar ingin sekali dia memakainya. Dia tidak mau lagi memberi pancingan kepada buaya.
Sedangkan Altea berpakaian rapi dan lengkap saja kadang membuat Matteo masih gemas dan sering melahapnya tanpa melihat tempat dan waktu. Apalagi jika dikasi umpan manis tanpa baju ah sudahlah tidak terbayang.
__ADS_1
Intinya jangan dipancing. Bisa bisa nanti bukan cuma mandi air lagi insiden didalam kamar itu.
"Kenapa banyak bekas luka di punggung mu " Altea memberanikan diri menyentuh bekas kehitaman tepat di samping tulang punggung Matteo. "Apa masih sakit ? " Tanyanya.
Hampir semua punggung Matteo ada bekas, mungkin karena efek kulitnya putih jadi kehitaman itu tergambar jelas.
"Itu hanya masa lalu " Ucapnya kemudian mendudukkan Altea di atas senta wastafel. Bermain main sebentar dengan perut buncit Altea dengan perasaan hangat.
"Apa itu karena kau sering bertengkar ? " tanya altea sinis. Tanpa ditanya pun sebenarnya dia tau itu. Namun entah mengapa terbesit rasa penasaran dalam pikirannya.
"Ia " satu kata. Jawaban singkat itu terdengar seperti suara setan yang lirih nyaris tidak terdengar. Memejamkan matanya sambil menikmati setiap inci sentuhan jemari Altea.
Sisa sisa perjuangan diatas ring masih membekas di setiap lekuk punggung matteo.
Kenapa baru sekarang aku melihatnya. Padahal mereka sudah sering buka bukaan. Altea masih menekan nekan bekas luka itu seolah menghitung ada berapa bekas di punggung Matteo.
"Apa sakit ? " Altea menusuk nusuk kan kuku lentiknya.
"Tidak "
"Masa sih " . Jariku kena pisau cutter saat mengiris bawang dikit saja langsung perih. Altea menusuk bekas luka itu lagi dengan kuku jempolnya. Kali ini dia menambah tenaga hingga kulit itu nyari terkelupas. "Sakit ? "
Namun yang di tusuk tidak menunjukkan reaksi apa apa.
Mana mungkinlah Matteo merasa sakit hanya karena tusukan kuku. Sama sekali tidak mungkin. Tidak ada teori yang mengatakan bahwa itu sakit baginya.
"Apa bekasnya cuma ada disini ? " Melihat bekasnya saja Altea sudah bisa membayangkan betapa pedihnya itu ketika masih luka basah.
"Ada ditempat lain . Mau lihat ? " Matteo membalikkan badannya kemudian menunjuk perut six pack yang begitu menggoda.
"Mana ? " Altea meraba perut Matteo mengikuti setiap gutter yang membelah per enam petak perut itu, namun tidak menemukan ada bekas apapun disana. "Tidak ada pun " bilangnya.
"Kebawah " Matteo menunjuk melalui sorot matanya.
Altea mengerutkan keningnya, namun tangannya mulai bergerak ke bawah. Seketika kedua bola matanya membulat paham bawah mana yang dimaksud oleh Matteo.
"Apa kau mengerjaiku !!!
Altea mendorong tubuh Matteo dengan keras. Segera turun dan menatap tajam Matteo. "Dasar mesum !!! " Brakk !! " Suara pintu terdengar karena Altea menutupnya dengan tiba tiba.
Matteo terkekeh melihat wajah padam Altea. Entah sejak kapan dia senang menjahili istrinya. Melihat wajah Altea yang merona seakan menambah semangat baru untuknya.
"Ceklek ceklek...
Pintu kamar mandi tertutup dari luar. "Tea !!". Teriaknya dari dalam. "Buka !!! "
__ADS_1
Altea sengaja mengunci pintu sampai dia selesai berpakaian. Dia tidak mau adegan tadi siang terulang lagi.
Bersambung.....