Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Mengobati Luka


__ADS_3

Sejenak Altea dan Matteo beradu pandang dan saling mengunci tatapan.


Altea sibuk bermonolog dengan dirinya sendiri


dia sedikit merasa canggung ditatap aneh oleh Matteo.


Feren pergi menghampiri Mario yang sudah sadarkan diri dia duduk sambil mengompres lukanya diruang ganti, ketika Feren melangkah masuk dia ditatap tajam oleh Mario.


Feren seketika menghentikan langkahnya.


"Bisakah aku masuk?


"Keluar ! Tegas Mario


"Ada apa ? aku hanya ingin membantumu


"Pergilah! tugasmu sudah selesai


Mendengar kata tugas, Feren bingung .


Beberapa hari ini Mario sangat perhatian dengan Feren. Bahkan Mario berhasil menjauhkan Feren dari Leo kekasihnya . Dan sekarang mario mencampakkannya begitu saja.


Dia termakan rayuan pulau kelapa dari sang Mario.


Feren datang sambil menangis dan menarik tangan Altea keluar. Altea semakin bingung dengan keadaan sekarang.


Dia memilih mengikuti Feren keluar.


"Heiii heiii tunggu tanganku masih berfungsi " Decak Altea


"Hikss ... hikss ...dia jahat sekali"


Dia tiba tiba memeluk Altea dengan erat sambil menangis sedu.


"Bisakah kau jelaskan dulu? tanya Altea


"Dia jahat!


"Dia siapa?


"Mario....


"Mario yang mana? tanya Altea lagi


Bersamaan dengan itu tampak Ibra dan Matteo datang. Matteo sudah mengganti pakaiannya dengan celana jeans biru dan kaos hitam.


"Biarkan dia tenang dulu baru nanti kita tanya penyebab dia menangis" ucap Ibra


"Aku akan mengantarkan kalian pulang" ucap Ibra lagi dengan suara dingin seperti biasa.


Biar bagaimana pun Ibra tetap perduli dengan Feren dan Altea karena mereka bekerja di Restoran miliknya. Dia juga sudah mengenal Altea dan Feren , meskipun hanya sebatas Bos dan karyawan. Jadi saat ini dia tidak mau memperkeruh suasana .


"Lalu aku ? tanya Daniel


"Kau bisa naik taksi, ucap Ibra sambil menyodorkan pecahan 50.000 satu lembar


ke tangan Daniel.


Seketika mata Daniel ingin melompat keluar melihat Ibra menyodorkan uang ke tangan nya.


Ingin sekali dia melayangkan kepalan tangannya ke wajah Ibra karena dia telah mempermalukan seorang CEO didepan sekretarisnya.


Seketika tawa Matteo menggelegar puas sekali dia melihat bos nya dipermalukan. Daniel melayangkan tatapan tajam kepada kedua sahabatnya.


"Kau yang harus nya naik taksi! Ucap Daniel tak mau kalah.


"Yang punya mobil siapa? goda Ibra lagi


Senyum licik tertarik diujung bibir Ibra ,dia sangat senang memancing emosi sahabatnya itu. Sambil bersiul dia pergi mengambil mobil.


Daniel hanya menahan geramnya.


"Ayo masuk" ucap Ibra sambil membuka kaca mobilnya.


Feren dan Altea ingin masuk ,seketika tangan kekar Matteo menarik tangan Altea.


"Altea pulang dengan ku saja , Ucap Matteo


Feren memilih duduk di bangku belakang, dia segan duduk berdampingan dengan Bos nya itu.


Ibra melajukan kemudinya meninggalkan Daniel yang masih mematung ditempatnya.


Matteo pergi mengambil motor miliknya dan menghentikannya didepan Altea. Dia menyuruh Altea naik. " Kami Duluan " Ucap Matteo Seraya pergi meninggalkan Daniel yang masih mematung ditempatnya. Mereka akan terlihat bos dan bawahan ketika di kantor saja.

__ADS_1


Kalau diluar Matteo memperlakukan Daniel sebagai Teman, begitu juga sebaliknya.


"Aku akan memotong gaji mu, ! gerutu Daniel.


Dia menggerutu ki kesalahannya meninggalkan Mobilnya di apartemen milik Matteo.


Daniel berjalan kepinggir jalan besar.


untuk menghentikan taksi.


Tinnn tinn tinn....


Suara klakson mobil terdengar dia menoleh kesamping, ia melihat plat mobil Ibra.


" Ayo naik.... ucap Ibra datar


"Aku? Daniel memastikan


"Ya siapa lagi, aku hanya melindungi mu,jika kau pulang naik taksi ,maka besok akan terpampang nama mu dan nama perusahaan mu di koran" Ucap Ibra masih dengan kata kata meledek.


"Bangsa**t !!! Ucap Daniel menahan geramnya.


Ibra hanya tertawa menyaksikan wajah datar Daniel. Rasanya puas sekali dia mengerjai sahabatnya itu.


Ibra memang sengaja mengerjai Daniel. Dia sengaja melajukan mobilnya dan memutar balik arah kembali menjemput Daniel.


Cklitttt......


Matteo menginjak rem mendadak saat didepannya tiba tiba seorang nenek hendak menyebrang.


"Auuchhh" pekik suara Altea.


Altea refleks melingkarkan tangannya ke perut Mateo. Seketika Matteo membeku saat merasakan dua gundukan milik Altea mendarat sempurna dipunggung nya.


Altea kemudian membenarkan posisinya kembali, Matteo merasa lega setidaknya dia tidak berlama lama dengan fantasi yang membuat dia beku.


20 menit kemudian Altea dan Matteo tiba di depan rumah orangtuanya. Altea turun, tapi sejenak dia berbalik dan kembali memandang wajah tampan Matteo. Rahang tegas, muka datar dan hidung mancung yang biasa dia lihat sekarang memar dan sedikit membengkak.


"Kakak masuklah dulu, ada ibu didalam" ucap Altea.


"Tidak aku pulang saja...


"Tapi luka kakak ,


"Aku akan mengompres luka kakak terlebih dahulu" Bujuk Altea.


Matteo serasa kena sihir mendapat sentuhan dari Altea. Dia turun dan mengikuti Altea masuk kedalam.


"Kakak duduk ya...


Altea memanggil ibunya yang sedang menyiapkan makan malam di dapur.


Sofi terkejut melihat wajah lebam Matteo.


"Ada apa ini , kamu kenapa nak? apa ada yang memukul mu? kenapa bisa seperti ini?? mana yang sakit?


Matteo diberondong pertanyaan oleh Sofi.


Dia bingung yang mana duluan yang dia jawab.


"Tadi...


"Tunggu sebentar disini ibu ambil kotak P 3 K "


Belum sempat Matteo menjawab Sofi sudah berlalu.


Matteo hanya diam melihat kehebohan Sofi.


Sofi datang membawa kotak P 3 K dan air hangat. Dia menyuruh Altea mengompres memar Matteo, dan mengoles saleb pereda nyeri.


Dia buru buru ke dapur karena dia ingat kompornya masih hidup.


Sejenak Altea mengompres wajah Matteo, sesekali dia meringis menahan sakit ketika handuk basah itu mendarat tepat di luka dan memarnya.


Saat mendapat sentuhan dari Altea rasanya jantung Matteo berdetak dengan cepat, dan ketika tatapan mereka bertemu Matteo hanya membeku dan tidak mengeluarkan suara.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Altea, tapi dia memilih fokus dengan luka Matteo.


"Apa kakak sering melakukan itu?


"Tidak , elak Matteo


"Aku melihat gerakan kakak, dan sepertinya kakak Ahli " ucap Altea sambil mengoles saleb di wajah Matteo.

__ADS_1


Matteo tidak menyangka bahwa Altea akan mengatakan hal itu.


"Sudah...


"Terimakasih Altea" ucap Matteo seraya memandang wajah cantik Altea.


Altea hanya membalas dengan sedikit senyum .


Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB.


Ilham masuk dari pintu samping langsung ke dapur dan melihat istrinya memasak sup daging.


"Sepertinya aku pulang tepat waktu" Ucap Ilham sambil memeluk istrinya dari belakang.


Meskipun mereka sudah memasuki usia setengah abad tapi jiwa jiwa muda masih dimiliki keduanya.


"Ini bukan untuk ayah.... elak Sofi


" lalu?


"Itu lelaki yang kemarin, siapa namanya....hm


"Matteo bu " Ucap Altea yang kebetulan masuk ke dapur mengambil air putih untuk Matteo.


"Hah nak Matteo,Dia sakit ,wajah tampannya hancur" ucap Sofi sedikit sedih.


Ilham refleks berlalu ke ruang depan untuk melihat keadaan Matteo. Alangkah terkejutnya Ilham melihat lebam parah di wajah Matteo. Altea mengikuti ayahnya keruang tengah.


"Apa yang terjadi? tanya Ilham penasaran.


"Tadi aku terjatuh pak ,ucap Matteo


"Jangan membohongiku, aku juga pernah muda" nadanya naik beberapa oktaf


Seketika Matteo menelan ludahnya kasar.


sudah dua kali dia bertemu dengan Ilham, dan dia hanya sering melihat wajah datar yang bersahabat milik Ilham. Bahkan Matteo sering tertegun dengan suara dan kalimat yang dikeluarkan oleh Ilham dan dia hanya menilai salut kepada pria paruh baya itu.


Ilham memperhatikan lebam dan luka di wajah mateo dengan seksama, dia menyimpulkan bahwa itu bukan luka jatuh.


"katakan itu luka pukulan " suara Ilham terdengar mengintrogasi.


Melihat Ilham menginterogasinya, Matteo hanya diam dan mati kata.


"I y a... benar" Ucap Matteo ragu ragu.


"Apa kau dikeroyok?


"Tidak! Matteo langsung mengelak


Mendengar kata dikeroyok rasanya harga dirinya hilang jika dia membenarkan itu luka bekas keroyokan orang.


"Dikeroyok? aku tidak selemah itu. batin Matteo


Ilham langsung beralih pandang dengan putrinya seraya meminta penjelasan. Tapi Altea diam.


Ilham menghembuskan nafas kasar.


"Katakan dengan jujur


Suara Ilham terdengar lebih lembut.


"Ayah kita makan dulu ,nanti kita lanjut ucap Sofi sambil menarik tangan suaminya.


Dia meminta Altea untuk mengajak Matteo ke dapur.


.


.


.


Sesi makan malam berjalan seperti biasa.


Sesekali Sofi menyuruh Matteo agar memakan banyak. Ini adalah ketiga kalinya Matteo makan bersama keluarga Altea. Meskipun masih merasa canggung tapi tidak canggung ketika pertama kali.


Ilham semakin penasaran dengan Matteo.


Awal mula kedatangan Matteo kerumahnya saat dia Mabuk parah.


Dan sekarang dia luka luka.


Ilham Pernah menduga jika Matteo adalah tipe pemuda yang buruk. Maka dari itu melalui nasehatnya kepada Albert dia mencoba menyalurkan juga kepada Matteo.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2