![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Teruntuk kamu yang sedang membaca novel ini....
Jangan sungkan memberikan kritikan dan komentar yang membangun ya
😉
Katanya: Jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri!
Begitu sih yang dikatakan buk Ita dengan putri satu-satunya ketika akan menikahi jodohnya.
Prolog
*****
Ambar-Sita! Ada kisah dari mereka berdua ♥️ Bertemu sejak dari kecil kemudian saling salah paham dengan perasaan masing-masing. Pertemuan dua insan yang memiliki karakter yang begitu berbeda itu terjadi tahun 2001 yang lalu. Saat itu Sita yang baru kelas dua SD harus pindah ke desa Peringi hilir kampung asal ibunya. Desa yang begitu indah, bersih dan sejuk yang sengaja tuhan sembunyikan agar terhindar dari polusi jaman disuatu hari nanti.
Sita dulunya tinggal disalah satu kota penghasil minyak terbesar dinegara Indonesia. Tapi karena PHK besar-besaran yang terjadi ditempat kerja ayahnya, mereka pun akhirnya memutuskan kembali kerumah nenek Sita yang ada di Peringi hilir.
Satu truck coltdiesel dan mobil pick up yang mengangkut barang-barang mereka ditempat tinggal yang dulu akhirnya sampai juga ke desa Peringi hilir.
"Capek ya pak" sapa pak Adam ayahnya Sita kepada sopir-sopir yang terlihat begitu kelelahan duduk didepan halaman rumah mereka.
"Bukannya capek lagi pak, rasanya ambein saya mau keluar saking lamanya duduk di dalam mobil"
"Tiga hari dua malam rasanya, " sambung pak sopir mobil pick up.
"Pindah itu ke kota pak, ini kok malah nyari tempat terpelosok"
"Hahaha mertua saya tinggal disini pak, lagian lama perjalanan karena kampung ini jalan menuju ke kabupatennya terpisah sama sungai"
"Iyaa seperti itu lah pak, lama perjalanan kesini itu karena harus menyeberang. Ferry pun cuma dua kali lewat. Saya jadi nggak terbayang kalau ada warga desa disini yang sakit jantung"
"Hahaha puskesmas nya ada kok pak" sahut buk Ita yang akhirnya keluar bersama adik laki-lakinya.
"Puskesmas pun kalo pasiennyo tu jantungan apa yang mau dilakukan sama orang-orang puskesmas itu buk, rumah sakit juga ujung-ujungnya"
"iyaa doa kan saja desa kami cepat dibangun rumah sakit pak"
"Tak masalah kalau tak ada rumah sakit didesa ini buk, jembatan aja yang perlu dibuat sama pemerintah, kalo dah ada jembatan aman lah jika mau kerumah sakit"
"Orang desa yang gak mau dibangunin jembatan pak, memang mau mengisolasikan diri hahaha"
"Hahaha sepertinya memang begitu, ini pertama kalinya saya lihat desa yang bersih sejuk seperti ini. Saya merasa lagi nggak kerja antar barang ke sini, tapi pergi liburan"
"Hahaah iya.... tenang, damai disini buk, serasa di surga versi dunia" ujar bapak mobil truck dan mulai membantu adik buk Ita menurunkan barang-barang pindahannya.
Kerabat buk Ita satu persatu pun mulai berdatangan dan ikut membantu menurunkan barang-barang wanita yang sudah lama tinggal dirantau tersebut.
__ADS_1
*****
Ambar dan Ismet yang baru saja pulang dari mandi-mandi disungai melihat kerumah nek Lasa.
"Nek Lasa ada tamu mbar"
"Iya... anak perempuannya pulang"
"Kok kamu tahu?"
"Kemarin dia cerita sama pak Bahrun anak perempuannya mau balik ke sini"
"Ouh, kita gak bisa minta makan lagi dong mbar kerumah nek Lasa kalau bolos sekolah"
"Sepertinya begituh" jawab Ambar dan lari pulang kerumahnya yang tak jauh dari rumahnya nek Lasa.
♡♡♡♡AmbarSita♡♡♡♡
Keesokan paginya sebelum berangkat sekolah, Khaidir teman satu kelasnya Ambar mengayuhkan sepeda dengan kencang karena angsa milik buk Eli berulah lagi. Hewan yang suka menyosor dengan paruh orang-orang yang lewat dihadapannya. Selalu saja membuat ketakutan anak-anak didesa Peringi hilir. Terlebih lagi ibuk-ibuk yang akan pergi kesawahnya. Semua pasti akan berteriak memanggil si pemilik angsa.
"Hahaha ngapain kamu?" tanya Ismet yang tengah asyik bermain kelereng dihalaman sekolah.
"Angsa buk Eli tuuh, dikejar aku sampe jatuh"
"Ntar monyong bibir aku nyium angsa"
"Loh gak apa-apa, lagian gigi kamu udah maju juga kan" ledek Ambar pada Khaidir yang memang memiliki bentuk gigi yang kurang rapi.
Semua kembali tertawa, Khaidir memilih masuk kedalam kelas sebelum dia menjadi bulan-bulanan Ambar.
Saat jam istirahat semua murid keluar kelas untuk berbelanja atau sekedar bermain dilapangan sekolah mereka yang sering dijadikan lapangan bola saat sore hari oleh pemuda-pemuda didesa Peringi hilir.
Ambar mengeluarkan gasingnya, kali ini dia berpikir tidak akan kalah lagi dari Ismet. Dia begitu percaya diri menarik tali gasingnya bersamaan dengan Ismet.
Selama 3 menit gasing berputar-putar dilantai dengan begitu kencang setelah itu melambat-lambat dan tetap saja Ismet yang berhenti terakhir dari punyanya. Ambar mengambil gasing milik Ismet dan melemparkannya kelapangan.
"Eeeh curaaang, kenapa punya aku dibuang!!"
"Bodo! lagian punya kita sama tapi kok tetap aja gasing aku yang terus berhenti duluan"
"Karena nasib sial itu emang ditakdirkan buat kamu mbar" ledek Abdul.
"Sial? Ujang tuh yang sial bukan aku"
"Kenapa aku?" tanya Ujang kebingungan.
__ADS_1
"Soalnya kan ini gasing kamu aku curi, nih aku balikin gak guna ternyata"
Semua teman-teman yang dari tadi memperhatikan taruhan gasing mereka kompak terdiam dan kebingungan.
"Baru kali ini ada maling ngaku!" bisik Khaidir dengan Ujang.
"Pantesan gasing aku ilang, kamu yang nyuri"
"Lagian kamu ****! Gasing sendiri gak tahu" ujar Ismet yang tengah bebahagia karena berhasil memenangkan taruhan memukul kepala Ujang.
Lonceng pertanda jam istirahat berakhir sudah dibunyikan. Ambar dan Ismet bukannya masuk kelas malah kabur ke warung yang ada didekat sekolah mereka untuk mengisi perut.
Saat sudah kenyang dan kembali kekelas, buk Mun atau yang sering dipanggil ibuk Doraemon oleh murid-murid mencegah langkah mereka.
"Bolos ya?!"
"Enggak.... Ibuk nyuruh?" jawab Ambar membela diri.
"Kapan ibuk nyuruh kalian bolos?!"
"Lah trus tadi itu apa?" tanya Ambar belagak bingung.
"Oh kirain ibu nyuruh" sahut Ismet ikutan.
"Kenapa terlambat masuk kekelas?"
"Makan dulu buk" jawab Ismet dengan santai.
"Kan tadi ada jam istirahat kenapa gak makan?"
"Kami ngasih hiburan dulu sama teman-teman yang lain buk, atraksi gasing"
Ismet ikut menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Ambar.
"Udah duduk sana! kalo terus-terusan masuk kekelas terlambat nanti kalian tinggal kelas ya!" Keduanya hanya menganggukkan kepala walau sebenarnya tidak mendengarkan sama sekali ancaman yang diberikan gurunya tersebut.
🧸🧸🧸
"Kalau ketemu Ambar lebih baik cepat menghindar"~Murid kelas 2 SD Peringi Hilir
~**♡●○●♡**~
__ADS_1