AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Kejadian di Tanggal 31 Mai


__ADS_3

Setelah alif pulang dari rumah Sita, gadis itu tetap duduk diteras rumahnya. Hatinya jadi tidak enak lagi dengan Ambar. Sita menghentak-hentakkan kakinya kedinding, kesal dengan dirinya sendiri.


"Kenapa sih Tuhan, mulut Sita jadi sulit buat bergerak kalo ada orang lain disamping kami berdua!!" umpat Sita dan ***-remas jarinya begitu kesal.


"Kenapa kamu?" tanya buk Ita yang baru pulang dari seberang.


"Udah dikasi kado si Ambarnya, gimana masakan ibu enak lagi kan katanya?"


Sita hanya diam kemudian melepaskan ikatan rambutnya, kepalanya serasa ingin meledak saat ini. Melihat raut wajah anaknya yang tidak enak buk Ita memutuskan masuk kedalam rumah. Tapi Sita tidak ikut menyusul, meski azan magrib sebentar lagi akan berkumandang.


"Heeeh Gak masuk, magrib loh bentar lagi" kata buk Ita yang kembali berdiri didepan pintu.


"Ibuk pulang kesini tadi liat Ambar gak?" saat Sita menanyakan hal itu Ambar langsung lewat dengan bajunya yang basah.


"Tuu orangnya panjang umur" tunjuk buk Ita sebelum Ambar menghilang.


"Ambaar" panggil Sita cepat dan menyusulnya ke jalan.


Ambar sebenarnya ingin balas dendam dengan balik mengacuhkan Sita tapi ada buk Ita yang berdiri didepan pintunya jadi dengan terpaksa dia berhenti.


"Maaf___" Sita tidak bisa melanjutkkan kalimatnya, matanya sudah kabur karna menangis.


"Magrib, aku harus pulang sebelum pak Bahrun marah" jawab Ambar pelan.


Sita mencegah langkahnya dan menarik tangan Ambar. Buk Ita yang masih berdiri didepan pintu jadi malu sendiri dengan tingkah anaknya, dia segera menyelamatkan wajah dengan masuk kedalam rumah.


"Aku benar-benar minta maaf" kata Sita lagi sambil merengek.


"Kenapa sih bocah!!" bentak Ambar pelan.


Meskipun sudah dimarahi Ambar sekalipun Sita tidak mau melepaskan tangannya. Dia terus menggenggam tangan Ambar. Karna saat itu Sita begitu ketakutan bukan karna kemarahan Ambar, tapi kehilangan Ambar selanjutnya. Seperti yang sudah-sudah Ambar akan menjauh dan menghindari Sita setiap hatinya dibuat terluka. Azan magrib yang akhirnya membuat hati keras Ambar luluh, mau tidak mau dia harus mendengarkan Sita.


"Kenapa?" tanya Ambar berusaha menahan emosinya.


"Aku minta maaf Ambar, aku mohooon" ujar Sita sambil merengek.


"Kalo kamu nangis kaya anak kecil gini aku gak akan maafin kamu!" kata Ambar tegas.


Sita langsung diam seketika "Aku minta maaf" Ambar hanya menganggukkan kepala tanpa mau mengeluarkan sepatah katapun "Ayam balado kamu belum dimakan" katanya lagi dengan suara yang begitu berat.


Ambar memukul tangan Sita pelan agar dia melepaskan genggamannya, karna buk Khadijah lewat untuk berangkat ke mushola.


"Besok aku bawain untuk bekal kamu aja ya" bisik Sita pelan.


"YA!" jawab Ambar singkat dan kabur sebelum istri pak Bahrun itu ikutan menyapanya.


 


~**♡AmbarSita♡**~


 


Selesai sholat subuh, Ambar tidak masuk ke kamarnya lagi. Hari ini dia tidak mau terlambat kesekolah soalnya Sita kemarin mengatakan ingin memberinya bekal. Bukan soal makanannya yang sampai membuat Ambar sampai tidak mau telat, tapi demi Sita nya. Dia tidak ingin gadis itu menunggu dan terpaksa ikut terlambat karena dirinya. Pak Bahrun yang baru pulang dari mushola melipat-lipat kain sarungnya dan mantap memukulkannya pada punggung Ambar.


"Kemarin kamu ngerokok ya disungai?!!" bentak pria paruh baya tersebut.


Ambar langsung pucat, pasti pak Anton ayahnya Abdul yang melaporkan saat di mushola tadi


Karna sehabis diceburkan ke sungai, Ambar dan teman-temannya memang merokok disana.

__ADS_1


"Ngerokok kamu?!!" tanya pak Bahrun lagi sambil melayangkan kain sarungnya untuk yang kedua kalinya.


"Enggak paaak" jawab Ambar pelan.


Hal yang paling di takuti Ambar di dunia ini hanya dua : Tuhan dan pak Bahrun yang wajahnya mirip Dajjal kata Ambar saat beliau sedang marah.


"Kemarin pak Anton mergoki kalian di sungai, ada batang rokok ditempat kalian itu! awas kamu ya kalo emang ngerokok, bapak potong uang jajan kamu!"


"Ya Tuhan kalo bapak potong uang jajan bang Ambar, dia bisa jajan apa lagi pak dengan uang segitu. Hahaha uang 2500 aja yang terus bapak kasi cuma cukup beli ale-ale dua dijaman sekarang pak" sahut Hening yang baru keluar dari kamar mandi.


Ambar hanya menarik nafas panjang, pagi-pagi dia sudah terkena sial. pukul 07.20 Ambar keluar dari rumahnya dengan pakaian sekolahnya yang selalu rapi dan bersih. Ambar berusaha tetap semangat meskipun tadi pagi sudah dipukuli oleh pak Bahrun. Didepan jalan rumah Sita, usahanya untuk menenangkan hati sepertinya akan semakin sulit karna melihat Alif sudah menunggu Sita dijalan tersebut dengan sepeda motornya.


"Tunggu bentar ya, ibuk nyuruh kasi ini ke Ambar. Soalnya kemarin dia gak jadi makan" kata Sita yang berbohong dengan Alif.


"Si miskin ini ngomong apa sih ke ibu kamu sampai-sampai ibuk mau repot ngasi orang kaya dia makan!" kata Alif sinis, raut wajahnya begitu kesal.


Ambar menarik nafas panjang untuk melepaskan oksigen ditubuhnya yang mulai terasa sesak. Yang lebih membuat sakit hatinya karna Sita hanya diam dengan ucapan kasar Alif untuk Ambar barusan.


"Sini biar aku yang ngasi" kata Alif dan mengambil kotak bekal yang ada ditangan Sita. Alif mendekati Ambar yang masih diam dan memandangi kedua orang tersebut.


"Harusnya kamu malu, sampai kapan kamu mau ngemis makanan terus!! Jangan memancing rasa simpati orang-orang deh dengan status keluarga kamu yang miskin itu! Bapak kamu susah banget ya sampai gak sanggup ngasi anaknya makan!! Semiskin apa sih kalian, kalo gitu biar aku suruh orangtua aku buat nyumbangin beras untuk keluarga kamu!" ujar Alif ketus dan menyerahkan kotak bekal pada ambar "Satu hal lagi Sita itu punya aku, jadi kamu jangan berusaha ngedekatin dia, Paham!" sambung Alif kali ini dengan suara yang sengaja dipelankannya agar Sita tidak mendengar.


Ambar mengambil kotak nasi yang diberikan Alif. Dia tersenyum dan melemparkan kotak nasi tersebut ke kaki Alif. Sita langsung terkejut melihat yang dilakukan Ambar. Apalagi raut wajah Ambar sudah berubah menakutkan meskipun dia tersenyum tapi tatapannya tajam.


"TANYA SAMA CEWEK MU DULU BRO, KAPAN AKU MINTA SUMBANGAN MAKANAN SAMA DIA!" bentak Ambar dan menarik krah baju Alif.


Cowok tinggi itu langsung menolak Ambar kuat dan mengambil kesempatan duluan untuk melayangkan tinju kewajah Ambar. Tidak terima dipukul, Ambar langsung membalasnya. Alif sampai terjungkal kebelakang karna pukulan Ambar. Sita mendekati kedua cowok yang sedang baku hantam itu sambil menangis. Dia berusaha menjauhi Alif dari Ambar, karna jelas-jelas Ambar bukan lawan yang bisa dikalahkan oleh Alif jika Ambar sudah terpancing emosi.


Buk Ita yang ada didalam rumah berlari keluar mendengar suara ribut-ribut dan tangis anaknya yang berteriak minta tolong. Bahkan buk Eli yang warungnya beberapa meter dari rumah Sita ikutan datang. Baju Alif benar-benar kotor karna tubuhnya berada dibawah dan habis dipukuli oleh Ambar.


"Ambaaar, Udah naaakkk!! Ya Allah, Paaak" teriak buk Eli dan buk Ita tak kalah histeris dari Sita. Mereka berdua berusaha melepaskan cengkraman tangan Ambar dari leher Alif.


"Kenapa Ambar? kok ribut-ribut gini, Alif juga kenapa?" tanya buk Ita yang masih syok sambil merasakan jantungnya yang sakit melihat pertengkaran dua remaja SMP tersebut.


"Buk tolong ibuk kasi tau sama pacar anak ibuk ini! Kasi tahu juga sama anak ibuk ya! Saya gak pernah minta sumbangan sama sekali! Meskipun saya miskin, saya gak pernah mengemis makanan dengan anak ibuk! Siapa yang menawarkan diri untuk ngasi saya makan!! Tolong ibuk kasi tau kedia!" teriak Ambar sambil menunjuk-nunjuk kearah Sita dan Alif.


"Kenapa? Kenapa ini?!" tanya pak Bahrun dengan suara menggigil mendekati anaknya.


"Udah....Udah... Masih pagi gak boleh ribut-ribut, selesaikan masalah nya baik-baik" nasihat pak Ujang memegang tubuh Alif yang sudah memar dipukuli Ambar. Mulut cowok itu sampai berdarah karna bogem mentah Ambar.


"Ada apa?!" tanya pak Bahrun sekali lagi dan mencengkram lengan anaknya kuat.


"Ambar dibilang ngemis makanan sama si bajingan itu! Dia juga ngatain kita miskin tau gak! Padahal cewek dia sendiri yang nawari Ambar bekal!" kata Ambar tegas karna ayahnya memandanginya dengan tatapan tajam seperti menyalahkannya.


"Udah pulang!! Pulang kerumah!" kata pak Bahrun pelan dan menolak Ambar untuk segera pergi dari tempat itu sebelum semua warga datang berbondong-bondong.


"Ambar sekolah!" kata Ambar menjauhi ayahnya.


'Plaaak!' Tangan pak Bahrun melayang memukul kuat kepala anaknya.


"PULANG!" teriak pria itu dengan keras.


Ambar merapikan baju sekolahnya dan berjalan meninggalkan semua orang yang memperhatikannya. Saat itu Sita sama sekali tidak bisa berbicara sedikitpun, dia hanya menangis memandangi Ambar.


Buk Khadijah yang berdiri didepan teras rumahnya terlihat pucat memandangi anak dan suaminya. Pak Bahrun menggenggam lengan Ambar kuat untuk memaksanya masuk kedalam rumah. Diruang tamu pria itu menolak tubuh anaknya ke kursi rotan milik mereka.


"Kenapa kamu tadi?!" tanya pak Bahrun tegas sambil berkacak pinggang memandangi Ambar.


"NGAPAIN TADI?!!" teriaknya lebih kuat sambil menampar kepala anaknya karna Ambar tidak mau menjawab. Nafas pak Bahrun sampai terdengar kuat, dia memegangi dadanya.

__ADS_1


"Ambar gak terima pak dibilang miskin terus sama dia" jawab Ambar pelan dan berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar.


"Siapa yang bilangin kamu miskin tadi?! Sita? Alif? Yang mana bilangin kamu miskin! Makanya kamu jangan jadi orang yang kelaparan!" kata pak Bahrun tegas dan kembali menampar kepala anaknya.


"Perut kamu itu udah kaya penampungan tau gak! Apa kami gak ngasi kamu makan dirumah ini? Jajan yang bapak kasi emang sedikit, tapi soal makanan, nasi, lauk, orangtua kamu kan selalu menyediakan dirumah ini! kenapa kamu masih minta makan kerumah orang!"


"Ambar gak minta pak, sumpah! Sita yang nawari sendiri. Ambar cuma gak terima disebut miskin sama Alif" jelas Ambar dengan suara bergetar.


"Biar!! Biar dia bilang kita miskin. Biar dia bilang kita ini susah, emang itu faktanya, dia anak Polisi, ibuknya PNS, memang kita miskin dari dia!! Kamu malu punya orang tua kaya kami? Kamu kecewa dilahirkan dari keluarga miskin kaya gini? Bapak minta maaf kalo gitu. Bapak cuma bisa memberi kalian kehidupan seperti ini, bapak minta maaf ambar!!" Ini pertama kalinya tangis pak Bahrun pecah dihadapan anaknya.


Buk Khadijah yang berdiri didepan pintu pun ikut berlinang airmata melihat suaminya yang begitu terpukul mendengar pengakuan anaknya.


"Makanya bapak suruh kamu sekolah yang benar! Rajin mbar! Rajin!! belajar yang betul, berapa kali bapak bilang sama kamu kekayaan itu didapat dari dua hal, karna keturuan dan karna kerja keras! Kamu dilahirkan dari keturuan miskin, kalo kamu malas sampai mati pun kamu bakalan miskin dan jadi bahan olokan orang-orang!"


Ambar hanya diam, dia menyandarkan punggungnya ke kursi. Mulutnya terbuka sedikit untuk mengatur emosinya dan menahan tangisnya agar tidak ikut pecah seperti kedua orangtuanya. Pak Bahrun masuk kedalam kamarnya untuk merebahkan diri diatas kasur. Buk Khadijah menyusul suaminya cepat untuk menenangkan emosi pak Bahrun. Ambar tidak bergerak dari kursinya, kepalanya ikutan pusing. Ingin sekali mengatakan pada ayahnya tersebut jika dia tidak pernah malu terlahir dari keturunan Bahrun.


Pintu rumah Ambar diketuk dari luar. Ibunya Alif yang masih mengenakan pakaian dinasnya datang kerumah mereka. Wanita yang berprofesi sebagai kepala sekolah di SMA Peringi itu mengucapkan salam dari luar. Ambar berusaha mengumpulkan semua tenaganya dan menemui perempuan itu, dia sudah siap di maki-maki lagi kali ini oleh ibunya Alif.


"Ambar ada yang terluka?" tanya wanita itu dengan ramah saat melihat Ambar keluar menemuinya.


Ambar sampai terkejut dan kebingungan, ibunya Alif datang bukan untuk marah karna sudah menghajar anaknya sampai berdarah.


"Bapak mana? bisa ibu ketemu bapak?" tanya wanita itu lagi.


Buk Khadijah keluar menemui orang yang sedang berbicara dengan anaknya. Kedua wanita itu saling melemparkan senyuman satu sama lain.


"Sibuk ya buk? Maaf mengganggu ya" sapa ibunya Alif ramah.


"Masuk dulu buk, pak Bahrun lagi di kamar baringan, kepalanya pusing" ajak buk Khadijah dengan ramah dan segera pergi ke dapur untuk mengambilkan minum untuk tamunya. Ambar juga ikutan duduk diruang tamu bersama ibunya Alif.


"Tadi ibuk di telpon, Sita udah cerita semuanya sama ibuk, ibuk minta maaf kalo mulut Alif udah kasar sama Ambar ya nak. Ibuk tahu wajar Ambar marah bahkan sampai mukul kalo Alif sampai ngomong kasar gitu"


Buk khadijah ikut bergabung kembali dan duduk disamping anaknya. Pak Bahrun pun demikian, dari orang-orang tua itu Ambar mengambil pelajaran hidup jika orang yang dewasa itu menyelesaikan masalah jauh berbeda dengan cara yang dilakukannya tadi dan sifat seorang anak tidak sepenuhnya berasal dari orangtuanya.


Ambar hanya mendengarkan ketiga orang dewasa itu mengobrol. Bahkan pembicaraan mereka tidak lagi soal perkelahian Ambar dan Alif, tapi sudah melenceng kearah harga pangan yang makin lama makin naik, harap maklum soalnya ada dua ibuk-ibuk. Setelah lama berbincang-bincang ibuknya Alif pamit. Pak Bahrun menatap anaknya lekat, sepertinya sakit kepalanya juga sudah berangsur hilang.


"Setelah ini jangan sampai dendam sama Alif, Paham!" nasihat pak Bahrun tegas. Ambar hanya diam dan menatap meja yang ada didepannya "Lupakan aja semuanya, kita sesama warga Peringi hilir berusaha untuk hidup rukun dan damai. Jadi jangan rusak tradisi itu dengan keras kepalanya kamu, kalau dia masih ngolok atau ledekin, yaudah biarin aja. Let it go aja.... "


Ambar tertawa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan ayahnya. Sejak kapan petani itu bisa berbahasa inggris, pasti karna sering ngomong sama pak Handsome.


"Dinasihati malah ketawa kamu, minta bapak tempeleng!"


"Enggak pak, Yaa dari masalah ini ambar belajar pak" jawab Ambar pelan.


"Apa coba yang bisa kamu ambil pelajaran dari sifat bar-bar kamu tadi pagi?"


"Ambar harus jadi orang sukses pak, jangan sampe kaya bapak! agar nanti anak Ambar gak dikatain miskin juga sama orang!"


"Buk, pak Anton kemarin pinjam rotan kita udah dikembalikan dia?"


"Belum pak, mau ibuk jemput kerumahnya?"


"Iya tolong jemput buk, kalo mukul pake tangan, tangan bapak yang sakit, kulit dia ini tebal kayak kulit badak!"


"Ambar sekolah ya pak, mequm" pamit Ambar cepat dan mengambil tasnya.


"Heeeh sekolah apaan kamu udah mau jam 10 gini, alesan kamu aja kan?! Bapak belum mukul kamu pake rotan! Awas kamu kalo balik! Cari bapak orang kaya sana!" teriak pak Bahrun yang emosi sendiri melihat anaknya sudah kabur.


__ADS_1


__ADS_2