![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Sita benar-benar ingin menemui Ambar malam itu. Tapi jika malam minggu maka Ambar akan pulang kerumah jam 2 pagi nanti setelah selesai menonton bola atau mengumpul dengan teman-temannya dibalai desa. Sita tidak bisa tidur sama sekali, pikirannya ingin secepatnya pagi agar bisa menanyakan langsung dengan Ambar maksud status yang dibuat Thalib kemarin sore.
"Kamu mau kemana?" tanya buk Ita saat pulang dari sholat subuh di mushola.
"Kerumah Ambar!" jawab Sita singkat.
Buk Ita langsung menarik tangan anaknya, dilihatnya mata Sita bengkak seperti orang yang habis menangis semalaman.
"Kenapa? Kalian ribut? Subuh-subuh kerumah cowok! Pak Bahrun bakal mikir kamu gila nanti! Udah, jam delapan aja kesana pas bapak sama ibuknya berangkat kerja!" bentak buk Ita dan membawa anak gadisnya masuk kedalam rumah.
Sita terpaksa menuruti perintah ibunya. Gadis itu kembali masuk kedalam kamar, melanjutkan nangisnya yang bersambung sisa tadi malam.
Sedangkan Ambar sampai detik ini benar-benar tidak tahu jika sebentar lagi Sita akan menghujaninya dengan suara rengeknya yang berisik. Cowok itu masih tenang dan damai dengan dunianya. Selesai menjalankan kewajibannya Ambar tidur kembali, malahan hatinya tengah bahagia soalnya Juventus juara tepat dihari ulang tahunnya.
Jam 8 pagi Suci datang kerumah Hening, mereka akan pergi kerumah kak Dian setiap hari minggu. Dijam yang sama Sita tidak bisa lagi menunggu sampai Ambar yang lewat didepan rumahnya, dia harus datang kerumah cowok tersebut. Lagi pula pak Bahrun dan Istrinya memang sudah pergi ke sawah. Jadi saat ini dia bebas mengintrograsi anak laki-laki mereka. Jantung Sita berdetak lebih kencang saat melihat ada orang asing didalam rumah Ambar.
"Loh kak Sita, Kenapa kak? Mau ketemu bang Ambar?" sapa Hening yang sedang mempersiapkan diri untuk pergi bersama Suci.
Sita menganggukkan kepalanya, seandainya Suci tetap diam dan tidak mengenalkan diri mungkin Sita tidak akan pernah tahu jika teman Hening itulah orang yang sudah mematahkan hatinya.
"Masuk dulu kak, kakak teman sekelasnya bang Khaidir kan?" tanya Suci dengan sangat sopan.
Mendengar pertanyaan Suci darah Sita makin berdesir kencang di dalam tubuhnya.
"Kamu yang adiknya Khaidir itu?" tanya Sita sinis.
Suci langsung menganggukkan kepalanya.
"Iyaa kak. Kenalkan, Suci" ujar gadis manis itu dan menyodorkan tangannya.
Sita hanya diam dan terus menatap Suci tajam, sorot matanya menunjukkan bahwa dia ogah menerima jabat tangannya. Hatinya yang memang sudah panas semakin panas lagi mengetahui hal itu. Sepertinya tanggal 31 Mei memang hari yang selalu sial bagi Sita. Setelah dibangunkan adiknya Ambar keluar dari kamar. Dilihatnya Suci dan Sita sudah berdiri hadap-hadapan. Padahal arwahnya belum terkumpul semua. Hening mendekati kedua orang tersebut, dilihatnya tangan Suci belum juga diterima Sita meski temannya itu terus menyodorkannya untuk waktu yang cukup lama.
__ADS_1
"Oh hahahha" Suci berusaha tertawa untuk mengobati hatinya yang terluka karena penolakan jabatan tangannya oleh Sita. Dia kembali duduk meninggalkan Sita yang masih berdiri didepan pintu.
"Kak Sita gak apa-apa?" tanya Hening heran melihat airmata Sita tiba-tiba mengalir dipipinya.
"Bang!!" panggil Hening pada abangnya yang masih saja awet berdiri didepan pintu kamarnya. Sepertinya Ambar masih didalam dunia mimpinya.
"Kenapa?!" tanya Ambar ketus dan berjalan mendekatinya.
Sita makin menangis tersedu-sedu meski suaranya belum berisik. Ambar dan Hening tentu saja kebingungan dengan sikap Sita yang datang-datang menangis didepan pintu rumah mereka.
"Kenapa sih?!" tanya Ambar sekali lagi.
Sita belum bisa menjawab, mulutnya masih sulit mengatakan apa yang memenuhi kepalanya saat ini.
"Aneh! Datang-datang kamu nangis gak jelas kesini! Kalo gak ada yang mau kamu omongin pulang sana, aku masih ngantuk!" ujar Ambar kali ini mengusir Sita dari rumahnya.
Melihat perlakuan kasar abangnya Hening langsung mendekati Sita kembali.
"Udah gak usah kamu suruh masuk, mau bikin ribut aja dia kesini! Aku gak suka dengar suara orang nangis! ini masih pagi!" bentak Ambar keras dan berlalu masuk kedalam kamarnya.
Hening terpaku mendengar perkataan Ambar. Suci bahkan membelalakkan mata melihat Ambar memperlakukan pacarnya dengan begitu kejam.
"Sabar ya kak, dia itu cowok gila!" umpat Hening kesal.
Sita tahu Ambar tidak akan suka mendengar dia merengek seperti anak kecil, tapi mau bagaimana lagi mulutnya sulit bergerak apalagi saat ini Suci objek yang ingin dia bahas ada dirumah itu. Sita memutuskan kembali pulang. Melepaskan tangisnya yang lebih keras didalam kamarnya sendiri. Jadi tidak perlu takut dimarahi Ambar yang berhati batu.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Jam 1 siang Ambar baru bangun dari tidurnya, selesai makan siang dia pergi ke balai desa. Ambar masih tidak peduli dengan kekasihnya yang tiba-tiba menangis datang kerumahnya tadi pagi. Sesampainya dibalai desa, semua teman-temannya diam. Thalib si biang masalah tertunduk penuh ketakutan. Ismet yang akhirnya memberanikan diri membuka suara untuk menjelaskan kebodohan yang sudah dilakukan temannya Thalib kepada Ambar.
'Braaaak' Ambar meninju kuat meja yang ada didepannya. Dia melampiaskan kekesalannya dengan benda kayu tersebut. Semua hanya diam, apalagi Thalib! Dia semakin ketakutan sambil membayangkan tinju kuat Ambar tadi melayang dikepalanya.
__ADS_1
"A...aku.... aku minta maaf mbar" ujar Thalib terbata-bata.
"Agggh!! Brengsek kamu lib, pantesan Sita datang kerumah aku nangis-nangis tadi pagi! Kalo tau gitu aku gak bakal ngusir dia!" bentak Ambar keras.
Ismet merangkul pundak Ambar untuk menenangkannya.
"Sekarang aku bilang sama kalian yah! Aku itu pacarnya Sita, jadi buat siapapun cewek-cewek yang dekat atau suka sama aku, aku gak peduli! Ini buat kamu juga rul! Aku gak ada hubungan apa-apa sama Suci! Paham!"
Arul langsung menganggukkan kepalanya meski yang membuat masalah tersebut adalah Thalib, tapi semua ikut terkena imbasnya.
Ambar berlalu meninggalkan teman-temannya. Biasanya siang ini buk Ita sudah pergi ke seberang main kerumah adiknya jadi otomatis Sita sendirian dirumah. Ambar berniat menjelaskan kesalahpahaman yang dibuat oleh Thalib. Ambar melihat didepan pekarangan rumah buk Ita sudah terparkir motor Alif. Sepertinya cowok itu benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan saat ini. Dia langsung melangkahkan kakinya kedepan pintu rumah buk Ita yang terbuka sedikit, dilihatnya Alif sedang memeluk Sita. Gadis itu menangis didalam dekapannya.
Ambar duduk didepan teras rumah menunggu sampai tangis Sita reda. Lima menit kemudian hatinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, tangis Sita tidak akan berhenti dalam waktu yang singkat. Ambar memberanikan diri untuk masuk kedalam. Dia juga tidak tahan melihat kekasihnya dipeluk oleh Alif. Keduanya kaget dengan kedatangan Ambar yang tanpa permisi, tanpa basa-basi, langsung nyelonong dan duduk disamping Sita.
"Kamu butuh bahu buat nangis? Kenapa pake bahu cowok lain?!" tanya Ambar tegas.
"Heeh Lu sendiri berani bermain dibelakang Sita, terus sekarang tanpa rasa bersalahnya lu ngomong gitu ke dia!" jawab Alif untuk memprovokasi Ambar.
"Sekarang tinggalin Sita sendirian, biar gua yang temani dia!" perintah Alif yang balik mengusir Ambar kali ini.
"Aku cuma mau jelasin kesalah pahamannya" ujar Ambar berusaha sabar menghadapi teman akrab Sita tersebut.
"Status Thalib________"
"Udah!! Jangan berusaha membela diri deh, udah jelas lu bermain dibelakang Sita!" potong Alif cepat sebelum Ambar menjelaskannya pada Sita.
Ambar tersenyum simpul melihat usaha Alif yang begitu ingin membuat hubungannya dan Sita hancur. Tidak mau berdebat panjang Ambar akhirnya memutuskan pergi meninggalkan Sita berduaan dengan Alif. Saat itu hati Sita benar-benar patah, Ambar tidak berusaha membujuknya sama sekali. Padahal tadi Sita diusir dari rumahnya saat ada Suci juga disana dan sekarang dia juga kabur begitu saja?!
Ambar pergi ke sungai tempat biasa dia menenangkan diri. Saat ini menjauh dari semua orang bahkan Sita sekalipun adalah pilihan terbaik. Ambar tipe orang yang harus dalam kondisi tenang baru bisa berpikir jernih dalam menyelesaikan masalah. Saat ini hatinya masih sakit, dia juga cemburu melihat Alif memeluk kekasihnya jadi dari pada terus memaksakan diri menjelaskan kesalah pahamannya pada Sita, yang ada nanti emosinya jadi tidak terkendali.
__ADS_1