AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Ambar Itu Pintar hanya saja......


__ADS_3

 


💝AmbarSita💝


 


Pak Iyan masuk kedalam kelas, mereka akan kembali belajar Matematika. Pelajaran yang paling tidak disukai anak-anak dikelas Sita. Setelah menjelaskan tentang pembagian pak Iyan menulis 10 soal dan meminta muridnya satu persatu mengerjakan dipapan tulis.


Semua kompak menundukkan kepala, pura-pura mencari kesibukan masing-masing. Keculi Sita, saat diajak bicara dia selalu menundukkan kepala tapi saat pak Iyan memberi tugas malah dia mengangkat kepala. Seperti orang yang mantap dan yakin bisa mengerjakan soal tersebut.


Benar saja Sita disuruh pertama kali mengerjakan soal no 1. Hanya 2 menit Sita menyelesaikan soal dan kembali duduk dibangkunya. Seisi kelas menepuk tangan bangga, padahal bukan ajang perlombaan.


Pak Iyan kembali mencari mangsa, kali ini matanya tertuju pada anak yang paling dia ingat karena namanya paling sering disebut didalam kantor.


"Ambar yang no.2" ujar pak Iyan.


Ambar yang sedang mencoret-coret mejanya dengan pensil warna Sita langsung mengangkat kepala. Wajahnya terkejut bukan takut, tapi karena ini pertama kalinya dia diminta oleh guru dikelas mengerjakan soal kepapan tulis. Dengan mantap Ambar maju kedepan mengambil kapur dan menggambar kotak di sudut papan tulis.


"Ambar nulis jawaban ambar disini ya pak" katanya santai dan mulai mengerjakan soal no dua.


Beberapa menit kemudian Ambar selesai menjawab soal, tapi dia belum selesai menulis dipapan tulis. Jiwa seninya langsung aktif karena diijinkan memegang kapur. Ambar menggambar kupu-kupu, daun, bunga dipinggir-pinggiran kotaknya.


Pak Iyan menelan ludah jawaban anak itu benar, tapiiii kenapa dia malah asyik melukis dipapan tulis.


"Udah-Udah... Malah ngegambar kamu!" pak Iyan menghentikan kesenangan Ambar dan mengambil kapur ditangannya lagi.


"Jangan di hapus ya pak" pinta Ambar dan kembali duduk dibangkunya


"Jawaban Ambar bener pak?' tanya Imay ragu, apalagi melihat lukisan-lukisan yang menghiasi jawaban yang baru dibuat Ambar itu.


"Benerlah, bener gak pak? emang aku bodoh kaya Khaidir!!"


"Heeeh, gak boleh ngomongin temennya yang jelek-jelek" nasihat pak Iyan.


"Ambar ngomong jujur kok, kalo yang jelek mah si Ana sama Iput"


Semua kompak tertawa, pak Iyan merapatkan gigi, mengotrol emosi, jiwa dan raga demi tangannya tidak melayang kekulit Ambar. Cukup pak Bahrun saja yang memukulnya dengan rotan, guru-guru disekolah jangan.


 



 



 


Sepulang sekolah Ambar, Abdul, Ismet, biasanya mereka sesekali pergi kedesa seberang, mencari buah\-buahan milik warga yang bisa mereka makan. Hari ini Ismet mengajak kembali mencari buah, karena sedang musim mangga dan duku. Ambar mengintai pohon mangga yang berbuah dengan lebat didepan kebun warga yang tidak tahu milik siapa.



"Mana orangnya ya?" Abdul berusaha mencari sipemilik pohon.



"Oh ini mah aku kenal orangnya"



"Serius kamu?" Tanya Abdul dan Ismet kompak dengan pengakuan Ambar.



"Iyaa! Sodara pak Bahrun, baik kok, kita ambil aja!"



Ketiganya naik keatas pohon dan mulai mengambil buah\-buah mangga yang masak.



Tiba\-tiba seorang pria paruh baya lewat dengan sepeda. Terkejut melihat anak\-anak yang bukan dari desa mereka sedang asyik panen mangga.



"Heeh, Ngapain kalian ambil mangga itu, itu kan mau dijual sama buk Aji!!" hardiknya dengan ketiga bocah tersebut.



"Udah minta izin kok pak sama orang yang punya" ujar Ismet berbohong.



"Iya pak, ini keponakan dia juga ikutan ambil" Abdul ikut mengeluarkan suara dan menunjuk kearah Ambar yang mengaku\-ngaku kenal tadi.



Ambar diam, melemparkan dua mangga yang sudah disimpannya kedalam saku celana kemudian turun. Ambar tetap tenang memasukkan mangga kedalam tas dan kabur secepat mungkin meninggalkan kedua temannya yang masih diatas pohon.


__ADS_1


Abdul dan Ismet terdiam, pria paruh baya juga masih menunggu dibawah. Keduanya diantar ke kantor desa Peringi hilir oleh pria paruh baya tadi dengan si empu pemilik pohon yang mereka curi.



Pak Awan geleng\-geleng kepala, anak\-anak didesanya ketahuan maling buah warga desa seberang lagi dan pelakunya masih yang sama!



"Baiklah kalo gitu pak\-buk, sebagai kepala desa Peringi hilir saya mohon maaf atas kenakalan anak\-anak ini, nanti saya akan laporkan dengan orangtua mereka"



Keduanya setuju, tidak perlu hukum undang\-undang atau hukum adat jika masalah pencurian hasil tanaman bagi warga desa Peringi. Mereka sangat menganut pemahaman bahwa proses tumbuh dan berbuahnya pohon adalah 90% karna Tuhan, 10% baru hasil perawatan dari sang pemilik. Karena itu jika tumbuhan berbuah maka mereka akan saling berbagi, agar Tuhan tetap memberkati hasil panen mereka setiap hari.



"Mana preman kecil yang satu lagi?" Tanya pak Awan mulai mengintrograsi.



"Kabur" jawab Ismet pelan tapi wajahnya menampakkan kekesalan.



"Ditinggal kalian?"



"Iya, dia turun duluan trus lari, katanya yang punya saudara bapaknya!"



Pak Pandi dan pak Anto datang ke kantor desa menjemput anak\-anak mereka. Kedua ayah itu memang tersenyum mendengarkan cerita kepala desa. Tapi dapat dipastikan saat sampai dirumah ranting kayu, rotan, sarung, tali pinggang, apapun yang bisa dipakai untuk memukul pasti akan digunakan oleh ayah\-ayah mereka untuk memberi pelajaran.



Ambar selamat? Tidak! Setelah pak Anto dan pak Pandi membawa anak mereka pulang. Pak Awan menemui pak Bahrun yang sedang membajak sawah. Mengadukan soal kenakalan yang baru saja dibuat anaknya.



Dan saat ini sibocah nakal malah asyik duduk dikebun milik nek Lasa sambil menikmati buah mangga hasil kerja kerasnya tadi.



"Baju sekolah belum diganti. Makan mangga, kena getah, dimarah buk Khadijah deh" ujar nek Lasa sambil mencabuti rumput di dekat pohon\-pohon tomatnya.




"Nek cucu nenek duduk sama ambar loh dikelas" ujarnya sambil mengubur biji mangga yang sudah mulus karena mulutnya kedalam tanah.



"Iya ya? Ambar sering nakalin cucu nenek?"



"Enggak, Ambar baik, kan nenek tau"



"Iya, berteman yang baik ya, trus siapa yang mewarnai kuku Sita? Ambar juga?"



"Bukan! Ambar gak tau nek, siapa tu yang coret? Nanti Ambar marahin deh nek kalau tahu"



"Jangan dimarahin, Sita suka kok sama jarinya, tadi pagi aja nenek yang mandiin karena dia gak mau warna kukunya hilang" ujar nek Lasa sambil tertawa geli.



Ambar terdiam mendengar perkataan nek Lasa. Padahal tadi disekolah dia malah mengatakan Sita enggak mandi dan enggak cebok karena warna kutek buatannya tetap awet dijari\-jari kecilnya Sita.



 


~~~\*\*♡♡♡\*\*~~~


 



Keesokannya, Ismet dan Arul kembali menunggu Ambar ditempat biasa. Abdul, Khaidir dan Thalib juga ikutan lewat. Abdul masih cemberut karena tanggannya sakit dipukul\-pukul pak Anto dengan ranting. Dia kemudian menunjukkan tangannya yang memar pada Ismet.



"Aku juga dipukul pake ikat pinggang, kamu di pukul pake apa?"

__ADS_1



"Ranting, makanya gini, kamu mah gak ada jejak, aku nih pake jejak"



"Kalian berdua sih, udah jelas mencuri itu dosa, selain dimarah, dipukul, kata ayah aku tuhan juga gak suka sama orang yang suka mencuri. Banyak sialnya kan, jadi gak usah nyuri deh!!" nasihat Thalib dengan kedua temannya.



"Kalian nyuri mangga? Kok gak ajak\-ajak aku" tanya Arul dengan kecewa.



"Ini orang \*\*\*\* atau gimana sih?" Abdul melampiaskan kekesalannya pada Arul.



"Iya padahal baru aja dikasi tahu sama Thalib malah minta diajak kalo nyuri" Khaidir ikut memojokkan adik kelas mereka itu.



"Ambar lama, udah jam 7.50 nih" Ismet mulai risau karena Ambar tidak kunjung datang.



Dan akhirnya saat Sita lewat, Ambar pun ikutan lewat bersamaan dengannya. mereka berjalan beriringan mendekati kelima bocah laki\-laki itu.



"Kamu enak bisa selamat!" sergap Abdul cepat saat Ambar mendekati mereka.



"Enak apaan!! Ngomong aja kamu!!" umpat Ambar kesal dan memukul kepala Abdul.



"Nih liat punggung aku dipukul pak Bahrun pake rotan, kalo masih nyuri katanya aku bakal dikutuk buk Khadijah!"



Pak Sayuti juga ikutan lewat, pria itu akan pergi ke kota lagi. pak Sayuti sempat\-sempatnya untuk menggoda bocah\-bocah SD tersebut.



"Heeeeh, Hahaha pagi\-pagi udah ngomongin kutukan, siapa yang mau dikutuk...Hahahaha" sapa pak Sayuti Malik.



"Bapak yang mau dikutuk!! Pagi\-pagi udah ketawa!!" bentak Ambar dengannya.



"Hahahaha bapak mah udah lama dikutuk sama Tuhan!"



"Trus kenapa sampe sekarang gak jadi batu?" tanya Khaidir dengan polosnya.



"Bapak gak dikutuk jadi batu, tapi jadi Handsome!!"



Hanya Sita yang bibirnya langsung mengembang karena mendengar perkataan pak Sayuti. Yang lainnya justru tidak paham dengan kosa kata yang baru mereka dengar.



"Naa..naah.. adik cantik ini aja tahu Hahahaah iya kan Haahaha"



Semuanya langsung berlalu begitu saja meninggalkan pria paruh baya tersebut dengan ketawanya yang berisik.



"Heeh kok kabur Haahaha. Besok\-besok panggil bapak pak Handsome aja ya hahaha" teriak pak Sayuti. 



 


~AmbarSita~


 



![](contribute/fiction/64817/markdown/13ae2843/1570584793532.jpg)

__ADS_1


__ADS_2