AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Kecemburuan


__ADS_3

AmbarSita


*****


Setelah diantar pulang dengan Alif, Sita tetap berdiri dipinggir jalan rumahnya. Hatinya masih tidak karuan sejak dari tadi pagi hingga sekarang, dia berniat menunggu Ambar. Setelah menunggu cukup lama Ambar akhirnya lewat untuk pulang kerumahnya juga, cowok itu langsung tersenyum kearah Sita.


"Ambaaar!" panggil Sita dengan nada yang sedikit tinggi.


Ambar yang tidak berniat berlama-lama menampakkan wajahnya dengan Sita langsung berhenti. Dia menoleh kearah Sita lagi sambil menunjukkan senyum terpaksanya.


"Kamu mau kemana?" tanya Sita dengan tatapan sinis.


"Pulang, mau kemana lagi coba" jawab Ambar santai. Karna Ambar tidak kunjung mendekatinya akhirnya Sita yang datang menghampiri.


Wajah gadis itu merah padam, matanya berkaca-kaca. Ambar sampai kebingungan karna tidak merasa mengusili Sita lagi seperti waktu mereka SD dulu tapi kenapa dia seperti orang yang ingin menangis.


"Kamu udah dekat dengan Andin dan Putri?! Kamu pilih siapa diantara kedua orang itu! kamu suka dengan salah satu diantara mereka?!" tanya Sita sambil menghapus airmatanya yang sudah mengalir begitu saja.


"Haaa?" Ambar kebingungan dengan perkataan Sita yang blak-blak kan.


"Kamu senang didekatin dua cewek itu!" kali ini Sita bertanya dengan nada sedikit membentak dihadapan Ambar.


"Ngomong apaan sih, gila!!" bentak Ambar balik dan pergi meninggalkannya.


Tangis Sita seketika pecah seperti waktu mereka masih SD. Buk Ita yang ada didalam rumah sampai keluar mendengar suara tangis seseorang didepan pekarangan rumahnya.


"Sita? Kamu kenapa?" tanya buk Ita panik melihat anaknya pulang sekolah langsung menangis histeris.


Sita hanya diam dan masuk kedalam rumah. Ambar yang sebenarnya bersembunyi dibalik tembok menghembuskan nafas lega setelah tidak mendengar suara tangis berisik Sita lagi. Dia juga masih kebingungan kenapa tiba-tiba Sita memarahinya begitu saja.


*****


"Jadi kamu cemburu Ambar didekati sama teman-teman kamu itu?" tanya buk Ita setelah mendengar curhatan hati Sita.


"Iyaaa buk, Sita sakit ati tau gak. Mereka sok Akrab gitu" rengek Sita yang masih menangis.


"Aduh nak, Ambar bukan pacar kamu kenapa malah cemburu. Lagian mereka kan belum pacaran juga, masih kenalan, jadi....."


"Tapi kalo Ambar terus meladeni dua orang itu bisa aja mereka jadi pacaran buk!!" potong Sita cepat mengutarakan apa yang ada di pikirannya.


"Hahaha ya bagus, doakan aja yang terbaik untuk mereka"

__ADS_1


"Ibuk!!! Sita itu tiap hari doanya malah Sita yang sama Ambar!!" kata Sita lagi yang lebih jujur tentang perasaannya selama ini.


"Ouuuhhh... Kamu naksir Ambar juga? Yaudah kasi tahu dong. Dua teman kamu yang gak kenal sama Ambar sebelumnya aja berani ngedekatin dia. Masa kamu enggak, padahal kalian udah temanan dari SD loh"


"Sita gak berani buk. Sita maunya Ambar dekat sama Sita aja, gak boleh ada cewek lain" rengeknya lebih histeris lagi. Buk Ita yang tadinya membelai rambut Sita dengan lembut berubah jadi kasar dan memukul keras kepala putrinya.


"Aneh kamu ini, lagian kenapa kamu maksa gitu sedangkan kamu aja gak berani ngedekatin dia, sombong juga! Bukannya suka yang ada dia makin ilfill sama kamu!"


"Ibuuuuk" Sita makin merengek karna ibunya malah memarahinya.


  ~♡AmbarSita♡~


Keesokannya ambar berusaha untuk tidak berpapasan dengan Sita lagi. Kebiasaaanya berangkat kesekolah pukul 7.45 pun berulang kembali. Ternyata senangnya pak Bahrun hanya sesaat saja diberikan Ambar. Lagipula Sita juga tidak bisa menunggu Ambar berangkat kesekolah karna setiap hari Alif menjemputnya dengan motor. Walau begitu Sita masih berusaha untuk bisa melihat Ambar dengan cara menunggunya di pinggir jalan setelah mereka pulang sekolah. Tapi sayangnya Ambar menghindari gadis tersebut dengan tidak langsung pulang kerumahnya.


Hubungan Ambar dengan Andin juga semakin dekat. Mereka jadi sering duduk dikantin bersama teman-teman Ambar yang lainnya. Sifat Andin dan Sita benar-benar berbanding terbalik, jika Sita tidak mau mengakrabkan diri dengan teman-temannya Ambar. Tapi Andin justru begitu asyik diajak mengobrol oleh anak-anak cowok itu.


Sedangkan Putri yang dulunya ikutan naksir dengan Ambar terpaksa mengalah. Karna cowok ganteng itu terlihat lebih tertarik dengan Andin ketimbang dirinya. Dia pun berusaha mengobati hatinya yang patah dengan cara mendekati Ismet, teman akrabnya Ambar.


Sita cemberut duduk dibangkunya, telinganya fokus mendengarkan percakapan Andin dan Putri yang akan menemani Ambar cs bermain futsal sepulang sekolah nanti. Alif menggenggam erat tangan Sita, dia merasa dicueki oleh gadis cantik disampingnya itu karna dari tadi dia mengajak Sita ngobrol tapi tidak digubris sama sekali olehnya.


"Aku juga mau ke Mandau" ucap Sita lirih.


"Ke Mandau? Ngapain? Mau aku temanin?"


"Yaudah ntar pulang sekolah kita ke Mandau ya, aku temani kamu"


Sita mantap menganggukkan kepalanya, meskipun hatinya begitu sedih tidak karuan tapi Sita berusaha memberikan senyum termanisnya untuk Alif. Saat pulang sekolah, setelah mengganti pakaiannya Alif kembali menjemput Sita untuk menemaninya pergi ke Mandau. Sesampainya dipusat perbelanjaan kota tersebut. Sita malah kebingungan sendiri, karna tujuan sebenarnya adalah lapangan futsal, tapi dia tidak tahu Ambar dan teman-temannya itu bermain di tempat yang mana. Alif juga ikut kebingungan melihat Sita yang hanya berputar-putar disekitaran toko-toko yang menjajakan telpon seluler.


"Kamu mau beli handphone kan?" tanya Alif untuk mengingatkan Sita.


"Oh Iya" jawab Sita cepat dan terpaksa masuk kesalah satu toko.


Sita meminta Alif yang memilihkan handphone sesuai dengan budget yang diberikan buk Ita dengannya tadi.


"Yang ini gimana? Cameranya bagus,....bla..bla.." Alif menjelaskan secara detail spesifikasi handphone pabrikan Amerika yang sedang dipegangnya. Sita hanya manggut-manggut saja, tidak peduli dengan semua itu karna otaknya saat ini memikirkan dimana lapangan futsal tempat Ambar bemain.


Setelah membeli handphone Alif melihat kearah jam tangannya "Masih jam 3 mau makan dulu?" ajak Alif dengan Sita.


"Makan apa? Kamu mau makan? Kamu aja ya biar aku temani" jawab Sita dan mengikuti langkah Alif masuk kesalah satu restoran cepat saji yang menu utamanya ayam tersebut.


Alif terus menatap Sita yang dari tadi kebingungan. Padahal handphonenya sudah dibeli, tapi dia tetap saja gelisah. Alif jadi hilang nafsu makan melihat gadis yang dicintainya itu diam.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Sita yang melihat Alif tidak menyentuh makanannya sama sekali.


"Kamu ada masalah?" tanya Alif balik. Sita hanya menggelengkan kepalanya ragu.


"Boong, ada yang kamu pikirin. Aku bisa liat itu dari mata kamu, kalo ada masalah tolong cerita sama aku" bujuk Alif dengan lembut.


"Gak ada Alif, yaudah cepatan makan tuh ayam kamu, ntar idup lagi loh" kata Sita berusaha meyakinkan Alif dengan candaannya.


"Kalo kamu gak makan aku juga males"


"Yaudah kamu suapin aku ya, Biar kita romantis" kata Sita dengan manja. Alif langsung tersenyum dan mulai makan dan menyuapi Sita dengan semangat.


Setelah itu keduanya berkeliling-keliling tidak jelas dipusat perbelanjaan yang masih satu-satunya di kota Mandau waktu itu. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Harapan Sita benar-benar pupus, dia ingin segera pulang. Hari ini hanya Alif yang begitu bahagia bisa menghabiskan banyak waktu dengan Sita.


Diperjalanan menuju kedermaga, awan memang sudah memberikan kode pada penduduk di bumi jika hujan akan turun dan benar saja saat mendekati dermaga hujan deras langsung mengguyur kota tersebut. Alif dengan cepat menghentikan motornya didepan sebuah halte yang ada didekat dermaga. Wajahnya alif berubah dongkol melihat didalam halte tersebut ternyata juga ada Ambar dan Andin. Sita pun demikian mulutnya langsung terlihat cemberut, Andin yang tersenyum menyapanya tidak dibalas sama sekali.


Ambar juga ikutan memberikan senyuman dengan gadis cantik yang kini berdiri tepat dihadapannya itu. Tapi sama saja Sita tidak mau membalas. Hatinya begitu cemburu karna melihat Ambar dan Andin berdiri dengan mesra. Ambar melepaskan genggaman tangan Andin dengan berpura-pura meronggoh sesuatu dikantong celananya. Entah kenapa dia jadi takut sendiri menggenggam tangan Andin dihadapan Sita. Alif kemudian membuka jaketnya dan memakaikannya pada Sita, gadis itu terpaksa memberikan senyum simpul kepada Alif setelah itu kembali cemberut lagi.


"Kalian dari mana?" tanya Andin berusaha meruntuhkan suasana canggung dengan dua teman kelasnya tersebut.


"Dari mall, kamu sendiri?" jawab Alif santai dan kembali bertanya dengan Andin.


"Oh kami dari ceria futsal, temanin Ambar main"


"Tadi kami sama yang lain juga, tapi mereka mau keliling-keliling dulu jadi kami tinggal berdua aja deh pulangnya" jelas Ambar entah untuk siapa, untuk Alif tidak mungkin, soalnya mereka musuhan.


Alif hanya diam dan mengalihkan pandangannya keluar halte memperhatikan air hujan yang turun. Rasanya Ambar begitu tidak nyaman berdiri hadap-hadapan dengan Alif dan Sita, mau berdiri sejajar juga tidak bisa soalnya ruangan dalam halte begitu sempit. Jadi mau tidak mau mereka harus saling memperlihatkan wajah masing-masing.


Sita terus menatap Ambar yang sedari tadi ikut memperhatikan turunya air hujan. Ambar diam-diam melirik kearah orang yang ada didepannya. Jantungnya serasa mau copot saat matanya dan mata Sita saling bertemu. Dia sudah yakin dari tadi memang salah satu diantara orang yang berdiri dihadapannya itu tidak berhenti memandanginya.


Ambar jadi kikuk sendiri, meski Sita sudah ketahuan memandangi wajah Ambar tapi gadis cantik itu tetap tidak mengalihkan matanya sama sekali. Dia semakin mantap menatap mata Ambar tajam, mulutnya makin maju. Kemudian air matanya keluar dengan seketika. Ambar menarik nafas panjang, berharap Alif bisa menenangkan Sita yang sudah menangis entah karna hal apa.


"Sita kenapa?" tanya Andin kaget melihat Sita menghapus air matanya.


"Kenapa?" Alif akhirnya menoleh dan ikutan bertanya dengan raut wajah khawatir.


"Akuuuu pengeeeen pulaaaaang" rengek Sita dan menggenggam tangan Alif kuat.


"Sabar ya, masih hujan ntar aku yang bilang ke ibu kenapa kita bisa terlambat pulangnya" bujuk Alif dan merangkul pundak Sita.


Ambar menyapu wajahnya dengan kedua tangan. Sekarang hatinya benar-benar sakit, entah kenapa Ambar ingin dia lah yang berdiri disamping Sita saat ini, memenangkan gadis cengeng itu dan mengantarkannya pulang.

__ADS_1


Ambar tersenyum dengan sendirinya untuk menghibur hatinya yang hancur dan kembali menatap Sita yang sudah memalingkan wajah dari hadapannya.



__ADS_2