AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Jam 7.45 !


__ADS_3

Sita terus mondar mandir didepan jalan yang ada dipinggiran sungai. Dilihatnya jam tangannya menunjukkan pukul 7.30 dan sekolahnya sudah masuk jam segitu tapi Sita belum juga berangkat. Dia sudah begitu kesal dan was-was. Takut jika orang yang ditunggu tidak kesekolah lagi hari ini. Jam 7.45 Sita menghembuskan nafas lega, orang yang dinantinya akhirnya muncul.


"Kenapa kamu terlambat terus sih kesekolahnya?" tanya Sita dengan kesal.


"Loh kan Aku berangkat dari dulu sampe sekarang jam segitu-segitu juga 7.45"


"Tapi kan sekarang kamu udah kelas 3 loh, masuknya tepat waktu sedikit kenapa!!"


"Ya kan masuknya 7.45! Aku berangkat jam segitu dong, gak ada yang salah tuh" jawab Ambar dengan santai.


"Trus perjalanan kesana kan butuh waktu juga, bisa sampe 15 menit kalo jalan kaki"


"Ngapain jalan, kan aku terbang"


"Emang kamu Supermen!"


"Bukan!! Aku Ultrament!" Ambar masih tidak mau mengalah, membuat gadis cantik dihadapannya semakin dongkol.


Sita diam, dia tengah berpikir bagaimana cara membuat Ambar berhenti melawan perkataannya dengan semua dalil-dalil sesatnya itu.


"Kenapaaa?" tanya Ambar tersenyum menggoda.


"Ya aku tu kesal tahu gak, kamu gak mau berubah sedikitpun!"


"Jadi aku harusnya berangkat jam berapa?"


Sita langsung memandangi Ambar mendengar pertanyaan cowok itu. Apa ambar mau mendengarkannya kali ini? Heeeee kenapa jadi begitu mudah memberinya nasihat dan saran sekarang.


"Jam 7.30, Jam 7.35 juga bisaaa. Nyampe disekolah kan langsung masuk, jadi kamu gak perlu nunggu lama didalam kelas"


"Aaah males, gak ada 45 nya" sanggah Ambar kali ini.


"Loh emang kenapa harus ada 45 nya?"


"Kan Indonesia merdeka! Karena itu aku tiap kesekolah sekalian mengingat jasa pahlawan kita yang udah gugur. Kurang nasionalis apa lagi coba!"


"Aggggrrrhhhh kalo gitu jam 6.45 kamu berangkat sekolah! Kan juga ada 45 nya tuh" ujar Sita yang benar-benar sudah dongkol.


"Aaah males, kecepatan. Ntar aku dikira penjaga sekolah lagi karena pagi-pagi udah datang"


Sita diam tidak akan bisa melawan mulut bijak Ambar. Dari dulu sampai sekarang, bahkan mungkin sampai mereka tua. Ambar juga ikutan diam, dia asyik melihat aliran sungai yang ada didepan mereka.


"Kenapa diam?!" bentak Sita sekalian melampiaskan kekesalannya.


"Ya kalo ribut dikira aku ini pak Handsome dong"


Sita mencubit lengan Ambar, rasanya air matanya mau mengalir karena gagal menasehati orang yang begitu dicintainya. Sita mengangkat kepala, mencoba mencegah air matanya turun. Ambar kembali menoleh memperhatikan mata Sita yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa nangis? Gak mau kalo aku yang gantiin karakter pak Handsome?" tanya Ambar yang masih juga dengan becandaannya.

__ADS_1


Sita benar-benar tidak bisa menahannya lagi, dia langsung mewek. Kesal, emosi, khawatir, semua campur aduk. Air matanya jatuh juga, sambil terisak-isak dia menutupi wajahnya sendiri. Takut Ambar malah balik marah jika dia menangis pagi-pagi.



"Naaah kan, sifat bocah nya balik lagi. Kenapa sih kamu? Lagian heboh banget sama jam aku berangkat kesekolah. Padahal dulu kamu juga tahu aku selalu berangkat jam segitu. Trus guru-guru disekolah santai aja tuh, aku tetap diizinkan masuk"


"Iyaaa!!!! Kamu di izinkan masuk, karena nyuruh kamu sekolah aja udah syukur gimana mau ngusir coba!" jawab Sita dongkol sambil menangis mengeluarkan air mata yang lebih banyak. Ambar menggaruk kebelakang lehernya, bingung jika sudah menghadapi Sita yang sedang menangis.


"Jadi telat aku kesekolahnya karena berdebat sama kamu!!" bentak Sita sambil terus menangis.


"Yaaa aku kan gak nyuruh kamu nungguin aku, kamu aja yang nungguin sendiri!!"


"Aku nungguin karena ini" jawab Sita sambil menangis kemudian menyodorkan tas bekalnya pada Ambar.


"Haaah aku gak minta ditungguin, gak minta dimasakin juga. Eeh sekarang malah nyalah-nyalahin, bilang aja kamu mau bolos sekolah kan! Ntar si Alif ngadu lagi kapok kamu, bisa-bisa dipaksa buk Ita nikah sama pak Handsome loh"


"Haaaaaaaaaaa" Sita justru menangis semakin kencang mendengar ledekan Ambar tersebut.


"Udah ah, pagi-pagi disuruh menghadapi bayi!" bentak Ambar kesal.


"Ya habis kamu gak menghargai banget sih. Aku tu nunggu karna mau ngasi bekal sama kamu! Padahal aku masaknya pagi-pagi buta, bahkan aku rela-relaan keluar malam untuk ke warung bu Eli buat beli bahan-bahannya tahu gak!"


"Ya maap! Aku kan gak tahu" jawab Ambar sambil mengambil tas bekal yang sudah disodorkannya tadi.


"Yaudah, Ayo berangkat" ajak Sita sambil mengandeng tangannya.


"Aku anter kamu nya" ujar gadis itu kembali merengek.


"Heh kamu itu udah telat kan? Sekolah kamu masuk jam 7.30! Ini udah jam 8. Telat setengah jam malah nganterin aku dulu"


"Ya gak apa-apa, ntar aku kasi alasan ke guru kenapa bisa telat. Yang jelas kamu dulu, ntar kalo gak diantar kamu malah belok ke balai desa"


"Enggak! Aku sekolah, udah kamu sana!"


"Gak mau! Aku anter"


Ambar menghembuskan nafas emosinya yang sedari ditahan karena sikap Sita yang keras kepala ingin tetap mengantarkannya ke sekolah.


"Haaah yaudah kak, Serah kakak dah! Anggap aja kakak lagi antar adeknya sekolah!" jawab Ambar pasrah dan berjalan duluan meninggalkan gadis itu.


Sita mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan Ambar. Digandengnya tangan Ambar dengan erat meskipun cowok itu tengah marah sekalipun. Dia tidak peduli, yang jelas hatinya senang berada didekat Ambar lagi.


"Makasih ya" kata Ambar pelan setelah sampai digerbang sekolahnya.


"Belajar yang rajin, jangan bolos, jangan tidur juga"


"Iya buk Khadijah!" jawab Ambar ketus.


Ambar sengaja memperlambat langkahnya berharap Sita pergi kesekolahnya juga. Tapi tidak, saat Ambar menoleh kebelakang Sita masih setia berdiri ditempat tadi. Niat bolos Ambar hari ini gagal total, padahal Arul dan Ismet sudah menunggunya di balai desa bersama Abdul. Tapi mau bagaimana lagi, ada singa betina yang mengawasi.

__ADS_1


~~~**♡AmbarSita♡**~~~


Alif terus memandangi wajah gadis cantik yang duduk disampingnya. Kemarin Sita bolos lalu hari ini dia telat datang. Matanya juga sembab seperti orang yang habis menangis. Alif berpikir mungkin karena aduannya dengan buk Ita kemarin. Dia jadi menyesal sendiri sudah melaporkan gadis yang dicintainya itu bolos, pastinya Sita dimarahi ibunya.


"Tadi kenapa telat?" tanya Alif dengan lembut.


"Aku nolongin ibuk dulu" jawab Sita berbohong.


"Ouh, kemarin kamu kemana?"


"Pergi liat festival" jawab Sita singkat "kita ada tugas?" tanya gadis itu balik untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


"Ada, kemarin aku izinin ke guru bilangin kalo kamu ada urusan keluarga. PR kamu juga udah aku kerjain"


"Makasih ya lif" kata Sita tersenyum sumringah


"Kamu pergi sama Ambar?" tanya Alif lagi, tatapannya begitu tajam memandangi Sita.


"Enggak, emang kenapa?"


"Kemarin aku dengar dari si Thalib kalo sibrengsek itu bolos sekolah juga. Malamnya aku samperin dia kerumahnya"


"Enggak! trus kalian gak ribut kan?"


"Kamu udah makan? Mau aku belikan sesuatu kekantin?" kali ini Alif yang mengalihkan pertanyaan Sita.


"Boleh deh, air mineral aja" jawab Sita sambil menyodorkan uangnya ketangan Alif.


"Udah simpen aja, biar aku yang beli"


Melihat Alif sudah pergi, Khaidir dan Thalib langsung mendekati Sita.


"Kemarin malam Alif baku hantam lagi ya sama si Ambar? Masa dia nuduh Ambar yang ngajakin Sita bolos karena kalian sama-sama gak sekolah kemarin" ujar Khaidir memprovokasi.


Sita langsung menggelengkan kepalanya.


"Iyaa, Ambar cerita kok sama kami dibalai desa kemarin malam. Hidungnya berdarah karna ditonjor Alif. Ya gimana meskipun Ambar kuat tapi dia takut ngebalas semenjak di hajar sama pak Bahrun" ujar Khaidir lagi dengan semua tipu muslihatnya.


"Bahkan bibir Ambar berdarah ya dir. Kasiaan! Kami mau bela ya gimana , lebih galakan Alif dari pada kami" sambung Thalib.


Sita langsung tahu jika keduanya tengah menjadi iblis penggoda untuknya. Padahal tadi pagi dia bertemu Ambar dan wajah cowok itu baik-baik saja. Tetap ganteng tanpa noda dan memar. Alif kemudian kembali kekelas lalu menyerahkan botol minuman untuk Sita.


"Makasih ya" kata Sita dengan senyum termanisnya.


Khaidir dan Thalib merasa kecewe. Sita dengan mereka irit bicara tapi dengan Alif, suaranya bisa keluar, sifatnya juga sedikit berubah. Semua teman-teman dikelas pun berpikir Alif dan Sita itu pasangan romantis karena selalu awet duduk didalam kelas, itu yang dipikiran mereka. Karena selama ini kan teman-temannya tidak ada yang tahu bagaimana perubahan sikap Sita yang lebih parah lagi jika bersama Ambar. Bahkan rasanya Ambar memomong bayi jika berduaan dengannya.


 


__ADS_1


__ADS_2