![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Saat pulang sekolah, Sita langsung memberi tahu Alif untuk tidak perlu menjemputnya besok karna ada hal yang harus dia lakukan sebelum berangkat kesekolah. Alif hanya mengangguk meski hatinya kecewa. Setelah temannya itu pergi Sita langsung masuk kedalam rumah. Karna menunggu Ambar juga percuma. Cowok itu sudah tidak pernah langsung pulang kerumahnya semenjak Sita memarahinya tanpa sebab soal Andin dan Putri.
"Buuuk.... " panggil Sita dengan ibuknya yang hendak bersiap-siap ke seberang.
"Haa kenapa? Ibuk mau keseberang, mau ikut?" teriak buk Ita dari dalam kamar.
"Enggak, ibuk juga jangan pergi deh"
"Loh kenapa?"
"Ajarin sita masak buk" pinta Sita cepat dan masuk menemui ibunya.
Buk Ita terkejut bukan main, meskipun Sita sudah kelas 3 SMP saat ini. Tapi anak satu-satunya itu begitu manja dan tidak pernah mau repot menolongnya didapur selama ini. Diminta bantuan pun Sita geraknya lama saking malasnya untuk menginjakkan kaki kedapur dan sekarang justru dia yang meminta diajarkan memasak?
"Heee? Kenapa? Tumben kamu akhirnya sadar diri kodrat kamu sebagai wanita dan akan jadi ibu rumah tangga nantinya" ujar buk Ita bahagia.
"Iya buk, Sita mau jadi istri yang baik nantinya, jadi ajarin Sita masak ya. Sekarang ya buk, Ambar suka masakan ayam balado buk, nasi goreng juga, tadi Andin masakin dia. Sita gak mau kalah buk, Sita juga mau masakin Ambar" ujar Sita panjang lebar dan terdengar begitu jujur.
Buk Ita menepuk jidatnya sendiri, antara besyukur dan merasa dibodohi dengan anaknya "Haah... Lelaki pinter berarti si Ambar kalo pengen punya istri yang bisa masak, bagus deh, yaudah sekarang masaknya?" ujar buk Ita datar dan kembali mengganti pakaian menjadi daster ciri khas emak-emak yang sibuk di dapur.
Sita langsung mengganti pakaiannya dan ikut menyusul ibunya kedapur. Sebenarnya Sita lebih seperti seorang juri dari pada membantu ibunya. Dia hanya bertanya, mengamati dan memberi komentar. Dalam waktu setengah jam buk Ita siap memasakkan ayam balado yang diminta Sita.
"Nah panggil deh si Ambar udah siap nih makanan buat dia" kata buk Ita dan meletakkan piring masakannya keatas meja.
"Besok Ambar makannnya buk"
'plaaak!'
Tangan buk Ita mendarat mulus dikepala putrinya "Terus kenapa kamu suruh ibuk masak sekarang!" hardik buk Ita kesal.
"Ya kan Sita mau belajar"
"Kamu bilang mau belajar, nyatanya ibuk suruh buka bawang aja kamu gak mau! Belajar apaan itu! Tau gitu ibuk ke seberang!" buk Ita nyinyir dan berlalu meninggalkan putrinya yang masih terkesima dengan ayam balado 99% buatan buk Ita dan 1% nya dari hasil pengamatan Sita.
"Buk ini ayamnya sampe besok masih bisa gak?" teriak Sita dari dapur.
"Masih! 3 hari pun masih bisa, yang ke empatnya baru ada belatung nah kamu makan tuh belatungnya!" jawab buk Ita ketus, dia masih kesal dengan ulah anaknya.
"Yakin buk, ntar Ambar sakit perut loh"
"Bodo!" jawab buk Ita ngegas dan berlalu pergi keluar entah kemana.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Keesokan paginya, Sita juga bangun lebih pagi untuk menemani ibunya membuat sarapan nasi goreng hari ini. Sita memasukkan ayam balado dan nasi gorengnya kedalam kotak bekal setelah itu bersiap-siap untuk berangkat kesekolah.
Pukul 7.45 Ambar lewat didepan rumah Sita, gadis itu dengan cepat memanggilnya. Ambar tidak menjawab, dia hanya menghentikan langkah dan menatap Sita.
"Kamu mau kesekolah?" tanya Sita ragu.
"Terus kamu pikir! Aku mau kerja pake seragam SMP gini?!" jawab Ambar ketus.
"Aku buatin kamu bekal hari ini" ujar Sita cepat dan memperlihatkan tas bekalnya.
Ambar mengedip-ngedipkan mata, kemudian senyumnya keluar seketika. Dia sudah tahu kenapa Sita sampai membuatkan bekal untuknya hari ini, pasti karna Andin kemarin.
"Oh ya kok kamu tahu kalo aku udah punya pacar?!" tanya Ambar sok cuek.
"Haa? Andin nanyain itu juga dengan kamu?" tanya Sita ketakutan.
"Padahal aku mau nembak Andin tapi hatinya udah terlanjur patah duluan karna informasi menyesatkan dari kamu" kata Ambar masih dengan ekspresi yang dibuat pura-pura kesal.
Bibir Sita langsung manyun, tatapannya berubah sinis memandangi Ambar.
"Tapi syukur deh kamu ngomong gitu, soalnya aku memang sedang naksir sama tetangga aku" ujar Ambar lagi dengan nada yang mulai normal.
Mata Sita tambah berkaca-kaca. Padahal tujuannya menipu Andin agar teman kelasnya itu berhenti mengejar dan mendekati Ambar. Tapi kenyataannya Ambar memang sedang naksir dengan salah satu tetangga mereka. Karma menemui Sita begitu cepat. Kemarin hati Andin yang dibuatanya patah jadi dua dan sekarang hati Sita ikut patah, hancur, berubah jadi debu mungkin kalau diletakan di udara!!
"Kenapa? Aku memang biasa telat, tapi ngobrol sama kamu jadi lebih telat lagi"
__ADS_1
Sita tetap diam, kepalanya langsung menunduk untuk menutupi airmatanya yang sudah mengalir. Ambar kembali melanjutkan langkahnya untuk berangkat kesekolah, tapi Sita tetap berdiri ditempatnya.
Ambar menoleh kebelakang, dilihatnya gadis itu terus saja menundukkan kepala sambil menggenggam tas bekalnya erat. Karna tidak tega Ambar kembali lagi menemuinya. Tangannya langsung mengambil tas bekal yang dipegang Sita.
"Aku lupa, ini untuk aku kan?" tanya Ambar polos tanpa dosa.
Sita tetap diam dan terus menundukkan kepala. Ambar kembali mencoba berjalan meninggalkan gadis itu, tapi Sita tetap tidak mengekor dari belakang. Ambar jadi dongkol dan kembali lagi menemuinya.
"Sekolah kamu disini!! Atau kamu tunggu baling-baling bambunya Doraemon buat diantar kesekolah!!" bentak Ambar kesal.
Bahu Sita sudah turun naik- turun naik menahan tangisnya. Kalau dia merengek seperti ambulance bawa mayat pasti buk Ita akan keluar dan makin panjang urusannya, jadi mau tidak mau dia menangis mode silence saja.
"Kamu mau jadi teman aku kan?" Ambar menyodorkan tangannya pada Sita untuk menyalaminya.
"Kamu mau kita dekat secara diam-diam kan, agar pacar kamu gak tahu, teman-teman kamu gak ngeledekin. Meskipun kamu senang bisa dekat sama aku? kalo gitu terima tangan aku biar aku bisa mengabulkan permintaan kamu itu"
Sita langsung menjabat tangan Ambar sambil menghapus air matanya. Dia akhirnya berani mengangkat kepala dan memandangi wajah Ambar yang tersenyum sumringah menatapnya. Meskipun tersenyum tapi hati Ambar panas, dia terpaksa mengatakan demikian. Ambar berpikir Sita malu dengan status ekonomi dan sifatnya yang bar-bar karna itu Sita mau kedekatan mereka hanya Tuhan dan Malaikat saja yang tahu.
"Yaudah yuk berangkat, siap-siap dihukum kamu ntar, kalo aku sih udah pasti lolos"
"Aku gak mau sekolah, aku mau diajak ke lapangan futsal juga. Aku juga mau liatin kamu main futsal" ajak Sita sambil merengek.
"Haaa? Kamu mau bolos sekolah?" Sita langsung menganggukkan kepalanya "aku pernah baca katanya orang yang terkena gangguan jiwa itu kebanyakan orang-orang yang pintar. Awalnya aku gak percaya tapi pas liat kamu, kayanya artikel itu benar deh"
Mulut Sita langsung mewek lagi mendengar perkataan Ambar. Tapi cowok itu justru tersenyum bahagia karna berhasil membuat Sita menangis seperti anak kecil lagi.
"Ayoo kita ketempat kamu pergi sama Andin kemarin" ajak Sita sambil menggenggam tangannya erat.
Ambar belum mengangguk setuju tapi Sita sudah menyeretnya menuju ke halte menunggu bus yang akan mengantarkan mereka ke tempat futsal yang kemarin Ambar dan Andin kunjungi. Entah kenapa Ambar nurut saja dengan ajakan Sita. Tangan gadis itu juga tidak lepas menggenggam tangannya. Saat didepan pemberhentian bus Ambar langsung mengajak Sita turun.
"Bayar, aku gak ada duit! kan kamu yang ajakin bolos!" ujar Ambar meminta Sita menyerahkan uangnya dengan kernek bus.
Sita terus menggenggam tangan Ambar sambil mengikuti langkah cowok itu. Ambar pun tidak berhenti mengumpat sepanjang perjalanan. Yang anehnya meskipun dongkol tapi dia tetap menuruti kemauan Sita untuk bolos.
"Tuh lapangan futsalnya" ujar Ambar menghentikan langkahnya didepan gedung tersebut.
"Main? Ama siapa? Main futsal kan harus ada timnya masing-masing 5 orang, kamu tau futsal kan?" tanya Ambar kebingungan.
"Tauuu! Tapi kemarin kamu sama Andin main, dia pasti puas liat kamu lari-larian sambil keringatan! Kok sama aku enggak? Kamu suka ya sama dia?"
"Mohon maap ya Sita, aku tau kamu itu pinter dalam Matematika. Tapi tolong dalam hal yang lain jangan jadi idiot gitu!" jawab Ambar kesal dan melepaskan tangannya. Sita tetap diam sambil terus menatap gedung lapangan futsal yang ada didepan mereka.
"Yaudah duduk ditaman itu aja, aku udah lapar nih" ajak Ambar sambil menarik tangan Sita menuju ketaman yang ada didepan gedung tersebut.
Sita mengeluarkan kotak bekalnya dan menyerahkannya pada Ambar. Tanpa pikir panjang Ambar langsung memakan nasi goreng dan ayam balado tersebut dengan lahap.
Ambar menyuapkan nasi goreng ke mulut Sita. Sambil tersipu malu gadis itu menerima suapan dari Ambar. Hatinya berbunga-bunga soalnya Ambar juga bisa melakukan hal yang romantic sama dengan yang dilakukan Alif untuknya. Setelah nasi gorengnya habis. Ambar langsung menoleh kearah tas bekal Sita, mencari-cari botol minum karna kerongkongannya kering sehabis makan.
"Astagaaa, aku lupa bawa minum" kaget Sita dan langsung melirik kearea sekitar mencari warung untuk membelikan Ambar minum.
"Oh Tuhan, untung dia cewek cantik!!" umpat Ambar kesal.
Sita langsung kabur kewarung yang ada diseberang jalan. Bahkan rambu-rambu lalu lintas pun tidak dia pedulikan lagi, sebelum Ambar ngamuk karna kehausan. Dengan nafas ngos-ngosan Sita kembali dengan membawa botol mineral dan menyerahkannya dengan Ambar.
Ambar langsung meminumnya dengan raut wajah dongkol, Sita jadi ketakutan melihat wajahnya.
"Maaf ya, kamu marah ya?" tanya Sita pelan "Jangan marah mbar, aku juga sering kelupaan minum kalo dengan Alif" bujuk Sita agar Ambar bisa kembali tersenyum.
Bukannya membaik tapi suasana hati Ambar justru semakin panas mendengarnya.
"Kalo sama Alif kamu gak mungkin lari-larian gitu nyari minum kan?! Pasti dia juga yang pergi beliin minum, dengan uang dia! Hahaha harusnya aku yang minta maaf Sita, soalnya aku miskin, gak punya uang buat beliin minum untuk kamu" kata Ambar sambil tersenyum, meskipun tersenyum sorot matanya tidak bisa berbohong.
Wajah cemas Sita berubah seketika tanpa ekspresi. Tatapannya datar memandangi Ambar dan beberapa menit kemudian bibirnya bergetar. Dia kembali menangis, sesekali rengeknya terdengar seperti anak kecil.
"Kenapa kamu nangis?!" tanya Ambar dengan suara membentak.
Ambar dengan Alif itu benar-benar memiliki karakter yang berbeda dalam memperlakukan Sita. Jangankan untuk berteriak seperti yang dilakukan Ambar tadi, membantah perkataan Sita saja Alif tidak pernah. Tapi entah kenapa Sita malah nyaman dan inginnya bersama Ambar.
"Yaudah nangis deh kamu puas-puas disini! Aku pergi dulu, ntar kalo udah diem baru aku balik lagi" pamit Ambar kesal.
__ADS_1
Sita langsung menarik tangannya Ambar, mencegah cowok itu pergi meninggalkannya.
"Aku minta maaf, padahal tadi aku gak ada bermaksud membandingkan kamu sama Alif mbar. Tapi kenapa kamu jadi mikirnya gitu?" rengek Sita dan terus menggenggam tangan Ambar erat, dia juga takut kalau ditinggal sendiri.
Ambar terdiam mendengar perkataan Sita. Benar juga, entah kenapa dia jadi emosi saat Sita menyebutkan nama Alif tadi. Ambar kembali duduk.
"Aku yang harusnya minta maaf, aku yang jadi sensi gak jelas dihadapan kamu" ujar Ambar pelan.
Sita menggigit bibirnya agar tangisnya bisa sedikit reda. Keduanya diam, Ambar pun jadi malu sendiri untuk berbicara. Cukup lama keduanya termenung entah memikirkan hal apa, sampai akhirnya Sita melirik kearah Ambar.
"Kamu bener udah punya pacar ya mbar?" tanya Sita pelan.
Ambar langsung menoleh memandangi Sita. Dia tersenyum lebar dengan pertanyaan Sita. Sampai-sampai lesung pipinya yang jarang terlihat muncul seketika.
"Kenapa kamu nanya itu?"
"Aku pengen tau aja" jawab Sita malu sendiri karna melihat wajah Ambar yang terlalu ganteng dimatanya. Apalagi jika Ambar sudah tersenyum mengeluarkan lesung pipinya yang langka. Ketampanannya jadi 100% sempurna menurut Sita.
"Belum" jawab Ambar yang ikutan tersipu malu.
"Tadi katanya udah, benar nya yang mana sih?"
"Cuma naksir doang, jadian nya enggak" jawab Ambar grogi.
"Siapa?" tanya Sita lagi, dia begitu penasaran meskipun hatinya kembali hancur.
"Tetangga aku" jawab Ambar sambil mengalihkan pandangannya dari Sita.
"Ternyata informasi yang aku kasi untuk Andin itu benar" ujar Sita pelan.
Ah gadis itu benar-benar polos, Sita berpikir Ambar memang naksir dengan tetangga mereka. Meskipun Sita tidak tahu siapa orangnya, karna dia selama ini mengurung diri didalam rumahnya saja. Jadi Sita tidak pernah tahu orang-orang yang menjadi tetangganya. Padahal siapa lagi tetangganya Ambar yang masih single?! Meskipun buk Eli janda tidak mungkin Ambar naksir dengan wanita yang seumuran dengan ibunya. Ambar menarik tangan Sita untuk melihat jam ditangannya, sebentar lagi pukul 12 siang.
"Pulang yuk" ajak Ambar dengannya.
"Haaa? Kok pulang? Jadi kamu bener gak main futsal nih?"
Ambar menahan senyumnya melihat ekspresi kecewa Sita "Gemes aku sama kamu, pinter-pinter bego gimanaaaa gitu?! Aku mau main sama siapa coba?! Lagian masuk kedalam itu bayar tau gak"
"Kalo gitu aku yang bayar" jawab Sita cepat.
"Kamu bayar juga buat apa, ngapain aku lari-larian gak jelas dilapangan nya sendirian"
"Padahal emang liat kamu lari-larian itu yang aku pengen, aku tunggu di pinggir lapangan sambil megang air minum untuk kamu. Pasti kemarin Andin romantisan sambil hapus keringat kamu" ujar Sita cemberut.
Ambar geleng-geleng kepala mendengar perkataan Sita "Biasanya kami main bola juga sore-sore distadion Peringi, kalo kamu mau datang aja kesana"
Sita langsung tersenyum mendengar ajakan Ambar, kemudian senyumnya hilang mengingat pasti banyak teman-teman Ambar yang mulutnya terkenal jahil itu disana.
"Tapi aku malu sama teman-teman kamu" ujar Sita pelan.
Ambar juga kembali berpikir wajar Sita malu, soalnya kedekatan mereka bisa jadi ketahuan jika dia menonton Ambar bermain bola.
"Hahaha iyaaa, Gak usah deh, kasian ke kamu nya juga" kata Ambar pura-pura bahagia.
"Kenapa kasian ke aku?" tanya Sita penasaran.
"Soalnya kamu bakal malu ntar dikira pacaran sama aku!" jawab Ambar mantap kemudian berjalan meninggalkan Sita duluan.
Sita langsung mengejar cowok tersebut dan menggenggam tangannya. Ambar diam, Sita juga demikian. Mereka menunggu bus menuju kedermaga untuk mengatarkan kembali masuk kedalam desa yang terlihat seperti surga versi dunia. Diatas bus, tangan Sita tidak lepas-lepas menggenggam Ambar. Mereka sudah terlihat seperti orang pacaran saja.
"Ambar" panggil Sita pelan.
"Kenapa?" tanya Ambar menatap Sita yang tidak balik memandanginya.
"Aku.____Aku gak suka liat kamu dekat dengan Andin" ujar Sita tanpa menoleh sama sekali kearah cowok yang duduk disampingnya itu. Kepalanya terus memperhatikan luar jendela.
Ambar hanya diam dan menggenggam tangan Sita lebih erat lagi. Meskipun Ambar tidak mengeluarkan suara, harusnya Sita sudah tau jawaban apa yang diberikan Ambar.
__ADS_1