![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Sebelum pulang ke Peringi, Pak Adam mengajak anak dan istrinya makan di restoran untuk menghabiskan waktu kebersamaan mereka bertiga yang akan berakhir Sabtu pagi. Pak Adam dan buk Ita memperhatikan putri mereka yang makan dengan lahap. Pak Adam merasa ini waktu yang bagus untuk lebih serius membicarakan tentang keinginannya kemarin kepada Sita.
"Oh ya sayang, Rio masih ada menghubungi Sita?" Tanya pak Adam begitu berhati-hati.
Sita mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan ayahnya.
"Masih.... Komunikasi kami lancar, kemarin aja Rio nelfonin Sita sampe jam 1 malam Hahaha"
Pak Adam dan buk Ita ikut tertawa mendengar jawaban Sita.
"Gimana Rio asyik kan orangnya? Baik gak?" Tanya pak Adam lagi.
"Asyik! Tambah asyik malahan setelah kami remaja ini, kalo masalah baiknya dari dulu kan Rio emang baik pak, dia lembut kalo ngomong"
"Hah syukur deh, ganteng juga ya anaknya" kata pak Adam memuji. Sita langsung mengangguk setuju.
"Mana yang lebih ganteng dari pada Ambar?" Tanya buk Ita cepat. wanita itu ingin memberitahu suaminya jawaban apa yang akan diberikan oleh anak gadis kesayangan mereka tersebut.
"Ya Ambar lah buk dimana-mana hahaha" ujar Sita sambil tersenyum malu melihat kearah ibunya.
"Tapi kalo kaya nya menang mana Ambar atau Rio?" Tanya pak Adam dengan nada yang begitu tegas.
Sita langsung diam mendengar pertanyaan pak Adam. Tiba-tiba raut wajah Sita berubah dalam seketika. Airmatanya mengalir begitu saja, gadis itu berusaha menundukkan kepala untuk mengontrol rasa sedihnya mendengar pertanyaan pak Adam yang padahal terdengar begitu mudah untuk dijawab.
"Loh kenapa Sita nangis? Apa pertanyaan bapak salah?" Tanya pak Adam lagi heran. Sita hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"Gak salah sih pak, tapi hati sita jadi sedih buat ngejawabnya. Lagipula.... membanding kan kehidupan Ambar sama Rio, itu bukan perbandingan yang adil pak" jawab Sita dengan suara yang begitu berat.
"Emang kenapa? Ya Sita tinggal jawab secara objektif aja pertanyaan bapak tadi" bujuk pak Adam agar anaknya berhenti menangis.
"Ya Tajiran Rio lah, jauh banget malahan! Seperti langit dan bumi. Benar apa yang dikatakan Sita, membandingkan kehidupan Ambar sama Rio bukan perbandingan yang adil! Yang satu anak petani sederhana yang satu nya lagi anak pekerja Migas yang berlimpahan uang. Enggak akan sanggup Ambar menandingi Rio!" Ujar buk Ita ketus.
"Di ibaratkan Rio itu Berlian dan Ambar besi berkarat! Gak cocok untuk disandingi karna semua orang pasti bakal ambil dan pilih berlian, ya kan Sita?!" Sambungnya lagi. Wanita itu kesal juga dengan pertanyaan suaminya tadi.
Sita semakin menundukkan kepalanya. Tangisnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Sesekali terdengar Sita sesegukan karna mengontrol agar tangisnya tidak pecah ditempat terbuka seperti ini. Pak Adam terdiam memandangi anak gadisnya, dia bisa melihat hati anaknya begitu hancur karna Ambarnya dihina oleh buk Ita.
"Mohon maaf ibuk, tapi Sita pilih besi berkarat jika besi itu adalah Ambar!" jawab Sita dengan suara yang terbata-bata. Sita kemudian menutup mulutnya karna tangisnya benar-benar sudah tidak bisa ditahannya lagi.
"Sita mau pulang" rengeknya dengan kedua orangtuanya.
Pak Adam langsung menarik nafas panjang mendengar jawaban Sita. Dengan raut wajah kesal dia berdiri dan mengajak anak dan istrinya untuk pulang. Dia berencana akan mengajak Sita berbicara di Apartment lagi nanti. Sesampainya di Apartment nya pak Adam langsung memeluk anak gadisnya yang masih awet menangis. Pak Adam mengelus-elus punggung Sita agar anak kesayangannya itu bisa lebih tenang.
"Duduk dulu sini, bapak mau ngomong sama Sita" pinta pak Adam dengan lembut. Sita menurut dan duduk disamping ayahnya.
"Pertanyaan bapak tadi bukan bermaksud menghina Ambar, Sita tetap boleh berteman dengan Ambar"
"Haa? Tapi Sita bukan teman Ambar pak, Sita pacarnya Ambar" jawabnya cepat.
Pak Adam diam sejenak kemudian menggenggam tangan putrinya.
"Sayang, Sita itu anak bapak sama ibuk satu-satunya. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk Sita. Bapak ingin Sita bahagia, bapak tahu kami gak akan selamanya bisa bersama Sita. Bapak sama ibuk pasti akan pergi meninggalkan Sita karena itu bapak ingin sebelum bapak ibuk pergi kami sudah menitipi Sita dengan orang yang tepat. Orang yang baik, mapan, yang bisa memenuhi semua keinginan Sita seperti kami yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Sita. Sampai disini Sita paham nak?" Tanya pak Adam dengan lembut. Sita hanya diam mendengar perkataan ayahnya tersebut.
"Karena itu bapak senang saat melihat Rio lagi. Kita sudah kenal cukup lama dengan dia, dengan keluarganya. Bibit bebet bobotnya, kualitas yang dimiliki Rio. Memang untuk sekarang terlalu cepat membahas hubungan untuk Sita dan Rio. Tapi setelah Sita kuliah nanti tolong Sita renungi dan yakini bahwa pilihan bapak sama ibuk untuk Sita ini gak salah. Jadi bapak ingin Sita bisa membuka hati sedikit demi sedikit untuk Rio"
Pak Adam selesai berbicara tangis anaknya kembali pecah, Sita merengek seperti anak kecil di pelukan ayahnya.
"Tapi Sita... Sita cintanya sama Ambar pak" rengek Sita keras.
"Sayang....bukan bapak mau menghina Ambar. Tapi kita berpikir secara realistis aja saat ini nak. Ambar gak akan bisa memenuhi kebutuhan Sita seperti kami. Apalagi dia itu dulu yg hobi nya jahilin Sita loh. Kalo masih pacar-pacaran bapak sih bolehin saja. Tapi untuk menikah bapak gak bisa setuju kalo Sita pilih Ambar dari pada Rio" kata pak Adam dengan tegas kali ini.
"Udah lah pak, anak bapak itu baru tahun ini kelas tiga. Perjalanan dia masih panjang, kita gak tau nasib seseorang. Intuk sekarang biar berjalan dengan apa adanya dulu" buk Ita akhirnya mengeluarkan apa yg sedari tadi ingin dikatakannya.
"Iya, pokoknya kalo Sita udah dewasa nanti, Sita harus memilih yang berkualitas untuk mendampingi hidup Sita" ujar pak Adam memberi peringatan pada anaknya.
"Berkualitas kan pak? Baiklah Sita bakal tunjukin sama bapak kalo Ambar itu juga orang yang berkualitas pak" jawab Sita tak kalah tegas.
Hatinya begitu kuat terpaut untuk Ambar jadi Sita akan mempertahankan apa yg sudah lama ingin dimilikinya tersebut. Buk Ita mengangguk setuju, pak Adam langsung memandangi istrinya dengan wajah sewot yang membuat buk Ita bergidik ngeri.
"Yaa lagian jodoh itu cerminan diri kita sendiri ta. Ambar sama kamu itu sifatnya kaya siang dan malam. Yang satu berisik dan heboh sedangkan yang satunya lagi tenang dan sepi. Yaaah dari perkataan ibuk ini kamu tahu kan siapa orang yang sifatnya lebih mencerminkan karakter kamu" kata buk Ita pelan untuk menutupi kesangaran tatapan pak Adam.
Sita terdiam dengan perkataan ibunya, pikirannya tiba-tiba langsung kosong dan kebingungan.
~♡AmbarSita♡~
Di Bandara pak Adam mencium kening anak dan istrinya sebelum mereka kembali ke Peringi. Mata Sita masih sembab karna menangisi Ambarnya semalaman suntuk. Minggu jam 10 pagi akhirnya ibu dan anak tersebut menginjakkan kakinya lagi ke Peringi hilir. Keduanya kembali kompak menghirup udara Peringi yang sejuk dan segar bersamaan kemudian saling tersenyum satu sama lain.
"Buk Sita mau ketemu Ambar dulu ya" Pamit sita setelah mereka sampai didepan pintu rumah.
Gadis itu membiarkan koper dan barang-barangnya tergeletak diteras rumah. Sita tidak peduli saat ini dia hanya ingin bertemu Ambar secepatnya. Buk Ita mengangguk membiarkan Sita pergi menemui kekasihnya. Dia tahu anaknya sudah begitu rindu melihat Ambar. Selain itu pembicaraan pak Adam kemarin pasti membuat anak gadisnya di selimuti ketakutan setelah ini.
~♡AmbarSita♡~
Sita melihat pintu rumah Ambar tertutup. Biasanya kalau libur si cowok berisik itu memang tidur sampai waktu sholat zuhur masuk. Tapi saat Sita mengetuk pintu rumahnya Hening langsung menyambut calon kakak ipar masa depannya dengan senyum hangat.
"Apa kabar kak? Kapan sampe ke sini?" Tanya Hening ramah.
"Baik ning, baru aja nyampe. Bang Ambarnya ada?" Tanya Sita sambil melirik kedalam rumah Ambar yang selalu rapi.
"Bang Ambar? Dia ke balai kak"
"Haa? Gak tidur? Tumben dia bangun pagi?" Tanya Sita lagi dengan raut wajah kebingungan.
Hening mendekatkan dirinya ketubuh Sita sedikit dan menggenggam tangan gadis itu.
"Hahaha iya kak, tapi tadi Suci kesini eh bang Ambarnya langsung bangun trus pamit ke balai. Pas Hening tanya dia jawab 'pacar aku masih di luar negri nanti Suci ambil kesempatan buat godain' gitu katanya kak" Jelas Hening sambil tersipu malu menceritakan tentang abang nakalnya itu. Sita ikut tersenyum mendengar perkataan Hening.
"Yaudah kakak ke balai dulu ya ning, kangen sama bang Ambar" pamit Sita dengannya.
"Iya hati-hati ya kak Sita yang cantik" teriak Hening saat Sita melangkahkan kakinya pergi menemui Ambar di balai desa.
Sesampainya di balai desa ternyata semua teman-teman Ambar tengah berkumpul juga disana. Mereka asyik bermain game Ludo di hape milik Khaidir dan Ujang. Sedangkan orang yang dicari Sita? Cowok itu malah tidur dengan nyenyaknya diteras balai desa dengan sahabat karibnya, Ismet!
Keduanya sudah pantas dikira gembel ganteng yang tidak memiliki rumah. Melihat mereka tidur saat ini semua bakal mengerti kenapa Ismet dan Ambar bisa jadi teman paling akrab. Karna sifat dan tingkah lakunya mirip! Mereka bisa tidur dimana pun dan kapan pun. Untung saja Ismet itu makhluk sejenis dengan Ambar. Jika tidak! Mungkin Sita akan mencakar-cakar wajahnya sekarang. Karna melihat tangan Ambar melingkar dipinggang Ismet, cowok nakal tersebut tidur dengan nyenyak sambil menjadikan tubuh Ismet sebagai bantal guling hidupnya.
"Eh Sita tuh" bisik Arul yang menyadari gadis cantik itu tengah berdiri dihalaman balai desa.
Semua langsung mengalihkan pandangan ke tempat yang sedang dilihat oleh Arul. Benar saja Sita berdiri mematung halaman desa karena tidak berani mendekati tempat mereka nongkrong saat ini. Semua bisa melihat mata Sita yang bengkak seperti habis menangis semalaman, wajah gadis itu juga pucat.
"Bangunin Ambar rul" perintah Abdul.
"Takut bang, nanti dia marah" tolak Arul yang tahu kalau Ambar akan mengamuk jika tidurnya di ganggu.
Thalib dan Khaidir dengan percaya diri mendekati Sita. Keduanya langsung tersenyum dan menyapanya, Ujang dan Yudi ikut-ikutan. Malah keduanya setelah menanyakan kabar Sita langsung beralih ke pertanyaan :
'oleh-olehnya ada?'
__ADS_1
Mendengar Ujang menanyakan oleh-oleh Abdul dan Arul tidak mau kalah. Manusia-manusia berotak setengah itu juga ingin oleh-oleh! Airmata Sita langsung mengalir begitu saja. Padahal hatinya sedang miris melihat Ambarnya tidur di teras balai saat ini. Tapi teman-teman Ambar malah menagih oleh-oleh dengannya.
Melihat Sita menangis semua mundur beraturan menjauhi Sita dan kembali ketempat mereka duduk. Abdul tidak tega membiarkan Sita menangis sendirian. Sambil mengumpulkan mentalnya, cowok berwajah sangar itu menggoyang kaki Ambar pelan. Yang di goyang kakinya Ambar tapi yang terbangun justru Ismet. Dia menatap teman-temannya dengan mata sedikit menyipit efek bangun tidur.
"Ada Sita tuh, dia nangis. Bangunin Ambar" bisik Abdul pelan ketelinga Ismet.
Ismet langsung menggelengkan kepalanya. Dia juga takut membangunkan Singa Peringi saat tidur. Tapi saat melihat Sita berdiri kaku di halaman Balai Ismet langsung menepuk-nepuk punggung Ambar kuat.
"Kapten... Bangun kapten ada penjajah!" Kata Ismet berusaha membangunkan temannya.
"Aiissh" Suara itu keluar dari mulut Ambar yang membuat semua teman-temannya mengambil jarak dari tubuh cowok ganteng itu, takut di tendang soalnya.
"Pak Bahrun Mbar!" Teriak Ismet sekali lagi.
Mendengar hal itu Ambar langsung bangun dari tidurnya. Dia berusaha membuka matanya yang masih mengantuk tersebut kemudian mengedarkan pandangannya mencari sosok orang yang paling ditakutinya. Pandangannya terhenti saat melihat Sita, gadis itu juga tengah memandanginya saat ini.
"Pak Bahrun Pala mu itu!" bentak Ambar sambil memukul kepala Ismet dengan kuat.
"Kapan dia datang?" Tanya Ambar lagi pada teman-temannya.
"Dari tadi mbar, nyariin kamu" jawab Khaidir pelan.
Ambar mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi. Baginya jam 10 itu masih pagi buta dan harus tidur lagi tapi Sita malah datang menggangu kegemaran terfavoritnya itu.
"Temui dulu tuh, kasian dia capek berdiri disana dari tadi" perintah Ismet sambil menolak tubuh temannya yang masih bersandar di dinding.
Ambar segera berdiri dan membersihkan pasir-pasir yang menempel ditubuhnya. Kemudian berjalan mendekati Sita. Pacar Ambar itu semakin melihat wajah Ambar dengan jelas dianya malah semakin menangis tersedu-sedu. Padahal Sita tahu Ambarnya tidak suka mendengar suara orang menangis. Wajah Ambar berubah ketus dan kini Ambar sudah berdiri dihadapannya.
"Kenapa?!" Tanya Ambar dengan tatapan sinis.
"Kapan kamu pulang? Aneh! Datang-datang malah nangis, bukannya salim atau ngasi oleh-oleh!" Ujarnya lagi.
Sita menutup mulutnya mendengar perkataan Ambar. Hatinya jadi semakin sedih diperlakukan dengan kasar oleh Ambar. Karna Sita tidak kunjung menjawab pertanyaannya Ambar memutuskan kembali ketempat teman-temannya yang sedang memandangi mereka berdua. Tapi Sita langsung menarik tangan kekasihnya itu.
"Aku kangeeen" ujar Sita sambil merengek menggenggam erat tangan Ambar.
Ambar kembali berdiri dihadapan Sita "Mmmmm" hanya itu yang keluar dari mulutnya untuk merespon ucapan Sita yang terdengar cukup romantis.
Ambar kemudian menghapus airmata kekasihnya itu. Dilihatnya wajah Sita begitu pucat dan lesu. Ambar jadi tidak tega dan memeluk tubuh Sita erat. Ambar tidak peduli dengan semua teman-temannya yang sedang fokus memperhatikan mereka berdua saat ini karna dihatinya juga tengah 'Rindu' dengan gadis cengeng itu!
"Kalo nangis nya gak berhenti aku bunuh Ismet ya!" Ancam Ambar seperti biasanya agar Sita mau diam dan menghentikan tangisnya.
Tapi kali ini ancaman Ambar tidak ampuh. Sita justru semakin mengeluarkan suara berisik dari mulutnya. Sepertinya gadis itu malah ingin Ambar membunuh teman akrabnya tersebut.
"Aduh salah, maksud aku kalo gak berhenti nangis, aku bunuh diri nih!!" Ujar Ambar lagi mengubah ancamannya yang tadi.
Sita langsung diam, menutupi wajahnya didada Ambar agar suara tangisnya sedikit bisa diredam. Ambar membelai rambut Sita yang terikat dengan rapi.
"Kapan nyampe?" Tanya Ambar dan kini tangannya sudah berpindah ke punggung Sita. Ambar mengelus-elus punggung kekasihnya itu agar Sita bisa nyaman dipelukannya.
"Barusan" jawab Sita pelan dan ikut melingkarkan tangannya kepinggang Ambar.
Semua teman-teman Ambar yang jones jadi panas melihat pemandangan mesum itu di minggu pagi.
"Terus kenapa langsung kesini? Gak capek apa kan dari perjalanan jauh" kata Ambar lagi dan bibir cowok ganteng itu mendarat ke puncak kepala Sita, dia mengecup mesra rambut kekasihnya.
"Rasa kangen aku lebih mendominasi dari pada rasa capek! Aku kangen banget sama kamu" jawab Sita manja.
"Waaah.... Gak bisa ini guys! Panggil pak Handsome Guys! Ini gak bisa dibiarin. Pasangan Hina ini peluk-peluk mesra didepan kita yang memegang teguh kata 'Taaruf lebih baik dari pada pacaran'!! Lapor ke kepala desa sedeng itu. Biar mereka dinikahi dengan cepat, dari pada desa kita kena sial karna mereka berdua guys!!" Umpat Abdul keras pada serdadu-serdadunya yang masih bengong memperhatikan keromantisan Ambar dan Sita.
"Kamu berisik dul, kan aku mau liat adegan selanjutnya!" Bentak Ismet kesal.
Ambar sampai tertawa mendengar celotehan teman-temannya. Dia kemudian melepaskan pelukan Sita dan menatap teman-temannya dengan senyum penuh keangkuhan.
"Kenapa? Kalian iri liat pasangan fenomenal ini pamer kemesraan? Urus tuh junior kalian masing-masing yang udah lelah dimandiin pake sabun mulu setiap pagi!!" Ledek Ambar pada teman-temannya.
Semua kompak mengambil sendal masing-masing dan melemparkannya pada Ambar. Cowok bermulut berisik itu langsung pasang badan agar Sita nya tidak ikut terkena lemparan.
"Yaudah sayang, kita bikin pass photo dulu buat mendaftar ke kantor KUA!" Ajak Ambar dengan kekasihnya dan menggandeng tangan Sita mesra.
"Heeeeh... Mau kemana kamu, benar-benar sial desa kami karna kalian nanti!! Astagfirullah, jauh-jauhkanlah ya Allah" teriak Abdul yang belum puas menceramahi teman seperjuangannya itu.
~♡AmbarSita♡~
Ambar kemudian mengantarkan Sita kembali pulang kerumahnya.
"Kamu mau kemana lagi, aku masih kangen. Aku juga bawa oleh-oleh buat kamu" rengek Sita saat Ambar memintanya masuk kedalam. Ambar langsung tersenyum menatap Sita.
"Kamu istirahat ya sayang, nanti siang aku kesini yaa. Aku mau membasmi hama-hama di balai desa itu dulu. Takut mereka benar lapor ke pak Handsome, kan ribet urusannya. Aku belum mampu buat nafkahin kamu soalnya" ujar Ambar dengan tampang polos.
Sita menggenggam tangan Ambar erat mendengar perkataanya tadi. Dirinya kembali menangis tapi kali ini dalam mode silence.
"Aku gak butuh hidup mewah Ambar asalkan sama kamu. Apapun kerjaan kamu nanti aku terima. Aku akan dukung kamu terus, aku akan berusaha jadi istri yang baik untuk kamu. Jadi tolong jangan khawatir aku bakal ngeluh gimana pun kehidupan ekonomi kita nanti" rengek Sita berusaha mengatakan apa yang ada didalam hati dan pikirannya dengan mantap.
Ambar terpaku mendengar perkataan Sita. Selain itu perasaannya tidak enak setelah Sita mengatakan hal tersebut, karna omongannya tadi hanya sekedar becandaan tapi kenapa Sita jadi menanggapinya dengan serius?! Ambar menoyor kepala Sita dengan telunjuknya dan berusaha untuk tersenyum.
"Iyaaah lagian kan kita bakal tinggal di atas gunung, jadi gak perlu takut hidup miskin hahaha" ujar Ambar bahagia.
Sita langsung mengangguk merespon ucapannya.
"Yaudah masuk ya, istirahat, aku juga mau sambung tidur aku lagi, yaah cintah, TI AMO" pamit Ambar dan melepaskan tangan Sita dari lengannya setelah itu pergi pulang kerumahnya.
Kegiatan belajar mengajar di semester baru ini sudah dimulai kembali. Kini Ambar satu sekolah lagi dengan Sita dan kekasih Ambar itu juga sudah duduk dikelas tiga. Semua murid\-murid SMA Peringi pun juga sudah tahu siapa kekasih hati Sita yang sebenarnya, yaitu si Ambar yang nakalnya bukan main.
Semua penghuni SMAN 1 Peringi masih sedikit tidak percaya jika Sita menjatuhkan hatinya pada sesosok makhluk seperti Ambar yang jahat dan nyinyirnya Nauzubillahminzalik! Andin dan Putri kini begitu membenci Sita, meski gadis pendiam itu tidak tahu dan tidak peduli juga soal perasaan dua orang tersebut terhadapnya. Saat jam istirahat di kantin, Andin dan Putri ikut duduk dimeja Ambar dan teman\-temannya.
"Keren ya kalian bisa satu kelas terus dari SD sampe sekarang" ujar Andin membuka pembicaraan pertama kali.
"Aku sama Sita juga dari SD satu kelas terus ya gak Lib" sahut Khaidir bangga.
"Tumben Ambar diem, biasanya heboh. Kenapa? Takut Sita nya marah ya?" Goda Putri sambil menepuk pundak Ambar.
__ADS_1
"Ha? Enggaklah, lagian Sita bukan tipe cewe pecemburu hahaha" jawab Ambar sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Aku cuma lagi mikir Ujang kenapa gak berhenti\-henti memperhatikan Ana yang ada di ujung sana" teriak Ambar kencang sampai\-sampai seisi kantin menoleh kearah mereka.
Ujang menundukkan kepalanya malu, dia ke GEP oleh Ambar sedang mencuri\-curi pandang dengan gadis yang dari dulu dia taksir tersebut.
"Aduh jaaaang, gak baik ngelirik pacar orang" nasihat Ambar lagi, sepertinya cowok ganteng itu berniat membuat Ujang malu saat ini.
Saat Ambar berusaha menjatuhkan mental temannya sendiri tiba\-tiba Sita dan Alif datang ke kantin. Suasana langsung berubah hening, termasuk Ambar pun ikut diam. Dia langsung mengunci mulutnya melihat Sita berjalan dengan cowok tinggi tersebut.
"Hahaha kenapa kamu jadi diam, hati kamu lagi panas ya sekarang karna Sita jalan sama Alif!" Balas Ujang meledek Ambar.
"*******!" Umpat Ambar pelan.
Rasanya karma datang memghampiri Ambar begitu cepat. Kali ini semua teman\-teman Ambar yang balik tersenyum meledek kepadanya. Sedangkan penghuni kantin yang lain mata mereka fokus memperhatikan Sita yang cantiknya Subhanaullah bagi mereka.
Suasana kantin masih sepi, sudah seperti bidadari saja yang datang ke kantin tersebut. Teman\-teman Ambar juga sempat geleng\-geleng kepala melihat Ambar masih bisa duduk tenang melihat Sita berjalan dengan cowok yg digosipkan jadi pacarnya gadis itu dulunya.
Sita mengambil minuman dingin di dalam kulkas kemudian berjalan mendekati meja Ambar. Dia menempelkan minuman dingin tersebut ke pipi pacarnya dari belakang yang membuat Ambar langsung menoleh dan tersenyum menatapnya.
"Ini untuk kamu" kata Sita lembut.
Semua semakin terpana mendengar suara Sita yang langka. Gadis itu memberanikan diri mendekati Ambar karna melihat Andin yang duduk disamping kekasihnya.
Ismet dan Arul kemudian berteriak "BANZAI...BANZAI" untuk menghentikan keheningan di dalam kantin. Ambar memgambil minum yang diberi Sita untuknya kemudian menganggukkan kepala. Setelah itu Sita kembali ke kelas bersama Alif. Saat kekasihnya sudah cukup jauh baru Ambar berteriak dengan kencang.
"Makasih ya sayaaaang"
Ah si Ambar! Sepertinya dia ingin pamer dan memanasi hatinya Alif saja.
~~~♡AmbarSita♡~~~
Semenjak mereka satu sekolah lagi, Ambar jadi tidak bisa berangkat pukul 7.45 seperti biasanya karna Sita selalu menunggunya untuk berangkat bersama. Pulang pun Sita menunggunya di gerbang sekolah. Rasanya langkah kaki Ambar benar\-benar diawasi dengan baik oleh gadis tersebut.
Hubungan Sita dengan Alif maupun Rio pun masih terus berlanjut. Sita tetap meladeni teman masa kecilnya itu dengan baik setiap dia menghubungi Sita. Bahkan kadang mereka berbicara sampai larut malam karna perbedaan waktu diantara tempat tinggal mereka.
Cantika sepupunya Rio juga sesekali ikut nimbrung jika Rio menghubungi Sita melalui applikasi Skype. Salah satu contohnya malam ini, Cantika begitu menyayanginya Rio dari dulunya. Gadis itu juga sudah tahu rencana perjodohan Sita dengan sepupunya. Dan tentu saja dia langsung mendukung 100% rencana kedua ayah mereka. Cantika tahu Sita gadis yang baik, cantik dan pendiam sangat cocok dengan karakter Rio.
"Sita kapan mau ke Doha? Sesekali main dong kesini, dua hari aja cukup deh" ujar Cantika gadis yang memiliki mata bulat tersebut.
"Kapan ya? Kapan\-kapan aja" jawab Sita seadanya.
"Yaaah jangan sampe gak tau gitu, Abi pengen ketemu Sita. Lagian kita kan bakal jadi keluarga" ujarnya sambil tersenyum bahagia.
Sita tertegun mendengar perkataan Cantika, dia memang belum membahas soal Ambar dengan Rio dan Cantika tapi Ambar sudah pernah diceritakan Sita tentang Rio waktu dia masih di Malaysia. Sita menarik nafas panjang, mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan jika dia sudah menautkan hatinya pada Ambar. Tapi saat akan berbicara Cantika kembali mengeluarkan suara.
"Sita udah tahu kan kalo kedua orangtua kita sepakat buat ngejodohin Rio sama Sita?" Tanya Cantika mantap.
Terlihat Rio langsung tersipu malu dan memukul tangan sepupunya itu. Sedangkan Sita hanya menggelengkan kepalanya, yang membuat Cantika dan Rio langsung heran.
"Haaa? Belum? Tapi kemarin kata pak Adam sebelum Sita pulang ke Peringi dia udah ngasih tau Sita, yang bener yang mana sih?" Tanya Cantika mulai mengintrograsi.
"Sita gak tau apa\-apa soal itu" kata Sita lemah, dia begitu ingin mematikan panggilan video kedua orang tersebut secepatnya.
"Tapi sekarang udah tau kan, jadi kita ini akan jadi keluarga Sita" ujar Cantika berusaha menjelaskan.
Sita terpaksa mengeluarkan senyumnya dan memberi alasan jika dia sudah begitu mengantuk dan ingin tidur. Setelah panggilan mereka berakhir Sita merebahkan tubuhnya keatas kasur, airmatanya mengalir begitu saja membayangkan apa yang harus ia lakukan jika pak Adam tetap ngotot memaksanya mau menerima Rio sebagai pendamping hidupnya nanti.
__ADS_1
