![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Jam 10 pagi di hari minggu, semua warga Peringi hilir sudah meramikan balai desa untuk menyambut pemimpin baru mereka yang menurut Ambar pengganti pak Awan itu isi kelapanya hanya ketawa saja. Ambar cs tidak tahu saja betapa kompetennya pak Sayuti Malik meskipun hobbinya ketawa.
Buk Ita juga bersiap-siap kebalai desa dijemput oleh teman kecilnya buk Khadijah. Awalnya Sita diajak tapi menolak, tapi saat buk Khadijah mengatakan anak dan suaminya sudah dibalai desa Sita jadi semangat sendiri dan menawarkan diri untuk ikutan pergi.
Sesampainya disana, hati Sita panas melihat Ambar berdiri dengan adiknya Hening. Sita pikir itu tetangga yang sedang ditaksir Ambar. Saking Sita tidak pernah keluar rumah dan peduli dengan lingkungannya, dia tidak tahu jika Ambar mempunyai seorang adik perempuan. Ambar tersenyum manis kearah adiknya yang ditangannya ada dua buah beng-beng. Senyum manisnya diberikan untuk merayu sang adik berbagi makanan.
"aku tadi kerumah kamu" sapa Alif mendekati Sita yang matanya tidak lepas mengamati Ambar dari kejauhan.
Sita melihat kearah Alif sebentar dan kembali memperhatikan Ambar yang tangannya barusan dipukul oleh Hening karna merebut paksa beng-beng miliknya. Pak Bahrun datang mendekati dua anaknya.
"Dirumah ribut! Disini ribut! Bapak ajukan ke pak Handsome untuk buat surat kematian kalian berdua nanti kalo dia sudah dilantik!" ujar pak Bahrun pelan tapi suaranya terdengar tegas.
Suasana riuh berubah hening seketika saat pak Sayuti naik keatas panggung memberikan pidato yang kebanyakan isinya hanya kata HaHaHa. isi pidato pak Sayuti yang berlangsung 30 menit kalimat terakhirnya berbunyi :
"Saya akan bekerja dengan baik untuk semua warga desa peringi hilir HaHaHa, dan semoga pak Agung yang tidak kepilih bisa ikut bekerja sama juga dengan saya demi kemajuan desa kita HaHaHa" pria paruh baya itu belum tahu juga jika sebenarnya hanya dia kandidat satu-satunya yang diajukan oleh warga.
"Satu lagi HaHaHa, kalo bisa nama saya juga diganti. Mulai sekarang panggil saya pak Handsome saja biar kita semakin akrab dan dekat" pinta pak Sayuti untuk pertama kalinya setelah dia menjabat.
"Mbaaar pergi yuk ke stadion, sakit kuping aku!!" teriak Arul kencang meskipun suasana begitu senyap karna warga focus mendengarkan pidato pak Handsome.
Semua orang yang ada dibalai desa yang tadinya memperhatikan panggung beralih kearah Arul yang berjalan santai mendekati Ambar. Pak Safri darahnya jadi mendidih sampai ke otak melihat tingkah anaknya.
"Kalian ke stadion ya? Main bola? aku ikut, pala aku juga sakit dari tadi yang terdengar cuma Ha Ha Ha aja!" teriak Abdul lebih kencang lagi.
"Heeh HaHaHa... Kalian gak dengar saya lagi pidato malah teriak-teriak gitu!" ujar pak Sayuti sewot diatas panggungnya.
"APA?! Berisik tau gak!" jawab Ambar lebih sewot.
Semua teman-teman Ambar cs kabur menyelamatkan diri menuju ke stadion sebelum ayah-ayah mereka mengejar dengan sandal jepit masing-masing.
"Ntar kamu sibuk?" bisik Alif pelan ketelinga Sita agar tidak dimarahi juga oleh warga.
"Enggak, kenapa?" jawab Sita masih dengan wajah manyun melihat tingkah Ambar dan teman-temannya yang begitu usil.
"Main kerumah aku yuk. Kakak aku ulang tahun, kami mau makan-makan dirumah"
"Aduh maaf ya lif, aku gak bisa ikut. Soalnya badan aku kurang enak" kata Sita memberi alasan bohong karna hatinya masih patah.
Setelah acara pelantikan pak Handsome selesai, Sita mendekati ibunya yang asyik mengobrol dengan teman-temannya. Mata Sita melirik sinis kearah Hening yang berdiri disamping buk Khadijah.
'Memang pacaran udah lama ya? sampai-sampai cewek itu akrab dengan ibunya Ambar' gumam Sita didalam hatinya.
"Apaan itu buk?" tanya Sita basa-basi dengan kertas yang dipegang buk Khadijah agar dia bisa dekat juga dengan ibunya Ambar.
"Oh ini, Kartu keluarga" jawab buk Khadijah ramah dan memberikannya pada Sita.
Mata Sita focus mencari nama Ambar, 30 Mai tanggal ulang tahun Ambar. Bibirnya tersenyum sumringah mengetahui hal itu.
"Loh Ambar ada adiknya ya buk?" kaget Sita saat melihat jumlah anggota di kartu keluarga pak Bahrun.
"Hahaha loh ini, siapa coba" tunjuk buk Khadijah pada Hening. Sita jadi malu sendiri mengetahui gadis yang dicemburuinya tadi ternyata adiknya Ambar, dia langsung menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan Hening.
"Makanya kamu jangan didalam rumah terus! Sama tetangga sendiri kamu gak tahu" ujar buk Ita kesal.
Keesokannya Sita kembali menunggu Ambar untuk berangkat kesekolah dengannya. Saat Ambar lewat dia langsung mengekor dari belakang. Ambar sadar jika Sita ada dibelakangnya karna itu dia sedikit melambatkan langkah kakinya.
__ADS_1
Melihat Ambar yang berjalan begitu pelan Sita jadi risau sendiri. Saat dipersimpangan seharusnya ambar tetap lurus menuju ke SMP mereka. Tapi tidak, Ambar justru berbelok ke kanan. Arah jalan menuju ke dermaga. Sita memandanginya heran, dia tau Ambar pasti ingin bolos hari ini. Ambar menoleh kebelakang saat mengetahui jika gadis cantik itu tidak mengikuti langkahnya, dipandanginya Sita yang berdiri mematung memperhatikannya.
"Kenapa kamu berdiri disana? Kamu telah loh" kata Ambar mendekati Sita kembali.
"Kamu gak sekolah hari ini?"
"Males, sekolah cuma buat orang-orang yang belum pintar" Sita hanya diam mendengar jawaban Ambar yang ngaur "Aku mau ke Mandau" kata Ambar memberitahu "Main futsal" sambungnya lagi sambil tersenyum memandangi Sita.
Bibir Sita ikut terangkat membentuk sebuah senyuman bahkan dia terkesima melihat Ambar yang memperlihatkan lesung pipinya yang langka. Ambar melanjutkan perjalanannya menuju ke dermaga. Sita langsung mengikutinya dari belakang, dia mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan Ambar. Saat di pemberhentian bus Sita dengan cepat membayar pada kernet bus. Ambar melirik kearahnya, raut wajahnya berubah serius kemudian tersenyum lagi. Sesampainya didepan gedung futsal yang kemarin. Ambar menarik tangan Sita untuk melihat jam ditangannya.
"Mereka mau mainnya jam 9, masih setengah jam lagi"
"Emang kamu main sama teman-teman?" tanya Sita khawatir. Gadis cantik itu sepertinya masih saja ngotot minta Ambar main futsal sendirian.
"Iya... Emang kenapa? Kamu malu?" Sita hanya diam. Wajahnya sudah berubah jadi pucat dengan sendirinya "Aku gak ngajakin kan. Kamu aja yang ngikut, kalo malu pulang aja!" kata Ambar lagi dengan nada yang begitu tegas dan berlalu pergi meninggalkannya.
Sita langsung menyusul Ambar untuk duduk dibangku taman kemarin. Sita menarik nafas panjang, hatinya makin tidak tenang. Ketakutannya jadi bertambah karna wajah Ambar yang sudah berubah sinis. Sita diam mematung, mau mengajak Ambar ngobrol tapi mulutnya sulit untuk bergerak.
Ambar pun demikian, dia tidak peduli dengan gadis yang duduk disampingnya. Kendaraan yang lalu lalang lebih menyenangkan matanya dari pada wajah cantik Sita saat ini. Setelah lama menunggu dalam diam. Beberapa cowok-cowok dengan seragam sekolah yang berbeda dari mereka berkumpul di pintu masuk gedung futsal tersebut
"Woii mbaaar... Ngapain disana, Ayooo" teriak salah satu dari mereka.
Ambar langsung pergi ketempat orang yang memanggil. Dia bahkan tidak mempedulikan Sita yang masih duduk mematung memandangi punggungnya. Sita semakin gugup karna teman-teman yang ditunggu Ambar itu bukanlah teman-teman mereka yang dari Peringi hilir karna wajah mereka asing semua bagi Sita.
"Cieee.... Ganti lagi nih Mbar" goda temannya sambil menepuk pundak Ambar.
"Teman-teman kamu yang kemarin gak ikut?" tanya cowok yang lainnya.
"Mereka semua udah meninggal kemarin"
"Serius mbar?" ujar salah satunya lagi.
"Harapan aku aja sih, Hahahah" jawab Ambar cengengesan.
"Anjiiir, aku pikir beneran! Yaudah yuk main, siapa nih yang ngalah?" tanya bocah yang paling tinggi dengan semua teman-temannya
"Dio aja, dia bego! Aku satu team ama Ambar" jawab cowok yang disamping Ambar.
"Yaudah kalian masuk duluan, aku mau manggil cewek itu dulu. Kalo dibiarin ntar ilang lagi" kata Ambar sambil kembali mendekati Sita yang masih setia duduk di bangku taman.
Ambar melihat Sita yang menundukkan kepala, sepertinya gadis itu tengah menangis. Ambar mendekatkan wajahnya untuk meyakinkan.
"Kenapa kamu?!" tanya Ambar heran.
"Aku... Aku minta maaf" jawab Sita terisak-isak.
"Minta maaf? Belum lebaran! Udah jangan nangis, aku males dengan suara berisik kamu. Ntar orang-orang mikir aku nyulik kamu lagi" Sita menghapus air matanya, berusaha untuk menenangkan tangisnya sendiri.
"Ayoo masuk! Mau disini aja!" ajak Ambar dengan nada yang begitu ketus.
Setelah tangisnya hilang Sita mengikuti Ambar yang sudah berjalan duluan. Saat Ambar sudah masuk kedalam Sita malah kabur entah kemana, yang lebih teganya Ambar tidak peduli dan membiarkan gadis itu pergi.
Saat Ambar tengah asyik bermain dilapangan bersama teman-temannya Sita kembali sambil membawa botol minum. Ambar melihat dari dalam lapangan, padahal tadi dia sempat berpikir Sita kabur untuk pulang. Ternyata gadis itu pergi membeli minum, Ambar langsung tersenyum sendiri mengetahui hal itu.
Mata Sita focus memperhatikan cowok yang mengenakan jersey warna merah dari salah satu klub bola inggris tersebut. Dia kembali dibuat terkesima menatap Ambar yang sudah berkeringat di tengah lapangan. Sesekali Sita menggigit bibinya menahan senyum menatap Ambar.
__ADS_1
"Udah diliat dari jauh gini juga, tapi ganteng Ambar tetap gak bisa sembunyi" gumam Sita dalam hatinya.
Teman Ambar yang mengalah untuk tidak ikut bermain duduk mendekati Sita.
"Namanya siapa?" Sita ragu menyambut tangan cowok yang duduk disampingnya. Tapi karna cowok itu terus menyodorkan tangan jadi mau tidak mau Sita menyambut salamnya.
"Sita" jawab sita pelan dan kembali memperhatikan sumber bahagianya.
"Pacarnya Ambar ya?"
Sita mengalihkan pandangannya lagi mendengar pertanyaan cowok itu. Dia mau mengangguk tapi malu mengklaim diri secara sepihak. Jadi Sita memilih untuk diam dan melihat kearah Ambar. Hampir satu jam anak-anak cowok itu bermain futsal, setelah itu mereka keluar lapangan. Ambar mendekati Sita yang duduk dengan temannya, Sita langsung menyerahkan botol minuman yang sudah dibelinya tadi dengan Ambar.
"Makasih ya" kata Ambar sambil tersenyum, wajah juteknya sudah hilang.
Sita tidak bisa menahan senyumnya, dia begitu bahagia melihat Ambar berdiri dihadapannya dengan keringat yang mengalir di pipinya yang putih mulus. Ambar juga ikutan tersenyum menatap Sita, sampai-sampai lesung pipinya terlihat lagi.
"Ah si Ambar, kemarin cewek yang dibawa lain, sekarang lain lagi, emang parah! Satu-satu dong mbar! Kasian anak gadis orang, mending kamu berbagi sama kami yang jomblo-jomblo ini" Ambar hanya tertawa mendengar ocehan teman-temannya.
Tapi Sita tidak, wajahnya cemberut mendengar kata 'cewek lain' yang dikatakan oleh orang-orang tersebut.
"Habis ini mau kemana mbar? nongkrong dulu yuk"
Ambar melirik kearah Sita "Gak usah deh, aku mau langsung pulang aja"
Semua mengangguk kemudian pergi keruang ganti untuk membersihkan diri dan mengganti seragam mereka lagi. Setelah itu Ambar mengajak Sita pulang meninggalkan teman-temannya yang masih sibuk mengobrol.
"Kita pulang ya?" tanya Sita yang berjalan disamping Ambar.
"Pulang? Loh emang selendang kamu udah ketemu ya?"
"Selendang? Aku gak bawa selendang tadi"
Ambar hanya tertawa kecil mendengar perkataan Sita yang kebingungan. Sepertinya gadis itu tidak pernah membaca dongeng cerita rakyat.
"Mereka tadi kayaknya bukan warga Peringi, soalnya seragamnya dari sekolahan di Mandau semua" ujar Sita saat mereka menunggu bus.
"Memang bukan warga Peringi, semua tinggal disini"
"Kamu kenal dari mana? Seragam sekolah nya beda-beda juga"
"Hahaha emang aku kaya kamu yang maunya nempel sama pacar kamu terus gak mau beradaptasi dengan yang lain!"
"Aku gak punya pacar tuh" jawab Sita cepat.
Ambar langsung melirik ke arahnya, dipandanginya wajah sita lekat. Sampai-sampai gadis itu gugup dan malu sendiri diperhatikan begitu lama oleh Ambar.
"Terus Alif?" tanya Ambar serius sambil terus melihat kearah Sita yang sudah membuang muka karna malu.
"Dia teman aku, satu-satunya teman yang aku punya"
"Satu-satunya? terus aku?" Jantung Sita serasa mau copot mendengar pertanyaan Ambar. Dia bingung sendiri mau menjawab apa. Soalnya dia tidak ingin Ambar sekedar menjadi temannya "Oh ya tadi mereka semua itu juga kelas 3 loh, cuma aku yang masih kelas satu" kata Ambar lagi karna Sita tidak kunjung menjawab pertanyaannya tadi.
~~~**♡AmbarSita♡~~~
"Harapanku terlalu besar untuk memilikimu" ~ Sita**
__ADS_1