![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Satu minggu lamanya pak Adam dan istrinya di Jakarta. Setelah tes kerja dan liburan singkat, mereka pun kembali kedesa Peringi hilir. Saat akan pulang kerumah, Sita akhirnya bisa melihat Ambar lagi. Anak itu tengah asyik bermain dengan teman-temannya didepan warung buk Eli.
"Buuuk, udah balik yaaa dari Jakarta?" sapa buk Eli dari dalam warung.
"Iya buk" sahut buk Ita kemudian berbelok kewarung buk Eli untuk memberikan sedikit oleh-oleh kepada tetangganya itu.
Sita langsung mengambil kesempatan mengekor ibunya dari belakang. Selain itu dia juga mau liat Ambar lebih dekat, sudah lama dia tidak melihat senyum anak nakal itu.
"Ibuk ke jakarta ya?' tanya Ismet dengan semangat.
"Iyaa" jawab buk Ita ramah
"Liburan ya, Sita juga? Jakarta jauh buk?" tanya Ismet lagi.
"Iya dong, trus Sita mau kemana lagi kalo gak ngikut bapak ibuknya" kata buk Ita sambil membelai rambutnya.
"Ismet liburan kemana?"
"Ismet mana bisa liburan buk, dia miskin!" sahut Ambar tajam.
"Halaah ngatain diri sendiri kamu" ujar Abdul membela temannya.
"Enak di Jakartanya buk?" tanya Ismet yang masih berusaha berbasa-basi. Soalnya tadi dia melihat oleh-oleh yang baru diberikan buk Ita kepada buk Eli.
"Enakan di Peringi. Ibuk ke jakarta soalnya bapak Sita sekalian mau tes kerja disana"
"Oh, trus bapak Sita sudah kerja buk?"
"Banyak tanya kamu, bilang aja 'oleh-olehnya masih ada nggak buk' gitu aja kok repot!" kata Ambar memukul kepala Ismet.
"Apaan sih, kan basa-basi dulu, baru tanyain oleh-oleh" jawab Ismet dengan lugu.
"Hahaha kalian mau oleh-oleh juga? Yaudah nanti ibu antar kerumah masing-masing ya. Sekarang masih didalam koper oleh-olehnya"
"Oh kami tunggu dirumah ya buk?" tanya Ambar cepat, padahal tadi kerjaannya nyahut perkataan Ismet.
Semua bocah-bocah itu langsung pulang kerumah masing-masing untuk menunggu oleh-oleh mereka. Saat buk Ita akan pergi membagikan oleh-oleh, Sita langsung mengajukan diri untuk membantu. Tujuan rumahnya cuma satu, rumah si tukang berisik yang paling cepat soal makanan.
Sambil tersipu malu Sita berjalan kerumah pak Bahrun. Dilihatnya Ambar memang menunggu didepan rumahnya saat ini, Sita sampai gugup melihat Ambar lagi.
"Sita kamu ngapain disana, aku udah nungguin nih" panggil Ambar karna Sita menghentikan langkahnya.
Untuk pertama kalinya Sita memberanikan diri mendekati Ambar dan menatap matanya.
"Ini" kata Sita pelan, menyodorkan dua kotak dodol ketangan Ambar.
"Makasih ya" jawab Ambar ramah, dia tidak langsung masuk kedalam atau menyerahkan makanan tersebut dengan ibunya. Tangan Ambar dengan cepat membuka kotak dodol dan mulai memakannya satu persatu.
"Eeeh Sita, tumben kesini, udah pulang liburan?" sapa buk Khadijah yang baru keluar dari dalam rumah.
"Buk Sita enak bisa pergi liburan, masa kita enggak" rengek Ambar sambil terus mengunyah dodolnya.
"Halah, kamu mah liburan kesungai aja noh berenang. Kerjaannya tinggal kelas terus malah minta liburan! Apa itu yang kamu makan?"
"Racun!" jawab Ambar ketus.
Sita langsung menahan tawanya mendengar perkataan Ambar. Buk Khadijah melihat kotak yang sedang dipegang Ambar. Satu kotak dodol yang sudah hampir habis.
"YaAllah, ini dari Sita ya?" tanya buk Khadijah kaget. Sita langsung menganggukkan kepalanya.
"Heeh, kamu habisin sebanyak ini, sakit gigi baru tahu rasa kamu! Udah sisain juga buat bapak dan adik kamu! Jangan kaya orang kelaparan gitu"
"Bapak gak boleh makan dodol buk, giginya gak ada buat ngunyah" jawab Ambar ngasal agar makanannya tidak diambil buk Khadijah.
Sita masih saja berdiri didepan rumah buk Khadijah meskipun tujuannya sudah terlaksana.
"Sini satu kotak lagi, abis ya jatah kamu, ini buat buat yang lain"
"Banyak banget!"
"Banyak apaan!! Kamu tuh satu kotak dimakan sendiri!!" bentak buk Khadijah dan masuk kedalam rumahnya untuk menyimpan dodol yang tersisa sebelum dilahap Ambar semua.
"Haaah" Ambar mendesah, dodolnya habis, kemudian dia menatap Sita heran. Karna gadis itu belum juga pergi dari rumahnya.
"Kamu masih mau?" tanya Sita pelan.
Ambar membelalakkan mata saat mendengar Sita berbicara dengannya.
"Semenjak pulang dari Jakarta kok kamu udah bisa ngomong. Batrai kamu diganti ya?" Sita menggelengkan kepalanya.
"Oh enggak dink, masih angguk-angguk geleng-geleng juga kok seperti kebiasaan kamu"
"Dirumah aku masih ada" kata Sita lagi.
Ambar kembali membelalakkan mata "Buk, ini Sita bukan?" teriaknya sambil ketakutan.
"Kenapaaaa?" tanya buk Khadijah kembali menemui anaknya.
"Ini buk, Sita dari tadi ngomong terus, Ambar jadi takut"
'plaaaak'
Buk Khadijah mendaratkan tangannya ke lengan Ambar "Ngasal aja kamu ini, trus kalo dia ngomong kenapa?!!"
"Biasanya dia sulit ngomong buk, apa buk Ita ganti batrainya ya buk?"
"Kamu pikir dia robot pake batrai, gak sopan kamu ini!! Ambar jangan didengarin ya Sita sayang, bilangin makasih ya sama ibuknya"
Sita mengangguk lagi, tapi tetap belum mau pergi juga dari rumah tersebut. Dia terus menatap Ambar dan tersenyum.
"Iiiiii kamu jangan senyum, kan aku jadi malu!!"
"Kalo masih mau dodol ambil aja dirumah" kata Sita kemudian pamit. Baru beberapa langkah menjauh dari rumah Ambar, anak nakal itu langsung menyusul dan menggandeng tangan Sita.
"Bener dirumah kamu masih ada dodol?" tanya Ambar sumringah.
Sita sampai gugup bukan main melihat tangannya digandeng Ambar. Sita langsung mengangguk dengan cepat.
"Hahaahah ayoo kita kerumah kamu" ajak Ambar bersemangat sambil terus menggandeng tangan Sita dengan erat.
Liburan anak\-anak sekolah pun berakhir, semua harus kembali berangkat kesekolah dan menuntut ilmu lagi. Sita juga sudah tahu jika Ambar memang tidak akan lewat didepan rumahnya. Karena itu setiap pagi gadis itu akan berdiri didepan jalan rumah mereka.
Jam 7.45 Ambar keluar dari pekarangan rumahnya dan berbelok ke kiri. Jalan yang berlawanan arah dari sekolah mereka terdahulu. Sita terus memandangi punggung Ambar yang semakin lama semakin menjauh, setelah Ambar tidak terlihat lagi baru Sita berangkat kesekolahnya. Dia juga masih terus ditunggu Alif ditempat biasa Ismet menunggu Ambar dulu.
"Kamu liburan ke Jakarta ya ta?" tanya Alif sambil menyodorkan sebuah gelang Masanga ketangan Sita.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Aku beliin buat kamu, waktu aku liburan ke bali"
"Oh makasih ya" kata Sita sambil memperlihatkan senyum manisnya.
Alif mengambil tangan Sita dan mulai memakaikannya. Ana dan Imay yang duduk dibangku paling depan sampai senyum\-senyum melirik kearah Sita.
"Cieee Aliiif.... kamu kasi Sita gelang ya" goda Imay yang cukup berani sebagai anak perempuan dikelas.
"Diam kamu kribo!!" bentak Alif kesal.
"Makasih ya, maaf aku gak ada balasannya. habis ibu aku gak beli oleh\-oleh waktu pulang" ujar Sita berbohong.
Sebenarnya dodol yang sudah disiapkannya untuk Alif dengan terpaksa diberikan kepada Ambar. Sita berusaha terus menyogok anak nakal itu untuk betah dirumahnya dengan setumpuk dodol. Bahkan jatah untuk pamannya yang setelah menikah pindah ke desa seberang pun diberikan Sita juga kepada Ambar.
"Iya gak apa\-apa, nanti aku kerumah kamu ya, kita belajar bareng, kan udah kelas 6"
"Iyaaaa... Sekalian makan siang dirumah aku aja" ajak Sita untuk menebus rasa bersalahnya.
~~~♡AmbarSita♡~~~
Sepulang sekolah Alif memang langsung pergi kerumah Sita. Setelah makan siang keduanya kemudian belajar didepan teras rumah. Tiba\-tiba suara berisik Ambar terdengar. Semakin lama suara Ambar semakin jelas. Ternyata tujuannya memang datang kerumah Sita.
Ambar langsung memajukan bibirnya melihat ada Alif dirumah tersebut. Alif menundukkan kepala, Sita pun demikian. Tapi si anak nakal memang gak ada rasa. Dia malah meledek keduanya dengan santai.
"Cie...Cieee.... Alif belajar bareng Sita Cie..Cie..." goda Ambar kegirangan dan kali ini dia tidak memanggil Alif dengan sebutan tiang listrik lagi.
Sita akhirnya memberanikan diri menatap Ambar.
"Yah gak ada ya. Padahal kemarin kamu bilang masih ada buat besok, kalo aku mau datang aja kesini"
Sita ingin sekali memukul kepala Ambar dengan buku yang ada ditangannya karena bohong nya jadi ketahuan dengan Alif.
"Yaudah aku balik dulu deh!" ujar Ambar kesal dengan sendirinya.
"Ambaaar" panggil Sita lagi.
"Ngapain kamu panggil lagi" bisik Alif jengkel.
"Kasian. Dia itu sering dipukuli dengan ayahnya" bisik Sita juga berusaha agar Alif mau sedikit berbaik hati membiarkan Ambar terus didekat mereka.
"APAAA!!" jawab Ambar ketus, anak itu masih kesal karna tidak mendapatkan dodol.
"Dodolnya abis, tapi masih ada kue lain" kata Sita dengan gugup.
Senyum Ambar langsung mengembang yang membuat lesung pipinya terlihat dengan jelas. Wajah marahnya ilang seketika. Sita sampai berpikir apa semudah itu membujuk Ambar? Sita kemudian masuk kedalam rumahnya mencari kue yang bisa membuat Ambar berlama\-lama lagi duduk dihadapannya.
"Ngapain kamu kesini!!" tanya Alif ketus.
"Kan mau dikasi kue, gimana sih tiang... Eh salah...Hahaha hampir aja aku keceplosan"
"Gak tahu malu kamu, kaya orang miskin aja minta\-minta!!"
"Emang bapak aku miskin!" jawab Ambar santai.
Alif masih memandanginya sewot, sebal mengetahui jika Sita ternyata mau bicara dengan Ambar. Padahal Alif berpikir cuma dia yang bisa mengajak Sita bicara selama ini.
"Kamu tinggal kelas lagi kan!!" ujar Alif yang masih belum puas memancing emosi Ambar.
__ADS_1
"Iya kok tahu, Hahahaha Ismet juga, Arul juga, Abdul malah yang ke empat kali, Hahahah"
"Kalian kan memang geng bodoh, udah pindah sekolah tapi masih aja kerjaan kamu tinggal kelas"
Sita akhirnya keluar membawa sepiring biskuit dan menyerahkannya pada Ambar. Tanpa basa\-basi mulut Ambar langsung mengunyah biskuit itu satu persatu. Keduanya bahkan terpana melihat Ambar menghabiskan biskuit yang diberikan Sita dalam sekejap.
"Piringnya bocor nih Sita" kata Ambar dengan mulut yang masih penuh dengan biskuit.
"Dasar rakus! Nggak pernah makan biskuit ya!"
Ambar berusaha menelan semua biskuit yang ada dimulutnya kemudian menatap Alif tajam.
"Kenapa sih, menghina aku mulu bisanya! Dasar tiang listrik!" umpat Ambar kemudian berjalan mendekati Sita.
"Kamu juara satu lagi ya, Selamat ya" kata Ambar dengan lembut dan menyalami tangan gadis itu.
Sita langsung gugup dan mengangguk\-anggukkan kepalanya.
"Kalo aku justru tinggal kelas lagi, Hahaha, Ismet juga, Arul juga, Abdul malah tinggal yang keempat kali" katanya mengulang informasi yang disebutkannya tadi untuk Sita.
"Udah sana, kami mau belajar lagi nih!" usir Alif kasar.
"Kalo aku gak mau kenapa?" tanya Ambar menantang.
Alif hanya diam dan mengajak Sita untuk kembali belajar.
"Masih ada lagi kue kamu?" tanya Ambar memelas.
"Jangan dikasih lagi si miskin ini!!"
"Apaan sih kamu tiang listrik! Aku kan nanya Sita, aku gak ganggu kamu loh ya!"
"Soalnya kamu rakus!"
Sita tidak mendengarkan perkataan Alif, dengan cepat dia masuk kedalam rumah dan kembali mencarikan makanan yang bisa membuat Ambar senang.
"Huuu Sita baik gak kaya kamu!!"
Ismet dan Arul yang akan pergi kerumah Ambar langsung datang menemuinya kerumah Sita.
"Kenapa kamu sama si tiang listrik?" tanya Ismet sambil merangkul pundak Ambar.
"Tau nih tiang listrik aku di kasi kue sama Sita malah dia yang sewot"
"Yee kamu iri kan!! Sebenarnya dia mau juga tuh"
Sita kemudian keluar, wajahnya langsung kaget melihat Ambar sekarang dengan dua peliharaannya. Satu piring biskuit yang ditangan Sita sekarang pasti tidak akan cukup untuk menahan Ambar dirumahnya. Sita kembali masuk kedalam dan mencoba menyalin semua biskuit yang ada didapurnya, kalo buk Ita tahu, entah apa yang akan dikatakan wanita itu.
"Makasih yaaaa" kata Ambar ramah saat Sita menyodorkan piring ketangannya. Ketiga bocah laki\-laki itu makan dengan lahap.
"Memang keliatan orang susahnya" ledek Alif lagi.
"Biarin, kami susah tapi tetap bangga tuh, ya gak Mbar" balas Ismet tidak terima.
"Udah tiang listrik gak usah didengerin, aku aja di hina\-hina terus ama dia. Biar aja nanti Allah yang balas kapok kamu!" kata Ambar dengan relegius.
Selesai menghabiskan kuenya, Ambar kembali menyerahkan piringnya kepada Sita. Kali ini dia tidak minta tambah, soalnya Ambar ingin pergi bermain dengan Ismet dan Arul.
"Makasih ya, besok aku kesini lagi ya, dada Sitaaaa" pamit Ambar dengan lembut.
~♡AmbarSita♡~

__ADS_1