![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Hari jumat, kelulusan murid kelas tiga diumumkan, Ambar memperhatikan dari depan kelas 7-3 bersama teman-temannya anak kelas tiga yang berbaris rapi ditengah lapangan. Kepala sekolah mengumumkan jika mereka semua berhasil lulus bahkan nilai ujian nasional tertinggi se-Kabupaten diraih oleh SMPN 1 Peringi, hal yang membanggakan untuk sekolah itu berhasil diberikan oleh Sita.
"Wuiiih keren Sita!!!" sorak Ismet dengan suara yang cukup kencang saat Sita dipanggil kedepan oleh kepala sekolah. Semua memberikan tepuk tangan pada gadis cantik yang selalu mengikat rambut lurusnya itu. Ambar ikutan tersenyum dengan sendirinya menatap Sita berdiri disamping kepala sekolah mereka.
"Haaah.... Sayangnya Sita enggak di Peringi lagi setelah ini" ujar Ismet yang berubah loyo mengetahui jika besok hari terakhirnya bisa melihat kecantikan Sita.
Ambar langsung menoleh kearah Ismet, dia baru ingat jika kemarin Thalib mengatakan pada mereka saat dibalai desa kalau Sita akan pergi setelah acara perpisahan. Senyumnya berubah kecut, kemudian perlahan bibirnya manyun dan hatinya jadi tidak karuan, serasa ada yang hilang pada perasaannya tapi dia tidak tahu apa yang tiba-tiba hilang tersebut.
Setelah pengumuman kelulusan, Sita menolak ajakan Alif dan teman-temannya untuk merayakan kelulusan mereka, bagi Sita cara teman-temannya merayakan kelulusan adalah cara Ternorak yang tidak ingin diikutinya.
"Aku antar pulang ya?" kata Alif menawarkan diri.
"Gak usah, tadi Rizka ngajakin kamu kumpul dulu kan untuk ngambil foto kenang-kenangan anggota osis angkatan kita?"
"Iya sih, tapi aku mau_____"
"Udah sanaaa, Lagian aku mau beres-beres" ujar Sita sambil tersenyum.
"Kamu jadi juga pindahnya?" tanya Alif dengan mata berkaca-kaca.
Sita hanya tersenyum dan memaksa Alif untuk segera pergi keruang osis. Hati Alif tidak bahagia sama sekali, kelulusannya terasa hambar dan dia ingin mengulang waktu terus-terusan. Jangan beranjak maju untuk tidak ditinggalkan dan menjadi kenangan.
Dipersimpangan jalan, Sita melirik kearah jalan sebelah kiri, jalan menuju ke SD mereka dulu.
"Disini nih teman kamu Ismet selalu menunggu kamu, cowok nakal yang suka berisik dikelas!" gumam Sita pelan sambil menunjuk sebuah pohon yang menjadi tempat Ismet berdiri menunggu Ambar dulu. Sita kemudian berbelok kejalan itu. Dia ingin melewati sekali lagi dan melihat sekolah mereka, tempat dia mengenal Ambar, tempat dimana cinta tumbuh dihatinya.
Air mata Sita mengalir melihat SD mereka yang dulu bangunannya masih semi permanet kini dalam masa pembangunan untuk diubah tembok semua. Sita teringat tempat yang Ambar pernah membawanya. Gadis itu melangkahkan kakinya lagi untuk pergi kesana. Kata Ambar tempat itu tenang, sepi dan sejuk cocok untuk orang yang sedang frustasi dengan kehidupan dunia. Saat ini Sita salah satu orang yang frustasi juga, karena itu dia memutuskan mengunjunginya. Melepaskan tangisnya dengan kencang ditepi sungai.
Sesampainya disana Sita duduk diatas batu besar yang pernah didudukinya bersama Ambar. Sambil menutup wajah dengan kedua lutut. Airmatanya tidak berhenti mengalir dia menangis sesegukan karna belum bisa terima jika harus pergi meninggalkan Peringi. Meninggalkan keindahan Peringi, meninggalkan warga Peringi yang terkenal ramah dan humoris. Meskipun dia tidak pernah berinteraksi sama sekali dengan mereka.
Cukup lama Sita menutup wajahnya dan terus menangis ditepi sungai tersebut. Keindahan pemandangan didepan tidak berhasil meredam kesedihan dan kegundahannya, yang ada semakin membuat jantungnya sakit membayangkan semua hal singkat yang sebentar lagi akan ditinggalinya. Sita menangis karna cinta pertamanya gagal untuk dimiliki. Jantungnya yang sakit berubah ingin berhenti berdetak saat merasakan seseorang tiba-tiba duduk disampingnya. Dengan cepat Sita mengangkat kepala untuk menyelamatkan diri karna dia berpikir mungkin saja hantu penunggu sungai. Wajahnya pucat, tangisnya makin pecah, orang yang duduk disampingnya tanpa rasa bersalah malah menatapnya dengan sinis. Tinju Sita melayang tubuh cowok itu.
"Aduuuh..... Sakitnya Tuhan!! Ngapain kamu nangis-nangis disini!" tanya Ambar ketus sambil mengelus dadanya yang sakit karna dipukul Sita.
"Dasar gak tau diri, datang-datang ngagetin!" bentak Sita kesal.
"Aku udah ngucapin salam tapi kamunya aja yang budek!"
"Kalo kamu ngucapin salam gak mungkin aku gak dengar!"
"Kamu emang gak dengar! hantu disini aja dengar kok"
"Jangan ngomong ngaur kamu, beneran_____"
"Emang bener kok, tuh dia ketawa dibelakang kamu karna kamu bud...."
Mendengar perkataan ambar, Sita langsung memeluk cowok itu erat, bulu roma ditubuhnya langsung berdiri semua.
"Hahahaha!! Begoooo" tawa Ambar pecah dan melepaskan pelukan Sita ditubuhnya. Sita yang tadinya sudah tidak menangis langsung mewek seketika, bahkan suaranya terdengar sangat berisik.
"Haduh! Berubah jadi ambulance bawa mayat lagi nih orang" ujar Ambar menutup kupingnya.
Sita terus menangis dihadapan Ambar, tangan cowok itu terangkat dan menolak kepala Sita. Ambar memang dari dulunya tidak suka mendengar suara tangisan Sita.
__ADS_1
"Berisik! Dimasuki penghuni sungai ini baru tahu rasa!" bentak Ambar dengan sorot mata tajam.
"Kamu yang buat suara aku makin berisik tau gak!" bentak Sita keras "Tadi aku adem ayem aja disini sendirian, datang kamu makin hancur hati aku!"
"Oh gitu yaa? Hahaha ya maap" ujar Ambar tanpa rasa bersalah "Ngapain hati kamu hancur? kamu sedih ya bakal ninggalin pacar kamu?"
Sita terdiam, dia menghapus air matanya cepat dan menatap Ambar. Mata mereka berdua saling bertemu, dengan ragu Sita menganggukkan kepalanya. Ambar berusaha tersenyum melihat anggukan Sita untuk menjawab pertanyaannya tadi.
"Ooh Kalo sedih jangan ditinggali, aku yakin dia juga gak mau melepas kamu pergi! wajahnya murung tau gak. Hatinya terlihat hampa kaya judul lagunya Ari Laso gitu"
"Tapi dia gak cegah aku buat pergi" ujar Sita kembali mengeluarkan airmatanya.
"Masa sih? Malu kali buat ngomong ke kamu"
Sita terpaku mendengar ucapan Ambar barusan, dia berusaha mengontrol tangisnya dalam mode silence karna takut Ambar memarahinya.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Sita sambil memalingkan wajahnya dari Ambar.
"Perasaan aku lagi gak tenang, aku kalo gelisah biasanya emang kesini"
Sita menarik nafas panjang dengan jawaban Ambar, padahal harapannya cowok itu datang karna memang ingin menemuinya. Ambar tidak berhenti menatap wajah Sita.
"Kapan kamu pergi?" tanya Ambar dengan suara yang terdengar begitu berat.
"Rabu" jawab Sita singkat
Keduanya kemudian kompak diam sambil bermain dengan perasaan dan pikiran masing-masing. Meski begitu banyak kata yang ingin dibahas tapi mulut mereka terasa berat untuk membicarakannya. Setelah lama diam, tiba-tiba Ambar menarik nafasnya panjang. Hembusannya terdengar begitu kuat. Ambar berdehem pada kerongkongannya yang tidak gatal sama sekali, cowok itu hanya berusaha untuk bisa mengucapkan apa yang harus di katakannya pada Sita.
"Kamu aja duluan" pinta Ambar cepat
"Kamu aja" jawab Sita yang ingin mendengar perkataan Ambar terlebih dahulu.
"Waktu penerimaan lapor, aku sempat mau ngomong sama kamu. Aku mau ngucapin belasungkawa atas meninggalnya nek Lasa" kata Ambar ragu, entah kenapa baru kali dia berbicara gugup dengan orang lain.
"Apa kamu begitu membenci aku sampai gak mau datang?"
"Enggak, saat itu posisi aku lagi diatas gunung sama abangnya Arul, setelah pulang aku kerumah kamu, aku cuma ngomong sama buk Ita, kamunya gak ada"
"Aku didalam kamar, karna hati aku jadi berlipat ganda sedihnya"
"Aku pikir uang aja yang bisa jadi ganda, ternyata sedih juga bisa digandain"
Sita hanya mengangguk merespon ucapan Ambar yang ngaur "Jadi kapan kamu mau pergi?" Ambar kembali mengulangi pertanyaannya.
Sita jadi dongkol mendengar pertanyaan Ambar barusaan 'masih muda tapi udah pikun!' itu yang terlintas dibenak Sita saat itu "Rabu!" jawab Sita ketus.
"Oooh, Ismet sedih saat tau kamu pindah" ujar Ambar pelan.
Sita menoleh kembali menatap Ambar, tapi kali ini justru Ambar yang memalingkan wajahnya "Kenapa emangnya?"
"Gak tau katanya gak ada lagi cewek cantik di Peringi kalo kamu pergi"
"Kalo gitu aku makin semangat meninggalkan Peringi!"
__ADS_1
"Bukan cuma Ismet, Arul juga, Khaidir juga, Thalib apalagi, Abdul, Yudi, Ujang, semua sedih saat tahu kamu bakal pindah"
"Kalo gitu aku memang harus secepatnya pergi dari sini!"
"Tapi..... Diantara mereka semua mungkin hati aku yang paling hancur kalo kamu pergi"
Sita terperangah mendengar perkataan Ambar, mulutnya sulit menjawab perkataan Ambar yang terakhir. Airmata Sita malah mengalir lebih banyak, cowok itu berhasil mempermainkan perasaannya. Sebelum gadis itu menangis dengan kencang, Ambar langsung bangkit dari duduknya. Dia malah memberikan senyum manisnya pada Sita dan menyerahkan sebuah sobekan kertas yang digulung-gulungnya menjadi kecil ketangan Sita.
"Semoga kamu mengerti dan bisa mengabulkannya" ujar Ambar dan berlalu pergi meninggalkan Sita menangis sendirian.
'Non andare via!!' (Jangan Pergi!)
Kemudian disudut bawah tertulis "kalo suka italia bilang dong, kan kita bisa nonton bareng!"
Perasaan Sita semakin tidak karuan memandangi tulisan yang dibuat Ambar, karna dia tidak tahu artinya! Tapi Sita yakin Ambar membaca postingan yang ditulisnya waktu itu. Sita ikutan pulang kerumahnya, dia mengabaikan pertanyaan buk Ita dan langsung meluncur kedalam ruang kerja pak Adam, menghidupkan computer dan mencaritahu arti dari tulisan yang diberikan Ambar untuknya. Sita menutup mulut rapat, pikirannya mantap mengabulkan keinginan Ambar tersebut.
"Heeeh kenapa sih kamu? Gimana? lulus gak?" tanya buk Ita sambil menepuk pundak Sita
"Lulus" jawab Sita singkat
"Alhamdulilah, pinternya anak ibuk, yaudah telfon bapak, dia pasti juga nunggu sekarang"
"Buuuk_____" ujar Sita ragu, dia gugup untuk mengatakan pada ibunya jika keinginannya untuk tetap sekolah di Peringi. Tapi melihat tulisan Ambar ditangannya dia memantapkan diri menuruti keinginan cowok tersebut, Sita memeluk buk Ita erat agar hati ibunya bisa luluh.
"Sita sekolah disini aja ya buk, kita jangan pindah" kata Sita pelan.
"Kenapa?" tanya buk Ita dan membelai rambut anaknya. Jantung Sita sudah dag dig dug memberikan alasan selanjutnya, dia begitu ketakutan ibunya mengeluarkan suara berisik seperti knalpot bocor jika mendengar alasan Sita.
"Yaudah telfon bapak dulu yang penting, kasi tahu kalo Sita udah lulus, masalah itu biar ibuk yang bahas sama bapak" kata buk Ita dan meminta Sita kembali menelfon ayahnya.
Setelah memberitahu pak Adam, buk Ita meminta Sita keluar, membiarkan ibunya yang berbicara dengan ayahnya berduaan. Sita menuruti perintah buk Ita dengan raut wajah harap-harap cemas. Dia begitu ingin buk Ita sepakat dengannya saat ini. Hanya dengan tulisan singkat Ambar mampu membuat Sita ingin terus berada di Peringi, padahal rayuan Alif dan permintaan teman-teman cowok SD nya dulu tidak dipedulikan Sita sama sekali. Sepertinya Ambar sudah menjadi remote pengendali dipikiran gadis itu. Pak Adam langsung kecewa 1000 kali lipat, kali ini buk Ita yang mau mengamini permintaan anak gadisnya.
"Hahaha anak kita sudah dewasa pak" tawa buk Ita terdengar begitu terpaksa karna hatinya jadi setengah bahagia setengah berduka, tapi mau diapakan lagi. Sebagai orangtua buk Ita hanya ingin kebahagaian untuk putri satu-satunya tersebut. Setelah berbicara panjang lebar dengan suaminya, buk Ita keluar untuk menemui putrinya, raut wajahnya langsung kaget melihat Sita duduk dibawah pintu sambil merapatkan kuping kedinding.
"Ngapain kamu!!" bentak buk Ita keras.
"Hehehe" Sita tertawa cengengesan dan langsung berdiri untuk memeluk orangtua yang paling sering memarahinya "Makasih ya buuuk" kata Sita bahagia.
"Iya! Lagian paman kamu juga belum mau jauh dari ibuk semenjak nenek meninggal, oh ya tadi juga Ambar kesini loh"
"Ambar?" tanya Sita sambil mengerutkan kening.
"Dia nanyain kamu, ibuk bilang belum pulang, trus dia bilang gini 'buk jangan pindah ke Malaysia, kalo ibuk pindah kasian pak Handsome salah satu warga tercantiknya jadi hilang, buk Eli juga kasian pelanggan terbaiknya hilang, soalnya cuma anak ibuk satu-satunya disuruh beli gula tapi pas diwarung malah beli gula, kopi sama teh' "
Sita merapatkan gigi mendengar cerita buk Ita "Aagggrhh si Ambar!! Yaudah Sita mau telfon Alif dulu buk, mau kasi tahu kalo Sita tetap sekolah di Peringi"
"Alif? Ambar nya?"
"Alif dulu buk, baru ngasi tau Ambar"
"Haduh naksirnya ama siapa, yang dikasi tau pertama kali entah siapa"
__ADS_1