![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)

Sebuah desa yang memiliki tanah yang subur. Dikelilingi oleh sungai yang indah. Di huni oleh makhluk\-makhluk teramah sejagat raya.
Kata Ambar : Peringi itu mempunyai planetnya tersendiri!
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Pagi ini jalanan desa Peringi hilir sedikit becek karena disirami hujan yang cukup lebat tadi malam. Ismet menunggu temannya didekat sawah, Ambar datang sambil memegang ubi goreng ditangannya, kemudian menyodorkan ubi tersebut kemulut Ismet.
"Tunggu! Aku nyari kerikil dulu" kata Ambar sambil melihat kearea sekitarnya.
"Kamu gak boker lagi tadi dirumah?"
"Enggak. Telat bangun, tadi malam aku dimarah pak Bahrun karena laporan buk Mun"
"Kita hajar si Khaidir ntar" usul Ismet.
Saat itu juga Sita yang akan kesekolah lewat disamping Ambar dan Ismet. Pandangannya terus menunduk tidak mau menatap kearah mereka berdua.
"Ayoo mbar" panggil Ismet dengan temannya yang masih sibuk mencari batu kerikil.
"Iya tunggu batunya belum nemu, ntar perut aku sakit gimana"
Sita langsung tersenyum mendengar perkataan Ambar. Dia tidak habis pikir kenapa Ambar bisa percaya jika memegang batu maka rasa sakit perut kita akan hilang.
"Diledekin tuh kamu sama anak baru"
"Masaa?"
"Iya! Bahunya turun naik turun naik pas kamu bilang sakit perut tadi" ujar Ismet sambil memperagakan gerakan bahu Sita yang tengah menahan tawa tadi.
Ambar langsung berlari bak kilat mengejar gadis itu sampai\-sampai dia lupa jalanan tanah menuju sekolahnya licin dan becek.
"kamuuu!! Huaaaaaa" teriak Ambar sambil menarik tas sekolah Sita berusaha mencari tompangan agar tubuhnya tidak terpeleset.
Sayangnya tubuh anak gadis itu juga tidak bisa menahannya, keduanya kompak terjatuh dan masuk kedalam sawah yang ada disamping mereka. Ismet langsung mendekati keduanya, dilihatnya wajah Ambar pucat menatap Sita.
Dalam hitungan satu, dua, tiga! Sita menangis histeris karena baju sekolahnya kotor semua dengan tanah dan lumpur. Ambar langsung mendekat dan menutup mulut gadis itu dengan tangan. Tujuannya sih untuk meredam suara Sita, tapi sayangnya mulut yang tengah menangis itu malah kemasukan lumpur yang menempel ditangan Ambar.
"Kamu malah nyuapin dia lumpur!" bentak Ismet dengan temannya.
"Iya gimana lagi, dia nangis histeris" jawab Ambar dan melepaskan tangannya dimulut Sita.
Pak Pandi ayah Ismet yang hendak kesawah melihat kearah mereka.
"YaAllah, ngapain sampe masuk disana" Ismet terkejut dengan kedatangan ayahnya dan langsung kabur begitu saja. Pak Pandi masuk kedalam sawah untuk menyelamatkan Ambar dan Sita.
__ADS_1
"Kotor semua kan jadinya, gimana mau sekolah ini? Makanya jangan lari\-lari, jalanan licin, gak bisa sekolah ini" kata pak Pandi setelah berhasil mengangkat keduanya dari sawah.
"Udah diam ya, tuh lumpurnya sampe masuk ke mulut tuh" pak Pandi berusaha menenangkan Sita.
"Rumah adik dimana?" tanya pak Pandi lagi, Sita tetap menangis tidak memberi jawaban.
"Ini anak siapa mbar?"
"Cucu nek Lasa pak"
"Yaudah pulang ya, ganti baju dulu, anter pulang mbar" perintah pak Pandi kemudian pergi.
Ambar yang tadinya kesal kini berubah menjadi ketakutan melihat Sita masih saja menangis. Saat Sita akan pulang Ambar langsung mencegahnya.
"Jangan bilang ke ibu kamu ya" ujarnya memohon karena takut pak Bahrun akan marah jika dia mengganggu anak orang lagi. Sita hanya diam dan terus menangis "Kita bersihini dulu baju kamu ya" bujuk Ambar dan mengajak Sita pergi kesungai.
Ambar membuka semua bajunya dan membersihkan lumpur\-lumpur yang sudah mengotori seragamnya.
"Sini aku bersihkan baju kamu" kata Ambar meminta Sita membuka bajunya juga. Sambil menangis sita memberikan seragamnya untuk dibersihkan Ambar.
Selesai mencuci seragam mereka Ambar mengajak Sita bersembunyi agar tidak ada yang melihat, Sita mengikuti langkahnya meskipun masih dalam keadaan terisak\-isak.
"Kok nangis kamu gak berhenti\-henti sih, panjang banget kayak sirine ambulan bawa mayat" gerutu Ambar kesal karena takut orang\-orang akan melihat persembunyian mereka.
Sita akhirnya mengubah tangisnya kedalam mode silence "Tutup tuh mulut kamu, mangap aja dimasukin makhluk penunggu sungai baru tahu rasa!!"
"Ya habis kamu ngetawain aku karena nyariin batu"
"Lagian kamu nyari batu buat nahan eek, hubungannya batu sama sakit perut kamu itu apa coba, makanya aku ketawa!"
Wajah Ambar langsung merah padam menahan emosinya.
"Jangan lapor ke orang tua kamu ya, ntar aku dimarah" bujuk Ambar lagi, Sita hanya mengangguk dan mengambil baju yang dijemur Ambar didekat batu tadi "Belum kering" cegah Ambar dengannya. Sita hanya diam dan memakai seragam basahnya kemudian pergi meninggalkan anak laki\-laki itu sendirian.
~~~**♡♡♡**~~~
Dia memutuskan kembali pulang kerumah, buk Ita terkejut melihat anaknya pulang dalam keadaan basah kuyup.
"Kenapa kamu?"
"Jatuh!"
"Kok bisa? Lari\-larian ya?"
"Enggak, kepleset makanya jatuh"
"Udah jelas jalanan licin, bukannya ati\-ati!" marah buk Ita dan pergi menemui ibunya disawah.
__ADS_1
Ditengah perjalanan buk Ita berpapasan dengan Ambar yang keadaannya sama dengan Sita "Heee jatuh juga?" sapa buk Ita dengan lembut.
"Iya buk, kepleset"
"Sama, Sita anak ibuk juga jatuh pas berangkat kesekolah, makanya ati\-ati kalo jalan. Tadi malam kan hujan jadinya licin" Ambar menganggukkan kepalanya mendengar nasihat wanita itu "Abang ganteng siapa namanya?"
"Ambar, anak pak Bahrun buk"
"Ouh ini toh anaknya Khadijah, ganteeengnyaaaa" ujar buk Ita gemas dan membelai kepala Ambar "Yaudah pulang ganti bajunya ya, masuk angin nanti pake baju basah\-basah gini" ujarnya lagi.
Ambar menarik nafas lega karena perempuan itu tidak tahu jika dia yang sudah membuat anaknya libur sekolah hari ini.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Pak Bahrun yang sedang menjemur keripik singkong yang sudah dibuatnya kemarin malam terkejut melihat Ambar kembali pulang kerumah. Senyum kecut pria itu terlihat dengan jelas, taring setannya akan keluar. Dengan suara berat pak Bahrun menyapa anak laki\-lakinya.
"Kenapa baju kamu?"
"Kepleset, jatuh disawah!"
"Makanya jalan itu pake mata, jangan pake dengkul!"
"Iya!" jawab Ambar yang balik emosi dan masuk kedalam rumah. Dia masih kesal karena dimarahi tadi malam dengan ayahnya.
Sepulang sekolah Ismet menjemput temannya bermain dilapangan sekolah. Sudah pasti kesenangan anak\-anak adalah bermain tanpa lelah meskipun keringat sepenuhnya membasahi baju mereka dan aroma tubuh sudah berubah seperti ikan yang di asini.
"Khaidir udah aku marahin tadi" ujar Ismet memberitahu Ambar yang sedang beristirahat dari lelahnya mengejar bola lusuh milik Ujang.
"Kok gak sekolah kamu tadi mbar?" tanya Ana dan Iput yang baru selesai bermain masak\-masakan diteras kelas.
"Kamu nakalin anak baru itu ya?" Abdul menebak alasan kenapa temannya tidak hadir.
"Enggak!!"
"Soalnya dia gak datang juga tadi"
"Mungkin aja dia pindah ke kota lagi!" jawab Ambar dengan santainya.
~~~**♡♡♡**~~~
"**Ambar dulu waktu kecil hobinya simpan kerikil di kantong celananya, buat nahan eek**!" ~ sita
~~~**♡AmbarSita♡**~~~

__ADS_1