![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Sedangkan diperingi Suci adiknya Khaidir sedang asyik ngobrol dirumah Hening. Tujuan gadis yang sedang digila-gilai oleh Arul itu ingin melihat Ambar. Tapi hatinya sudah berhasil dibuat patah dari informasi yang diberikan Hening.
"Lagian kamu kenapa naksir bang Ambar, dia itu jahat banget loh sama....... Aku!" ujar Hening dengan raut wajah kesal.
"Ya kan sama kamu! Dengan aku enggak, bang Ambar ramah, selalu senyum kalo ketemu! Bang Ambar juga ganteng, lucu"
"Ganteng apaan? Gantengan bapak aku dimana-mana!" ketus Hening yang memang tidak pernah berdamai dengan abangnya tersebut.
"Kamu juga naksir bang Ismet, padahal dia sama Arul gak ada bedanya! Jelek!"
"Bang Ismet sama dengan bang Arul? Beda jauh dong! Bang Ismet itu mirip oppa Choi Siwon, tinggi, ganteng cuma kulitnya aja rada gelapan bang Ismet dikit, berkharisma, dewasa juga...... huuuu bang Ambar aja kalah sama dia!" ujar Hening membela pujaan hatinya.
Suci bergidik ngeri mendengar Hening membandingkan Ismet dengan cowok boyband korea yang begitu terkenal pada zaman mereka.
"Haduuh Kak Sita ya?" gumam Suci lemah membayangkan gadis cantik dan terkenal pintar didesa mereka akan menjadi pesaingnya.
"Udah pasti kalah sih aku kalo saingan sama kak Sita" ujarnya lagi dengan pasrah.
"Hahaha Iya! Mending kamu terima aja cintanya bang Arul tuh, lebih baik dicintai dari pada mencintai ci!" nasihat Hening sok dewasa.
"Tidak semudah itu membuka hati" gumam Suci pelan.
Malamnya hari dibalai desa, teman\-teman Ambar sudah menuntutnya dengan PJ yang wajib Ambar berikan untuk mereka.
"Yaudah ke warung buk Eli aja" ujar Ambar pasrah dengan tuntutan teman\-temannya.
"Ok Guys.... Ayo meluncur!" teriak Abdul sebagai pemimpin.
"Hahahah anjiir" tawa Ambar melihat teman\-temannya seperti serdadu yang dikendalikan oleh Abdul.
Semua langsung berlari ketempat primadona Peringi hilir tersebut. Buk Eli tersenyum sumringah melihat warungnya rame.
"Buk, catat!" perintah Ambar dengan santai. Senyum buk Eli langsung hilang seketika.
"Kirain mau bayar langsung, ternyata bon!"
Semua cowok\-cowok itu tidak peduli dengan ocehan buk Eli, mereka langsung mengambil beng\-beng satu persatu dan memakannya dengan lahap.
"Mbar... Aku mau beras sama minyak aja boleh? Buat ibuk ku?" tanya Ujang dengan polosnya.
teman\-temannya langsung tertawa mendengar perkataan Ujang termasuk buk Eli juga.
"Itu PJ apa sumbangan sih Ujang ganteng!!" kata Ambar menahan amarahnya
"Tau nih, pantesan aja si Ana gak mau sama kamu be\_\_\_\_"
Ismet langsung menyikut tangan Arul agar dia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi terlambat sudah hati Ujang langsung patah mendengar ejekan Arul.
"Buk Baygon nya satu" pinta Ujang lemah.
Ismet langsung duduk disamping Ujang dan menepuk\-nepuk pundak cowok tinggi kurus tersebut. Tiba\-tiba Suci dan Hening juga ikutan datang kewarung.
"Hai Suci manis" sapa Arul dengan ramah.
Suci sempat melirik kearahnya setelah itu mengalihkan pandangannya pada Ambar. Sesekali gadis itu mencuri\-curi pandang dengan abang temannya. Merasa dirinya di amati seseorang Ambar langsung menoleh kearah orang tersebut dan dia menjadi gugup seketika saat matanya dan mata Suci saling bertemu. Setelah asyik bercerita, Suci mengajak abangnya pulang bersama dengannya. Khaidir menuruti permintaan adiknya, ditengah perjalanan Suci langsung merangkul lengan Khaidir.
"Bang, bang Ambar pacaran ya sama kak Sita?" tanya gadis itu pelan.
"Iya, keren gak tuh si Ambar bisa dapetin hatinya kak Sita, udah lebih dua bulan malahan mereka sembunyi\-sembunyi sekarang deh baru dikasi tahu kami nya"
Suci menarik nafas mendengar jawaban abangnya yang begitu bersemangat dengan kisah asmara Ambar dan Sita.
"Suci juga naksir bang Ambar" ujarnya blak\-blakan, Khaidir sampai menghentikan langkah kakinya dan memandangi adiknya tersebut.
"Serius? Sejak kapan? Gak boleh!!" ujar Khaidir dengan tegas.
"Karna kak Sita juga temannya abang? Jadi bang Khaidir lebih mikirin perasaan kak Sita dari pada Suci?"
__ADS_1
Khaidir diam sejenak dengan pertanyaan Suci, memang benar dari SD dia mengenal Sita hingga kelas 2 SMA ini pun mereka masih satu kelas. Jadi tidak mungkin dia membiarkan Suci merusak hubungan dua temannya itu meskipun Suci adiknya sekalipun.
"Sita memang temannya abang, kamu adiknya abang! Tapi ingat yang namanya merusak hubungan seseorang itu tetap salah dan gak boleh dibela siapapun orang tersebut! Lagian Arul juga suka sama kamu tuh" jelas Khaidir dengan adiknya.
"Ya kan kita gak bisa mencegah hati kita buat jatuh cinta dengan siapapun bang, rasa itu tumbuh begitu aja, lagian kayanya Suci dulu yang naksir bang Ambar baru kak Sita!"
"Hahaha mereka itu teman satu kelas dulunya, asalkan kamu tau mereka bahkan teman satu bangku. Karna Ambar tinggal kelas aja jadinya mereka terpisah ci!" Khaidir terus berupaya membuat Suci menghilangkan perasaaannya pada Ambar.
"Lagipula kenapa harus Ambar sih!" ujar Khaidir ketus.
"Emangnya kenapa? Bang Ambar baik, rajin sholat! Mungkin lebih rajinan bang Ambar dari pada abang! Pinter juga, lucu orangnya!"
"Kalo kalian sampe nikah ntar galakan adik iparnya dari pada abang! Gak usah! Kamu..... aiiiish... Jangan pokoknya!!" sanggah Khaidir lagi.
Suci hanya diam dan berjalan meninggalkan abangnya duluan. Sebenarnya larangan Khaidir tersebut ada maksud tertentunya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Hening! Dia mencintai adik Ambar itu, jadi kalau Suci sempat merebut Ambar dari Sita maka hatinya terpaksa mengalah.
"Entar bakal dikira barter adik lagi!" gumam Khaidir pelan sambil mengikuti langkah adiknya.
Suci kembali menoleh kearah abangnya yang masih manyun.
"Abang gak usah khawatir! Suci gak akan mengganggu hubungan mereka berdua kok, tapi Suci akan tetap tunggu bang Ambar putus dari kak Sita" kata gadis itu lagi sambil tersenyum.
~~~\*\*♡AmbarSita♡\*\*~~~
Keesokannya gossip Sita berkencan dengan Ambar menyebar luas disekolah mereka masing\-masing. Teman\-teman Ambar memang mulutnya bocor semua. seluruh murid SMA Peringi yang paling heboh karena mereka berpikir Alif lah pacar Sita selama ini.
"Na... Kamu udah dapat gosip belum? Ambar pacaran loh sama Sita" ujar Iput teman SD mereka berdua dulu.
"Bener gak sih itu? Aku masih belum percaya tapi Imay juga nanyain ke Ambar tadi pagi. Gila gak tuh si Ambar, padahal kan kita tahu Puuuut dulu Sita korban bully dia loh!" Ana pun ikut tidak percaya jika Ambar dan Sita ternyata berpacaran.
Ana tertawa bahagia dan berlalu meninggalkan Iput untuk menemui Sita dikelasnya sekalian memberikan selamat dengan teman kecilnya itu. Andin dan Putri yang berdiri didepan pintu kelas mereka langsung terpaku dengan obrolan dua orang tersebut.
"Padahal waktu itu dia bilang Ambar udah punya pacar tapi sekarang malah dia yang jadi pacarnya Ambar!" bisik Putri ketelinga temannya. Andin hanya menganggukkan kepala sepertinya didalam benaknya saat ini Sita adalah gadis munafik.

Siang setelah pulang sekolah Ambar sudah ditunggu Sita ditempat biasa. Senyum gadis itu tidak bisa disembunyikan setiap melihat wajah Ambar. Belum Ambar sampai dihadapannya dia sudah langsung menyusul dan menggandeng tangannya. Ambar melihat kesekeliling, kosong tidak ada orang kemudian dia ikut tersenyum dan membelai rambut Sita dengan mesra.
"Gak puas\-puas apa nempel sama aku?"
Sita langsung mantap menggelengkan kepala, saat sampai didepan jalan rumah Sita, Ambar baru melepaskan genggaman kekasihnya itu.
"Nanti mau kemana?" tanya Sita yang ingin meminta waktu Ambar lagi.
"Kenapa?"
"Aku mau berduaan lagi sama kamu boleh?"
"Hahaha kemarin dari pagi sampe sore loh"
"Ya gak apa\-apa, namanya juga orang pacaran kalo bisa 24 jam, yaaaa?"
"Lagian kita mau ngapain berduaan mulu, terus apa fungsinya Rindu?" tanya Ambar dengan senyum manisnya.
"Kalo gitu makan siang dirumah aku yaaa, habis itu baru deh kamu main sama teman\-teman kamu, yaaaaa?"
Ambar langsung menggelengkan kepalanya. Kali ini Sita tidak akan memiliki kesempatan untuk mencuri waktu Ambar. Dengan terpaksa gadis itu nurut dan melepaskan Ambar untuk pulang.
__ADS_1
Saat sampai dirumah wajah Ambar yang tengah bahagia langsung berubah seketika melihat Suci duduk diruang tamunya. Gadis itu yang menjawab salam Ambar.
"Tumben pulang sekolah Suci kesini, Hening mana?" tanya Ambar ramah seperti biasanya.
"Hening lagi anterin makanan ke tempat pak Bahrun sama buk Khadijah, bang Ambar baru pulang sekolah?"
"Pulang ngerampok ci" jawab Ambar ngasal karna jelas\-jelas dia pulang dengan seragam sekolah tapi Suci malah berbasa\-basi busuk memberi pertanyaan.
"Hahaha mana ada perampok ganteng gini" jawab gadis itu blak\-blakkan.
Ambar tersenyum dengan jawaban Suci, siapa juga yang tidak akan senang dibilang ganteng oleh cewek manis. Ambar geleng\-geleng kepala menutupi rasa malunya dan masuk kedalam kamar. Dia duduk dikasurnya cukup lama meski perutnya sudah kelaparan tapi mau keluar segan rasanya karna saat ini hanya dia dan Suci saja berduan dirumah.
"Aaah tau gitu makan dirumah Sita" gumam Ambar pelan.
"Tapi.... Kenapa tiba\-tiba jadi malu ama tu bocah? Toh dia emang biasa main kerumah, diliatin dia juga ya wajar, dia punya mata!"
Ambar terus berceloteh sendiri didalam kamarnya. Rasanya perut Ambar sudah tidak bisa berkompromi lagi, dia akhirnya keluar dan berlalu kedapur. Ambar lebih peduli nyanyian perutnya yang keroncongan daripada rasa malunya pada Suci. Selesai makan siang Ambar kembali keruang tamu dilihatnya Suci yang tengah asyik memainkan ponsel.
"Hening belum balik juga, kenapa lama ya?"
"Belum bang, iya kenapa jadi lama ya?"
"Jangan\-jangan diculik pak Handsome, Suci udah makan? Makan tuh di dapur kalo lapar"
"Ah bang Ambar udah selesai makan baru nawari Suci. Kan Suci mau makannya berduan sama bang Ambar"
"Haa? Hahaha lupa nawari tadi, yaudah abang mau ke balai dulu ya" pamit Ambar dan akan meninggalkan Suci dirumahnya sendirian.
"Bang" panggil Suci menghentikan langkah kaki Ambar.
Cowok itu kembali menoleh, kali ini Suci berjalan mendekatinya. Sorot matanya lekat memandangi wajah Ambar yang terlihat begitu kebingungan.
"Ada yang mau Suci sampaikan sama bang Ambar" ujar gadis yang usianya berjarak 3 tahun dengan Ambar tersebut. Ambar hanya menganggukkan kepala, hatinya sudah berdetak tidak berirama melihat sorot mata gadis dihadapannya.
"Suci suka sama bang Ambar" kata Suci mantap.
Ambar langsung terpaku mendengar perkataan Suci barusan. Gadis ini benar\-benar berani mengungkapkan perasaannya secara terang\-terangan.
"Suci tahu bang Ambar lagi pacaran dengan kak Sita saat ini. Suci gak bermaksud merusak hubungan kalian atau berusaha merebut hati dan perhatian bang Ambar dari kak Sita. Suci cuma berusaha mengungkapkan perasaan yang Suci rasakan. Karna memendam rasa tanpa berani mengatakannya itu tidak menyenangkan. Maaf Suci terlalu blak\-blakkan tapi sekarang Suci udah lega karna berhasil ngasi tau bang Ambar. Sekali lagi maaf, semoga bang Ambar tidak berubah setelah mengetahui ini. Sekaligus.... tolong beri kesempatan untuk Suci menunggu"
Ambar sampai membuka mulutnya mendengar perkataan dan pemintaan Suci tersebut. Dia berusaha mengontrol perasaannya yang gugup. Cowok itu juga kebingungan mau merespon bagaimana. Yang jelas saat ini hatinya hanya untuk Sita. Ambar menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal untuk menutupi kecanggunggannya. Meski Suci begitu manis dimatanya tapi Ambar tidak pernah berniat memberi rasa dengan adik temannya sendiri.
"Aduh abang bingung mau ngomong apa nih" ujar ambar sambil menelan ludah. Sudah dua wanita yang berhasil membuat Ambar jadi gugup seperti ini.
"Bang Ambar gak merespon juga gak apa\-apa. Kan Suci hanya berusaha ngomong jujur ke bang Ambar, meski bang Ambar gak ada rasa sama Suci tapi setidaknya bang Ambar tahu perasaan Suci kan. Jadi... ya.... Hahahah kita jalani seperti biasanya. Aduh Suci ngomong apaan sih" ujarnya yang malu sendiri setelah berhasil mengatakan apa yang dipendamnya.
"Gak perlu malu, bang Ambar salut sama keberanian Suci"
Suci tersenyum dengan jawaban Ambar "Makasih ya atas pengertian bang Ambar"
Ambar mengangguk sekali lagi dan pergi meninggalkan Suci dirumahnya, niatnya untuk kebalai desa jadi hilang. Ambar berbelok kerumah Sita. Mendengar pintu rumahnya diketuk Sita langsung keluar. Wajahnya tersenyum lebar melihat Ambar.
"Katanya mau ke balai desa?"
"Gak jadi, kangen sama kamu. Ayooo ke sungai"
"Serius?" tanya Sita sedikit tidak percaya karna Ambar yang mengajaknya pergi kali ini.
"Kamu gak mau?"
"Mauuuuu!!" jawab Sita cepat dan mengikuti Ambar menuju ke sungai indah mereka.
__ADS_1
