![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Setelah masuk sekolah Ambar kini menjadi murid kelas tiga SMP dan ranking tiga Ambar berhasil dipertahankannya dengan baik. Begitu juga dengan Sita gadis itu kini duduk dikelas dua SMA dan tetap menyabet juara umum nilai tetinggi di SMA Negeri Peringi Hilir.
Kebiasaan Sita pun masih tetap sama, menunggu Ambarnya pulang sekolah untuk sekedar memandanginya setelah itu barulah hati Sita puas dan masuk kedalam rumah. Meskipun hubungan keduanya kembali dekat tapi status Ambar dan Sita tidak pernah berubah. Tetap menjadi 'Teman tapi mesra' sama hal nya seperti Alif.
Hanya saja cowok tinggi itu sedikit lebih beruntung dari Ambar karna bisa menjalin hubungan mesranya secara terang-terangan dengan Sita. Sedangkan Ambar, kedekatan mereka terus disembunyikan dari khalayak ramai. Sudah seperti status hubungan percintaan bintang Hollywood.
Dalam pikiran Ambar adalah gadis cantik nan kaya raya itu 'Malu' mengakui keberadaannya. Meski begitu Ambar tetap mau menjadi TTM nya Sita karna makin lama rasa sayangnya semakin besar untuk gadis cengeng tersebut dan berharap suatu hari Sita bisa 'Menerima keadaannya' dan mengakui kedekatan mereka, dengan begitu Ambar bisa menyatakan perasaanya pada Sita.
Sita menatap kaca dimeja riasnya. Hari ini tanggal merah jadi dia berencana untuk duduk dipinggiran sungai bersama Ambar. Sesekali Sita tersenyum menatap dirinya sendiri kemudian hatinya berubah gundah lalu tersenyum lagi.
"Aiiish udah kaya orang gila aja Sita kalo lagi mikirin Ambar. Aduh tuhan! Tolong buat hati Ambar itu peka sedikit, kapan dia mau nembak Sita jadi pacarnya?!" gumam Sita dengan sendirinya.
Rasanya sampai Abdul berubah jadi Armadillo pun, jika keduanya masih saja terus menunggu satu sama lain maka tidak akan ada namanya 'Bibit unggul' dari Ambar dan Sita.
~♡AmbarSita♡~
"Dulu kamu bilang sama Andin pengen punya pacar yang pinter masak ya?"
"Haa? Iya, biar bisa dimasakin terus"
Sita tersipu malu mendengar jawaban Ambar "Kamu udah pernah juga kan nyobain masakan aku" ujar Sita mengingatkan Ambar soal nasi goreng yang pernah dibuatkannya untuk Ambar.
"Iya, enak, pake banget malahan. Ternyata kamu pinter masak ya" puji Ambar, dia tidak tahu jika buk Ita lah pahlawan dari ayam balado dan nasi goreng tersebut.
"Besok mau aku masakin lagi gak? Aku bawain kamu bekal ya?"
Ambar terdiam, kali ini dia teringat luka lama tentang 'Penampungan' dan 'Orang miskin' yang pernah menyakiti hatinya. Tapi Sita langsung menggenggam tangan Ambar erat, memohon agar cowok itu mau mengabulkannya.
"Please, mau yaa?" bujuk Sita dengan wajah memelas. Ambar hanya mengangguk pelan dan berusaha tersenyum simpul menatap Sita.
"Boleh deh, sekalian aku memastikan kamu itu calon istri yang baik atau bukan"
Sita tersipu malu mendengar perkataan Ambar, cowok itu langsung menarik rambut Sita yang terikat.
"Ngapain kamu senyum-senyum?! Oh ya besok gak perlu tunggu aku dipinggir jalan. Kamu berangkat seperti biasa aja. Biar aku yang jemput kesekolah kamu" Sita mengangguk setuju, hatinya jadi berada di level paling bahagia lagi. Dia berhasil membujuk Ambar untuk mau mencoba masakannya kembali.
*****
Keesokannya Ambar menunggu Sita dijalan yang ada didekat sekolahnya. Ambar menahan tawanya saat malihat gadis cantik itu datang dengan menenteng tas bekal ditangannya. Sepertinya dia memang menepati janji untuk membuatkan makanan untuk Ambar.
Sita tersenyum sumringah "Niih" ujarnya sambil menyerahkan tas bekal ke tangan Ambar.
"Kabur yuuk" ajak Ambar dengannya.
"Heee? Kabur? Dari apa?"
"Aduh salah bukan gitu dink ngajaknya, kamu mau aku culik gak?"
"Ngapain? Hahahah Aneh! Udah sana ntar kamu telat"
"Mau aku culik gak sih?" tanya Ambar lagi mengulangi.
"Ya Enggak lah, Ngap____"
"Kalo gak mau aku paksa rencananya" potong Ambar cepat.
"Kalo aku gak mau?"
"Aku gendong!"
"Hahhaha Aneh kamu mah, udah sanaaaa aku mau masuk nih"
Ambar langsung menarik tangan Sita untuk menjauh dari sekolahnya. Sita merasa kebingungan namun anehnya dia tetap saja mengikuti langkah kaki Ambar. Mereka pergi kedermaga, Sita menatapnya heran.
"Ngapain ke dermaga, kamu ngajarin aku bolos ya? Aku lapor pak Bahrun ntar"
"Jangan! Ke Mandau yuk lagi ada acara di Mandau"
"Trus sekolahnya?"
"Kalo sekolah terus bisa dikutuk jadi buku ntar kamunya"
"Siapa yang mau ngutuk aku emangnya?"
"Aku! Hahahaha, Yaudah tunggu disini dulu ya. Jangan kabur loh, kalo kabur ntar rumah kamu aku bom!"
Sita semakin tidak bisa menahan tawanya mendengar celetukan Ambar. Dipandanginya pemuda tampan itu yang mulai menjauh entah kemana. Yang jelas dia pasti menunggu, jika di suruh Ambar tunggu Sita memang melakukannya. Beberapa menit kemudian Ambar datang dengan sepeda.
"Punya siapa itu?"
"Buk Eli" jawab Ambar singkat.
"Udah pinjem belum? Ntar dia nyariin, bahaya loh"
"Udaaaah"
"Boong, Gimana tadi minjem nya?"
"Anjeli pinjam sepedanya ya? Iyaaah pake aja Rahul. Makasih Anjeli. Iyaah sama-sama Rahul" kata Ambar yang ikut mengubah bunyi suaranya.
"Nah kan bener boong"
"Kamu mah gak percaya sama aku"
"Ya gimana mau percaya, masa mesin molen disamain dengan Anjeli"
Mendengar perkataan Sita, Ambar langsung menutup mulut gadis itu dengan cepat.
"Hahahahah Jahat nih mulutnya. Wah Sita parah, diam-diam mulutnya kejam"
"Hahaha kan kamu yang ngomong waktu itu"
"Udaah ketawa mulu, gak sampe-sampe entar"
Ambar kemudian memanggil bapak-bapak pemilik perahu yang sedang memarkirkan perahunya didermaga "Kasih kami lewat dong pak" ujar Ambar memelas dengan pria yang sepertinya berumur 30 tahunan tersebut.
"Anak gadis siapa kamu curi? Hayoo dimarah pak Bahrun kamu entar" ujar pria tersebut.
"Loh kok tahu Ambar nyuri!! Detektive ya?? Biarkan kami lewat ya pak, please"
__ADS_1
"Pasti kamu mau bolos sama adik cantik ini ya?! Aduh adik cantik jangan mau sama Ambar, Mulutnya jahat!"
"Jangan didengerin! Bapak ini kalo kentut bau" sanggah Ambar sambil membantu Sita naik keatas sepedanya.
"Emang ada kentut yang wangi?!!"
"Ada pak, Kentutnya uang wangi pak,"
"Ngasal aja kamu ini, tenggelami juga nih!"
"Loh jadi adegan Titanic dong perahunya bapak"
Sita hanya bisa menahan tawanya mendengar setiap pembicaraan Ambar dengan pria tersebut. Karakter pendiamnya benar-benar hilang jika bersama Ambar. Sesudah menyeberang sungai, keduanya langsung berangkat ke tempat tujuan. Ambar mengayuh dengan penuh semangat menuju ke lapangan kota yang sedang mengadakan acara festival rakyat.
Padahal dulu saat Alif yang mengajaknya ke Mandau dengan sepeda, Sita ogah-ogahan untuk pergi. Karna laki-laki dan perempuan yang bergoncengan sepeda di kota Mandau akan dikira dua sejoli yang tengah pacaran. Tapi dengan Ambar, justru Sita yang menjadi bersemangat. Sekaligus pamer pada semua makhluk yang ada disana jika 'Pria ganteng ini milikku!' begitu yang ada didalam pikiran Sita.
"Haaah.... Capek juga" keluh Ambar yang mulai memperlambat kayuhan kakinya, sepertinya dia mulai kelelahan.
"Mau gantian gaaak?"
"Kamu mau goncengi aku? Yakin?"
"Yakin!!"
"Janganlah! Ntar dikira kakak yang lagi ajak adiknya main lagi" kata Ambar merujuk pada seragam yang mereka gunakan
"Hahahah kok adiknya lebih tua dari kakaknya?"
"Masaaa? Aku ini imut tahuuu! Dulu aja orang-orang desa rebutan buat cium pipi aku"
"Sekarang?"
"Sekarang juga masih!! Kamu aja yang gak tahu"
"Siapa orangnya?"
"Ada deh, ntar kamu cemburu lagi"
"Iih cewek apa cowok nih?"
"Cewek dong! Masa cowo emang aku bengkok"
"Siapa?!" tanya Sita yang mulai berubah nada suaranya. Ambar sampai-sampai menoleh kebelakang melirik kearahnya yang tiba-tiba cemberut.
"Idih kenapaaaa kamu? Makin berat nih kalo mulutnya maju gitu"
"Biariiin!!"
"Tahan napaaas, biar ringan!" ujar Ambar mencoba untuk menggodanya lagi. Sita tetap diam, dia masih ngambek mendengar perkataan Ambar tadi.
Sesampainya dilokasi Ambar langsung memarkirkan sepedanya ditempat parkir kendaraan. Suara musik terdengar begitu keras keadaan juga begitu padat. Banyak stand-stand yang berjualan di area lapangan saat ini. Sita yang tadinya terus tersenyum dan tertawa berubah menjadi tidak bersemangat. Meskipun Ambar menggandeng tangannya menuju ketempat makanan gratis, apalagi yang dicari Ambar jika bukan itu.
"Kenapa sih? Manyun aja?" tanya Ambar sambil menyodorkan ongol-ongol kemulut Sita. Gadis itu menepis tangannya dan membuang muka. Dia masih kesal, Ambar pun kebingungan dengan perubahan sikap Sita.
"Haaah Padahal mau senang-senang kesini. Kalo gitu nyesel udah nyulik kamu, mending aku nyulik Ismet atau Arul deh"
Sita tetap diam dia kemudian berlalu begitu saja untuk meninggalkan Ambar. Cowok itu benar-benar tidak peka padahal dia yang tadi memancing kecemburuan Sita. Tapi sekarang Ambar justru tidak tahu alasan kenapa Sita jadi marah. Ambar menarik tangan Sita sebelum gadis itu semakin berjalan menjauh.
Sita terus saja diam, meskipun Ambar sudah mengajaknya masuk kedalam beberapa stand yang berpartisipasi dalam pameran tapi tetap saja tidak ada respon darinya.
"Kenapa sih kamu, aku jadi kesel juga nih bawaannya" Ambar mulai terpancing emosi karena sikap diam Sita. Sita melepaskan genggaman Ambar dari tangannya.
"Haaaah" Ambar menarik nafas panjang dan menatap wajah Sita yang masih saja cemberutan. Biasanya jika ditatap Ambar, Sita akan tersipu malu atau mengelakkan muka untuk membuang senyuman. Tapi kali ini tidak, Sita justru balik memandangi wajah Ambar. Dia begitu kesal entah kenapa dia cemburu dengan hal tadi.
"Ayo pulang, aku juga jadi males!!" ajak Ambar ketus.
Sita tetap diam dan berjalan duluan menuju ketempat mereka memarkirkan sepeda. Kali ini dia yang jadi cemas karena marahnya berhasil memancing emosi Ambar. Bahkan suasana hati cowok itu ikut-ikutan tidak enak. Ambar naik keatas sepeda, Sita tetap berdiri disampingnya. Kalau dia naik maka sesampainya di Peringi hilir Ambar tidak akan mau menemuinya lagi.
"Ayoo naik, mau pulang gak?!"
Sita mengalihkan pandangannya dari Ambar, kini dia juga ketakutan. menyesal kenapa harus lama-lama ngambek dan cuekin Ambar?! Jelas-jelas tu anak enggak sabaran orangnya. Padahal mah Sita 'Cuma mau di bujuk, dirayu, diapain kek' coba dong Ambar mengerti perasaan cewek' itu yang ada didalam benak Sita.
"kalo gak naik juga aku tinggal nih!!"
Saat Ambar akan mengayuhkan kakinya, Sita langsung menarik baju Ambar. Bibir cemberutnya makin maju, kemudian menangis. Air matanya sudah jatuh kepipinya yang putih bersih. Ambar kaget, takut-takut Sita malah mewek kaya anak kecil ditempat orang rame seperti sekarang ini.
"Nanti aja pulangnya" ujar Sita pelan tapi masih terus mengeluarkan airmata. Ambar menghapus airmata Sita kemudian turun dari sepeda kembali.
"Yaudah kalo gitu jangan ngambek-ngambekan lagi! Kalo gak aku kutuk beneran jadi buku!!"
Mendengar perkataan Ambar, Sita sebenarnya ingin menangis lebih kencang. Tapi Ambar langsung menutup mulutnya.
"Bisa dihajar masa aku nih kalo kamu mewek kaya anak kecil disini, dipikir aku melakukan hal tercela sama kamu!"
Sita mengangguk mengerti, dia tidak akan menangis sambil mengeluarkan suara seperti yang diperintahkan Ambar.
"Ayooo jalaaan" rengek Sita sambil menggandeng lengan Ambar.
"Aah kamu paling pinter merubah mood seseorang, jadi males sekarang aku nya"
"Aaaaaa Ayo jalaaaan!! " rengek Sita lagi, air matanya bahkan masih keluar juga.
"Gendoooong" ledek Ambar ikutan merengek seperti yang dilakukan Sita.
Sita memukul kepala Ambar dengan pelan "Aku yang harusnya minta gendong!"
"Yaudah sini aku gendong"
"Kuat emang?"
"Kuat dong, 10 ronde bakal aku jabanin"
"Apaan!? Ayo kita cari makan gratis lagi" ajak Sita cepat agar suasana hati cowok itu bisa kembali membaik dan tidak mengajaknya pulang.
Rasanya semua stand yang menjajakan makan gratis sudah mereka kunjungi. Ambar terduduk puas di kursi yang disediakan sambil mengelus-elus perut. Dari dulu dia gak berubah, makannya tetap banyak. Tapi anehnya badannya gak bisa gendut kaya Yudi teman SD mereka dulu.
"Kenapa ya kalo makanan gratis itu rasanya niiiiikmaaaat banget" ujar ambar heran. Sita langsung tersenyum mendengar perkataan Ambar.
__ADS_1
"Kalo bayar enggak enak ya?"
"Enak sih, tapi enakan makanan gratis. Apalagi kalo gratisan dari temen, wuiih rasa sedapnya ampe besok di lidah"
"Hahaha masa? Aku dikasi makan gratis dari Alif gak ngerasa enak tuh"
"Emang kamu pernah di kasih gratisan sama Alif?" tanya Ambar sedikit tidak percaya.
"Pernah. Waktu kami pergi Olimpiade ke Jakarta itu, aku ditraktir terus sama dia"
"Wuiiih enaknya kamu, makan apa aja?"
"Banyaak! Dodol yang aku kasi ke kamu, itu kan Alif yang beli sebenarnya"
"Aseeem, aku mintanya oleh-oleh dari kamu malah dikasi yang dari Alif. Berarti kemarin itu kamu gak beliin aku oleh-oleh dong"
"Gantungan kunci? Itu kan aku yang beliin, trus baju kaos jugaaa"
"Apaan! Gantungan kunci, baju! Itu semua kan gak bisa dimakan! Kalo menurut aku oleh-oleh itu yang berjenis makanan!"
"Hahaha kamu mah mikirnya keperut aja sih"
"Jadi____" Ambar menghentikan perkataannya dan memandangi wajah Sita yang sudah mulai sumringah kembali. Sambil menelan ludah dia berusaha melanjutkan kalimatnya.
"Kamu ngapain aja sama Alif di Jakarta? Jalan-jalan juga ya kalian?"
"Ya biasa, ikut lomba doang. Itu pun gak menang Hahahaa" ujar Sita semakin tertawa puas mengingat kegagalan mereka bulan lalu.
"Tapi lama juga loh kalian di sana"
"Iyaa kami diajak jalan-jalan sama buk Asma, soalnya uang yang dikasi sekolah masih sisa banyak. Jadi kami manfaatin deh. Kata buk Asma untuk menghibur diri kami yang gagal duluan" Ambar hanya menganggukkan kepala mendengar cerita gadis itu.
"Kenapa?" tanya Sita heran.
"Enggak ada, Kenapa apa nya?" kata Ambar berusaha menutupi perasaannya. Sita menggeleng, tapi masih tidak percaya dengan jawaban Ambar.
"Yang pergi bukan kami berdua aja, ada anak kelas 2 dan 3 juga waktu itu" ujar Sita berusaha menenangkan hati cowok yang duduk dihadapannya.
Ambar hanya mengangkat alis untuk merespon perkataan Sita, sambil terus mengeluarkan senyum palsunya. Sita masih tidak puas, tapi kalau ditanya pun Ambar akan tetap mengeluarkan jawaban yang sama. Sita meraih tangan Ambar, dia menggenggam tangan cowok itu dengan erat.
Mereka diam, sama-sama bingung akan mengatakan apalagi. Saat ini diam adalah pilihan terbaik. Cukup lama keduanya diam, tangan Sita masih menggenggam tangannya Ambar. Suara musik dan keramaian orang-orang disana seperti tidak terdengar sama sekali oleh kedua orang tersebut.
"Ngantuk kalo kenyang begini" Ambar akhirnya mengeluarkan suara duluan.
Sita melihat jam yang ada ditangannya, masih pukul 11.30 perjalanan mereka untuk pulang membutuhkan waktu hampir 30 menitan kalo menggunakan sepeda. Sebenarnya bisa saja mereka pulang saat ini, tapi Sita enggan! dia ingin terus berlama-lama dengan Ambar.
"Bentar lagi sholat zuhur"
"Jam berapa emangnya?" tanya Ambar yang matanya sudah seperti orang sawan obat-obatan terlarang saking mengantuknya.
"11.30, kita sholat disini aja" usul Sita cepat.
Ambar melepaskan genggaman Sita, kemudian menggaruk kepala. Dia tengah berpikir mau setuju atau tidak. Sita berdoa dalam hatinya 'Tolong setujulah'. Doa sita dijawab dalam sekejab. Ambar langsung mengajaknya pergi ke masjid yang terdekat.
"Sekalian kita numpang istirahat di masjid" ujar Ambar sambil membuka sepatu sekolahnya.
Sita juga ikutan menyusul Ambar yang pergi ke teras belakang mesjid. Ambar dari dulu gak berubah, bisa tidur dimana pun dan dalam keadaan apapun. Setelah memastikan lantai keramik Mesjid bersih, Ambar langsung duduk dan menyenderkan punggungnya ke dinding sambil memejamkan mata. Sita pun ikut duduk disampingnya.
"Jangan dekat-dekat, kamu sana deh duduk depan aku aja" kata Ambar saat tahu Sita sudah ada disampingnya.
"Kenapaaaa?" tanya Sita dengan cemberut, padahal dia kan ingin terus disamping Ambar.
"Gak enak sama orang yang lewat. Apalagi ini Mesjid, dikira gak sopan. Udah sana, ntar kalo Azan bangunin ya, soalnya aku kalo tidur suka gak sadar"
Sita mengangguk dan merubah posisinya pindah dihadapan Ambar. Dalam sekejap cowok di depan Sita itu memang langsung terlelap dan mungkin juga Ambar sudah masuk kedalam mimpinya. Sita terus memandangi cowok tampan yang ada dihapannya. Bibirnya terangkat karena senyum bahagianya tidak bisa tertahankan. Sudah lama dia tidak memandangi Ambar tidur seperti sekarang ini. Padahal dulu waktu mereka masih satu kelas, hobinya diam-diam melirik kearah bangku Ambar, memperhatikan si anak nakal itu tertidur.
"Ambar mah lagi ngapain aja tetap ganteng" gumam Sita pelan.
Waktu sholat zuhur masuk, mendengar suara azan Ambar langsung membuka matanya. Dilihatnya kearah Sita yang baru saja mengelakkan muka dari pandangannya. Keduanya langsung mengambil Wudhu ditempat masing-masing dan ikut menjalankan kewajiban mereka berjamaah dengan warga lainnya.
Saat itu selesai sholat, Sita sampai berdoa 'Tuhan, Tolong jodohkan Ambar dan Sita bagaimana pun caranya' Setelah berdoa dia tersenyum dengan sendirinya.
"Haha apa Sita egosi ya? Sampe mintanya 'Gimanapun caranya' " gumamnya lagi kemudian tertawa geli dengan kebodohannya.
**Sudah lama! Lama sekali dia jatuh cinta dengan orang aneh seperti Ambar. Padahal karakter mereka, sifat mereka, kebiasaan mereka, semuanya begitu berbeda. Tapi entah kenapa, harus Ambar yang menjadi Cinta Pertama Sita bahkan sampai detik ini pun rasa itu tidak pernah berubah yang ada semakin nambah.
~**♡AmbarSita♡**~
Ambar sudah menunggu Sita didepan halaman mesjid, gadis itu pun datang dengan wajah sumringah.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri? Berhasil maling kotak infak mesjid ya?"
"Enggak!! Gak mungkinlah" jawab Sita kesal dan mulai memakai sepatunya juga.
'Dreeet... Dreeet' suara getar terus muncul dari dalam tasnya Sita.
"Nah tuh, bener ni pasti nyolong kotak Infak ya, tasnya ampe getar-getar" goda Ambar lagi.
Sita sampai tertawa geli mendengar tuduhan Ambar. Kemudian mengambil handphonenya didalam tas, dilihatnya nama orang yang memanggil 'Alif'! Sita langsung memutuskan panggilannya secara sepihak. Takut si Ambar liat, tapi sayang selain pendengarannya yang nyaring, mata Ambar itu juga jeli. Dia bisa melihat nama orang yang menelepon Sita tadi. Tapi Ambar memilih diam, toh kalau marah pun mereka cuma sabatas teman.
"Siapa?" Ambar pura-pura bertanya sambil menyamakan langkah kaki mereka.
"Pak Sayuti! Hahahaha"
"Pacar kamu toh, yaudah ayuk pulang ntar aku di amuk dia lagi"
"Tiap kamu ngeledekin itu aku jadi sensi tauuuk ketemu pak Sayuti" ujar Sita sambil tersenyum.
Ambar hanya diam, Sita sengaja memperlambat langkah kakinya agar mereka lama sampai ke tempat parkiran. Dilihatnya jam ditangan, masih pukul 12.50 otak Sita langsung berpikir keras. Sampai didesa sekitaran pukul 01.00 mungkin! Mengingat tenaga Ambar menggeos sepeda kencangnya bukan main.
Dia pulang jam 7 malam pun rasanya buk Ita masih menolerir hal itu. Buk Ita tidak pernah marah selama ini jika Sita pulang setelah Magrib. Asalkan jangan lewat pukul 9 malam saja. Jika lewat baru sifat ibu tirinya langsung aktif. Mulutnya berubah jadi knalpot bocor.
Sita tengah berpikir, masih ada banyak waktu yang bisa dihabiskannya bersama Ambar. Tapi apa alasan yang bisa digunakan untuk mencegah cowok keras kepala ini untuk jangan pulang dulu.
__ADS_1