AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Cukup Senyum Sapa Salam


__ADS_3

Ambar pergi kebalai desa, berharap ada teman-teman gilanya disana. Hatinya masih emosi dan butuh dihibur oleh manusia-manusia berotak setengah itu. Dibalai desa hanya ada Abdul dan Yudi yang mulai tidak pernah lagi kesekolah. Ambar terus nongkrong dengan dua orang itu sampai siang dan teman-temannya yang lain baru muncul setelah pulang sekolah. Ambar menceritakan alasannya tidak kesekolah, semua teman-temannya tertawa cekikikan mendengarkan nasib sial yang baru dialami Ambar.


"Yaudah yuk pulang mbar, ntar kesini lagi habis ngisi perut" ajak Ismet dengan temannya.


Ambar ikutan pulang kerumah karna memang perutnya juga keroncongan. Saat mendekati rumahnya Ambar berhenti, Sita yang sudah berdiri lagi ditempat biasa dia menunggu Ambar. Gadis itu masih belum berhenti menangis sejak tadi pagi. Wajahnya bahkan terlihat pucat tapi dia berusaha menguatkan diri untuk menunggu Ambar lewat. Belum berbicara dan berdiri dihadapan Ambar tapi airmata Sita sudah mengalir makin banyak. Ambar kembali melanjutkan jalanannya, dia berusaha tersenyum, meskipun hatinya masih sakit tapi sesuai dengan pesan pak Bahrun jangan sampai menyimpan dendam dengan dua sejoli tersebut. Sita kaget saat Ambar berhenti tepat dihadapannya. Wajah ambar telihat begitu santai, senyum manisnya juga masih awet.


"Kamu mau ngomong ya sama aku?" tanya Ambar ramah.


Jantung Sita yang tadinya berdetak begitu kencang, langsung menjadi normal. Ketakutanannya hilang seketika mendengar perkataan Ambar.


"Aku juga mau ngomong sama kamu" Sita menganggukkan kepalanya untuk mengizinkan Ambar yang berbicara duluan.


"Maaf ya tadi aku buang makanan kamu, tapi aku mohon setelah ini jangan nawarin aku makanan lagi, aku bukan pengemis seperti yang cowok kamu bilang, Hahaha sakit tau gak dikata-katai sama pacar kamu itu!"


"Aliiiif_____"


"Dulu aku emang suka ngusili kamu, aku minta maaf. Sebelum aku kenal kamu, sebelum kamu pindah ke desa Peringi, aku emang udah jahil. Aku emang usil dari sononya, tapi mulai sekarang terkhusus untuk kalian berdua tidak akan lagi! Aku gak dendam, Cuma gak mau ribut. Mulai sekarang mata aku udah tertutup untuk kalian berdua. Aku harap kamu sama pacar kamu juga begitu. Aku ingin Sita yang dulu setiap ketemu aku, Sita yang selalu menundukkan kepala kalo kita papasan. Aku pengen Sita yang itu" Sita terpaku mendengar perkataan Ambar, bahkan dia benar-benar tidak diberi izin untuk berbicara atau membantah hubungannya dengan Alif.


"Untuk kedepannya cukup senyum sapa salam aja diantara kita berdua, jangan memanggil atau menunggu lagi. Apalagi minta bantuan buatin gambar hahaha! okeeeh Sita" ujar Ambar berusaha semangat dan mengangkat jempolnya untuk Sita, sebelum Sita ikutan bicara Ambar berlalu pergi.


"Assalamualaikum kakak kelas" Sita terdiam, dipandanginya punggung Ambar yang mulai menghilang. Dia sudah tahu, setelah ini Ambar pasti akan menghindarinya lagi. Dia akan memutar jalannya untuk tidak berpapasan dengan Sita, dia akan kembali menghilang bak ditelan bumi seperti yang pernah dia lakukan, pikir Sita seperti itu.


  ~♡AmbarSita♡~


Keesokannya Ambar tetap melakukan hal yang biasa dia lakukan. Berangkat kesekolah pukul 7.45 dan dia juga tidak memutar jalannya sama sekali. Ambar santai berjalan didepan rumah Sita, gadis itu tidak menunggu ditempat biasa karna pikiran Sita Ambar tidak akan lewat, sedangkan dipikiran Ambar Sita sudah berangkat dengan Alif. Padahal hubungan Sita dan Alif jadi renggang karna pertengkaran kemarin. Sita meminta Alif untuk tidak datang lagi kerumahnya.


Saat pulang sekolah darah Sita berdesir kencang memompa detak jantungnya saat melihat Ambar berjalan pulang dengan Ismet. Sita tidak berhenti menatapnya, hanya Ismet yang memberikan senyuman pada Sita. Ambar? Jangan kan untuk tersenyum dan menggodanya dengan Alif, menoleh pun dia tidak. Pandangannya lurus kedepan, Ambar benar-benar melakukan seperti apa yang kemarin dia katakan 'Matanya akan tertutup untuk Alif dan Sita'


"Yakin gak mau aku antar?" tanya Alif saat didepan pintu gerbang sekolah.


"Kan udah aku bilang jangan kerumah dulu" jawab Sita tegas dan meninggalkan Alif diatas sepeda motornya.


Sita berjalan dibelakang Ambar dan Ismet, saat dipersimpangan Ismet berbelok menuju kerumahnya dan Ambar lurus ke jalan rumahnya, rumah Sita juga. Sita terus menatap punggung cowok itu, Ambar terlihat begitu santai. Meskipun dia tahu Sita ada dibelakang, dia tidak peduli dan pura-pura tidak tahu. Diamnya Ambar dan sifat cueknya memang hanya diberikan untuk Sita dan Alif saja, dengan orang lain mulutnya tetap nyinyir, usilnya masih bertahan, keras kepalanya masih awet juga.


"Sita pikir Ambar akan menghilang. Ambar akan menghindar, Ambar akan menjauh, atau apapun itu! Tapi tidak, dia menjalankan harinya normal. Jalan yang ditempuhnya tetap melewati rumah Sita, pulang sekolah dia juga tidak nongkrong dibalai desa dulu demi menghindari pulang bersama Sita. Tidak ada yang diubah Ambar dalam hidupnya, Tuhan! Hanya dengan Sita saja, dia menghapus dan mengubah semuanya. Katanya cukup senyum sapa salam, tapi nyatanya! Jangankan menyapa, tersenyum atau mengucapkan salam, sorot mata kami tidak pernah bertemu meski berpapasan dijalan!" gumam Sita sendirian diatas sajadahnya. Sita berusaha menceritakan keluh kesahnya pada sang pemilik alam.


Gadis itu menangis meratapi perubahan sikap cowok yang selama ini dikaguminya, yang selalu ingin dilihatnya, ingin dekat, padahal impiannya untuk berteman dengan Ambar saja selalu sulit untuk terwujud.


"Silahkan tutup mata kamu sampai kamu benar-benar menjadikan aku asing, kamu melakukan sesuai dengan kemauan kamu. Maka aku juga akan melakukan seperti yang aku mau!" kata Sita dan bangkit dari atas sejadahnya. Puing-puing semangat serasa masuk kedalam tubuhnya seketika.


  ~♡AmbarSita♡~


Keesokannya Sita berdiri ditempat biasa dia menunggu Ambar. Sesekali Sita melirik kearah jam tangannya.


"7.40 masih ada lima menit lagi" kata Sita yang sudah berdiri dipinggir jalan tersebut dari jam 7 pagi.


Pukul 7.45 orang yang ditunggunya lewat, Sita kemudian mengekor dari belakang. Hal itu terus dia lakukan lagi seperti dulunya. Meskipun terkadang dia berhasil lolos dari hukuman dan kadang juga tidak. Anehnya Ambar itu selalu mujur, dia tidak pernah dihukum sama sekali, padahal ilmu jahat yang pernah diajarkannya pada Sita dulu sudah dipraktekkan gadis itu dengan baik. Tapi tetap saja Ambar lebih handal jadi murid nakal daripada Sita.


"Kantin yuk?" ajak Sita pada Alif.

__ADS_1


"Kantin? Kamu yakin?" tanya Alif ragu.


Sita menarik tangan cowok itu sebagai jawaban dari pertanyaannya. Semua mata tertuju pada Alif dan Sita, sedangkan mata Sita juga hanya tertuju pada cowok yang masih awet makan lontong sayur sepiring berdua dengan sahabat karibnya.


"Eeeh... Eeeh.. Sita udah mulai sering loh kekantin sekarang" bisik Thalib dengan kelima teman-temannya.


Ismet, Khaidir dan Arul langsung menoleh melihat kearah orang yang dibicarakan Thalib. Hanya Ambar dan Ujang yang tidak, kalo Ambar karna dia sudah menutup mata untuk dua sejoli itu. Sedangkan Ujang matanya focus memperhatikan Ana yang duduk di sudut kantin.


"Iya loh, sering telat juga dia sekarang" Khaidir ikutan berbisik.


"Sama kaya si Ambar tuh, tetanggaan, tingkahnya sama!"


Ambar langsung terbatuk mendengar perkataan Arul. Dalam pikirannya tentu saja mereka sama-sama suka terlambat karna Sita setiap pagi menunggu dirinya lewat.


"Padahal guru udah ngasi peringatan loh sama Sita, 3 bulan lagi kami mau ujian nasional juga, tapi dia tetap aja terlambat"


"Iyaa... Padahal minggu kemarin pak Ajiz panggil ibuknya kan"


"Ha...Aaah... Kenapa ya Sita, bisa-bisa juara umum dia direbut sama Alif loh"


"Halah gak apa-apa kan pacarnya juga yang rebut!"


Ambar jadi ikutan mendengar Thalib dan Khaidir yang sibuk bisik-bisik menggosipkan Sita. Entah kenapa hatinya risau memikirkan gadis itu.


  ~♡AmbarSita♡~


Dua minggu kemudian, Ambar duduk dikantin dengan teman-temannya. Sita juga ikutan kekantin bersama Alif, meski Sita sudah mulai sering mengunjungi kantin tapi semua mata makhluk disana tidak berhenti terpana saat Sita datang ketempat tersebut, apalagi yang terpana itu kebanyakan murid laki-laki.


"Oh Tuhaaan, Sita ini makin lama makin cantik aja loh" bisik Arul sambil menepuk dadanya karna begitu terkesima dengan gadis yang baru saja berjalan melewati mejanya.


"Apalagi kalo rambutnya dilepas ya, Sayangnya Sita suka banget sama model rambut gitu, kasian sama rambut cantik dia"


"Iya, dari SD ampe sekarang model rambutnya gak berubah-ubah. Padahal Imay yang rambutnya mirip Garamon aja udah jadi lurus sekarang karna di rebonding, dikibas-kibasin sama dia kayak model iklan shampo"


"Padahal kutunya banyak yaa rul" ujar Ismet bergidik ngeri.


"Bukan cuma kutu, serangga, laler, cacing, belatung, semua bersarang dikepala Imay"


"Aduh itu kepala atau tong sampah! Eh..Eh.. Tapi Sita udah gak pernah terlambat lagi sekolah, mungkin karna takut posisinya dikasi ke Alif. Meski pacaran tapi mana mau Sita kalah soal pendidikan" kata Thalib yang dari dulu menjadi pengamat setia Sita.


"Sama dengan pacar buk eli ini! Dia juga gak lagi telat, niru-niru Sita kan kamu!! Mau rebut dia dari Alif? Suruh pak bahrun ngaca dulu lah" tunjuk Arul pada Ambar.


"Aaah si Ambar, sekarang sok-sok an gak mau ngeliat ke Sita dan Alif, tapi Sita di ikutin terus, Dasar kau manusia munafik!" umpat Ismet tajam.


"Iya si Am____"


"APA!! Kamu ikutan ngomong, aku balikin kamu jadi sperma lagi nih!" sanggah Ambar cepat sebelum Khaidir ikutan meledeknya.


Hatinya makin tidak karuan mau senang atau mau marah. Soalnya agar Sita tidak terlambat dia sampai rela berangkat pagi, tapi semua teman-temannya malah berpikir Ambar mengcopy paste apa yang dilakukan Sita.

__ADS_1


  ~♡AmbarSita♡~


Sabtu sore buk Ita seperti biasanya masih diseberang melihat ibunya, paman Sita, dan kebun miliknya disana. Sita mengambil handphone dan menghubungi Alif, dia ingin mengajak teman cowoknya itu pergi untuk pertama kalinya ke Stadion Peringi. Dengan semangat 45 Alif langsung meluncur ke rumah Sita, bahkan Alif ngakunya tidak sibuk saat ditanya Sita padahal jam lima nanti dia dan keluarganya akan menginap di Mandau tempat ayahnya dinas. Demi sita Alif rela tidak ikut kumpul dengan keluarganya.


"Tumben kamu mau kesini?" tanya Alif menggandeng tangan Sita saat sampai di stadion.


"Kata ibuk disini rame terus kalo sore, ada yang main bola juga, kamu gak suka bola ya lif?"


"Enggak, kamu suka bola? Aku sih lebih tertarik Sastra dari pada Sport"


Sebenarnya Sita juga demikian, dia bahkan tidak mengerti permainan sepak bola sama sekali. Tapi karna Ambar dia rela menonton sebelas orang yang berlari-larian mengejar satu bola ditengah lapangan itu. Mereka duduk di tribun sebelah kiri yang kosong, mata Sita focus pada cowok yang mengenakan Jersey klub sepak bola dari Itali bergaris vertical hitam dan putih. Ah Ambar memang fans karbitan kemarin jerseynya dari salah satu klub inggris berwarna merah sekarang malah berubah ke Itali!


Mata Sita tidak bisa beralih dari cowok yang sudah mandi keringat dan sesekali tertawa dengan teman-temannya. Sita begitu menikmati pemandangan didepannya sedangkan Alif tidak, karna ada Ambar dilapangan tersebut. Ambar dan Ismet kemudian meninggalkan lapangan meski semua teman-temannya masih asyik bermain.


Keduanya pergi kepinggir lapangan menemui tiga orang gadis-gadis yang telihat seumuran juga dengan mereka. Bibir Sita langsung manyun 5 centi, hatinya sakit apalagi saat melihat Ambar mengambil botol minuman yang diberikan oleh salah seorang dari gadis tersebut. Tanpa sadar Sita menghentak-hentakkan kaki saking kesalnya melihat Ambar tertawa bahagia dengan gadis-gadis itu apalagi minum yang dipegangnya.


Alif melirik kearah gadis yang duduk disampingnya "Kenapa? Kamu ada masalah sama cewek-cewek itu?" tanya Alif sambil mengacak-acak rambut Sita, dia gemes sendiri memperhatikan wajah Sita yang cemberut.


"Wajah mereka nyebelin" jawab Sita ngasal "Kelas berapa mereka?"


"Kelas 2 kalo gak salah, mereka itu sekolah di Gambas, memangnya kenapa? Mereka gangguin kamu, kalo iya aku samperin tuh cewek-cewek"


"Kamu kenal ya?"


"Kenal sih enggak, tapi pas acara hari pendidikan di kantor Bupati kemarin aku ketemu yang cewek rambut pendek sebahu itu tuh, namanya Ayu, dia anggota osis juga disekolahnya"


Sita menyipitkan matanya, memperhatikan cewek yang ditunjuk Alif tadi. Benar saja rambutnya pendek sebahu, sama dengan Sita. Botol minum yang dibawanya dari rumah langsung diletakkannya di bawah bangku, padahal entah untuk apa Sita mau repot-repot membawa minum kestadion, nyalinya untuk berbicara dengan Ambar saja tidak pernah ada jika banyak teman-teman Ambar diantara mereka, bagaimana mau memberinya minum coba.


Semua yang masih asyik bermain bola akhirnya ikutan berhenti untuk merenggangkan kaki dan mengistirahatkan diri. Arul berlari menemui dua temannya yang tengah duduk dan mengobrol dengan cewek-cewek tadi.


"Bagi minum" pinta Arul dengan Ambar.


Selesai melepaskan rasa hausnya dari air mineral bekas Ambar, Arul menoleh kearah bangku tribun sebelah kiri.


"Tumben Sita sama si Alif kesini" kata Arul memberitahu teman-temannya.


"Haaa? Sejak kapan mereka berdua disitu?" tanya Ismet yang ikut menoleh kearah pandangan Arul.


Ambar pun demikian, dia memperhatikan Sita dan Alif sebentar kemudian membuang muka. Senyumnya hilang seketika, lesung pipinya kembali disembunyikan, entah kenapa dia jadi pucat sendiri, apalagi saat ini dia duduk disamping Ayu.


Ambar langsung berdiri dan pura-pura merenggangkan punggungnya yang tidak sakit dan tidak kelelahan sama sekali. Kemudian berpindah kebawah, duduk dirumput lapangan. Padahal Sita bukan pacarnya tapi entah kenapa Ambar selalu ingin menjaga perasaan tetangga cengengnya itu.


~~~**♡AmbarSita♡**~~~


"Ku ingin mencintaimu dari awal hingga akhir, Boleh?"


~Sita~


__ADS_1


__ADS_2