![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Ambar sedikit curiga karena Sita tidak kunjung menangis seperti ambulance bawa mayat. Dia masih menebak-nebak apa yang ada dipikiran gadis disampingnya. Ambar akhirnya menoleh saat melihat ada asap rokok juga yang melayang dari arah samping, dilihatnya Sita sudah ikut menghisap batang rokok yang sama dengan dirinya. Kepala Ambar langsung panas dan siap meledak mengetahui hal itu. Dia mengambil rokok yang ditangan Sita dengan kasar. Saking emosinya sampai-sampai Ambar lupa jika rokok itu tengah terbakar.
"Aiiiish!!!" umpatnya kesal karna hampir saja tangannya tersentuh api rokok tersebut. Ambar kemudian membuang rokok ditangan Sita tadi.
"Gak lucu tahu gak!!" bentak Ambar kuat, urat syaraf dikepalanya sampai keluar saking marahnya.
Sita tetap anteng dan tidak menangis seperti biasanya meski sudah dibentak. Dia malah kembali mengambil batang rokok yang baru dan membakarnya. Tangan Ambar kembali merampas rokok itu lagi dan membuang semua benda tersebut. Ambar menatap Sita dengan tajam entah kenapa gadis itu begitu berani saat ini. Dia tidak menangis sama sekali bahkan balik menatap Ambar dengan tersenyum sinis.
Ambar diam, kemudian menarik nafas panjang, rasanya dia ingin berteriak dengan kencang. Ambar begitu marah dengan gadis disampingnya. Seandainya Sita mengeluarkan suara sedikit saja maka Ambar akan ikut mendampratnya balik dengan lebih keras. Keduanya sama-sama diam saat ini. Sita diam untuk menunggu emosi Ambar stabil. Ambar diam karena tidak mau mulut kasarnya keluar menyakiti perasaan Sita.
Meskipun tahu dia yang salah tapi cara Sita yang ikutan merokok tadi membuatnya kesal. Setelah beberapa menit hening baru akhirnya Sita menangis. Memang hanya air matanya saja yang keluar tapi Ambar bisa tahu karna lengannya ikutan basah terkena airmata gadis itu. Sita menutup wajahnya dengan lengan tersebut.
"Aku jadi malas!" kata Ambar pelan, bahkan suaranya terdengar berat.
"Maaf kalo aku buat kamu marah, tapi aku cuma mau ngasi bukti aja sama kamu kalo ancaman aku waktu itu bukan main-main" rengek Sita dengannya.
"YA GAK HARUS GITU JUGA !! " bentak Ambar dengan keras.
"Trus kamu maunya gimana? Gimana cara bikin kamu itu nurut ambar?" rengek Sita semakin kencang, padahal tadi saat dimarahi dia bisa tenang sekali.
"Udah!! jangan nangis-nangisan, makin emosi aku!!"
"Maaf Ambar" ujar Sita terisak.
Emosi Ambar hilang seketika mendengar Sita berusaha mengatur jalan nafasnya yang sesak karena menahan tangis seperti yang diperintahkannya.
"Udah diem! Aku yang harusnya minta maaf" kata Ambar dengan pelan kali ini.
"Janji kamu gak akan ngerokok lagi?" tanya Sita sambil menyodorkan jari kelingingnya pada Ambar.
Cowok itu hanya tersenyum pasrah melihat tingkah Sita.
"Janjiiiii!!!" rengek Sita karena Ambar tidak kunjung membalas jari kelingkingnya.
"Iya janji!!" ujar Ambar terpaksa biar Sita nggak ngeak kaya bayi.
"Mana tadi tangannya yang kena api?" tanya Sita sambil menarik tangan Ambar.
"Enggak nyentuh kok" jawab Ambar sambil memperlihatkan jari-jarinya dengan Sita. "Yaudah pulang yuuk" ajak Ambar karena kepalanya jadi pusing dan butuh istirahat.
"Nggak mauuuuu" cegah Sita dan kembali merengek.
"Aku pusing! Lagian kamu belum makan siang"
"Aku gak lapar"
"Ya tapi aku pusing!"
"Sini aku pijitin, Please jangan pulang"
Ambar hanya diam kemudian menyandarkan kepalanya pada lutut. Sita membuka beng-beng yang ada didalam plastik dan menyodorkannya pada cowok itu.
"Aku gak lapar!" jawab Ambar ketus dan menolak pemberian Sita tersebut.
"Ambaaaar" Sita langsung merengek lagi dan lagi.
Dengan terpaksa Ambar mengambil beng-beng tersebut dan memakannya sampai habis. Sita kembali membuka beng-beng kedua, ketiga, sampai habis tidak tersisa semua terpaksa dimakan oleh Ambar. Ini untuk pertama kalinya selera makan Ambar bisa hilang dan beng-beng tidak terasa nikmat seperti biasanya. Setelah disodorkan beng-beng Sita malah kembali memberikan susu kotak rasa coklat ketangannya. Ambar sampai menarik nafas panjang menghadapi sifat Sita. Baru meminum setengah Ambar balik menyodorkannya botol susu kemulut Sita gadis cantik itu langsung menghabiskan sisa minuman yang diberikan Ambar.
"Mau sampe jam berapa lagi kita berduan gini?" tanya Ambar ketus.
"Ampe kiamat" jawab Sita mantap, Ambar langsung tersenyum mendengar jawabannya.
"Kalo emosi aku gak lepas kaya tadi, kepala aku jadi pusing!" kata Ambar memberitahu sifatnya kepada Sita kemudian merebahkan kepalanya dipundak gadis itu "Aku tidur bentar ya, jangan gerak" perintah Ambar dan dalam sekejap matanya sudah tertutup rapat.
Rasanya Sita tidak tega membiarkan Ambar tidur dengan posisi seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi rasa cintanya membuat Sita egois sendiri dia tidak mau jauh dari Ambar. Cukup lama Sita membiarkan Ambar memejamkan mata. Tidak tahu apakah cowok ganteng yang sedang menyandarkan kepala dibahunya itu benar-benar tertidur atau tidak? Yang jelas Ambar memang bisa tidur dalam posisi apapun dan dimanapun.
Bahu Sita sebenarnya sudah cukup sakit menopang tubuh Ambar. Tapi dia tetap tidak mau membuat gerakan sedikit pun. Bahkan kakinya yang keram dan kesemutan tetap ditahan oleh Sita, dia harus tetap diam seperti patung, jangan gerak biar Ambarnya tidak bangun. Hampir satu jam Ambar merebahkan kepalanya dibahu Sita kemudian dia mengangkat kepala dan menoleh kearah Sita yang tetap duduk tenang. Ambar meluruskan tulang lehernya yang terasa sakit.
"Ahh...hahahaha" tawa Ambar dengan sendirinya saat memijit lehernya dengan tangan.
"Kenapa?" Tanya Sita heran.
"Sakit banget leher aku karna tidur gitu"
"Kamu beneran tidur?" Tanya Sita kaget. Dalam pikirannya Ambar memang cowok luar biasa, jadi tadi dia anteng karna memang sudah masuk kedalam dunia mimpinya?!
"Jadi kamu pikir aku ngapain?"
"Masa sih? Hebat banget kamu yah, aku pikir kamu cuma pejamin mata doang"
"Aaah kalo mejamin mata doang mah tangan aku gak mungkin bisa tenang" goda Ambar sambil memukul kepala Sita pelan.
"Apaan sih Ambar, ngomong aja beraninya" Sita malah balik menggoda cowok tersebut.
"Loh kamu nantangin? Belum liat keberanian aku?"
Sita langsung tersenyum sinis memperlihatkan ekspresi tidak percaya dengan perkataan Ambar barusan.
"Kenapa kamu, sok nantangin! udah yuuk pulang" ajak Ambar lagi.
"Gaak mau!!! Sini aja dulu, belum malam"
"Heeh! Kalo malam disini bisa cemburu kuntilanak sama gendoruwo liat kita berduan"
Dengan cepat tangan gadis itu merangkul lengan Ambar. Cowok disampingnya tidak boleh bergerak sama sekali karna si tuan putri masih ingin menghabiskan waktu dengannya.
"Haaah.... Betah banget kamu ngerangkul aku" kata Ambar yang akhirnya harus mengalah.
"Besok minggu ke Mandau lagi yuk"
"Ngapain?! Gak ada makanan gratisnya lagi"
"Hahaha kita ke mall?" bujuk Sita agar bisa mendapatkan waktu cowok ganteng itu.
"Enggak, besok aku mau tidur seharian dirumah" tolak Ambar dengan tegas.
"Yaudah disini aja, besok aku masakin lagi ya, makanan yang dibuku kemarin kan mau aku buatin semua untuk kamu" Sita terus berusaha untuk membuat Ambar mau menghabiskan hari libur mereka berdua.
"Yaudah kalo besok memang mau disini, sekarang pulang!"
"Gak mau..... Kenapa sih kamu mau nya pulang terus! Emang mau kemana?" rengek Sita yang semakin mempererat pelukannya dilengan Ambar.
"Ngumpul sama teman-teman di Balai, Ujang juga sampe sekarang masih salah paham tuh sama aku karna ngajakin Ana tadi"
"Lagian Ujang kenapa? Emang dia suka Ana? Kan Ana udah punya pacar"
"Serius?" tanya Ambar sedikit tidak percaya.
"Iya, Cowok yang jalan bareng kami tadi itu kan pacarnya Ana"
"Aiiish Padahal Ujang udah lama naksir dengan si Ana! Kok bisa sih Ana pacaran dengan orang lain"
"Mereka baru jadian, Aku pernah dengar Ana cerita sama teman-temannya kalau dia tahu kok Ujang naksir dengannya. Tapi Ana lebih milih Yudi dari pada Ujang. Lagipula ya wajar sih Ana milih Yudi secara Yudi lebih ganteng, lebih tajir juga. Sedangkan Ujang....Yah kamu tahu sendiri gimana teman kamu itu, apalagi Ujang kerjaannya tinggal kelas mulu!" ujar Sita panjang lebar. Gadis itu tidak sadar jika Ambar ikut terluka dengan perkataannya tersebut.
"Banyak unggulnya dong cowok itu dari Ujang" kata Ambar berusaha terlihat santai.
__ADS_1
"Banget!" Jawab Sita mantap.
Ambar tersenyum kecut dengan jawaban Sita, pelan-pelan tangannya berusaha melepaskan genggaman Sita dari lengannya. Ambar langsung berpikir jika kedekatannya dengan Sita saat ini akan berakhir tragis juga seperti kisah asmara temannya.
"Kenapa?" tanya Sita heran.
"Gak kenapa-kenapa, aku cuma kasian dengan nasib Ujang" kata Ambar sambil mengusap matanya dengan kedua tangannya. Senyum palsu Ambar terlalu terlihat dibuat-buat. Sita langsung menyadari percakapan mereka tadi sudah membuat Ambar tersinggung.
"Tapi aku bukan Ana" ujar Sita dengan raut wajah ketakutan.
"Emang kamu bukan Ana. Mirip juga enggak hahaha yaudah pulang yuk, gerah disini!"
Sita tetap diam, tubuhnya menjadi kaku saking takutnya sudah membuat perasaan Ambar terluka. Sita memang dari dulu selalu berkata jujur dihadapan Ambar. Cowok itu sudah berdiri dari duduknya, tapi Sita masih tidak mau bergerak. Bahkan untuk memandangi wajah Ambar saja dia jadi tidak berani. Tiba-tiba air matanya kembali keluar.
"Ambaaaar...." rengek Sita yang mulai menangis seperti anak kecil lagi.
"Kenapa kamu?" tanya Ambar dengan ketus.
"Aku.....aku gak bermaksud mau menyinggung perasaan kamu"
"Lah terus? Emang nya kenapa? Aku juga kalau di suruh milih pasti juga akan pilih yang bagus. Siapa yang mau dengan cowok miskin, bodoh, yang hobinya tinggal kelas, ya gak? Miris! Gak ada yang bisa dibanggakan dari cowok itu!!"
Tangis Sita semakin keras mendengar perkataan Ambar yang terdengar begitu kesal.
"BERISIK TAU GAK!!!" bentak Ambar kuat, dia sudah tidak bisa menyembunyikan amarahnya kali ini.
Sita langsung diam dan memejamkan mata, berusaha mengontrol tangisnya agar tidak terdengar oleh Ambar. Gadis itu sampai sesegukan karna menahan tangisnya sendiri, jika sudah seperti itu Ambar jadi terlihat seperti laki-laki kejam dan ujung-ujungnya dia jadi tidak tega.
"Kalo kamu masih nangis aku benar-benar pergi!" kata Ambar sambil duduk kembali ditempatnya.
"Maaaaf.... aku mohon jangan pergi, aku takut kamu bakal menghilang lagi dari aku"
Ambar hanya diam, karna memang tindakannya setelah ini ingin menjauhi Sita 'Belum jadi pacar saja aku sudah tahu ujung dari kisah kita, jadi untuk apa terus mendekatkan diri kalau hanya untuk menyakitkan hati!' itu yang ada dipikiran Ambar. Dia benar-benar menjadi laki-laki yang pesimis dan tidak mau repot untuk berjuang soal asmaranya.
"Aku lapar" kata Ambar mengeluarkan jurus andalannya agar bisa kabur secepatnya dari hadapan gadis cantik itu.
Sita langsung menggenggam erat tangan Ambar. Nafasnya jadi sesak karna menahan tangis, dadanya juga jadi sakit. Ambar langsung menarik nafas panjang, perasaannya tidak bisa berbohong dia begitu mencintai gadis yang duduk dihadapannya itu tapi hatinya sudah terlanjur patah duluan.
"Kenapa sih kamu? Tiba-tiba nangis gini, aneh tau gak!! Yang kita bahas kan Ujang dengan Ana, kenapa kita ikut-ikutan baper. Lagian kamu pikir aku naksir sama kamu? Kita kan cuma temanan, meskipun nasib aku emang sama dengan Ujang tapi gini-gini aku pemilih juga loh. Aku gak mau sama cewe cengeng, pemalu, apalagi penakut kaya ______"
"Tapi Aku cinta sama kamu! Karna itu aku jadi ketakutan kalo kamu tersinggung dengan perkataan aku tadi" potong Sita dengan cepat. Kemudian gadis itu terpaku sendiri dengan apa yang sudah dikatakannya barusan.
Opps Sita sudah keceplosan!
Darah Ambar langsung mengalir kuat memompa detak jantungnya mendengar pengakuan Sita tersebut. Ambar menopang tubuhnya dengan kedua tangan, bibirnya langsung terangkat begitu saja membentuk sebuah senyuman. Bahkan lesung pipinya yang langka terlihat jelas. Padahal baru tadi hatinya dibuat patah sekarang malah berubah senang tidak karuan.
Sita menarik tangan Ambar yang diletakkannya dibelakang tubuhnya itu dan menggamannya dengan erat. Kepalanya masih menunduk tidak berani menatap Ambar, dia menunggu respon Ambar tentang kejujurannya tadi. Tapi cowok didepannya terlalu bahagia sampai sulit mengeluarkan kata-kata. Sita akhirnya memberanikan diri menatap wajah Ambar yang sedang menahan senyum di bibirnya. Ambar kembali meluruskan duduknya dan menghapus airmata Sita dengan tangannya yang satunya lagi.
"Aku males saingan sama Alif" bisik Ambar ditelinga gadis itu.
Dia tidak bersungguh-sungguh ingin mengatakan hal itu. Tujuannya hanya untuk mencoba membuat Sita kembali merengek. Sekarang justru Ambar yang ingin membuat Sita menangis seperti anak kecil. Benar saja bibir Sita langsung manyun, sebelum tangisnya mengeluarkan suara. Sita melepaskan tangan Ambar dan menutup mulutnya dengan cepat soalnya takut dimarahi Ambar lagi kalau sampai mengeluarkan suara berisik. Tapi Ambar justru menarik tangan gadis itu agar bisa melihat wajah cantik Sita yang sudah mewek seperti bocah kecil yang habis dimarahi ibunya.
"Hahaha kenapa nangis lagi? Kan aku banyak minus nya loh, bener gak? Tadi aja antara Ujang sama siapa itu tadi namanya cowok ganteng pacar Ana itu? Aduuuh pake lupa lagi" ujar ambar yang jelas-jelas meledek Sita saat ini.
"Siapa tadi namanya Yank, aku lupa"
Mendengar Ambar menyebutkan kata 'Yank' Sita langsung tersipu malu dengan sendirinya. Manyunnya berubah jadi senyuman yang sengaja ditahan agar tidak terlihat terlalu bahagia, namun rona merah di pipi Sita tidak bisa disembunyikan. Ambar mengangkat alis menunggu jawaban Sita soal pertanyaannya tadi.
"Haaa?" tanya Sita balik.
"Yang nama cowok Ana tadi, siapa?"
"Tadi nanya nya gak gitu"
"Tadi cara nanya kamu gak gitu..." rengek Sita meminta Ambar mengulangi lagi cara bertanyanya yang pertama.
"Iya siapa nama cowok Ana itu siapa? Gitu doang!"
"Gak gitu tadi......."
"Masaa, emang gitu kok"
"Tadi ada kata 'Yank' nya" ujar Sita ragu, dia sendiri malu-malu mengatakan kata tersebut tapi justru ingin Ambar mengulanginya.
"Ouh, nama pacar Ana siapa Yank?" tanya Ambar menuruti keinginan Sita.
"Yank apaan?" goda Sita yang masih belum puas membuat cowok didepannya ikutan tersipu malu sama seperti dirinya.
"Ya yank aja, emang yank apalagi"
"Yang lengkap dong ngomong Yank nya"
"Emang kamu mau lengkapnya gimana?" tanya Ambar sambil menjentik kening Sita dengan pelan.
"Kan kamu yang ngomong, ya aku mana tahu Yank apa nih yang kamu maksud?"
"Yank yang aku maksud ya yank doang" jawab Ambar ikutan malu.
"Aduuuh gak gitu... Yang lengkap"
"Haha orang yang baca jadi pusing nih kalo banyak pengulangan kata Yank nya"
"Biarin!! Coba ngomongnya yang lengkap, biar aku bisa tahu Yank apa yang kamu maksud"
"Yank.... Ya SAYANG lah, yank apa lagi coba!!"
"Siapa sayangnya?" goda Sita lagi sambil tersenyum sumringah.
"Kamu pengen tahu?"
Dengan cepat Sita menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ambar tersebut.
"Sayang aku itu anak buk Ita yang cengeng itu nooh, yang kerjaannya nangis mulu, pemalu, penakut, nyebelin juga kadang-kadang. Tapi entah kenapa aku SAYANG sama dia padahal aku gak suka loh dengan cewek yang sifatnya begitu"
Sita semakin tersenyum mendengar pengakuan Ambar barusan.
"Kenapa kamu senyum-senyum, aku cintanya sama anak buk Ita kok, kenapa kamu yang kesenangan gitu!!"
"Jadi.....?" tanya Sita ragu
"Apaan?!"
"Aku udah ngomong jujur sama kamu soal perasaan aku, jadi kita.... Gimana inih?" tanya Sita kebingungan untuk menyampaikan maksud hatinya yang ingin Ambar meresmikan hubungan mereka.
"Emangnya kamu ngomong apa tadi soal perasaan kamu?" kata Ambar pura-pura lupa.
"Soal pengakuan aku, kan kamu belum balas"
"Udah!!"
"Belum, aku juga pengen dengar kamu ngomong kaya aku tadi juga"
"Yang gimana nih? Aku gak tau?
"Aku cinta sama kamu" kata Sita tegas dan menggenggam tangan Ambar erat.
__ADS_1
"Alif?" tanya Ambar yang jelas-jelas hanya untuk memancing emosi Sita kembali.
"Aku gak ada hubungan sama Alif, kami dari dulu cuma temanan, gak lebih!!" jawab Sita yang mulai terlihat kesal.
"Ouh.. Yaudah aku juga tadi nanya nama pacarnya ana gak dijawab sama kamu"
"Namanya Yudi! Udah puas! Sekarang kamu kasih tahu balasan tentang pengakuan jujur aku tadi"
"Ya aku SAYANG..... Sama anak buk Ita, apalagi coba"
"Gak gitu Ambar!!! Aku tau kamu sayang sama aku, ya setelah itu gimana hubungan kita apa masih jadi temanan?!"
"Siapa bilang aku sayangnya sama kamu, kan aku bilang anak buk Ita! Ke Geeran banget kamu! Hahaha"
Tinju Sita langsung melayang mulus ke lengan Ambar. Rasanya cowok yang didepannya itu terlalu hobi membuatnya menangis seperti anak kecil. Senyum sumringahnya jadi hilang seketika karna perkataan menyebalkan Ambar barusan.
"Aduh kenapa sih? Bentar-bentar nangis, trus senyum-senyum sendiri, trus marah, trus gila sendiri, aku tuh bingung menghadapi pacar kaya kamu"
Sita langsung tersenyum kembali mendengar perkataan Ambar.
"Ya itu, aku mau kamu bilang kalo status kita udah berubah" ujar Sita kegirangan.
"Apaan? Nah kan bener sekarang jadi senang lagi, kok bisa sih suasana hati kamu bisa berubah dalam sekejap gitu, jangan-jangan kamu bipolar ya Yank?"
Sita sebenarnya mau ngambek tapi hatinya senang dipanggil 'Yank' lagi sama Ambar.
"Jadi sekarang aku pacar kamu yaa?" tanya Sita untuk meyakinkan hatinya yang begitu bahagia itu.
"Hahaha tadi kamu milihnya Yudi dari pada Ujang, sekarang malah mau jadi pacar aku, aneh!!" kata Ambar yang benar-benar belum puas mengaduk-aduk perasaan gadis dihadapannya.
"Itu kan Ana bukan aku! Lagipula dua-duanya gak ada yang aku naksir. Soalnya aku cintanya sama kamu! Sama si Ambar!! Dari dulu, dari awal pindah ke Peringi hilir, dari SD sampai sekarang! Hati aku cuma cintanya sama kamu!" rengek Sita meminta Ambar bisa berbicara lurus saja soal peresmian status mereka tanpa beralih ke pembicaraan yang lain lagi.
"Dulu waktu kelas dua SD katanya takut liat wajah aku, trus sekarang ngakunya udah suka sama aku dari awal pindah ke Peringi hilir! Gimana sih yang benarnya manusia Bipolar?!"
"Ambar Aku itu udah lama cinta sama kamu!" kata Sita dengan lembut sambil mencondongkan wajahnya kehadapan Ambar.
"Jangan dekat-dekat, ntar aku khilaf gimana!" goda Ambar sambil menolak kepala Sita dengan pelan agar menjauh darinya. Keduanya langsung tersipu malu satu sama lain, senyum mereka tidak bisa ditahan lagi.
"Jadiiii....?" tanya Sita yang masih ingin Ambar untuk mengakuinya sebagai pacar.
"Apaan?!"
"Ambaaaaar......." rengek Sita dengan manja.
"Iya, aku juga cinta sama kamu, udah kan!" jawab Ambar sambil menggaruk kepalanya, dia sendiri jadi gerogi mengakui perasaannya. Padahal tadi hatinya begitu sakit dan berniat untuk kembali menghilang dari Sita. Untung saja Sita berani mengungkapkan perasaannya duluan. Jika tidak akan ada cerita lain diantara kisah mereka.
"Jadi... sekarang aku pacar kamu ya?" tanya Sita sambil mengubah posisi duduknya untuk pindah kesamping Ambar dan memeluk erat lengan cowok itu.
"Maunya?" jawab Ambar yang kembali tersenyum dengan sendirinya.
"Susah banget ya buat bilang kalo aku ini pacarnya kamu?"
"Aku calon suami kamu!" jawab Ambar dengan tegas.
Senyum Sita semakin lebar mendengar perkataan Ambar, dia langsung merebahkan kepalanya kepundak Ambar.
"Haaah 9 tahun lebih aku nungguin kamu ngomong itu"
"Lama juga kamu nunggunya hahaha kenapa sampe mau menunggu kaya gitu kan aku suka tinggal kelas, mis______"
Sita langsung menutup mulut Ambar untuk menghentikannya mengulang kembali pembicaraan tidak menyenangkan mereka tadi.
"Huuuuus Aku lagi bahagai" bisik Sita mesra ketelinga Ambar.
"Aku juga lagi bahagia" jawab Ambar tidak mau kalah.
"Lebih bahagiaan aku kayanya!"
"Aku!! pohon-pohon disini aja mungkin sampe iri"
"Aku lebih bahagia, sampai-sampai angkasa yang cemburu"
"Aku lebih-lebih-lebih bahagai! Saking bahagianya aku udah rela untuk mati keesokannya"
Senyum sita langsung hilang mendengar perkataan Ambar.
"Ambaaaaaarrrrr.... kalo kamu mati aku gimana? Kan kita belum nikah" rengeknya ketakutan.
"Hahaha ya karna saking bahagianya loh yank"
"Lagiiii......" pinta Sita manja.
"Apaan?"
"Tadi manggil aku nya"
"Sita!"
"Bukaaaan....."
"Sayang!"
Senyum Sita semakin sumringah, duduknya makin rapat disamping Ambar.
"Pulang yuk, udah sore aja nih, bentar lagi magrib" ajak Ambar dengan lembut.
Sita memperhatikan langit didepan mereka, benar saja matahari sudah mulai turun kebawah untuk gantian dengan sang rembulan. Bibir gadis disamping Ambar itu jadi manyun karna belum puas berduan dengan Ambar yang sudah resmi menjadi pacarnya beberapa menit yang lalu.
"Waktu suka banget sih berjalan cepat kalo aku lagi berduan dengan kamu"
"Iya, waktu pun ikutan cemburu sama kita" kata Ambar sambil mengulurkan tangannya untuk membantu kekasih barunya itu untuk berdiri.
Sita terus menggenggam tangan Ambar sampai ke jalan yang sudah mulai banyak orangnya. Setelah itu keduanya kembali menjaga jarak. Ambar mundur beberapa langkah meminta Sita untuk berjalan duluan. Saat sudah didepan jalan rumahnya Sita berhenti dan menoleh kebelakang. Ambar mengangkat alis untuk memberi kode dengan gadis itu untuk segera pulang. Sita memperhatikan kesekelilingnya, kosong tidak ada orang yang lewat. Senyumnya langsung terbuka lebar menatap Ambar yang ikutan berhenti dibelakangnya.
"Besok aku masakin ya, kita kencan ditempat biasa" pinta Sita sambil tersenyum, Ambar ikutan tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Sita.
Sita masuk kedalam rumah sambil tersenyum-senyum bahagia. Buk Ita yang bersiap-siap untuk ke mushola kebingungan melihat putri satu-satunya tersebut.
"Kamu kenapa? Dapat durian runtuh ya?" tanya buk Ita sambil meletakkan telapak tangannya ke kening Sita.
"Lebih dari durian runtuh buk, Sita dapat pangeran, pujaan hati, Haaah Tuhan sayang banget sama Sita buk. Allah itu baik, Sita manusia paling beruntung buk" jawabnya panjang lebar yang membuat buk Ita semakin penasaran.
"Harta karun?" tanya buk Ita lagi yang diotaknya akhir-akhir ini hanyalah materi.
"Ambar sama Sita resmi jadi pasangan ibuk!!" jawab Sita mantap dan memeluk tubuh ibunya.
"Pasangan? Nyaleg?" goda buk Ita yang sudah mengerti kenapa wajah anaknya berseri-seri saat pulang kerumah.
"Iih ibuk, kok nyaleg, Bukaan!!"
"Ibuk pikir resmi jadi pasangan caleg buat ngalahin pak Handsome hahaha yaudah ibuk mau ke mushola dulu nih, ntar lagi magrib. Kamu juga sholatnya jangan lewat kan Allah udah ngabulin doa kamu tuh jangan sampe lupa ngucapin makasih"
"Iyaaaah Ibu juga ya doakan Sita sama Ambar langgeng sampe kakek nenek"
"Hahaha Aduh masih sekolah pikirannya udah nikah aja! Sekolah dulu yang benar, ibuk gak masalah kamu pacaran. Apalagi ibu yakin Ambar orangnya baik dan bisa jaga kamu. Tapi ingat setan itu menggoda disetiap ada kesempatan. Jadi tolong tetap jaga diri, Paham!!"
"Paham buuk calon hajiiii" jawab Sita mantap sambil mengangkat tangannya sebagai penghormatan untuk ibu pemarah nya itu.
__ADS_1