AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
30 Mai Kedua Untuk Ambar


__ADS_3

AmbarSita


******


Sudah masuk bulan kelima ditahun ini, sekolah pun juga sedang menjalani semester kedua dalam dunia pendidikan. Ujian kenaikan kelas pun akan berlangsung di akhir bulan Juni nanti.


Bagi Sita, bulan lima itu sangatlah penting! Karna dibulan itu lahirnya sang pujaan hati yang sudah dikaguminya selama hampir 9 tahun. Jika soal kesabaran Sita dalam memuja rasanya gadis itu pantas diacungi empat jempol dan tepuk tangan meriah para penonton.


Seminggu sebelum tanggal 30, Sita sudah sibuk memikirkan kado apa yang akan diberikannya untuk Ambar. Ingin mengajak Alif mencari kado rasanya tidak mungkin, apalagi jika nanti Alif bertanya untuk siapa barang cowok yang dibelinya itu.


Selama ini Alif selalu memberi kado pada Sita jika dia berulang tahun di tanggal 31 desember. Sita pun demikian, dia akan membalas ucapan dan hadiah Alif saat teman cowoknya itu berulang tahun ditanggal 4 Januari.


Hanya Ambar yang tidak, jangankan memberi hadiah kepada Sita. Mengucapkan doa panjang umur pun tidak pernah! Karna cowok itu memang tidak pernah mencari tahu kapan tanggal lahir Sita.


"Taaa......Sepatu bola yang kamu minta udah ibuk beliin" ujar buk Ita saat anaknya baru pulang sekolah. Sita langsung memeluk ibunya, senang, bersyukur, wanita itu begitu baik dan mau menuruti dan membantu Sita dalam persoalan asmaranya.


Sita melihat sepatu berlogo swoosh dari perusahaan Amerika tersebut. Wajahnya sedikit kecewa, sepatunya bagus tapi.....


"Buk kenapa pilih warna pink?"


"Kan pak Bahrun suka warna pink nak" jawab buk Ita polos.


"Oh Tuhan, tahun lalu sapu tangan bunganya juga mawar pink! Sekarang malah sepatunya warna pink, ini hadiah untuk anaknya buk, bukan bapaknya!" ujar Sita geram.


"Udah gak apa-apa, lagian ibuk suka sama warnanya hahaha makanya ibuk beli"


"Ini sesuai kesukaan ibuk sama pak Bahrun aja. Gimana kalo Ambar gak mau pake, kan sia-sia kadonya buk"


"Yaudah kalo dia gak suka, suruh kasi ayahnya! Gitu aja kok repot, biar dipake pak Bahrun buat ngebajak sawah Hahahaha"


"Ibuk masih bisa ketawa, padahal ulang tahun Ambar itu besok loh"


"Lah terus ya gimana, beli yang lain?"


"Maunya sih gitu"


"Aduh kamu ini, buang-buang duit tau gak. Itu aja meskipun kw super yang ibu beliin, tapi harganya cukup buat bayar uang kontrakan sebulan alias 500rb! lumayan kalo kamu beliin si Ambar beng-beng dengan uang segitu! Bisa jadi kembaran buk Eli tubuh si Ambar!"


Sita tetap manyun tidak menerima kado yang dibelikan ibunya. Mau tidak mau buk Ita mengalah "Yaudah besok ibuk beli yang baru atau ibuk tukar deh. Moga aja tokonya terima, ingat ya kamu janji uang jajan kamu bakal dipotong!"


"Iyaaa.... Besok pagi ya tukarnya, biar sepulang sekolah Sita bisa ngasinya ke Ambar"


"Iyaa!!!" jawab buk Ita jutek dan melempar kotak sepatu yang dibelinya keatas sofa.


 


~**♡AmbarSita♡**~


 


Keesokannya, agar warna sepatunya tidak salah lagi buk Ita langsung menemui sahabat kecilnya, alias ibuknya Ambar. Menanyakan warna kesukaan anak gantengnya tersebut.


"Apaan ya? Aku juga gak tau sih, kayaknya warna gelap-gelap gitu deh Ta. Sama kaya jalan hidup dia gelap dan tidak bercahaya"


"Hahaha bener deh, soalnya dia hobi pake baju warna hitam"


"Emang buat apaan sih kamu sampe nanya-nanya warna kesukaan si Ambar?"


"Sita yang suruh nanya Hahaha"


"Aduuh, Jadi malu sendiri aku Ta Hahaha. Jadi ingat omongan kita waktu itu untuk menjodohkan mereka, sepertinya memang akan terkabul Ta. Ya Rab beruntungnya aku kalo dapat menantu kaya Sita, tapi________ " buk Khadijah menepuk pundak temannya pelan, raut wajahnya juga berubah sedih.


"Kamu yang sabar ya dapat menantu kaya Ambar, maafin aku ya Ta" ujar buk Khadijah pelan.


"Hahaha Kamu ini Jah! Nggak ayah dan ibunya, sama aja! Hobbi banget ngeledekin anak sendiri!"


Kedua wanita itu kemudian saling tertawa cekikikan. Membicarakan sifat Ambar yang usil dan suka berbicara ngaur dengan setiap warga desa Peringi.


*****


Sepulang sekolah Sita tersenyum melihat bungkusan kado yang ada didalam kamarnya. Buk Ita menemui putrinya dan ikut tersenyum bahagia.


"Tuh udah ibuk bungkusin sekalian"

__ADS_1


"Ditukar atau ibuk beli baru nih?"


"Haaa? Ibuk tukar dong Hahaha" jawab buk Ita tertawa untuk menutupi kebohongannya.


Sebenarnya pagi itu saat berbicara dengan buk Khadijah, ibunya Ambar itu melarang buk Ita kembali ke Mandau untuk menukar sepatu tersebut.


'Udah kasi aja, gak bersyukur tuh anak, di kasi kado aja udah untung! Kalo dia nolak aku suruh suami aku yang pake buat bajak sawah. Kami aja gak pernah ngerayain ulang tahun Ambar, kenapa Sita malah mau repot-repot ngasi kado coba!'


Mendengar saran buk Khadijah tentu saja buk Ita bahagia dan setuju karna wanita itu juga lelah untuk kembali ke Mall yang ada di Mandau. Ide cemerlang buk Khadijah yang menyuruh buk Ita membungkus kadonya sekalian, agar Sita tidak tahu jika itu masih sepatu yang sama.


Sita langsung bersiap-siap mengganti seragamnya, dandan secantik-cantiknya meskipun dia sudah cantik sekalipun. Semua di persiapkan Sita dengan baik. Satu kotak beng-beng yang dibelinya dari buk Eli juga sudah di tumpuk diatas kotak kado. Buk Ita ikut senyum-senyum menatap anaknya yang duduk didepan kaca meja rias.


"Aduuuh! Tapi Sita kan belum bilang Ambar buk, tadi Sita juga langsung masuk rumah, gak nungguin dia dipinggir jalan. Yaaah... Sial!! Ambar gak akan tahu kalo gitu" ujar Sita merutuki kecerobohannya.


Buk Ita tepok jidat dengan tingkah putrinya, dia begitu bersemangat sampai lupa untuk memberitahu orang yang ditunggunya.


"Gimana ini buk?" tanya Sita meminta saran.


"Paling Ambar lagi dibalai desa sama teman-temannya, kesana aja. Biar sekalian bagi-bagi tuh beng-beng sama teman-teman ambar juga"


"Enggak! Malu!" jawab Sita cepat.


"Yaudah kalo gitu, menjamur dah tu kado sama makanan kamu kalo kamu terus-terusan malu!"


"Yaaah jangan dong buk, ibuk bantu...." Sita belum menyelesaikan kalimatnya tapi buk Ita langsung menyaut.


"BODO AMAT! Ibuk mau ke seberang! Mending aku ketempat adikku! Dari pada bantu orang yang suka malu-malu tapi mau!!" jawab buk Ita kesal dan kabur meninggalkan Sita.


 


~**♡AmbarSita♡**~


 


Sita masih cemberut duduk didepan teras rumahnya. Hatinya berharap-harap cemas Ambar akan lewat dan belum berangkat kebalai desa menemui teman-temannya. Sita melihat jam ditangannya sudah pukul 2.30. Sepertinya Ambar memang sudah bersama teman-temannya saat ini.


Yang ditunggu Sita adalah Ambar, tapi yang muncul justru Alif. Teman cowoknya itu tersenyum sumringah karena orang yang ingin ditemuinya ternyata sedang duduk didepan teras dengan tampilan yang begitu cantik.


"Kado siapa?" tanya Alif penasaran melihat kado yang dipegang Sita.


"Emang isinya apa?"


"Gak tau, paketan dia" jawab Sita lagi.


Alif menganggukkan kepala dan berusaha mempercayai kebohongan Sita "Aku mau ngajakin kamu belajar, buk Asma yang nyuruh, kita diminta datang kerumah dia"


"Haa? Disekolahkan juga kita udah belajar, masa masih harus belajar lagi kerumah ibuk itu"


"Ya habis olimpiade nya 8 hari lagi loh, mungkin karna itu kita di suruh belajar terus"


"Kalo gitu mah, yang ada buat kita makin stress saat dihari H nya. Satu bulan kita di kasi jam belajar tambahan sama sekolah. Jadi dekat-dekat hari H otak kita mesti di refresh bukan malah disuruh belajar terus!" Sita melampiaskan unek-unek kesalnya dengan ajang olimpiade yang akan diikutinya sebentar lagi. Selain itu hati Sita juga tengah kesal saat ini, karna rencananya untuk Ambar sudah gagal total.


"Lagian aku kan udah bilang gak mau ikut, kenapa buk Asma masih maksa coba" ujar Sita lemah, mengingat beberapa hari lagi dia akan pergi mewakili sekolah untuk Olimpiade Nasional Matematika yang akan diadakan di Jogja.


Gadis cantik itu tidak tahu, jika Alif lah yang memaksa buk Asma untuk menunjuk Sita dan dirinya mewakili murid kelas satu mengikuti Olimpiade tersebut. Alasannya tentu saja karna Alif ingin bisa berdua dengan waktu yang lama bersama Sita.


Sita akhirnya menerima ajakan Alif. Ditengah perjalanan menuju kerumah guru mereka. Sita memasang matanya tajam pada sekumpulan remaja laki-laki yang begitu asyik berenang-renang ria di sungai Peringi. Semua cowok-cowok itu sedang merayakan ulang tahun Ambar yang baru saja mereka lemparkan kesungai sebagai tradisi jika salah satu diantara mereka berulang tahun.


Ketika azan Ashar berkumandang, pak Bahrun dan pak Pandi hendak pergi kemushola untuk menjalankan kewajiban. Tiba-tiba darah keduanya mendidih melihat Ambar dan teman-temannya duduk santai di pinggir sungai sambil menghisap batang rokok ditangan masing-masing.


"Mampuuus!!" kaget Abdul dan membuang rokoknya cepat.


Semua teman-temannya menoleh kearah pandangan Abdul. Wajah mereka sama pucatnya dengan Abdul saat ini. Mau kabur juga percuma dua singa dari Peringi itu sudah berjalan mendekati mereka.


Pak Bahrun membuka sandal jepit swallow warna hijaunya dan mantap melayangkan kepunggung pemuda-pemuda itu. Pak Pandi pun demikian, apalagi anaknya Ismet, potongan rambut cepak Ismet sampai di jambak saking kesalnya.


"Ampun pak... Ampun...." ujar mereka ketakutan.


"Khaidir gak ngerokok pak, sumpah. Cuma ikut ngumpul pak" Khaidir membela diri agar sandal pak Bahrun dan tangan pak Pandi berhenti memukul punggungnya.


"Thalib juga pak, kami berdua cuma ikutan karna mau ngerayain ulang tahun Ambar"


Pak Bahrun dan pak Pandi berhenti memukul punggung kedua cowok itu dan terus melanjutkannya pada Ambar, Ujang, Ismet, Arul, dan Abdul. Kelimanya merasakan punggung mereka sudah panas dipukul terus-terusan oleh dua singa tersebut.

__ADS_1


"Pak ampun pak, Abdul udahan dipukulnya, nanti dirumah pak Anto yang lanjutin"


"Arul juga pak, nanti pak Syafri bakal mukul lebih parah lagi dirumah"


"Ujang juga pak, biar ayah Ujang aja yang mukul ya pak"


Semua memohon untuk dilepaskan dari penganiayaan. Kini tinggal Ambar dan Ismet yang jadi korban keganasan ayah-ayah mereka.


"Ambar juga pak, biar pak Handsome aja yang mukul, kan Ambar udah ganti kartu keluarga jadi anak dia" kata Ambar yang semakin membuat darah pak Bahrun naik dua kali lipat.


'Plaaaak' pukulan pak Bahrun melayang mulus ke wajah tampan anaknya kali ini. Semua teman-temannya langsung kabur menyelamatkan diri.


"Sumpah pipi dia yang ditampari tapi sakitnya kerasa ke pipi aku" kata Abdul ketakutan.


"Lagian si Ambar udah jelas ayahnya berubah jadi setan kalo marah masih bisa dibecandain"


Pak Pandi yang hendak sholat ke mushola mengurungkan niatnya dan menarik lengan anaknya untuk pulang kerumah "Anak gak tahu diri! Masih kelas 2 SMP udah sok-sok an ngerokok! Uang jajan kamu aja masih aku yang ngasi tau gak, aku gak ngerokok, malah kamu yang hambur-hamburkan uang untuk itu!" umpat pak Pandi sambil terus menyeret anaknya pulang kerumah.


Kini tinggal Ambar dengan ayahnya "Hehehe..." Ambar cengengesan berharap ayahnya bisa luluh. Bukannya baik pak Bahrun malah menoyor kepala anaknya kuat dan ikut menyeretnya pulang.


Sesampainya dirumah, rotan pak Bahrun mendarat ke punggung Ambar. Air mata cowok yang kini berusia 16 tahun itu tidak keluar sama sekali meskipun punggungnya kesakitan dan memar karna dipukuli ayahnya dengan kuat.


"Minta ampun sama bapak kamu tuh, kalo gak umur kamu cuma sampe 16 doang" bentak buk Khadijah yang sebenarnya tidak tega membiarkan anak laki-lakinya dipukuli.


"Iyaaa, Ampun pak, Ambar gak ulangi lagi!"


"Waktu itu bapak udah ngasi peringatan sama kamu kan! Kenapa kamu masih melakukan, haa? Berarti sering ya kalian ngerokok?!!"


"Enggak, sumpah, bener, tanya aja pak Handsome kalo gak percaya"


"Pak Sayuti gak akan tahu!!"


"Tahu pak, dia kan seumuran kami, dia juga masuk perkumupulan kami pak"


"Perkumpulan apa itu!"


"Perkumpulan MADESU pak" jawab Ambar menyelamatkan punggungnya.


"Apa itu?!!!" tanya pak Bahrun dan buk Khadijah kompak.


"Masa depan suram pak"


'plaaaak' rotan pak Bahrun yang tadinya sudah berhenti berayun kini kembali menyentuh kulit putih Ambar.


"Bapak udah sholat ashar?" tanya buk Khadijah yang diam-diam ingin menyelamatkan putranya dari keganasan pak Bahrun.


"Belum, karna anak ini bapak sampai gak jadi sholat ke mushola"


"Yaudah sholat dulu, ntar silap mata karna setan" bujuk buk Khadijah lembut dan mengajak suaminya masuk kedalam kamar.


"Kamu!!!!" tunjuk pak Bahrun ke batang hidung Ambar yang mancung " Kamu malam ini gak boleh tidur dirumah!" ujarnya lagi dan masuk kedalam kamar.


Ambar hanya manyun dan segera mengganti pakaiannya yang basah kemudian kabur menuruti perintah pak Bahrun. Dia duduk dibalai desa sendirian, mau datang kerumah teman-temannya juga percuma mereka pasti sedang dihajar juga saat ini. Sampai azan magrib Ambar termenung duduk dibalai desa, matanya yang sayu jadi ngjreng seketika saat melihat sepeda motor Alif yang lebih keren dari wajah pemiliknya itu lewat bersama dengan Sita.


"Huuu... Gantengan sepeda motor dari pada wajah tuannya" umpat Ambar kesal.


"Kenapa kamu?" tanya Yudi yang baru datang.


"Tuuh si tiang listrik, kerenan motor dari tuannya"


"Ya gak apa-apa sih, lah kamu ganteng-ganteng gak punya"


Mendengar jawaban Yudi yang begitu jujur, Ambar langsung menempeleng kepala temannya "Kamu ngebelain dia?!! kemana kamu tadi?"


"Enggak!! Aku baru balik dari Mandau, selamat ulang tahun ya. Oh ya kalian ketahuan ngerokok disungai tadi?"


"Kok kamu tahu?"


"Aku dengar suara teriak-teriakan pak Syafri dari rumahnya"


"Hahaha ****** dah itu si Arul"


"Kamu gak dipukul pak Bahrun?"

__ADS_1


Sekali lagi Ambar memukul kepala temannya "Niih liat punggung aku udah kaya orang dikerokin tau gak!!" bentak Ambar dan mengangkat baju untuk memperlihatkan punggungnya yang memar pada Yudi.



__ADS_2