![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Setelah sholat subuh Sita sudah heboh didapur dengan sendirinya. Mengobrak-abrik isi kulkas ibunya untuk mencari bahan-bahan masakan yang akan dibuat untuk makan siang Ambar.
"Heh kamu kenapa? Pagi-pagi heboh udah kaya orang mau masak hajatan sekampung!" kata buk Ita kebingungan melihat Sita yang fokus dengan buku resep ditangannya.
"Buk Fuyung hai itu gimana cara buatnya? Udangnya juga gak ada"
"Emang kamu mau masak itu? Ntar ibu beli udang ke supermarket di Mandau"
"Yaah Sita butuhnya sekarang buk" ujarnya lemah.
"Buat apaan sih ta? Kok kamu rajin gini ke dapur pagi-pagi. Biasanya nginjak dapur aja kamu malas, goreng telur buat makan sendiri aja ngeluh, sekarang kenapa jadi semangat masak?!"
"Sita mau belajar masak demi Ambar, jadi gimana ini? Sita bingung buk mau masakin apa. Takut gak enak juga, bantuiin buk" rengek Sita yang sebenarnya ingin meminta bantuan ibunya lagi.
"Halaaah... Males ah, ibu yang masak kamu yang dapat nama sama Ambar. Ogah! Kan Ambar pengen punya istri yang pinter masak. Kalo kamu boongin dia terus bisa marah si Ambar saat kalian nikah trus tahu kamu sebenarnya masih belum tahu apa-apa soal dapur"
Sita langaung menarik nafas panjang dan berusaha tersenyum mendengar perkataan ibunya.
"Ibuk bener!! Baiklah Sita akan berusaha buk, demi Ambar! Sita masakin ayam balado kesukaannya aja deh biar besok kalo nikah bisa masakin itu terus buat dia"
"Hahaha ya pelajari juga resep lainnya, kalo dikasi itu terus dia juga bosan dong" nasihat buk Ita dan berlalu meninggalkan anaknya didapur.
Sita mulai memasakkan makanan kesukaan Ambar tersebut. Jika soal ayam balado dia sudah lama memperlajari cara memasaknya saat tahu Ambar doyan dengan makanan itu. Sita benar-benar focus sampai-sampai handphonenya yang dari tadi berdering tidak dipedulikan sama sekali. Jam 8 pagi gadis cantik itu baru selesai membuat satu masakan untuk kekasihnya.
"Udah selesai?" tanya buk Ita saat melihat Sita yang duduk dengan raut wajah kelelahan di meja makan "Hmm wangi, kayanya enak tuh" puji buk Ita untuk menyemangati putrinya.
"Bener buk? Moga aja Ambar gak protes"
"Enggak deh, wanginya enak gini kok. Emang kalian mau kemana sih? Camping?"
"Ada deeh hahaha. Sita ntar pulangnya magrib lagi ya buk"
"Jaga diri aja pokoknya yang terpenting, oh ya dari tadi handphone kamu bunyi-bunyi tuh"
Sita baru sadar dengan handphone yang diletakkannya diatas meja makan. Dilihatnya 18 kali panggilan tak terjawab dari Alif dan 5 chatt online. Temannya itu ingin mengajak Sita pergi ke Mandau. Pesan terakhir Alif bahkan berbunyi 'ntar aku jemput ya, jam 11 nanti' padahal Sita belum membalas Ya atau Tidak dengan pesan tersebut.
"Ah Alif ini kenapa sih!" umpatnya kesal.
"Kenapa?"
"Ini dia ngajakin pergi, padahalkan Sita belum jawab iya atau enggaknya. Dia udah mau jemput aja, kan pemaksaan namanya!"
"Ya lagian kamu terlalu asyik dengan masakan kamu sampe gak sadar hp kamu bunyi"
Wajah Sita langsung cemberut, takut jika memang Alif datang. Dengan cepat Sita membalas pesan Alif dengan memberi alasan kalau dia akan pergi dengan ibunya hari ini. Setelah itu Sita bersiap-siap untuk menunggu Ambar, padahal kencannya dengan Ambar sendiri tidak jelas jam berapanya!
Orang yang ditunggu Sita malah masih berselimut diatas kasur. Tidurnya masih pulas meski 5 menit lagi akan memasuki jam 9 pagi. Semua karna efek begadang nonton bola sampai jam dua dengan teman-temannya dibalai desa. Pak Bahrun dan buk Khadijah sudah pergi ke kebun. Seandainya orangtua itu tahu anak mereka masih molor dijam segitu maka dapat dipastikan rotan melayang ketubuh Ambar yang putih mulus tanpa rem. Hening adik bungsunya Ambar juga sudah kabur main kerumah Suci, adiknya Khaidir. Dengan begitu tidak akan ada yang mengganggu tidur ambar selain gempa dan lapar! Teman-temannya juga tidak mungkin karna mereka juga ikut tepar dirumah masing-masing saat ini.
Sita sudah siap dengan pakaian terbaiknya. Padahal mereka akan duduk dipinggiran sungai, tapi gadis itu tambah cantik menggunakan dressnya yang selutut yang lebih pantas digunakan untuk pergi kepesta. Sita tidak berhenti tersenyum menatap kaca didepannya. Wajahnya begitu bahagia membayangkan pujaan hatinya yang sebenarnya masih dialam mimpi. Sudah hampir jam 11 siang, rasanya Sita sudah begitu lama duduk didepan cerminnya.
"Bodoh!! Gimana kalau ternyata Ambar udah disana, kan dia gak ada handphone buat ngasi tau!" ujar Sita kesal sendiri dengan dirinya. Sita langsung pergi ketempat biasa dia menunggu Ambar sambil menenteng tas bekalnya yang sudah di isinya penuh dengan makanan termasuk cemilan beng-beng kesukaan Ambar. Dengan begitu tidak ada alasan untuk Ambar minta pulang karna lapar.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Sudah lewat dari jam 12 siang, Ambar akhirnya bangun dari mimpi indahnya karna merasa lapar. Ambar langsung mandi setelah itu mengintip ke dapur. Hari ini buk Khadijah memasakkan telur dadar, salah satu makanan kesukaannya juga. Setelah puas dengan memakan 3 piring nasi Ambar kemudian pergi menemui teman-temannya kebalai desa. Saat melewati rumah Sita, Ambar hanya tersenyum dan berlalu begitu saja. Sepertinya dia benar-benar lupa dengan kencan yang diminta Sita kemarin.
"Wuiih udah disini aja nih" sapa Ambar dengan Abdul dan Yudi yang memang menjadi penunggu setia balai desa "Yang lain belum datang?"
"Belum, si Ujang patah hatinya makin nambah" jawab Abdul lemah.
"Kenapa? Kan kemarin malam udah aku jelasin kalo aku gak suka sama Ana"
"Tadi dia disini trus liat Ana lewat, disapa deh sama Ujang 'Ana mau kemana?' Eh Ana nya malah jawab 'Pergi kencan sama Yudi' langsung hancur hati Ujang mbar"
"Oh! Miris, kencan kemana dia? Mending kita ikutin trus kita ceburin deh pacar si Ana itu ke sungai" usul Ambar yang masih belum sadar dengan kekasihnya yang sudah menangis ditempat biasa mereka bertemu.
"Hei sobat misqin, hari libur itu kencan ini malah nongkrong dengan sesama jenis. Dasar manusia homoseksual!" ledek Arul yang baru datang.
"Najis! Kamu sendiri emang ada pasangannya!" jawab Abdul ketus.
"Ouh ada dong! Kamu ada gak?!" tanya Arul sambil memukul pundak Ambar.
Ambar terdiam, senyumnya hilang saat menyadari jika hari ini Sita mengajaknya berkencan. Tanpa mengatakan sepatahkata pun Ambar langsung kabur meninggalkan teman-temannya. Nafasnya langsung ngos-ngosan berlari menuju ketempat biasa dia dan Sita menghabiskan hari berdua. Sesampainya disana benar saja, Sita sudah duduk ditempat biasa mereka sambil menangis.
"Haaaah.... Capeknya Tuhaaaaan" ujar Ambar yang langsung terduduk disamping Sita. Nafasnya terdengar begitu kuat bahkan sejuknya desa Peringi hilir tidak mempan menutupi keringatnya yang kelelahan.
Sita hanya diam, matanya basah, melihat raut wajah Sita yang begitu marah Ambar bergidik ngeri.
"Maaf yaa" ujar Ambar dengan lembut meskipun bunyi nafasnya masih terdengar sesak.
Satu, dua, tiga.... Sita akhirnya menangis dengan kuat. Melampiaskan kekesalannya dengan cowok yang ada disampingnya itu.
"Aku minta maaf ya, benaran, aku ketiduran sayang" bujuk Ambar lagi.
Sebenarnya hati Sita sudah langsung berubah bahagia mendengar Ambar memanggilnya dengan kata Sayang. Tapi dia masih belum puas membuat cowok disampingnya itu menyesal dan terus merayunya. Karna biasanya Ambar hanya diam jika Sita menangis bahkan membentaknya untuk menyuruh diam. Tapi sekarang karna mereka sudah resmi pacaran sikap keras dan pemarahnya Ambar jadi hilang.
"Maaf ya" kata Ambar lagi sambil menghapus airmata Sita.
"Aku pikir kamu gak bakalan datang"
"Lama ya kamu nunggu disini?"
__ADS_1
"Lamaaaaaa... Banget! Dari subuh"
"Serius?" tanya Ambar kaget "Ngapain subuh-subuh disini coba!"
"Subuhnya aku masak, siap-siap nya jam 9, kesini nya jam 11"
Ambar langsung memukul kepala gadis itu pelan mendengar jawabannya.
"Itu bukan subuh namanya titisan Jailangkung!!"
"Ya kan aku masak nya subuh, ini sekarang udah hampir jam 1 waktu kencan kita jadi sedikit tau gak!"
"Dua, tiga, empat..." Ambar langsung menghitung sisa waktu yang disebutkan Sita tadi.
"Ah enggak masih ada 5 jam lagi, banyak kok" jawab Ambar santai.
"Gak mau kalo cuma lima jam, aku maunya 9 jam!"
"9 jam? Ampe jam 8 malam dong kita disini, Seram ah!"
"Biarin! Aku gak takut sama hantunya yang penting ada kamu"
"Hahaha iya sih aku juga gak takut sama hal yang begituan. Tapi aku justru takut sama buk Ita, sama warga, sama pak Bahrun apalagi, bisa dikira aku berbuat asusila sama kamu disini"
"Bagus dong ntar kita langsung di nikahin!"
Ambar kembali memukul kepala Sita "Emang kamu pikir nikah gampang!! Ntar aku ngasi makan kamu pake apa coba!"
"Liat wajah kamu aja aku udah kenyang"
"Ya ibunya kenyang, trus anak-anak kita?"
Sita langsung tersipu malu mendengar perkataan Ambar.
"Kenapa senyum, tadi nangis, kayaknya aku emang punya pacar bipolar deh"
"Aku senang aja dengar kamu ternyata juga memikirkan soal rumah tangga kita, bahkan kamu juga mikir soal anak kita nanti"
"Hahaha lah terus, maksud kamu? Buat apa nikah kalo gak punya anak!"
"Besok kamu mau anak berapa?" tanya Sita manja dan merangkul lengan Ambar.
"11 deh, biar kaya pemain bola"
"Hahaha banyak nya, kasian ke aku nya dong"
"Jadi kamu sanggupnya berapa?" tanya Ambar balik.
Sita langsung menutup wajahnya ke lengan Ambar, dia jadi malu sendiri membahas soal masa depan mereka nanti. Padahal hal itu yang selalu dia mimpikan dan doakan.
"Oh iyaaa, kamu belum makan kan? Aku masakin ayam balado kesukaan kamu"
"Aku udah makan, tiga piring malahan, soalnya buk Khadijah bikin telur dadar"
"Gapapa, ntar palingan kamu ngeluh lapar lagi kok, jadi kita mesra-mesra-an aja sekarang"
"Makan aja" ajak Ambar sambil mengambil tas bekal Sita yang ada disamping gadis tersebut.
Sita langsung menganggukkan kepala dan menghidangkan makan siang untuk pacarnya. Padahal baru satu jam yang lalu Ambar mengisi perutnya dengan 3 piring nasi dan sekarang dia masih sanggup untuk lanjut makan kembali?!
"Mau nambah?" tanya Sita sambil menghapus mulut Ambar dengan tisu.
"Enggak" jawab Ambar pelan dan mencari minuman didalam tas bekal Sita.
"Astagaaaa!! Aku lupa bawa minum. Aduh... Pedas ya? Aku ke warung buk Eli dulu ya"
Ambar langsung geleng-geleng kepala mendengar perkataan pacar barunya itu.
"Udah biar aku aja. Kalo kamu lama, aku udah gak tahan. Oh ya jangan dimakan masakan kamu, itu buat aku aja semuanya" kata Ambar dan menyuruh Sita kembali duduk.
Sita tersenyum mendengar perintah Ambar, dia berpikir Ambar benar-benar menyukai masakannya karna itu dia ingin menghabiskan semuanya. Hati Sita langsung berbunga-bunga karna berhasil jadi pacar yang baik. Ambar dengan cepat meluncur ke warung buk Eli sebelum asap keluar dari telinganya karna masakan Sita kali ini pedasnya bukan main.
"Kenapa wajah kamu kaya udang goreng gitu" ledek buk Eli saat Ambar berjalan menuju kewarungnya. Ambar langsung duduk dihadapan buk Eli sambil menarik nafas panjang.
"Buuuuk, air zam-zam ada?" tanyanya dengan wajah dongkol meskipun mulutnya sudah begitu kepedasan tapi masih sempat menggoda wanita paruh baya itu. Buk Eli menahan senyum mendengar pertanyaan Ambar.
"Air seni banyak! Mau?"
"Beli satu buk!"
"Hahahah beneran nih mau air seni?"
"Boleh deh buk, buat nyiram ke pak Handsome"
"Hahaha kurang ajar dengar pak Handsome kapok kamu"
"Beli air minumnya dong buk. Ambar serius kali ini, kepala Ambar panas nih buk"
"Halaah, sok-sok an kamu beli air mineral, biasanya kalo lagi haus langsung nyemplung ke sungai aja tuh"
"Cepatan buk, Ambar lagi kencan niih. Kasian pacar Ambar nunggu sendirian" ujar Ambar sedikit mendesak kali ini.
"Siapa yang mau jadi pacar kamu Ambar! Rugiiii, mulut kamu nyerocos terus, capek juga, makan ati juga pastinya itu cewe" ledek buk Eli sambil menyerahkan botol minumannya.
__ADS_1
"Cemburu kan sebenarnya karna tau Ambar udah punya pacar?! Mohon maaf aja deh buk, buk Eli bukan tipe nya Ambar!"
"Hahahah asem, udah sana! Ntar ibuk minta uangnya ke pak Bahrun"
"Loh kok tahu? Nah kan suka mata-matai Ambar sih jadi tau kan kebiasaan Ambar" jawab Ambar ketus dan kabur secepatnya untuk menemui Sita yang masih setia menunggunya ditepian sungai.
Sita tersenyum menyambut cintanya kembali, Ambar menyerahkan botol minum yang sudah dibelinya ketangan Sita dan kembali duduk disamping gadis tersebut.
"Kamu dicariin sama buk Eli, karna dia gak terima kita pacaran. Katanya 'beruntung banget tuh si Sita bisa pacaran sama ambar'"
"Hahahah masa buk Eli ngomong gitu, kebalikannya bukan?"
"Bener, cemburu dia. Patah hati juga kayaknya tadi"
"Emangnya kenapa? Buk Eli naksir Ambar aku juga?"
"Iya, siap saingan sama buk Eli?" goda Ambar dengan gadis itu.
"Siap! Aku begal siapa yang berani rebut kamu!" jawab Sita tegas.
"Hahaha serem juga nih! Susah kalo selingkuh ntar"
Sita langsung memukul pundak Ambar, wajahnya manyun seketika.
"Emang ada niat ya buat nyelingkuhin aku?"
"Satu aja belum habis-habis gimana mau nambah"
'Kriiiuuuuuuuuuuk" kali ini bunyi perut Sita yang mengeluarkan suara. Ambar sampai kaget untuk pertama kalinya mendengar suara perut keroncongan Sita.
"Lapar?" tanya Ambar sambil membelai rambutnya.
"Iyaaah... Haaa jadi malu sendiri aku nyaaa" rengek Sita yang wajahnya sudah berubah merah menahan malu dihadapan Ambar.
"Hahaha ternyata kamu bisa lapar juga, yaudah ayo pulang" ajak Ambar cepat.
"Loh kok pulang? Kan aku bawa makan siangnya banyak tadi, makan yang itu aja. Aku gak mau pisah dari kamu, kan kita masih kencan sampe jam 9 malam nanti"
"Apaan jam 9 malam! Emang dirumah gak ada makanan yang lain. Bekal ini biar aku yang abisin, kamu makan dirumah aja"
"Yaudah aku gak makan deh dari pada disuruh pulang"
"Loh kenapa? Ntar sakit loh, ayoooo"
"Ambar, padahal aku bawa makanan banyak biar kamu gak ngeluh lapar trus minta pulang. Tapi sekarang masih aja sama, tetap aja diajakin pulang, kenapa sih gitu? Kamu gak betah ya berduan dengan waktu yang lama sama aku?" rengek Sita dengan mata berkaca-kaca.
Ambar langsung tersenyum simpul mendengar perkataan jujur dari Sita.
"Bukan gitu sayaaaang" bujuknya dengan mesra dan membelai wajah Sita "Tapi masakan kamu hari ini pedas banget loh, gak kaya yang kemarin-kemarin"
Sita melirik kearah tas bekalnya yang ditahan Ambar.
"Masa sih? itu hasil masakan nya murni dari aku soalnya, tanpa bantuan ibuk"
"Haaah... Pantesan!"
"Kenapa? Gak enaak ya?" tanya Sita dengan raut wajah khawatir.
"Enak!"
"Terus?" tanya Sita penasaran.
Ambar menyerahkan tas bekal Sita kembali, pasrah jika memang gadis itu mau mencicipi hasil masakannya juga. Sita mulai memakan masakan yang dibuatnya. Baru satu suapan wajahnya langsung berubah menjadi tidak menyenangkan. Ambar menahan tawanya melihat ekspresi Sita yang berusaha menelan nasi dimulutnya tersebut.
"Asiiiiin" keluh Sita dengan masakannya sendiri.
"Hahaha kan udah aku bilang gak usah dimakan" ledek Ambar dan mengambil kembali kotak bekal ditangan Sita.
"Sumpah aku gak tahan buat makannya, tapi tadi kok kamu_____"
"Dipaksa" jawab Ambar cepat. Sita langsung menatap wajah Ambar. Air matanya langsung mengalir begitu saja mendengar pengakuan Ambar.
"Loh kenapa nangis?" tanya Ambar kaget. Sita hanya diam, sulit mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Hatinya campur aduk antara senang dan sedih jadi satu. Ambar kembali menghapus airmata Sita.
"Kenapa? Kan aku gak bilang masakan kamu gak enak, aku makan sampe habis kan" bujuk Ambar dengan lembut.
Aiish si Ambar justru karna itulah pacar kamu menangis. Sita langsung diam dan memeluk kekasihnya erat. Ambar dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah pacarnya yang baru sehari tersebut.
"Kamu ini mau nya nempeeeel terus, padahal kita udah masuk ke tahap dewasa loh. Ditempat terbuka juga, seandainya ada yang lewat kan jadi gak enak dipikir kita berbuat yang tidak-tidak"
"Sayaaaaaang, aku janji bakal belajar masak yang lebih serius setelah ini, beneran!! Aku gak mau menghidangkan makanan gak enak gitu ke kamu" rengek Sita. Meskipun Ambar sudah memberinya nasihat tapi bukannya melepaskan pelukan yang ada Sita makin mempererat lingkar tangannya dipinggang Ambar.
Senyum Ambar semakin lebar mendengar perkataan Sita. Apalagi itu pertama kalinya juga Sita memanggilnya dengan panggilan 'Sayang'.
"Yaudah makan beng-beng aja ya buat ganjel perut kamu"
"Itu kan buat kamu, gak apa-apa deh lapar aku udah ilang kok"
"Yaudah lepas dong pelukannya, nagih banget kamu nya"
Sita melepaskan pelukakkannya dan menatap wajah Ambar sambil tersenyum.
"Rasanya dipelukan kamu itu aku nyamaaaan banget, karna itu aku sampe lupa buat lepas" ujar Sita dan kembali meluruskan duduknya menghadap ke sungai.
__ADS_1