AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Korban Pemerasan


__ADS_3

Note: Dijaman Ambar jadi murid SD, mereka gak main Gadget, tapi mainan paling mahal mereka Gimbot!


~~~**♡AmbarSita♡**~~~


Keesokan harinya saat akan berangkat kesekolah, Sita berpapasan lagi dengan Ambar dan Ismet. Dia menundukkan kepala dan langsung bergegas meninggalkan kedua anak laki-laki itu. sesampainya dikelas Ambar memukul kepala Khaidir yang tengah asyik melukis dibelakang buku tulisnya.


"Kenapa sih" kaget Khaidir sambil memegang kepala.


"Balasan yang kemarin, karena kamu aku dilaporin buk Mun lagi sama pak Bahrun!"


Khaidir hanya diam, dari pada melawan lebih baik menghindari Ambar meskipun hatinya dongkol sekalipun. Sita terus melihat Ambar yang tengah asyik memperhatikan mainan Gimbot milik Imay yang hari ini sudah kembali kesekolah. Ambar menarik gim ditangan gadis itu dan memainkannya tanpa rasa bersalah, seolah-olah itu adalah miliknya.


"Ada anak baru ya dikelas kita?" tanya Imay melirik kearah Sita yang duduk sendirian dibangku paling belakang.


"Iya, namanya Sita tapi anaknya pendiam" jawab Ana.


Saat buk Mun wali kelas mereka masuk, semuanya kembali duduk dibangku masing-masing. Ambar dan Ismet tidak memperhatikan sama sekali guru berbadan besar itu menerangkan pelajaran Matematika dipapan tulis. Selesai menerangkan materi buk Mun memberikan tugas dan meninggalkan kelas mereka. Disaat yang lain sibuk dengan tugas. Ambar justru tengah asyik memainkan gim milik Imay tadi.


"Udah siap tugas kalian?" tanya Ujang mendekati kedua orang tersebut.


Ismet hanya menggeleng dan terus memperhatikan temannya menekan-nekan tombol di gim yang begitu berjaya pada zaman mereka.


"dikumpul hari ini kapook" tegur Ujang memperingati teman-temannya.


Ambar menyimpan gimnya kebawah meja dan melihat kebelakang. Gadis yang duduk dibelakang mereka ternyata dari tadi ikut memperhatikan permainan yang dimainkannya. Ambar dengan cepat menarik buku tulis Sita yang ada diatas meja, kemudian menyalin semua jawaban gadis itu tanpa meminta izin sedikitpun.


Selesai menyalin semua jawaban, Ambar meletakkan buku Sita dan kembali melanjutkan permainannya. Ujang tersenyum melihat wajah Sita yang kebingungan dengan sikap tidak sopan dan semena-mena Ambar.


~~~**♡AmbarSita♡**~~~


Lonceng jam istirahat sudah dibunyikan Ambar dan Ismet langsung melesat bak kilat berlari kewarung yang ada didekat sekolah. Saat sudah memilih-milih jajanan tiba-tiba Ambar meletakkan kembali makanan yang dipegangnya.


"Kenapa?" tanya Ismet heran.


"Aku lupa bawa uang"

__ADS_1


"Halah lupa! Bilang aja jajan kamu udah dihabiskan tadi pagi kan" sanggah Abdul.


"Hehehe" tawa Ambar cengengesan karena sebelum berangkat kesekolah dia memang sudah menghabiskan uang sakunya diwarung yang ada di dekat rumah.


"Minta punya si Thalib aja" usul Ismet menyebutkan nama salah satu murid laki-laki dikelas mereka yang lebih suka bermain dengan anak perempuan.


Ambar berlari lagi bak kilat kembali kekelas. Benar saja orang yang dicarinya sedang menikmati mie goreng yang dibawanya dari rumah bersama murid perempuan lainnya, kecuali Sita yang tidak mau diajak bergabung.


"Heeh, bagi duit kamu" kata Ambar sambil mencolek pundaknya.


Thalib menggeleng pelan, padahal Ambar belum memukulnya tapi raut wajah anak itu sudah pucat pasi seperti orang yang kekurangan darah. Tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Thalib. Ambar langsung meraba sisi-sisi kantong celana miliknya.


"Iih Ambar kenapa elus-elus Thalib?" kaget Imay karena melihat Thalib yang menahan geli karena saku celananya diraba-raba.


Ambar langsung melepaskan tangannya dari kantong celana Thalib dengan perasaan jijik. Semua anak perempuan tertawa termasuk Sita. Ambar menoleh kearahnya, gadis itu langsung menundukkan kepala sambil menahan mulut agar ketawanya tidak ketahuan lagi dengan Ambar.


"Gak ada mbar sumpah, aku bawa bekal jadi gak dikasi jajan sama ibuk"


"Boong!! Didalam tas kali" Ambar mengambil tas yang ada dibangku Thalib dan memeriksanya juga "Haaah, emang miskin nih orang!!" umpatnya kesal karena tidak menemukan sepersen pun uang didalam tas tersebut.


"Diam kamu gerbong kereta api!" bentak Ambar dengannya. Gerbong kereta api yang dimaksud disini karena kulit Iput yang hitam seperti gerbong kereta api jaman dulu.


Sita menggelengkan kepala melihat tingkah anak laki-laki yang dari tadi selalu membuat anak-anak dikelas dongkol dan kesal. Ambar kembali melihat kearahnya yang setiap kali dipandangi Ambar balik pasti Sita akan membuang muka atau menundukkan kepala seolah-olah tidak memperhatikan.


"Kamu deh na, bagi duit" Ana juga menggelengkan kepala.


Ambar tidak percaya, saat akan memeriksa saku rok Ana sama seperti yang dilakukannya dengan Thalib, Ana langsung memukul tangannya.


"Kamu nekat banget sih mbar" Imay dan Iput tertawa melihat ekspresi kaget Ana.


"Iya tau nih, kamu pikir aku sama apa denganThalib, kan udah dibilang buk Mun kalo cewek sama cowok itu ada batasannya" bentak Ana dengannya.


"Bodo amat, aku butuh uang!!!"


"Gak ada Ambar, sumpah, kami semua bawa bekal jadi gak dikasi jajan" Ana langsung berdiri dan mengeluarkan semua isi kantong di roknya. Benar saja hanya ada sisa-sisa pasir yang jatuh dari dalam kantong gadis itu.

__ADS_1


Ambar menggosok-gosok kepalanya, pusing, perutnya sudah lapar lagi tapi dia tidak bisa ikut makan dengan teman-temannya diwarung saat ini. Tidak ada pilihan selain mendekati Sita yang semakin lama semakin menundukkan kepala setiap Ambar melangkah mendekati mejanya.


Saat sampai didepan kursi gadis itu, wajah Sita sudah tertutup sepenuhnya kebawah meja sampai-sampai telinganya pun tidak terlihat lagi. Anak perempuan lain yang memperhatikan berusaha menahan tawa agar Ambar tidak kembali mengercoki mereka.


"Bagi duit kamu" Ambar berbicara sedikit lebih lunak dengannya.


Sita terus menundukkan kepala, tidak merespon pengompasan yang sedang dilakukan Ambar. Karena tidak mendapatkan jawaban, Ambar menendang kuat meja Sita yang membuat kepala gadis itu kejedot ujung meja. Sakit bukan main sampai-sampai kepala Sita pusing dalam hitungan detik.


Satu, dua, tiga, Sita mengangkat kepalanya dan merengek seperti anak kecil lagi. Ambar membelalakkan mata melihat reaksi cewek yang didepannya.


"Hayoo kamu buat dia nangis lagi mbar" kata Ana kesal.


"Nangis mulu perasaan ini anak!!" kata Ambar kebingungan "Yaudah kalo gak ada gak apa-apa kok" ujar Ambar dengan pelan.


Sita tidak mendengarkan perkataan Ambar, kepalanya masih sakit karena terpukul tepian meja. Ambar segera menutup mulut gadis itu dan duduk disamping Sita.


"Cieeeeee" ujar keempat orang itu kompak. Bahkan Thalib yang tadinya ketakutan ikut menggoda Ambar yang masih menutup mulut Sita dengan tangannya.


"Eeh udahan dong ntar Doraemon datang, aku dikirim ke hutan pake pintu ajaib" ujar Ambar memohon agar Sita berhenti menangis dan tidak mengundang kehadiran buk Mun guru berbadan besar itu kekelas.


"Uuuuummmmmmmmmm" bunyi tangis Sita hilang karena Ambar, jika dia melepaskan tangannya dari mulut Sita maka bunyi tangisnya berbeda lagi, seperti sirine ambulan bawa mayat kata Ambar.


Airmata gadis itu tidak berhenti mengalir dan Ambar terus menutup mulutnya. Sita meronggoh saku dan mengeluarkan uang 1000an dari kantong dan menyerahkannya dengan Ambar. Meskipun airmatanya masih keluar tapi entah kenapa dia mau memberikan uang miliknya dengan anak nakal tersebut.


Melihat Sita menyerahkan uangnya Ambar dengan hati-hati melepaskan tangan dimulut Sita. Gadis cantik itu memang masih menangis tapi dalam mode silence lagi. Ambar kebingungan dan segera berlari meninggalkan kelas.


"Kenapa Sita kasih, haah malangnya! Bakal tiap hari Sita dipalakin" kata Ana yang prihatin dengan nasib Sita selanjutnya.


"Iya, aku sampe-sampe harus bawa bekal terus kesekolah karena takut di palakin Ambar kalo bawa uang" Thalib ikut mengeluh dengan nasibnya. 


  ~♡♡♡~


 


"Uang teman-teman adalah uang aku juga, karna kami bersaudara se-Peringi!" ~ Ambar

__ADS_1



__ADS_2