![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Ismet yang baru datang kebalai desa sambil menyeret Ujang langsung mencari\-cari Ambar temannya yang paling berisik.
"Si Ambar mana?" tanya Ismet sambil menolak Ujang untuk ikut duduk disampingnya.
Teman mereka yang kurus itu masih patah hati karna mengetahui ana ternyata benar\-benar sudah punya pacar.
"Udahlah jang, ikhlasin! Lagian Ana gak cantik\-cantik banget. Biasa aja, kalo Sita baru.....kamu patah hati sampe guling\-guling pun kami maklumi" bujuk Arul sambil menepuk\-nepuk pundak Ujang.
"Si Ambar belum datang?" tanya Ismet lagi sambil melihat kearah jam tangannya.
"Udah, trus entah kenapa kabur gitu aja si bangke tanpa ngomong apa\-apa"
"Si Khaidir juga belum kesini?"
"Nah itu tuh yang mau aku bilang sama kalian. Aku naksir adik Khaidir loh, cantik soalnya" teriak Arul kegirangan.
Semua teman\-temannya langsung memandangi cowok yang dulunya kurus kering, hitam dan dekil itu yang kini memang sudah berubah jadi manis dengan seiring berjalannya waktu.
"Hahaha si Suci?" tanya Abdul penasaran.
Arul dengan malu\-malu menganggukkan kepalanya "Kemarin pas aku nginep dirumah Khaidir liat adiknya, senyumnya maniiiis banget pengen aku gigit"
"Udah kalian jangan ngebahas itu dulu, liat nih Ujang udah kaya orang hidup segan mati gak mau!!" bentak Yudi yang dari tadi terus memijit\-mijit pundak Ujang agar semangat kembali.
"Iya si Ambar mana nih, tugas dia untuk hibur Ujang kita yang jelek ini" kata Ismet dengan wajah polosnya.
"Jangan di perjelas!! Ujang emang jelek tapi gak usah di sebut juga jeleknya itu!" kata Abdul memukul kepala Ismet.
"Apa bedanya sama kamu! Kamu juga nyebutin Ujang jelek!" kali ini Arul yang memukul kepala Abdul.
"Waduh, berani ya kamu mukul kepala abang!!"
"Hehehe maaf bang, jadi gimana nih apa kita operasi plastik Ujangnya biar kaya opa\-opa korea, ya jang? mau jang?" tanya Arul yang jelas\-jelas sengaja kembali ke pembahasan awal agar Abdul tidak memarahinya.
"Emang sejelek itu ya aku?" tanya Ujang lemah.
Semua temannya kompak diam sambil menatap langit cerah desa Peringi hilir. Mau jawab kasian tapi gak jawab mata Ujang yang sayu menatap satu persatu teman\-temannya sambil menantikan jawaban mereka.
"Jelek sih enggak, lebih ke arah ancur deh kayaknya" jawab Arul tanpa pake mikir.
Pundak Ismet dan Abdul sampai bergetar menahan tawa karna jawaban arul yang begitu jujur. Khaidir dan Thalib pun akhirnya datang untuk bergabung dengan teman\-temannya.
"Wuiih.... Calon abang ipar mu datang juga nih rul" kata Abdul mengalihkan pembicaraan mereka lagi.
"Siapa abang iparnya Arul?"
"Pake nanya, ya kamu lah! Arul naksir adik mu, Suci! Kamu kasi ijin gak?" Tanya Ismet sambil menepuk pundak Khaidir.
"Hahahaha loh kok sama, aku juga naksir Hening" tawa Khaidir kegirangan setelah tahu kisah asmaranya sama dengan Arul.
Kali ini Abdul, Ismet dan Yudi kompak geleng\-geleng kepala dengan kisah cinta teman mereka. Kecuali Ujang, dia masih frustasi karna kisah cintanya jelas\-jelas berakhir tragis.
"Haaah, kalo kamu met naksir siapa nih?" tanya Abdul penasaran biar gak kalah saing dengan dua temannya yang sudah saling jujur soal cinta mereka itu.
"Aku? Hahaha siapa ya, Sita dari dulunya" jawab Ismet malu\-malu.
"Hahaha sama! Aku juga naksir Sita" Abdul ikut girang dan mengangkat tangannya untuk tos dengan Ismet. Dua\-duanya bahagia padahal sedang jatuh cinta dengan orang yang sama?!
"Saingan kalian!!" ujar Yudi heran karna dua temannya tertawa mengetahui hal itu.
"Aah gak apa\-apa! Misi kita sama ya met, mengalahkan Alif dulu baru deh kita saingan yaa" Ismet langsung mengangguk setuju dan menepuk\-nepuk pundak Abdul.
"Aku juga naksir Sita sih" ujar Thalib lemah.
"Hahaha bagus itu, Keren! Ada lagi yang naksir gak? Biar kita kompak dan saling bekerja sama buat jauhin Sita sama pacarnya yang sekarang!" tanya Abdul bersemangat.
"Aku juga naksir Sita\_\_\_\_\_"
"Tadi kamu bilang Hening!! Satu\-satu dong, rakus banget!" bentak Ismet dan Abdul cepat mendengar perkataan Khaidir.
"Kan aku belum selesai, aku juga naksir Sita sih dulunya. Tapi setelah melihat Hening beranjak dewasa cinta aku beralih ke dia" jawab Khaidir berbunga\-bunga.
"Nah serah kamu deh, soalnya yang bakal kamu hadapi dua singanya Peringi hilir" ledek Abdul.
Semua teman\-temannya ikut tertawa membayangkan wajah pak Bahrun dan Ambar, orang yang paling sering mengusili Khaidir selama ini.
"Iya juga ya, serem ih penjaganya Hening" kata Khaidir lemah saat mengingat taringnya Ambar yang tajam menerkam lehernya.
__ADS_1
"Mana sih si Ambar, apa pulang kerumah?" Ismet masih risau karna tumben teman paling akrabnya itu tidak datang dihari minggu ini untuk berkumpul bersama mereka.
"Telfon dir" perintah Abdul.
"Hahaha berapa nomor telfonnya si Ambar?" tawa Khaidir karna diantara mereka hanya Ambar yang belum memiliki smartphone.
"Wuih ngeledek kamu, pak Bahrun udah beli telfon Barbie itu loh yang warna pink itu untuk dipasang dirumahnya" sahut Ismet yang ikut mentertawai nasib miris teman akrabnya itu.
"Jahatnya! Dengar Ambar aku gak tanggung jawab ya, di masukin ke sungai kalian satu\-satu" kata Thalib mengingatkan. Semua kompak diam, takut Thalib mengadu dengan Ambar.
~~~\*\*♡AmbarSita♡\*\*~~~
Saat matahari mulai meninggalkan bumi, Ambar mengajak Sita untuk segera pulang. Dengan berat hati gadis itu menuruti meski hatinya masih ingin lama, lebih lama dan selama\-lamanya berada disamping Ambar. Setelah mengantarkan Sita pulang Ambar langsung kabur menemui teman\-temannya dibalai desa. Semua cowok\-cowok itu tetap awet nongkrong disana sambil bermain ludo dihandphone Khaidir.
"Dari mana kamu?" tanya Ismet langsung mengintrograsi Ambar.
"Kencan lah, emang aku kayak kalian kaum homo seksual!"
"Anak gadis mana yang berhasil kamu santet biar mau kencan sama kamu?" tanya Abdul ikutan mengintrograsi.
"Wuuu nyantet enak aja, emangnya aku Arul?! Aku mah ganteng jadi gampang buat ngajakin cewek kencan! Ya gak jang, apa kabar Ujang? Sehat jang?" sapa Ambar dengan temannya yang terlihat murung tersebut.
"Ujang butuh kamu tuh, hatinya masih patah jadi tiga karna Ana" kata Arul kembali memberitahu "Rencananya kita sepakat buat operasi wajah Ujang, biar ganteng kaya cowok\-cowok Korea, ya kan jang?" sambungnya lagi.
"Oooh Banyak yang harus di permak kayanya tuh, kasian dokternya jang" jawab Ambar santai tanpa mikir tanpa dosa.
Ismet langsung memukul kepalanya "Tadi siapa yang bilangin Ujang jelek bakal dipukul, jadi kamu mesti dipukul juga!!"
"Lah aku gak bilang Ujang jelek perasaan!"
"Operasi plastic mahal jang, kalo menurut aku sih mending ganti aja cewek yang kamu taksir. Kaya Imay, Iput juga ada tuh yang masih jomblo atau mau gabung sama kami jadi perkumpulan Anti\-Alif untuk merebut Sita dari cowok sombong itu?"
Ambar mengerutkan keningnya mendengar perkataan Abdul barusan.
"Perkumpulan Anti\-Alif ?" tanya Ambar ragu.
"Iyaaa! Kami\-kami yang naksir sama Sita masuk kedalam perkumpulan 'Anti\-Alif', kita bakal saling bekerja sama untuk membuat Sita putus sama pacarnya, kamu mau gabung juga?" jelas Abdul sang pendiri klub tersebut.
"Hahaha siapa aja anggotanya?" tanya Ambar lagi berbasa\-basi.
"Aku, Thalib, Ismet, Ujang nih sebentar lagi juga kami paksa buat masuk, ya kan jang? Kamu kalo mau gabung juga boleh!" jawab Abdul bersemangat.
"Ya trus kalo Sita udah jauh dari Alif, kitanya ngapain?" tanya Ambar ragu\-ragu.
"Baru kitanya saingan hahaha" jawab Abdul di ikuti ketawa semua teman\-temannya.
Hanya Ambar yang tidak, dia menelan ludah melihat raut wajah semua teman\-temannya yang bahagia, membayangkan dirinya juga pasti akan dimusuhi jika mereka tahu bahwa Ambar lah pacar Sita yang sebenarnya "Makasih Alif" gumam Ambar dalam hatinya. Baru kali ini dia bersyukur dan senang dengan gossip\-gosip menyesatkan tentang hubungan palsu antara Sita dan Alif tersebut.
~~~\*\*♡AmbarSita♡\*\*~~~
Senin pagi Ambar terpaksa untuk tidak telat kesekolah. Dia takut gadisnya menunggu seperti biasa dipinggir jalan untuk berangkat kesekolah bersama dengannya. Pukul 07.15 Ambar keluar dari rumahnya dan benar saja Sita dengan wajah sumringah mendekati Ambar yang lewat didepannya.
"Selamat pagi calon\_\_\_\_\_\_" Sita menghentikan perkataannya saat melihat Hening adik Ambar ada dibelakang abangnya.
"Pagi kak Sita" sapa Hening dengan ramah.
"Pagi Hening" jawab Sita lebih ramah lagi.
Ambar memperlambat langkah kakinya agar Hening berjalan lebih dulu meninggalkan dia dengan Sita dibelakang. Setelah Hening jauh baru Sita mendekati Ambar dan menggandeng tangan cowok itu mesra.
"Pagi calon imam" ujar Sita pelan.
Ambar hanya tersenyum dan membiarkan Sita menggandeng tangannya. Dipersimpangan jalan pemisah antara mereka Sita tetap lurus mengikuti Ambar.
"Kenapa? Sekolah kamu kan disana" ujar Ambar heran.
"Aku antar" jawab Sita dengan manja.
"Jangan becanda, ini masih pagi nih emosi aku masih stabil"
Sita cemberut mendengar perkataan Ambar "Ya kalo gak aku antar ntar kamu bolos" kata Sita lagi memberi alasan karna dia memang begitu ingin mengantarkan Ambar kesekolahnya.
"Aku sekolah! Benaran! Kalo aku boong jewer kuping aku" Ambar melepaskan tangan Sita dari lengannya "Kamu juga berangkat ya, hati\-hati" pamit Ambar pada pacarnya tersebut. Dengan terpaksa Sita menuruti perintah Ambar.
"Ti Amo!" \(*Aku cinta padamu*\) kata Ambar pelan dan tersenyum menatap Sita yang mulai berjalan meninggalkannya. Sita kembali menoleh pada Ambar dan tersipu malu menatap senyum kekasihnya yang begitu manis. Ambar memperlihatkan lesung pipinya yang langka untuk Sita pagi ini. Dia langsung pura\-pura manyun dan kembali mendekati Ambar, bibirnya cemberut seperti orang yang akan menangis.
"Kok balik, udah sana ntar terlambat loh"
__ADS_1
"Rasanya aku gak mau pisah dari kamu" rengek Sita dan menggenggam erat tangan Ambar.
"Aduh diliatin orang\-orang ntar, kita juga yang malu, Udah... Berangkat kesekolah ya sayang" Sita menganggukkan kepalanya dan segera pergi meninggalkan Ambar untuk berangkat kesekolah.
~~~\*\*♡AmbarSita♡\*\*~~~
Setelah pulang sekolah Sita menunggu kekasihnya lagi di pinggir jalan. Tujuannya untuk mengajak Ambar menghabiskan harinya dengan Sita disungai indah mereka berdua. Saat ambar lewat Sita langsung merapikan rambutnya.
"Kemarin kan udah, masa kesana lagi, ntar kamu bosan" kata Ambar memberi alasan.
"Kalo sama kamu kegiatan yang kita lakukan berulang tidak akan pernah membosankan" jawab Sita cepat dan terus memaksa Ambar untuk mau berkencan dengannya lagi.
"Yaudah ganti baju dulu ya, aku juga mau makan"
Sita mengangguk menuruti perintah Ambar. Setelah Sita mengganti seragamnya dan kembali keluar untuk menunggu Ambar tiba\-tiba Alif datang kerumah gadis itu.
"Hei mau mau kemana?" sapa Alif saat melihat Sita.
"Loh ada apa nih, tumben datang gak ngabari dulu" jawab Sita gugup.
"Kamu sibuk ya?"
"Mau pergi sih rencananya" saat Sita mengatakan hal itu tiba\-tiba Ambar lewat didepan rumah gadis tersebut yang membuat Sita semakin gugup dan ketakutan.
Ambar melirik sebentar kearah Alif dan Sita kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ketempat mereka biasa. Hatinya memang cemburu tapi saat ini Ambar tidak berniat menjauhi Sita atau menghilang dari hadapan gadis itu seperti yang biasa dia lakukan saat marah. Cukup lama Ambar menunggu di tepi sungai sendirian hatinya makin risau mungkin Sita terjebak dengan Alif dan dipaksa pergi oleh cowok tinggi itu.
"Ya Allah mbar! Kenapa kamu sampe mau disembunyiin dan gak diakui ke orang\-orang gini coba!" gumam Ambar pada dirinya sendiri.
Kesal jika mengingat saat ini dia sedang mengalah untuk Alif sedangkan Ambar adalah pacar resmi Sita. Satu jam kemudian Sita baru muncul, wajah gadis itu begitu pucat, nafasnya juga terdengar sesak seperti orang yang habis berlari. Sita pikir Ambar tidak akan ada ditempat itu dan pasti dia begitu marah, menghilang atau menjauh lagi, tapi ternyata tidak. Ambarnya tetap anteng duduk ditempat biasa. Bahkan dia tersenyum menyambut kedatangan Sita yang ngos\-ngosan.
"Ambaaaaaar....." kata Sita dengan suara yang begitu berat. Oksigen ditubuhnya benar\-benar habis karna kelelahan berlari. Sita langsung duduk disamping Ambar dan menggenggam tangannya erat.
"Maaf" hanya kata itu yang bisa dia ucapkan saat ini. Sita mengumpulkan mental dan tenaganya menunggu bentakan dan marahnya Ambar.
"Iya gak apa\-apa kok" jawab Ambar santai dan membelai rambut Sita yang ikatannya begitu berantakan. Gadis itu sampai membelalakkan mata dengan respon Ambar.
"Kamu gak marah? Jangan putusin aku ya, aku mohon" ujar Sita lagi meyakinkan dirinya jika pacarnya benar\-benar tidak marah saat ini.
"Hahaha enggak lah, lagian kamu bener cuma temanan sama Alif kan?"
"Bener! Sumpah!!" jawab Sita cepat dan mengangkat dua jarinya ke udara.
"Yaudah" kata Ambar dan tersenyum.
Sita langsung memiringkan kepalanya, heran dan masih tidak percaya kenapa hati Ambar bisa berubah lembut?!
"Kamu beneran gak marah?"
"Enggak sayang!"
Sita melepaskan nafas lega dari mulutnya dan menggandeng tangan Ambar.
"Syukurlah sifat keras kepala kamu bisa berubah semenjak kita pacaran. Tapi ngomong\-ngomong kenapa kamu gak marah ya? Kamu gak cemburu?"
"Sepertinya hati aku udah terlatih" jawab Ambar sambil tersenyum "Lagian aku juga sadar diri kan kamu dari dulu maunya gitu. Hubungan kita gak diketahui oleh orang\-orang, jadi yaah dari pada aku kehilangan kamu lebih baik aku nurut aja"
Sita terpaku dengan perkataan Ambar. Cowok itu berhasil mengatakan apa yang dirasakannya selama ini, kesalahpahaman nya mulai diketahui Sita.
"Ambar bukan gitu, dulu aku gak mau kedekatan kita diketahui orang karna takut sama teman\-teman kamu" kata Sita yang ikut memberitahu perasaannya.
"Emang teman\-teman aku kenapa?!"
"Teman\-teman kamu itu banyak! Terus...Ya kamu tahu sendiri, mulut mereka sedikit berisik. Ntar aku diledekin, mereka pasti bakal ngeledekin aku yang naksir sama kamu"
"Diantara mereka semua mulut aku yang paling berisik! Terus kenapa kamu malah naksirnya ke aku!" kali ini Ambar berbicara dengan tegas mendengar alasan Sita.
"Aduh bukan gitu, gimana ya cara ngomongnya yang kaya gini loh 'ciee... Sita, ciee... Ambar' setiap ketemu. Aku gak suka dengar itu, aku malu jadi pusat perhatian soalnya aku gak cantik, sedangkan kamu.....Yang naksir kamu itu banyak!" jelas sita sambil memajukan bibirnya dia jadi manyun setelah menjelaskan ketakutannya.
"Siapa bilang kamu gak cantik?"
"Buk Ita! dulu aku pernah curhat ke ibuk tentang kamu trus ibuk ngomong gini 'sok cantik kamu sampe gak mau ngejawab omongan Ambar' gitu katanya"
"Hahaha bener sih buk Ita" ledek Ambar dan melepaskan genggaman Sita.
"Kamu malu ya punya pacar jelek?" tanya Sita lemah.
"Malu? Enggak lah, aku rasa punya pacar miskin lebih memalukan"
Sita hanya sanggup diam, susah sekali menghentikan Ambar berbicara hal yang tidak menyenangkan tersebut. Genggamannya tidak lepas dari lengan Ambar. Mereka menghabiskan hari yang cukup lama lagi berduaan.
__ADS_1
