![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
AmbarSita
*****
Selesai ujian kenaikan kelas dan liburan. Ambar kembali bersatu dengan teman akrabnya, Ismet. Sedangkan Abdul harus tinggal lagi dikelas 3. Berarti hanya Arul, Ambar dan Ismet yang menjadi 'biang onar' dikelas empat sekarang.
Seperti biasanya sebelum berangkat kesekolah, Ismet dan Arul menunggu Ambar ditempat biasa. Pukul 7.45 bocah itu akhirnya datang dengan raut wajah sumringah karena pak Bahrun membujuknya agar mau kesekolah dengan dua buah beng-beng. Bahkan waktu itu keluar varian rasa baru dari produk kesukaan Ambar tersebut yaitu beng-beng rasa vanila, Ambar mendapatkan keduanya.
"Wuiiih beng-beng kamu dua mbar, bagi dong!" mohon Ismet yang sudah ngiler duluan.
"Iya, tapi besok ya! Aku mau simpan dulu ampe besok!"
"Ampe besok! Lama amat, keburu basi entar"
"Enggak apa-apa, kalo yang basi itu beng-beng aku tetap makan"
Sita yang dari tadi mengekori ketiga orang itu langsung tersenyum mendengar perkataan Ambar.
"Kasian Abdul" ujar Ismet pelan.
"Dipukul ya sama pak Anto?" tanya Arul penasaran.
"Iyaa... Pak Anto sampe pinjam rotan pak Bahrun" kata Ambar memberitahu.
"Kamu gimana? Dimarah pak Bahrun juga?"
"Dimarah, tapi dipukul nya gak pake rotan"
"Pake apa dong??" tanya Ismet dan Arul kompak.
"Pake ikat pinggang, soalnya rotannya kan lagi dipinjam pak Anto"
Ismet kemudian menoleh kebelakang karena merasa langkah mereka tengah di ikuti seseorang. Dia tersenyum mengetahui ternyata Sita yang ada dibelakang mereka.
"Sita dapat ranking satu lagi ya?" tanya Ismet.
Sita mengangukkan kepalanya, Ambar pun akhirnya ikutan menoleh kebelakang.
"Aah males sama Sita, aku gak suka lagi sama dia" kata Ambar kesal dan melangkahkan kakinya dengan cepat menunu kesekolah.
~♡AmbarSita♡~
Sita masih kepikiran dengan ucapan Ambar yang tadi pagi. Hanya pandangannya saja yang melihat kedapan papan tulis, pikirannya melayang. Biasanya ada orang yang diam-diam akan diliriknya. Tapi sekarang tidak akan ada lagi.
Selama dikelas lima, Sita jadi semakin akrab dengan Alif. Soalnya Alif terlalu sering mencopy paste apapun yang dilakukan gadis cantik tersebut.
"Sita sekarang jadi temannya Alif" keluh Khaidir saat akan berangkat kesekolah bersama temannya, Thalib dan Abdul.
"Iyaaah... Sita mau kalo ngomong sama Alif. Tapi sama kita cuma ngangguk trus geleng, kaya orang bisu! Sebel tiap ajak Sita bicara" kata Thalib menunjukkan ekspresi kesal.
"Alif juga sekarang jadi raja dikelas, coba aja ada Ambar. Wuih pasti di pukul kepala dia sama Ambar"
Sita terus memutar\-mutar kakinya membuat lingkaran bulat didepan halaman rumahnya. Hari minggu, para warga yang laki\-laki masih sibuk melanjutkan pekerjaan gotong royong mereka untuk mengecor seluruh jalan didesa yang masih tersisa.
Arul dan Ismet dua bocah polos\-polos tidak berotak itu dengan santainya melewati jalanan yang masih basah bekas coran warga.
Pak Pandi dan pak Safri ayah kedua bocah tersebut sampai tersulut emosi melihat jejak kaki yang dibuat anak\-anak mereka. Dua\-duanya langsung kabur menyelamatkan diri kerumah Ambar, tapi sibocah nakal justru tidak ada dirumah saat ini. Kemana lagi Ambar jika tidak di tenda tempat ibuk\-ibuk meletakkan makanan.
__ADS_1
"Heeeh....Kenapa kaki kalian kena semen gitu, kalo keras kapok" panggil buk Ita khawatir melihat Ismet dan Arul lewat didepan halaman rumahnya.
"Sini.... Ibu bersihin"
Ismet dan Arul langsung nurut, selain itu mereka juga bisa menyelamatkan diri disana.
"Boleh main disini buk?" tanya Ismet memelas.
"Boleeh dong, Taa... ini ada temannya, kenapa malah bengong. Ajakin masuk, ibuk juga ada kue tuh didalam" panggil buk Ita pada putrinya yang terpaku menatapi Ismet dan Arul.
Sita mengajak kedua anak tersebut masuk kedalam rumahnya.
"Wuiih Sita juga ada komputer yaaaa?" kaget Ismet saat mereka melewati ruang kerja pak Adam yang ada disamping ruang tamu. Sita mengangguk kemudian lanjut membawa teman\-temannya ke dapur.
Terdengar teriakan keras dari luar, buk Ita ikut memanggil bocah yang nasibnya sama dengan Ismet dan Arul tadi. Siapa lagi kalo bukan Ambar! Dia dengan Khaidir dan Ujang dikejar oleh pak Bahrun karena tidak henti\-hentinya memakan makanan milik para pekerja.
"Sini ibuk bersihin kakinya"
"Ismet sama Arul juga ada didalam" kata buk Ita sambil mencuci kaki\-kaki bocah itu.
Sita langsung keluar karena mendengar suara yang sudah begitu dihapalnya.
Dengan santainya kelima bocah laki\-laki itu duduk dimeja makan sambil menghabiskan kue\-kue milik si tuan rumah.
"Mbar Sita ternyata ada komputer juga loh" ujar Ismet memberi tahu.
"Haa serius, dimana?"
"Kok kamu gak liat sih tadi ada diruangan disamping ruang tamu Sita. Iya kan Ta?"
Sita langsung mengangguk, padahal saat dia akan melihat Ambar keluar, Sita langsung menutup pintu ruang kerja ayahnya tersebut. Sita takut Ismet dan Arul memainkan komputer milik ayahnya yang termasuk salah satu barang langka pada jaman mereka. Tapi sekarang justru gadis itu yang menawarinya.
"Kalian mau main komputer?"
Semua kompak menganggukkan kepala, Sita kemduian mengajak teman\-temannya masuk kedalam ruangan yang mereka sebutkan tadi.
"Wuiih sama kaya ditempat kerja ayah ku" teriak Khaidir.
"Mahal ya ini? Kok kalian bisa punya sih?" tanya Ambar penasaran.
__ADS_1
"Ini buat kerja ayahku" jawab Sita pelan.
Semuanya langsung kompak memandangi Sita. Saking jarangnya gadis itu mengeluarkan suara. Jadi saat Sita bicara menjadi hal yang begitu langka untuk mereka.
"Taa ada temennya lagi nih" panggil buk Ita dari luar.
Sepertinya semua anak\-anak didesa Peringi hilir bakal meramikan rumah buk Ita hari minggu ini. Sita kembali keluar untuk melihat tamu selanjutnya. Ternyata Alif, yang kini sudah menjadi teman akrabnya .
"Sita ngapain?" tanya Alif dengan ramah.
"Ayo masuk. Ada yang lain juga didalam" ajak Sita bersemangat karena dua laki\-laki yang disukainya datang bermain kerumahnya hari ini.
"Ini bisa hidup ta?" tanya Ismet dengan polosnya.
Sita menganggukkan kepala.
"Ada gamenya juga, kaya punya kak Dian?" tanya Ambar semangat.
"Adaaa" jawab Sita mengeluarkan suara.
"Aku juga punya dirumah!" kata Alif mulai menyombongkan diri.
"Siapa yang nanya, Hahahahaa" ledek Ambar.
Semua langsung tertawa, kecuali khaidir dan Sita. Kalo khaidir jelas takut karna disekolah dia bisa dipukuli Alif.
"Coba aja pak Bahrun kerjanya juga pake komputer" ujar Ambar meratapi nasib.
"Bapak kamu petani buat apa komputer, \*\*\*\*!!" ledek Alif tajam.
"Apaan sih Alif, sombongnya! Bapak aku juga petani, kalo gak ada petani kalian semua gak bisa makan nasi loh!" bentak Ismet berusaha membela temannya.
"Iya nih, aku laporin ke pak Bahrun baru tau rasa kamu tiang listrik!" kata Ambar kesal dan langsung memukul kepala Alif kemudian kabur pulang kerumahnya.
Semua ikut menyusul Ambar, kini yang tinggal hanya Sita dan Alif saja. Sita tersenyum kecut melihat Alif yang cemberut karena tidak bisa membalaskan pukulan Ambar tadi.
"Ambar gak usah dilawan, dia emang jahil" nasihat Sita untuk pertama kalinya kepada Alif.

__ADS_1