AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Tinggal Kelas


__ADS_3

Minggu pagi semua pria di kampung peringi hilir berkumpul di dekat dermaga, termasuk pak Bahrun juga. Dari hasil rapat desa bulan lalu, pak Awan kepala desa Peringi hilir berhasil mengajukan bantuan dana untuk pengecoran jalan-jalan desa mereka.


"Naaah jadi kan semua jalan-jalan, gang-gang, bahkan tepian sungai kita corin tuh bapak-bapak. Desa kita jadi bersih kaya dijepang-jepang gitu. Bakalan bagus kalo hujan juga nggak bakal becek lagi" jelas pak Awan bersemangat.


Semua setuju, pak Awan memang sungguh bekerja nyata untuk warganya. Meski belum mau dibangunin jembatan karena kasihan dengan mereka yang menjadikan penyebrangan sebagai pencarian nafkah. Toh warga desa juga terima-terima saja meski desa Peringi jadi telihat terisoli.


"Aaaambaaaaaar" panggil Ismet dan Arul didepan rumahnya.


Ambar yang baru selesai sarapan lontong sayur sisa ayahnya dan setumpuk nasi goreng berlari dengan semangat saat mendengar namanya dipanggil.


"Kenapa kalian? Rindu yaa?" tanya bocah itu cengengesan.


"Kamu udah liat eskapator belum, gede loh mbar" ujar Ismet memberitahu.


"Haaa apaan tuh?"


"Itu didermaga baru nyampe, kan lagi ada kerjaan disana"


"Aku boleh ikut kerja juga?" tanya Ambar penasaran.


Buk khadijah yang ada dihalaman samping rumahnya langsung tertawa mendengar celotehan anak sulungnya itu.


"Mau kerja apaan kamu! Disuruh ke warung buk Eli aja selalu ngeluh capek!"


"Yang kerja bapak-bapak aja mbar, tapi banyak makanan disana" kata Arul.


Ambar langsung berlari bak kilat bahkan meninggalkan dua temannya yang datang untuk menjemputnya.


"Woii ambar, kok kami ditinggal" teriak Ismet kesal.


Sita yang sedang berkebun dengan neneknya langsung menoleh saat mendengar seseorang meneriaki nama Ambar. Sita ikut berlari mencari si sumber kebisingan. Dilihatnya Ismet dan Arul saja, tujuan mereka adalah kearah dermaga.


"Neek, Sita pergi dulu ya" pamit Sita ikut-ikutan, padahal anak itu pendiam dan tidak punya teman akrab.


Tapi karena si sumber berisik sudah 4 hari tidak dilihatnya karena bolos sekolah terus, sebab itulah Sita mau pergi keluar menunjukkan paras cantiknya pada seluruh warga Peringi hilir.


"Kamu ini!! Kami yang ngajakin malah kami yang ditinggal" bentak Ismet kesal.


"Kalian mah lama. Ntar makanan kita keburu di makan Ujang" ujar Ambar santai, sambil menendang kursi Ujang yang duduk disampingnya.


Padahal perut Ambar baru beberapa menit di isi setumpuk makanan. Sekarang malah di isinya lagi dengan berbagai macam gorengan yang disediakan ibu-ibu Peringi hilir untuk para pekerja.


"Sitaa" panggil Alif yang baru datang juga. Sita langsung menundukkan kepalanya. Sita merasa kesal, padahal dia belum melihat Ambar tapi kenapa sudah harus diganggu Alif!


"Sini berdirinya biar lebih jelas" ajak Alif sambil menarik tangan Sita.


"Kesana yuk" ajak Sita pada Alif.


Alif langsung kaget akhirnya bisa mendengar suara Sita. Sudah beberapa hari mereka satu kelas tapi gadis itu selalu diam jika diajak bicara.

__ADS_1


"Mbar, si Alif tu" bisik Khaidir ditelinganya.


"Mana? wuiih ayo sembunyiin kue-kue kita" ujar Ambar yang sudah mengklaim diri jika seluruh makanan itu milik mereka.


"Eh kamu ati-ati mbar, bapak Alif ternyata polisi juga. Bapak aku yang ngasih tahu"


Ambar langsung memukul kepala Khaidir "Terus kamu mau jadi temannya Alif gitu?!"


"Enggaklah! Aku teman kamu aja, dia jahat. Kalo marah suka nendang burung aku"


"Hayo kamu mbar, kalo kamu berantem sama Alif lagi bisa-bisa kepala kamu ditembak sama ayahnya" ujar Abdul menakut-nakuti.


"Biarin! Pak Bahrun kan punya rotan!"


Pak bahrun yang namanya baru disebut langsung datang bersama pak Toni. Pria itu datang memang untuk memukul anaknya. Pak Bahrun yakin jika Ambar tidak diberi peringatan maka bisa habis semua makanan yang sudah disediakan untuk para pekerja.


"Weeeeii Crish Jhon, nah datang-datang udah makan kue yaa. Dimarah pak Awan kamu entar, yang kerja aja belum nyobain noh" ledek pak Toni sambil mengelus-elus pipi tembem Ambar. Setelah itu mulut pak Toni mendarat kepipi tersebut.


"Bapak ini!! Ambar gak mau lagi jual diri!" bentaknya kuat.


"Hahaha... Kenapa Ambar jual diri?"


"Berisik kamu! Itu mulut masih berisi udah teriak-teriak aja! Ini makanan untuk pekerja ya, bukan buat kamu!" kata pak Bahrun sambil merapatkan giginya dan mencubit pantat Ambar.


Sebenarnya air mata Ambar mau keluar menahan sakit. Tapi mau nangis malu, soalnya calon musuh bebuyutannya dan Sita sudah datang.


"Woooop...Wooooop...Woooop.... " teriak semua bapak-bapak menyambut alat berat yang kedua diangkut Ferry.


"Heee kenapa gak dimakan kuenya" sapa pak Awan menghampiri bocah-bocah tersebut.


"Boleh pak?" tanya Ambar semangat, sampe lupa rasa sakit yang diberikan pak Bahrun barusan.


"Boleh, kan memang buat dimakan"


Selesai pak Awan bicara. Semua anak-anak kecuali Sita dan Alif langsung rebutan mengambil makanan. Pak Awan sampai meneguk salivanya, mungkin dihatinya 'nyesel udah nawarin'.


"Paak... Kenapa buk Eli diputar-putar gitu?" tanya Ambar yang mulutnya penuh dengan pisang goreng.


Pak Awan langsung melihat kearah telunjuk Ambar "Mana ada buk Eli disana"


"Itu yang warna putih, bukan buk Eli?" tunjuk Ambar lagi pada mesin molen yang sedang dioperasikan ayahnya.


"Haduuh kamu ini, dengar buk Eli marah loh dia Hahahaa"


"Kirain itu buk Eli, soalnya mirip" ujar Ambar sambil mengambil pisang goreng untuk yang ke 4x nya.


"Itu namanya ngapain pak?" tanya Ujang penasaran.


"Jangan sok nanya! Kaya punya otak aja" bentak Abdul yang sampe detik ini pun masih mengeja saat membaca.

__ADS_1


"sekarang kita mau ngecor jalan, jadi desa kita bisa bagus. Sepeda motor, mobil, semua bisa lewat deh didesa kita"


"Pesawat bisa juga pak?" tanya Abdul.


"Enggak bisa lah hahaha, pokoknya setelah ini kita harus merawat desa kita dengan baik, mengertiiiiiii?!! Kita harus jaga dan lindungi desa kita dari kerusakan"


"Gimana mau melindungi pak, Garamon nya aja tinggal disini" sahut Ambar sambil menunjuk kearah Imay. Semua teman-temannya langsung tertawa mendengar perkataan Ambar, termasuk Sita. Hanya Alif yang tidak, soalnya yang bercanda itu Ambar.


Ambar kemudian kabur dengan teman-temannya, Ismet dan Abdul. Mereka mau bermain kelereng didepan warung buk Eli. Syukur-syukur wanita itu mau memberi makanan gratis.


Sita pun ikutan pulang kerumahnya karena Ambar sudah pergi. Dia sudah puas, tujuannya memang hanya sebatas untuk melihat 'Pemandangan' itu saja.


  *****


Ambar memang begitu pemalas selama duduk dikelas 4. Dia bahkan begitu sering bolos dengan teman-temannya. Buk Ita juga sudah berkali-kali memanggil pak Bahrun. Mereka pun ikut lelah menghadapi kenakalan Ambar.


Setiap Ambar ditanya kenapa tidak datang sekolah jawaban anak itu selalu sama 'Karena ada Alif'. Selain itu Ambar kesal Alif duduk disamping Sita. Bank berjalan nya jadi hilang. Entah kenapa Ambar juga tidak suka melihat Alif dan Sita setiap mereka bicara berdua.


"Kami mohon maaf pak, Ambar memang nilai ujiannya bagus. Rata-rata dapat nilai 90 semua. Tapi ya bapak tahu sendiri, sudah berkali-kali kami memanggil bapak kesekolah membahas soal absennya Ambar. 2 minggu lagi kenaikan kelas. Jadi sebelum bapak syok, saya sebagai wali kelas nya Ambar ingin memberitahukan sepertinya Ambar harus tinggal kelas"


Setelah pak Bahrun pulang, buk Ita kemudian masuk kedalam kelas. Sebenarnya hatinya tidak tega, soalnya nilai ujian Ambar selama ini selalu bagus. Tapi saat buk Ita masuk kedalam kelas. Si bocah nakal justru sedang asyik memukul-mukul meja, menjadikan drum dadakan sambil mengangkat kakinya keatas. Rasa kasihan buk Ita hilang seketika, dia langsung memanggil Ambar untuk datang ke kantor.


"Ambar mau tinggal kelas?" tanya buk Ita tegas.


"kenapa gitu buk?"


"Iya soalnya Ambar sering banget bolosnya, ibuk sampe bingung mau mempertimbangkan dengan cara apa. Meski nilai ujian, nilai ulangan Ambar tinggi tapi absen Ambar banyak"


"Habis Ambar malas ke sekolah buk, Ambar gak suka sama Alif"


"Iya memang nya Alif kenapa? ibu lihat Alif baik-baik saja sekarang. Dia gak pernah ribut lagi, jadi sering belajar sama Sita juga malahan"


"Karena itu Ambar gak suka buk, kan Ambar yang sama Sita, kenapa Alif jadi ikut-ikutan"


Buk Ita langsung menjewer kuping bocah yang duduk dihadapannya "Jadi ini gimana, Ambar mau berubah apa enggak?"


"Ambar tinggal aja deh buk. Kalo naik, pasti satu kelas lagi sama Alif!" ujar Ambar datar.


Buk Ita kebingungan, karena ini pertama kalinya ada murid yang justru minta di tinggali. Buk Ita pun bisa sedikit lega, jadi keputusannya tidak akan menyakiti perasaan murid pintarnya jika memang itu kemauan Ambar sendiri.


Ambar kemudian dipersilahkan kembali kedalam kelas. Bocah nakal itu berjalan kearah meja Sita yang tengah asyik mengerjakan latihan-latihan dibuku LKS bersama Alif.


"Praaak!!!" Ambal memukul meja Sita dengan kuat, kemudian tersenyum "Sita aku tinggal kelas loh, kamu juga tinggal ya, biar kita bisa duduk berdua lagi" bujuknya bersemangat dan menunggu jawaban. Sita yang masih ketakutan karena gebrakan meja tadi langsung menggelengkan kepala.


"Kamu gak mau ya?" tanya Ambar dengan kecewa.


"Udah sana pergi!! tinggal kelas kok ngajak-ngajak!!" bentak Alif mengusirnya.


"Yaudah, duduk deh kamu selamanya sama tiang listrik" kata Ambar santai dan kembali duduk dibangkunya.

__ADS_1



__ADS_2