![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Tas Sita kembali mengeluarkan suara bunyi "Dreet...Dreet" gadis itu mengambil handphonenya lagi. Masih dengan panggilan orang yang sama. Ambar tidak melirik sama sekali, toh dia sudah tahu siapa yang menelfon. Sesampai diparkiran, Ambar naik keatas sepeda hasil maling dari buk Eli tersebut. Dilihatnya Sita tetap berdiri disampingnya.
"Kenapa?" tanya Ambar heran.
"Anu___aku lupa kalo pak Handsome itu minta dibeliin buku" jawab Sita memberi alasan.
"Haaa? Buku apa? Mata dia rabun juga!!"
"Hahahaha Jahatnya! Kita ke toko buku dulu yuk" ajak Sita lagi.
"Dimana?"
"Tadi pas kita mau masuk kesini aku liat ada toko buku deh"
"Besok-besok gak bisa? Atau beli di warung buk Eli aja"
"Buk Eli mana jual!" jawab Sita kesal dan masih berharap Ambar mau menurutinya.
"Yeee sembarangan kamu! Kamu gak tahu ya kalo buk Eli udah merenovasi warung dia jadi mall, jangan kan toko buku, bioskop aja dia punya sekarang!"
Sita cemberut, tidak mau merespon lelucon Ambar "Ayoo dong" rengeknya sambil menggoyang-goyang lengan Ambar.
"Aduh aku malah lapar lagi ini, makanya pengen cepat pulang"
"Bekal aku kan belum disentuh sama kamu atau kita makan steak yang enak disini?"
"Males, Gak ada duit!" jawab Ambar pelan.
"Iiih aku traktir, yaa yaa mau ya?" Sita terus berusaha membujuk.
"Enggak lah, Malu! Masa cewe yang traktir cowok"
"Kenapa? Dulu kamu sering minta ditraktir"
"Kan dulu sekarang udah tahu sama malu"
"Hahaha masaaa? Trus bekal yang aku buatkan, ya sama aja itu"
"Bekal itu hasil masakan kamu. Lagian aku cuma mau memastikan kamu itu calon istri yang baik atau bukan, biar calon suami kamu gak kecewa nantinya"
"Siapa coba calon suami aku?" tanya Sita sambil tersenyum sumringah.
"Pak Handsome!" jawab Ambar cepat. Sita langsung memukul sebal tangan Ambar. Senyumnya jadi hilang, tapi tetap dia enggak mau diajak pulang!
"Ayooo naik, kasi aja TTS dulu sama pak Handsome, buat ganti buku yang dia mau. Lagian dia mau baca buku apa sih? Kerjaannya ketawa gitu sok-sok an pengen baca"
"Iya dia cari novel komedi romantis gitu mbar. Biar jiwa humornya gak hilang, gitu katanya"
Ambar hanya diam. Malas menuruti kemauan Sita, karena perutnya sudah berbunyi. 'kreeeeeeeeeeeeueiiik' sepertinya cacing didalam perut sixpack Ambar konser kembali.
"Hahahaha" Sita tertawa lepas mendengar suara keroncongan perut Ambar "Kamu makan gak baca bismilah tuh, 8 stand makanan gratis kita cobain masih aja keroncongan"
"Iya nih, kadang aku kesal. Waktu kencan malah bunyi, cewek disamping aku jadinya ledekin"
Sita langsung terdiam dengan perkataan Ambar. Cemburunya kembali muncul, mulutnya juga ikutan maju lagi. Kesal setiap mendengar Ambar menyebutkan tentang wanita lain dihadapannya.
"Ayo pulang" kata Ambar menarik tangan Sita agar bisa lebih dekat dengannya.
"Gak mau!!" bentak Sita kuat, sampai-sampai Ambar mengangkat alis karena suaranya.
"Mau nginep disini?"
Sita tetap diam, mengalihkan pandangan Ambar yang ada didepannya. Air matanya kembali ingin keluar saking cemburunya. Selain itu Sita juga tidak terima jika Ambar memang mempunyai perempuan lain yang dekat dengannya sekarang. Karena gadis itu merasa dia terus menyebut nama Ambar didalam doanya, jadi Ambar harus jadi miliknya saja!
"Kita makan bekal kamu dulu aja deh kalo gitu. Memang aku gak tahan lagi laper banget" kata Ambar kembali turun dan mengajaknya pergi ke taman yang ada didekat mereka.
Ambar begitu menikmati nasi goreng buatan buk Ita. Apalagi telur dadarnya dimasukin Sita tiga, soalnya Ambar paling doyan dengan makanan itu. Ambar menyuapi kemulut Sita. Tapi dia menolak, masih kesal soalnya.
"Kamu diet?!" Sita hanya menggelengkan kepala "atau jangan-jangan ada racunnya nih? makanya kamu gak mau ikutan makan?"
Sita tetap diam, wajahnya memperlihatkan ekspresi jengkel. Tapi dalam hatinya begitu bahagia, selain Ambar akhirnya makan masakan buatan ibunya lagi. Terus waktu mereka bersama jadinya bisa lebih lama.
Harapannya sih begitu, tapi dalam waktu 5 menit Ambar selesai memakan semua nasi goreng Sita. Ayamnya pun tinggal tulang, semua habis tidak tersisa. Air minum botol milik Sita pun ikut-ikutan kering, Ambar memang luar biasa!
"Alhamdulilah kenyaaaang, makasih ya calon istri_________Pak Handsome" kata Ambar yang masih berusaha menggoda Sita. Gadis itu hanya menjawab dengan senyum manisnya.
"Yuuuk pulang" ajak Ambar lagi.
"Baru juga selesai makan, belum turun nasinya malah di ajak pulang. Ntar perut kamu sakit pas ngayuh sepeda gimana!"
"Ouh gitu ya, lama banget jalannya makanan di perut aku? Padahal kan gak ada polisi, jadi gak perlu putar arah karna takut ditilang"
"Hahaha ngasal kamu ini. Mmmm Oh ya jadi kamu pernah juga ya kencan sama wanita lain?" Sita berusaha memancing kembali pembicaraan mereka yang tadi.
"Wanita Lain! Udah kaya tukang selingkuh aja aku kedengarannya! Ya pernah lah, soalnya kami tetanggaan!" jawab Ambar tegas.
Sita terlalu cemburu, jadi otaknya tidak bisa menangkap perkataan Ambar dengan jernih. Dirinya bahkan berusaha menebak-nebak siapa tetangga mereka yang seumuran dengan Ambar. Tapi, Yah namanya perasaan lebih mendominasi otak, jadinya dia tidak paham dengan ucapan cowok dihadapannya.
"OH!" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Yuk pulang, kayanya makanan aku udah sampai di lambung"
"Beluuum, lagian tau dari mana udah sampe?"
"Nih mata aku ngantuk lagi, berarti udah sampe. Lambung aku ngasi kode dari mata, disuruh tidur biar dia bisa kerja"
"Belum! Sini aku coba tanya sama lambungnya" kata Sita mendekatkan kepalanya kebagian perut Ambar yang sudah berdiri didepannya. Ambar langsung mundur beberapa langkah.
"Kenapa?" tanya Sita memandanginya heran.
"Hahaha kamu mah, udah gede juga, masih aja dekat-dekatan gitu"
__ADS_1
"Kamu mikir nya negatif sih, kan aku cuma pengen denger lambung kamu lagi kerja"
"Udah jelas dibagian paling bawah perut ada yang sensitive, malah didekatin! Kan kalo bangun bahaya, ngantuk aku berubah jadi pusing kepala!" Jawab Ambar sambil tersenyum menggoda kepada gadis itu.
"Apaan sih Ambar" Sita menahan senyumnya, wajahnya merona lagi karena tersipu malu dengan ucapan Ambar barusan.
"Ayo pulang"
"Ke toko buku dulu, lagian masih jaaaaam satu!"
"Nyampe diperingi jam 2, pas banget itu, ayooo"
"Nggak maaaaauuuuuuu, ketoko buku dulu" elak Sita yang bahkan mulai merengek dengan cowok itu.
"Haduh untung ibu kita temanan, kalo enggak beneran aku culik kamu!"
"Boleeeeh" jawab Sita dengan manjanya.
Ambar tersenyum melihat tingkah gadis cantik dihadapannya saat ini, mau 'gemes' sayang cuma temenan.
"Yaudah ayo" Ambar akhirnya setuju dan menuruti kemauan Sita. Dalam perjalanan, handphone sita kembali berbunyi.
"Pak Handsome kanapa sih?! Heboh banget nelfonin kamu, jangan-jangan dia ketelen gigi palsu lagi waktu ketawa"
"Astagaaa, amit-amit jabang bayi Ambar" jawab Sita cepat dan kembali mengambil handphonenya didalam tas.
Tapi Ambar langsung menyergap handphone pabrikan Amerika tersebut dari tangan Sita. Dilihatnya nama orang yang memanggil, kemudian mengangkatnya.
"Hallo pak Handosome!! Sita lagi saya culik nih, jadi jangan nelfon-nelfon, ngeganggu!! bentar lagi bakal saya balikin lagi kok! tunggu aja dirumah, ini kami lagi dalam perjalanan ke toko buku, buat nyariin buku bapak! udah ya mekum"
Sita terpaku melihat Ambar, dia juga ketakutan karena sudah ketahuan bohong. Jelas-jelas nama yang tertulis tadi 'Alif' tapi kenapa Ambar malah ikutan bersandirwara?
"Kenapa kamu?" tanya Ambar sambil menyodorkan handphone Sita lagi.
"Ambar maaf, tadi itu___" Sita begitu gugup untuk menjelaskan kebohongannya.
"Pak Handsome kan? Nama kontaknya sih emang Alif, tapi aku tahu kok, itu sebenarnya pak Handsome. Biar buk Ita gak curiga 'forbiden love' antara kamu dan kepala desa kita" jawab Ambar dengan santainya.
Haaah Ambar memang lebih pintar menutupi rasa cemburunya. Harusnya Sita berguru dengan cowok itu. Sesampainya ditoko buku, Sita langsung pergi ke tempat rak buku terfavoritenya. Mencari novel-novel terjemahan karya Jane Austen yang masih belum dimiliki. Sadar-sadar ternyata Ambar tidak mengekor dari belakang. Cowok itu entah kemana, yang jelas dia tidak mengikutinya. Sita langsung pergi ke depan memastikan posisi Ambar. Ternyata cowok ganteng itu lagi asyik dengan sendirinya didepan rak buku khusus anak-anak.
"Kamu mau beli buku anak-anak?" kata Sita sambil mencolek pinggangnya.
"Udah dapat buku pak Handsomenya?"
"Beluuum" jawab Sita manja.
"Nah terus? Cari sana, malah ngikutin aku"
"Ya habis takut ditinggal sama kamu"
"Kalo lama rencananya sih iya" kata Ambar tersenyum.
'Dreeet....Dreeet' Handphone Sita kembali berbunyi. Sita benar-benar kesal dengan Hp nya sendiri saat ini. Lebih tepatnya bukan untuk smartphone canggihnya, tapi terkhusus orang yang sedari tadi tidak berhenti mengganggu suasana hati mereka.
"Gak usah, orang gila juga" elak Sita karena tidak mau Ambar berbicara lagi dengan Alif.
"Udah sini!!" pinta Ambar memaksa, wajahnya juga terlihat kesal.
Dengan berat hati Sita mengeluarkan handphonenya. Untung saja panggilan tersebut langsung berakhir "Nah udah mati kok" kata Sita lega.
"Iya aku tahu, tapi sini handphone kamu" minta Ambar lagi.
Sita memberikan handphonenya pada Ambar, dalam hatinya sampai berdoa 'Jangan sampai ada panggilan kedua Tuhan' dilihatnya Ambar membuka log panggilan tak terjawab dari Alif tadi. Sepertinya dia akan kembali menghubungi nomor temannya itu. Ambar mah dari dulu memang nekat.
"Gak ada pulsanya" kata Sita mencegah Ambar sebelum dia menyentuh tombol panggilan.
"Masaa?"
"Iyaaa, bener! Aku cuma ngisi paket data doang. Pulsa nya gak pernah" Sita terus berusaha meyakinkan dan meminta Ambar mengembalikan handphonenya.
"Handphone doang yang bagus, pulsanya gak ada! Ibarat cewek udah dandan cantik-cantik tapi pacarnya gak punya"
"Hahaha ngasal kamu, udah sini balikin"
"Cari aja buku kamu cepetan! Nanti nyampe di Peringi aku balikin"
"Ntar aku lupaa" rengek Sita memberi alasan.
"Kaya rumah kita jauh aja! Kalo aku maling kamu masih bisa nuntut pak Bahrun!"
"Ngapain nuntut calon mertua" ujar Sita keceplosan.
Ambar langsung tersenyum mendengar ucapannya "Rugi kamu kalo dapatin mertua kaya pak Bahrun" kata Ambar sambil memukul kepala Sita dengan buku.
"Kenapa?" tanya Sita lemah.
"Dia miskin" jawab Ambar mantap.
Sita langsung manyun mendengar jawabannya. Kemudian menggenggam tangan Ambar membawanya ketempat rak buku yang tadi.
"Ini novel nya bagus" kata Sita menyodorkan salah satu buku karya Jane Austen yang berjudul 'Pride and Prejudice' kepada Ambar.
"Tentang apa?"
"Cinta!! Rasa cinta yang dari hati itu bisa meluluhkan keangkuhan" jawab Sita sambil memandangi Ambar.
"Cinta itu murni lahir dari hati. Kekayaan, tahta, kesombongan Mr.darcy pada akhirnya berhasil luluh, kamu tahu salah satu penyebabnya luluh? adalah sifat humoris dan ceria yang dimiliki Miss elizabeth"
'Dreet...Dreet' Suara handphone milik Sita kembali berbunyi. Padahal dia sedang berusaha membuat adegan romantis dengan Ambar saat ini. Hatinya benar-benar dongkol dengan orang yang dari tadi terus menghubunginya. Bukan pak Handsome yang harus disantet, tapi Alif! Karna kerjaannya ngeganggu romansa Ambar dan Sita.
"Ya hallo" Ambar mengangkat panggilan tersebut. Dia mengangguk-anggukkan kepala, sepertinya pria yang sedang menelfon mengoceh panjang lebar meskipun Sita tidak bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Iya ini lagi di toko buku yang ada didepan lapangan itu, yang disebelahnya ada minimarket. Sandranya belum di apa-apain kok, tenang aja" kata Ambar dengan santainya.
Ambar woles, tapi Sita yang gak bisa santai. Dia menggigit bibir, kesal sekaligus takut. Takut Ambar menyuruh Alif datang menemui mereka.
"Loh katanya bapak nitip buku, makanya kami beliin dulu_____Udaah, udah dari tadi saya ajak calon istri bapak ini pulang_____Enggak lah ngapain lapor sama buk Ita. Kasian dong calon istri bapak bisa-bisa diomeli______Yaudah bapak kesini kalo memang lagi di Mandau, saya tunggu. Lagian saya capek nemani calon istri bapak ini. Sekarang aja saya malah diceritain isi novel Pride and Prejudice sama dia, kan saya jadi baper!! Yaudah bapak sini deh, dari pada banyak bacot!" Ambar memutuskan panggilannya dan tersenyum menatap gadis yang sudah berdiri kaku didepannya.
"Cerewet bener calon suami kamu, haaah makan ati tuh kamu kalo nikah ama dia" kata Ambar lagi.
Sita kembali membisu, dia tidak merespon ucapan Ambar. Tapi malah melempar buku yang ditangannya kelantai, Ambar sampai membelalakkan mata melihat hal itu.
"Heeeh dimarah penjaga tokonya baru tahu rasa kamu" kata Ambar dan memungut buku yang dilempar Sita tadi. Dilihatnya air mata gadis itu sudah keluar. Untung Sita nangis dalam mode silence kalo tidak, bisa ribet urusannya mendiami gadis cantik yang sedang berada di toko buku.
"Air mata kamu banyak ya, saking banyaknya bisa keluar gitu aja meski gak ada hal yang sedih" ledek Ambar kemudian menghapus airmata Sita.
Sita tetap mewek, tidak peduli jika Ambar sedang membelai pipinya saat ini "Udah! Jadi mana bukunya? Pride and prejudice ini buat pak Handsome?"
Sita tidak menjawab, dia masih saja berdiri mematung. Tiba-tiba handphonenya bunyi kembali, dengan cepat Sita merebutnya dari tangan Ambar. Tapi sayang, kekuatan otot laki-laki mah, apalagi orangnya Ambar, sudah pasti Sita kalah. Rasa kesalnya makin memuncak, yang tadinya nangis mode silence kini berubah jadi suara mobil ambulance bawa mayat. Ambar reflex memeluk gadis itu. Menutup wajah Sita dengan dadanya agar suara tangis Sita yang berisik bisa sedikit diredam.
"Ya haloo" ujar Ambar sambil terus memeluk Sita yang berisik.
"Iya ini kami mau keluar" kata Ambar kemudian mematikan telfonnya. Ambar semakin memeluk erat tubuh Sita, selain ingin menutupi suara tangis Sita rasanya ada hal lain. Hatinya tiba-tiba ikut hancur, merasa munafik. Padahal dia senang bisa berdua dengan Sita, tapi bodohnya kenapa dia tidak bisa mengatakannya.
"Kenapa dek?' tanya penjaga toko berjalan mendekati Ambar yang masih terus memeluk Sita. Si penjaga toko sempat curiga. Anak sekolah peluk-pelukan di tempat umum. Tapi saat melihat Sita menangis dia jadi mengerti 'Ouh lagi ribut sama pacarnya'
"Nggak ada bang, ini dia minta dibeliin buku Pride and Prejudice yang versi Mr.darcy nya meninggal. Dikira Titanic kali yah" Penjaga toko langsung tertawa dengan perkataan Ambar kemudian pergi meninggalkan sepasang remaja tersebut.
"Udah yuk pulang" ujar Ambar pelan agar Sita tidak jadi ambulan bawa mayat lagi. Sita tetap diam dan berusaha menahan tangisnya dalam mode silence agar tidak dimarahi penjaga toko.
"Yang mana bukunya buat pak Handsome?" tanya Ambar lagi. Sita langsung meninju dadanya dengan kuat, udah dibuat nangis trus masih bisa dibecandain.
"Sakit juga loh tinju kamu, udah cepetan mana bukunya?"
"Nggak mau!!" Sita akhrinya mengeluarkan suara.
"Apa yang gak mau? Kalo Mr. Darcy yang meninggal mah emang gak ada. Itu pilem Titanic yang cowoknya meninggal, mending kamu bikin novel sendiri kalo mau ceritanya kaya gitu"
"Aaaaaaaa" rengek Sita karena Ambar masih belum juga mengerti.
"Huss! Iya jadi apanya yang gak mau?"
"Kamu nyuruh Alif kesini kan?"
"Alif? Pak Handsome bukan?"
"Alif itu, jelas-jelas yang nelfon dari tadi si Alif!"
"Loh tadi kamu bilang pak Handsome, jadi siapa yang nipu?"
"Akuuu" jawab Sita pelan dan menundukkan kepalanya.
"Jadi yang minta dibeliin buku siapa?"
"Enggak ada" jawabnya lagi sambil merengek ketakutan.
Ambar kemudian mengangkat kepala gadis itu "Aku juga nipu" bisik Ambar ditelinga Sita. Lesung pipi Ambar yang langka bahkan sampai terlihat karena senyum lebarnya memandangi Sita.
"Maksudnya?"
"Setiap panggilan yang masuk padahal aku swipenya gambar yang merah, tapi kamu masih bisa-bisanya gak liat. Trus percaya aku lagi ngomong sama si tiang listrik"
"Aaaaaa" Rengek Sita dan memukul-mukul kesal badan Ambar karena pengakuannya.
"Kamu aktingnya meyakinkan banget, aku pikir emang iya!!"
"Lagian masa sih kamu gak liat layar handphone kamu mati di telinga aku?"
"Aku gak fokus kesana, aku cuma liatin wajah kamu terus!"
"Hahaha kamu mah dari dulu hobi banget mandangin aku, ati-ati loh kamu bisa naksir berat entar sama aku" goda Ambar dengannya sambil menghentikan tangan Sita yang terus memukul tubuhnya.
"Seandainya kamu tidak salah presepsi, maka kamu akan tahu rasa itu sudah hadir sejak awal kita bertemu" gumam Sita didalam hati.
"Yaudah, makanya jangan coba-coba nipu aku deh, pake alasan pak Handsome minta di beliin buku, udah jelas tu orang tua buta huruf"
"Hahaha masa sih? Kok bisa kepilih jadi kepala desa?"
"Naah ketipu lagi kan kamu, gitu aja percaya! Lulusan S1 dia itu!!"
"Aaaa Aaaaaambaaaaaar!!!" rengek Sita lagi.
"Udah diem, ntar kita disuruh ngarang novel sama penjaga tokonya nih!"
Sita akhirnya tertawa dengan ocehan Ambar, kemudian kembali mencari buku yang ingin dibelinya. Cowok ganteng itu dengan setia mengikuti langkah kaki Sita mencari buku dari penulis favoritenya. Tapi sepertinya buku yang tersedia sudah dimiliknya semua. Ambar mengambil buku resep masakan dan menyerahkannya dengan Sita.
"Beli ini aja, biar kamu makin pinter masak"
"Haha yaudah, besok aku coba praktekin buat salah satu menunya untuk kamu ya?"
"Iyaaa! Yuuk"
Selesai membayar dikasir, Ambar kembali mengajaknya pulang. Tapi Sita masih merengek tidak mau pulang.
"Belum, masiiiih jam 2.20" ujar Sita sambil melirik jarum jam ditangannya.
"Trus kamu mau pulangnya jam berapa coba, jalan ke dermaga kan gak dekat loh"
"Dekat!! Gak dekat gimana, kamu ngayuh sepedanya aja semangat 45, aku sampe sebel gak bisa pelan-pelan"
"Sengaja itu mah, biar kamu peluk dari belakang"
"Padahal tanpa ngebut juga bakal aku peluk!"
__ADS_1
Ambar terdiam dengan pengakuan jujur Sita, kemudian keduanya kompak tersipu malu. Padahal Ambar sudah begitu kelelahan tapi demi sang tuan putri mereka kembali melihat hiburan yang masih berjalan ditempat acara yang tadi.