![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Sepulang sekolah Sita memilih semua murid dikelasnya hilang baru dia pulang kerumah. Salah satu alasannya karena Sita tidak ingin mengeluarkan suara untuk berbicara atau sekedar basa-basi dengan murid lain dalam perjalanan pulang kerumah mereka masing-masing.
Ambar menggerutu berjalan menuju kewarung buk Eli. Emosi! karena pulang-pulang malah disuruh ke warung lagi dengan buk Khadijah.
"Eeeh Eeh, Mbar ibuk masak ayam gule hari ini. Makan pake kerupuk pasti enak. Belikan dulu dong nak, kan sepatunya belum dilepas" pinta buk Khadijah tanpa merasa bersalah.
"Capek!"
"Kan untuk Ambar juga. Makan gulai gak pake kerupuk gak enak mbar. Yaa mau ya, nanti kembaliannya Ambar ambil" dengan cepat tangan kecil itu menarik uang yang disodorkan buk Khadijah.
Meski kesal tapi demi kembalian 500 perak Ambar akhirnya menuruti perintah ibunya. Langkahnya tertuju pada Sita yang baru melewati warung buk Eli. Gadis itu baru berbelanja, membeli coklat koin kesukaannya.
"Jajan kamu banyak ya! Pulang sekolah masih bisa jajan, huh tapi aku cuma sanggup dikasi 1000" sapa Ambar dengan gadis itu.
*Cuma 1000?!! padahal uang 1000 saat itu masih bisa dipake untuk membeli Indom*e yang dimakan mentah dengan bumbunya loh*!
Sita diam sambil mengulurkan tangan, memberikan 4 keping coklat koin yang baru dibelinya. Ambar mengambil coklat itu dan langsung menyimpan kedalam saku bajunya.
"Aku gak minta ya, kamu sendiri yang kasi ya!!" ujar Ambar dengan songong dan pergi menemui buk Eli diwarungnya.
Ambar menarik plastic kerupuk yang tergantung-gantung didepan warung buk Eli
"Heeh Crish Jhooon" pak Toni mencubit-cubit gemes wajah Ambar yang tembam. Kemudian mencium bocah nakal itu tanpa meminta izin "ih gemes saya buk sama anak pak Bahrun yang ini" ujar pak Toni lagi sambil mengacak-acak rambut Ambar.
"Bauuu!! Bapak bau Matahari!!" teriaknya kesal setiap dicium dengan teman-teman ayahnya.
"Hahaha masaa?" pak Toni mencium-cium badannya sendiri.
"Iyaa! Bapak bau nya sama dengan anak baru disekolah Ambar!"
"Hahaha Ambar yang bau!" goda pak Ujang yang sedang mengopi juga diwarung tersebut.
"Enggak!! Ambar mandi tiap pagi!"
"Mana sini bapak cium lagi" saat pak Toni ingin menyergap tubuh kecilnya.
Ambar langsung kabur sambil melarikan kerupuk yang sudah diambilnya tadi.
"Aseeem itu anak.. belum bayar padahal" gerutu buk Eli tersenyum kecut.
"Udah ntar saya yang bayar sekalian buk" kata pak Ujang menawarkan diri.
"Huaaaaaaa!!!" teriak Ambar ketakutan saat melihat Sita yang ternyata masih berdiri ditempat mereka bertemu tadi.
"Ngapain kamu disini!! Dasar Jailangkung, bikin kaget aja!!" teriak Ambar dan kembali kabur. Takut buk Eli mengejar karena kerupuknya belum dibayar.
Sita masuk kedalam rumah dan menemui pak Adam yang masih sibuk membuat kebun dibelakang rumah mereka.
"Pak gimana cara menghilangkan bau badan?"
Pak Adam berhenti memukul\-mukul kayu yang sedang dipakunya saat mendengar perkataan Sita. Baru pulang sekolah Sita sudah bertanya tentang pertanyaan aneh menurut pak Adam.
"Memangnya kenapa?"
"Sita bau yaa? Bau matahari itu gimana pak?"
"Hahaha Enggak. Anak bapak wangi, wangi bayi, siapa yang bilang Sita bau matahari. Emang dia pernah nyium matahari sampe tau baunya gimana"
"Siapa yang bau matahari?" tanya buk Ita yang baru keluar dari kamar mandi dan ikut nimbrung dengan anak dan suaminya.
"Sita" jawabnya cepat.
"Siapa yang bilang. Jahat banget mulutnya, anak ibuk wangi kok. Bajunya ibu cuci terus" jelas buk Ita sambil memperhatikan penampilan anaknya dari atas hingga kebawah. Dia kemudian menghembuskan nafas keras saat menatap sepatu Sita yang baru sudah kotor penuh tanah liat.
"Sepatunya kok kotor gituuu, gak rapi lagi kesekolah jadinya"
__ADS_1
Sita hanya diam dan membuka sepatunya "Sita gak mau sekolah kalo masih bau buk"
"Kenapa gitu?!! Siapa yang bilang sita bau sih, kasi tahu orangnya biar ibuk nasehati"
Sita tetap diam tidak mau menyebutkan nama pelakunya lagi.
"Yaudah besok ibuk semprot parfume yang banyak kebaju Sita biar gak dibilang bau lagi"
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Keesokan paginya Ismet seperti biasanya menunggu Ambar ditepian sawah. Kali ini dia tidak berdiri sendirian ada Arul teman barunya. Jam 7.45 Ambar kemudian muncul dan mendekati teman\-temannya itu.
"Kan udah aku bilang jangan temanan ama dia, dia Bego" bisik Ambar menarik tangan Ismet.
"Udaaaah! Tapi dia jemput aku dirumah, jadinya terpaksa deh berangkat sama dia" jawab Ismet yang menjauhi Arul beberapa langkah.
"Kalian bisik\-bisik apa sih?" tanya Arul penasaran.
Tiba\-tiba Sita muncul dan ikut berjalan dibelakang ketiga anak cowok itu, Ambar dan Ismet kompak membuka jalan lagi untuk membiarkan Sita duluan.
"Wuiih wangi banget Sita" sapa Ismet dengannya.
"Iyaaa, Kaya malaikat lewat" kata Arul ikut mengendus bekas parfume Sita yang tertinggal dibelakang mereka.
"Wangi gini dibilang bau!" ujar Ismet meyakinkan Ambar.
"Iya nih! Wangi, Wangi Strawberry. Jadi pengen aku gigit" kata Arul ikut\-ikutan.
"Bauuuu!!" Ambar tetap tidak mau kalah.
"Mungkin karena hidung kamu terlalu dekat sama mulut makanya kamu ngerasa bau" kata Arul lagi dengan polosnya.
Sita terpaku menatap ketiga cowok yang sedang memperdebatkan wangi tubuhnya saat ini.
"Masa?" Ambar menutup sedikit mulut dan hidungnya dengan telapak tangan
"Haaaaaah...Haaaaah" Ambar menghembuskan nafas ketelapak tangan untuk mencium bau mulutnya "Oh iya beneeeeer!!" ujarnya tersipu malu.
"Naah kaan, Apa aku bilang" kata Arul ikut girang.
Sita bernafas lega mendengar akhir dari perdebatan ketiga orang aneh itu dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke sekolah.
Saat jam pelajaran, Ambar sibuk mencoret\-coret setiap gambar orang yang ada dibuku LKSnya. Menambahkan kumis, kacamata, ataupun jenggot pada gambar\-gambar tersebut. Sita sesekali melirik pada bocah yang terlihat serius bermain dengan pensil dan imajinasinya.
Pak Iyan yang duduk dibangku guru berpikir Ambar sedang mengerjakan latihan. Padahal faktanya, hanya Tuhan, Malaikat, dan Sita yang tahu bagaimana Ambar menghabiskan harinya selama jam pelajaran berlangsung.
__ADS_1
"Bapak keluar dulu yaaaa, latihannya tetap dikerjakan, dikumpul hari ini juga ya, kalo gak siap gak boleh pulang" kata pak Iyan mengancam dan meninggalkan bocah\-bocah yang masih imut\-imut itu didalam kelas.
Setelah langkah kaki pak Iyan hilang, suasana tenang juga ikut hilang. Ada yang mengeluarkan permainan Gimbot, ada yang mengeluarkan kartu. Ada yang mengeluarkan kelereng. Ada yang bangun rumah juga mungkin saking berisiknya.
Hanya dua murid yang terlihat tetap tertib : Yang satu diam karena asyik melukis buku LKS dan yang satu diam karena memang pendiam.
"Haaaah kalo gini kan ganteng" ujar Ambar puas sambil memandangi hasil lukisan jenggot yang baru dibuatnya pada sosok bapak\-bapak di buku LKS bahasa indonesia.
Sita langsung menoleh untuk melihat maha karya yang baru dibuat ambar tadi.
"Ganteng kan?" tanya Ambar menunjukkan bukunya pada Sita.
Gadis itu mengangguk cepat dan kembali mengerjakan latihan yang diberi pak Iyan. Ambar juga ikut kembali mencari\-cari gambar orang yang bisa dilukisnya lagi didalam buku tersebut, tapi dia bosan untuk menggambar. Ambar kemudian meletakkan pensil dan melihat kearah teman\-teman sekelasnya yang begitu asyik dengan kegiatan mereka masing\-masing.
Semenjak dikelas tiga Ambar jadi malas mengganggu Khaidir, memukul Thalib, atau mengerjai Ujang. Karena teman ributnya selama ini ada diruang sebelah, di kelas 2. Ambar melirik kearah kotak pensil Barbie milik Sita yang ada diatas meja mereka.
Tanpa permisi, tanpa surat izin, Ambar membuka kotak pensil tersebut. Mengacak\-acak isinya untuk mencari benda yang ingin dia gunakan. Akhirnya Ambar mengeluarkan sebuah pensil warna cair yang berwarna pink.
"Kamu udah siap ngerjain latihannya?" tanya Ambar pelan. Sita menganggukkan kepala "Sini tangan kamu" kata Ambar sambil menarik tangan Sita dan meletakkan diatas meja. Lelah mencoret\-coret buku, bocah itu kini memilih mencoret\-coret kuku Sita.
"Aku bikinin kutek yaa" kata Ambar sambil tersenyum manis agar Sita mau menurut.
Sita kembali menganggukkan kepala, pasrah tangannya dipermainkan oleh Ambar. Dengan cepat Ambar mulai menutupi warna kuku Sita yang putih menjadi berwana pink.
"Cieee pantasan Ambar gak ribut, ternyata lagi pegang\-pegangan tangan sama Sita dibelakang" ledek Imay yang menoleh kebangku orang berdua tersebut.
Sita menarik tangannya yang sedang dipegang Ambar, lalu menyembunyikannya kedalam meja.
"Apaan sih!! Berisik aja kamu, mau aku coret juga wajah jelek kamu!!" bentak Ambar.
Imay langsung terdiam, takut jika Ambar memang melakukan apa yang dikatakannya tadi. Bocah laki\-laki itu terkenal nekat jadi lebih baik jangan memancing emosinya.
Ambar kembali menarik tangan Sita dan melanjutkan pembuatan kutek untuk gadis tersebut. Sita pasrah merelakan Ambar mencoret seluruh kuku\-kuku tangannya.
"Naaah cantik, warna pink cocok ditangan kamu" puji Ambar dan melepaskan tangan Sita. Gadis tersebut menatap semua jari\-jarinya yang sudah diwarnai.
"Bagus kan?" tanya Ambar lagi, Sita menjawab dengan anggukan kepala.
"Bayaaar, 1000 itu!" kata Ambar sambil mengadahkan tangan meminta upah untuk hasil kerja kerasnya.
Sita meronggoh kantong rok dan mengeluarkan uang yang diminta Ambar.
"Makasih ya" ucap Ambar senang dan itu juga pertama kalinya dia mengucapkan kata terima kasih pada Sita.
~~~♡AmbarSita♡~~~

__ADS_1