AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Teman sebangku


__ADS_3

 


💝AmbarSita💝


 


"Si Khaidir selama liburan pergi ke Mandau (nama Kabupaten dari desa Peringi hilir) sama keluarganya" ujar Ismet memberitahu Ambar yang tengah asyik membuat lobang untuk permainan kelereng mereka didepan halaman rumah pak Bahrun.


"Kamu tahu dari mana?"


"Kemarin bapak aku nitip barang sama ibunya, ati-ati kamu mbar ntar kalo bapak Khaidir pulang kamu bakal di tembak sama bapaknya"


"Biarin aja, bapak aku juga punya rotan buat mukul bapaknya"


"Ambaaaaaar" teriak buk Khadijah dari dalam rumah.


Mendengar panggilan ibunya Ambar langsung membaringkan tubuh ketanah.


"Kenapa kamu?" tanya Ismet kaget melihat tingkah temannya.


"Husst Aku mau pura-pura mati dulu, pasti buk Khadijah nyuruh kewarung lagi"


Buk Khadijah datang mendekati mereka sambil membawa uang kertas ditangannya


"Ngapain kamu tidur disana! Tolongi ibuk dulu"


Ambar tidak menjawab bahkan tidak bergerak sama sekali "Ambar nya mati buk" kata Ismet dengan polosnya.


"Haaaa? Mati ? Tadi sehat-sehat aja tuh, bangun gak!" ancam buk Khadijah yang bersiap-siap mencari ranting kayu untuk memukul anaknya. Ambar langsung bangun sebelum tubuhnya dipukuli.


"Nanti aja matinya! Sekarang tolong ibuk dulu, pergi kewarung beliin Garam sama Aji***to ya" perintah buk Khadijah dan menyerahkan uang yang ditangannya.


"Tadi minyak, sekarang garam! Ambar kan mau main!"


"Ya namanya ibuk lupa, udah beli dulu sana, ini yang terakhir kok"


"Tadi ibuk juga bilang gitu, akhirnya nyuruh lagi!!"


"Heee ngelawan aja pergi gak! Cepat ibuk mau masak nih"


Dengan wajah cemberut ambar akhirnya pergi melaksanakan perintah ibunya. Sesampainya diwarung Ambar langsung gugup melihat Sita juga sedang berbelanja. dia jadi malu sendiri masuk kewarung milik buk Eli yang biasa dia datangi.


"Ngapain kamu berdiri disana! mau maling jambu ibuk lagi!"


"Enggak!! Ambar mau belanja" jawabnya cepat sambil diam-diam melirik kearah Sita.


"Yaudah sini, nanti ibuk kamu marah kalo lama-lama, mau beli apa?"


"Beli gula" jawab Ambar dengan gugup karena saat ini dia sedang berdiri disamping Sita yang terus menundukkan kepala. Sepertinya kedua bocah itu sama-sama malu. Buk Eli langsung mengambilkan barang belanjaan Ambar.


"Nih cepat pulang, jangan keluyuran dulu, nanti buk Khadijah ngamuk" Ambar hanya diam dan langsung bergegas pergi meninggalkan warung buk Eli.


"kenapa kamu ngos-ngosan" tanya Ismet heran.


Ambar tidak menjawab dan meletakkan gula yang baru dibelinya diatas kursi yang ada diteras rumahnya.


"Gak kamu kasi ibuk kamu?"


"Udah biar aja, ntar dia ambil sendiri, yuk lanjut!"


Benar saja karena anaknya tak kunjung datang kedapur buk Khadijah keluar. Dilihatnya Ambar kembali asyik bermain kelereng dengan Ismet.


"Udah dibeli belum?"


"Itu diatas kursi, ambil sendiri!"


"Udah datang bukannya langsung dikasi!" umpat buk Khadijah kesal dan melihat keatas kursi.


"Ambar!!!! Ibuk bilang Garam sama Aji***to kenapa kamu beli gula!"


"Ibuk kan bilang gula tadi!"


"Kuping kamu korek dulu, GARAM sama AJI**TO, TUKAR!!!"


"Ibuk ini ganggu aja, udah dibeliin juga. Ibuk pikir gak capek kewarung itu"


"Halah, warungnya juga dekat. Kamu kentut aja buk Eli itu bisa dengar diwarungnya!"


"Kalo dekat kenapa gak ibuk aja yang pergi"


Buk Khadijah mengejar anaknya, saat melihat Sita lewat didepan rumah mereka wajah marah buk Khadijah berubah menjadi senyuman.


"Liat tu anak buk Ita aja gak pernah ngelawan sama ibunya" puji buk Khadijah dengan nada suara yang berbeda dari yang sebelumnya.


Ambar dan Ismet kompak memalingkan muka melihat gadis itu melirik kearah mereka.


"Yaudah sini!" Ambar mengambil barang yang sudah dibelinya tadi dan kembali berlari kewarung buk Eli


"Buuuuk....buk Eliiii!!" teriak Ambar karena si pemilik warung sepertinya tidak ada didalam warung.


"Buuuk!!!!" Ambar kembali berteriak, dengan cepat buk Eli berlari dari dalam rumahnya menuju kewarung.


"Apalagi? Teriak-teriak aja kamu ini"


"Belanja!!" jawab Ambar ketus.


"Beli apa?!" jawab buk Eli lebih ketus lagi.


"Nih tukar, Garam sama Ajinom*0 bukan gula! malah dikasi gula!" Ambar malah memarahi si pemilik warung yang tidak tahu apa-apa.


"Yang minta gula tadi siapa Crish jhoooon!!!" buk Eli balik kesal dan mengambilkan barang yang diinginkan Ambar.


Anak laki-laki pak Bahrun itu memang dijuluki Crish Jhon nya Peringi hilir oleh warga desa karena sering berkelahi dan meninju teman-teman seumurannya.


"Ini!! Jangan salah lagi ya"


"Makanya warung ibuk pindahin kedepan rumah Ambar dong, biar buk Khadijah itu gak nyuruh-nyuruh Ambar lagi kalo dia mau masak" Buk Eli memberikan kembalian uang Ambar dan segera masuk kedalam rumah lagi.


Bocah ini memang terkenal dengan mulut bijaknya, dari pada diladeni lebih baik kabur.


"Buuuuk..... Belanja!!" teriak Ambar lagi memanggil buk Eli yang mungkin sudah berada didalam dapur.


"Ya Allah, Sabar lah hati buk Khadijah menghadapi anaknya!" keluh buk Eli dan kembali keluar menemui Ambar yang masih berdiri didepan warung.


"Beli apa lagi? Cepatan ibuk kamu mau masak itu!"

__ADS_1


"Ambar mau beli apa yang gak ibuk jual, Ada?"


"Apa yang gak ibuk jual?" buk Eli tampak berpikir dengan apa katakan Ambar.


"YA GAK ADA LAH!!" bentak buk Eli emosi yang akhirnya mengerti.


"Oh gak ada, Yaudah kasi tahu kalo udah ada!" jawab Ambar dan kabur pulang kerumahnya.


 


**~AmbarSita~**


 


Dua minggu waktu liburan sekolah mereka sudah habis. Semua anak sekolah wajib kembali ke rutinitas mereka untuk berangkat kesekolah masing-masing.


Pak Sayuti Malik yang selalu tertawa saat bicara menyapa Ambar dan Ismet yang hendak berangkat kesekolah mereka.


"Heeeh....Hahahaha" Kedua bocah itu tidak menghiraukan panggilan pria yang berpakaian rapi tersebut.


Pagi ini pak Sayuti akan pergi mengantarkan anaknya Dian mengikuti seleksi masuk Perguruan Tinggi.


"Heeeh dipanggil malah gak nyaut Hahahaha" pak Sayuti kembali menyapa keduanya, Ambar dan Ismet melirik dengan tatapan sinis "Hahahaha mau kemana kalian?"


"Gak liat kami pake seragam" jawab Ambar kesal.


"Ngapain pake seragam? Hahahaha"


"Ya mau sekolah lah, emang kaya bapak!"


"Ngapain sekolah? Hahaahha" pak Sayuti masih berusaha menggoda bocah yang paling terkenal dikampung mereka tersebut.


"Ya nuntut ilmu lah!"


"Ngapain ilmu di tuntut? Hahaahah dia kan gak salah hahahaah" pak Sayuti tertawa lebih kencang lagi sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.


Ambar mengeluarkan batu yang selalu dikantonginya dan melemparkan kearah pak Sayuti.


"Heeeh... heeh apa itu jangan jahat ya, bapak kaduin kamu sama pak Bahrun ntar Hahaha"


Ambar hanya diam dan memilih kabur dengan Ismet. Sesampainya disekolah, Ambar masuk kekelas yang sama dengan Ismet. Khaidir yang berdiri didepan kelas barunya sampai bengong melihat Ambar. Sambil memiring-miringkan kepala dia berjalan kekelas dua yang ada disamping kelasnya yang sekarang.


"Mbaaar... kamu ngapain disini?" tanya Khaidir ragu.


Ambar melirik Khaidir, dipandangi wajah teman yang sudah tidak ditemuinya selama dua minggu itu. Ada yang berbeda, yang jelas perbedaan terlihat jelas pada area wajah Khaidir yang paling menonjol.


"Gigi kamu dipagari ya?" tanya Ambar dengan polosnya.


"Hahahaha karna kamu sering ledekin tuh, Khaidir sampe magari gigi beneran" Abdul dan Ismet kompak tertawa dan ikut melirik kearah mulut Khaidir.


Khaidir tersipu malu dan menutup mulutnya dengan cepat.


"Coba liat...Coba liat.."


Ismet bersemangat memaksa melepaskan tangan Khadiri dari mulutnya.


"Coba bicara" pinta Abdul juga.


"Mmmmm malulah" Khaidir terus menutup mulutnya mencoba menghalangi teman-temannya melihat perubahan yang ada dimulutnya.


Dengan takut Khaidir menurunkan tangannya tapi tetap merapatkan bibir.


"Mana pagarnya aku gak bisa liat" Abdul terus memaksa.


"Enggak lah, malu" jawab Khaidir.


Ketiganya akhirnya bisa melihat kawat berwarna biru yang ada dimulut Khadir saat dia bicara.


"Eeh iyaa, dipagari, apa gak sakit?" tanya Ismet penasaran, Khaidir menggelengkan kepala "Masa sih, itu kan besi, kamu susah makan"


"Awalnya susah, sekarang enggak lagi, ini namanya behel"


"Jadi maling gak bisa nyuri gigi kamu lagi ya dir, karena ada pagarnya" ujar Abdul dengan polosnya.


"Bagus juga tuh, nanti kamu bisa nyium angsa buk Eli deh" Ambar menyambungkan.


"Iya bener, tapi kok gigi aku ikutan sakit rasanya liat mulut Khaidir" Ismet bergidik ngeri setiap Khaidir membuka mulutnya.


"Enggak sakit kok"


Ambar memukul kuat mulut bocah itu dengan tinjunya.


"Sekarang??" tanyanya tanpa berdosa.


Khaidir menutup mulut, menahan air matanya keluar. Tinju Ambar melayang tepat dimulutnya yang masih maju.


"Ya sakit lah mbar, kamu mah, kena pagar itu bibirnya, iya kan?" tanya Abdul kembali menurunkan tangan Khadir dari mulutnya.


Saat asyik bercerita didepan kelas dua. Sita lewat dengan tampilan yang masih sama, rambut dikucir dengan rapi. Hal yang berbeda dari sita hanyalah tas baru yang sedang disandang dan sepatu barunya juga terlihat begitu kinclong.


"Udah masuk kekelas kalian masing-masing" perintah buk Mun yang juga akan masuk kekelas sambil membawa buku ditangannya.


Ambar ikut masuk kekelas dengan ismet dan abdul, dengan santainya dia duduk disamping teman ributnya.


"Ambar tinggal kelas juga?" tanya Arul bocah kurus kering yang duduk paling belakang.


"Enggak" jawab Ambar santai.


"Trus kenapa masuk kelas dua?"


"Oh iyaaa... hahaha lupa, ini karena si Ismet nih" teriak Ambar bahagia.


Buk Mun yang baru menyadari kehadiran Ambar dikelasnya langsung geleng-geleng kepala.


"Kamu mau tinggal kelas, ngomong dong kan ibuk bisa tinggali" ledek buk Mun.


"Haahaha Tinggali aja buk" usul Abdul dan Ismet bersemangat.


"Enggak lah" gerutu Ambar dan berlari kekelasnya yang sedari tadi sudah memulai pelajaran.


Wali kelas Ambar kali ini seorang guru laki-laki, anak-anak memanggilnya pak Iyan walau nama sebenarnya Rian. Dia menepuk-nepuk pundak Ambar yang diminta untuk berdiri didepan kelas dulu karena terlambat masuk.


"Lupaaa pak" ujar Ambar sambil mengusap-usap kepalanya malu.


"Hahaha kirain beneran mau tinggal kelas kamu, yaudah duduk dibangku Sita ya" Ambar terperangah dengan perkataan pak Iyan, bukan malu, tapi dia sedang benci dengan gadis pendiam itu.

__ADS_1


"Sita udah ada temannya pak" Ambar berusaha mengelak


"Mana, sekarang kelas kita 14 orang, jadi duduk berpasangan semua, ayooo"


"Aduh Sita udah punya temannya pak!!"


"Enggak ada, tuh Sita sendirian"


"Temannya makhluk Astral pak. Cuma dia dan Tuhan aja yang bisa liat!"


Pak Iyan memaksa Ambar duduk meskipun saat ini se isi kelas tertawa dengan ucapannya barusan.


"Ismet boleh bawa kekelas ini pak?"


"Pak biar Khaidir aja yang duduk sama Sita"


"Thalib aja pak"


Sita hanya menundukkan kepala mendengar semua murid laki-laki saling menawarkan diri dan hanya Ambar dan Ujang yang tidak.


"Ambar saja. Sita pendiam, Ambar berisik jadi kalo mereka duduk bersama Ambar gak bisa ngobrol lagi. Ayo Ambar, ntar bapak kaduin pak Bahrun nih kalo gak mau"


Mendengar nama ayahnya disebut Ambar segera melangkah menuju kebangkunya yang ada disamping Sita.


Setelah duduk, karena masih dongkol Ambar menginjak sepatu baru Sita dengan kuat. Gadis itu kesakitan tapi tidak mengeluarkan suara. Takut-takut pak Iyan memarahi ambar lagi dihari pertama mereka.


Selama jam pelajaran sepatu Ambar tidak beranjak dari atas sepatu baru Sita. Sisa tanah yang menempel ditelapak kaki Ambar juga sudah ikut menempel disepatu gadis kecil itu.


Sesekali Sita melirik kesampingnya, memperhatikan Ambar yang asyik melukis gambar Doraemon dibelakang buku tulisnya yang masih bersih dan tegang karena baru dibeli. Ambar menatapnya sinis sambil memanjukan bibir pertanda kesal jika mata mereka berdua saling bertemu.


Tekanan batin? Entahlah!! Dan parahnya Sita akan menghadapi hal itu selama 1 tahun. Mungkin dia berharap satu tahun berlalulah dengan cepat dan singkat atau Ambar sakitlah, jangan pernah datang kesekolah lagi.


 



 



Jam istirahat akhirnya datang, Ambar mendebrak meja kuat. Sampai\-sampai se isi kelas melihat kearahnya.



"Haaaah pak Iyan bilang Sita anak baru. Kalo baru mah harum, ini enggak! Sita bau, berarti gak baru lagi dong!"



Ana dan murid lainnya menahan tawa mendengar perkataan Ambar. Tapi tidak berani menunjukkannya pada Sita agar gadis itu tidak sedih dan menangis.



Ismet datang dengan teman barunya, Arul. Si bocah kurus kering berkulit hitam memakai tahi lalat dibawah bibir. Keduanya cengengesan mendekati Ambar yang masih duduk bangkunya.



"Jajan yuuk" ajak Ismet.



"Iih udah dapat teman baru aja, jangan main sama Ismet kamu, dia bego!" kata Ambar menasehati Arul yang masih cengar\-cengir dihadapannya.



"Enggak!! Dia juga bodoh mbar, ampe sekarang gak bisa baca!"



"Hahaha iyaaaa" jawab Arul kegirangan.



Ambar langsung berbisik ketelinga Ismet "Kalau gitu kamu deh yang jangan dekat\-dekat dia".



Ismet menganggukkan kepala dan langsung mundur tiga langkah menjauhi Arul.



"Bagi duit doooong" pinta Ambar memelas dengan Sita yang terus menundukkan kepala.



"Sita nunduk terus, ntar kepala kamu patah loh" sapa Ismet "kamu duduk ama Sita?"



"Iya pak Iyan maksa. Padahal aku gak mau, katanya Sita anak baru, kalo baru harusnya harum kan, tapi dia malah bau!"



Sama dengan yang dilakukan teman\-temannya yang lain tadi. Ismet sebenarnya ingin tertawa lepas tapi takut Sita akan menangis, jadi lebih baik ditahan meskipun perut merasa geli.



Sita mengeluarkan uang 1000an dan menyerahkannya dengan Ambar. Dengan cepat tangan bocah laki\-laki itu menyergap uang tersebut dan pergi bersama temannya ke warung.



"Sita jangan dikasi terus, sampe kiamat kamu bakal dipalakin dia!" nasihat Khaidir yang geram dengan kebaikan Sita.



Sita hanya menjawab dengan senyuman dan mengangkat kedua bahunya. Dia melirik kebawah meja memperhatikan sepatu barunya sudah kotor dan penuh tanah.



Meskipun Thalib, Khaidir, dan murid laki\-laki lainnya duduk mendekat dibangku Sita sambil bercerita tapi gadis berkulit putih itu tidak menggubris, dia asyik dengan buku pelajarannya.



Mengerjakan semua isi LKS yang bahkan belum dibahas sama sekali oleh guru dikelas. Sita memang seperti itu, hobinya belajar sampai dewasa nanti dia akan terus belajar, belajar, dan belajar. Dia tidak butuh teman, Sita bilang dia hanya butuh buku dan tugas latihan.


__ADS_1


![](contribute/fiction/64817/markdown/13ae2843/1570584486571.jpg)


__ADS_2