AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Awal Mula Tumbuhnya Rasa


__ADS_3

Keesokan paginya Sita sudah selesai mandi dan mengenakan seragam sekolah. Buk Ita yang tengah sibuk didapur menyiapkan sarapan sampai terkejut melihat Sita mendekatinya sambil membawa sisir dan ikat rambut.


"Heee Sita mau sekolah?" Sita menganggukkan kepala "Hahahah Ya Allah buk, anak Ita buk" tawa buk Ita dan memanggil nek Lasa yang sedang memotong-motong timun untuk nasi goreng mereka.


Sita cemberut melihat reaksi ibunya dan nyalinya kembali ciut untuk berangkat kesekolah


"Iih ibuk seneng, bener itu Ambar bilang Sita cantik dengan rambut pendek. Lagian jangan takut lagi ya sama Ambar tuh nyatanya dia suka sama Sita. Kalian harus berteman yang baik" Sita tetap diam.


Ternyata benar-benar mudah menjatuhkan mental anak kecil. sampai-sampai buk Ita menyesal sudah tertawa dengan permintaan anaknya tadi.


"Sinih ibuk ikat rambutnya, ibuk juga suka Sita rambut pendek dan di ikat, ya gak nek?" ujar buk Ita membujuk anaknya.


"Iyaah cantik" sahut nek Lasa.


Sita kemudian menyerahkan ikat rambut dan sisir meminta ibunya mengikatkan rambutnya dengan rapi. Selesai sarapan Sita kemudian berangkat kesekolah.


 


**~AmbarSita~**


 


Hari ini Sita berangkat lebih cepat, jadi itu tidak berpapasan dengan Ambar dan Ismet diperjalanan menuju kesekolah.


Teman-temannya yang sudah ada dikelas terkejut melihat kedatangan Sita. Selain itu penampilannya juga berubah total. Aura kecantikan Sita benar-benar terpancar.


Abdul, Khaidir dan Thalib yang sedang bermain kartu terus memandangi gadis itu sampai dia duduk dibangkunya. Setelah itu Khaidir datang mendekatinya.


"Sita kemana aja gak datang-datang?"


Abdul dan thalib pun tidak mau kalah, mereka mendekati Sita dan berderet berdiri didepan mejanya.


"Kami pikir Sita gak mau lagi sekolah disini" kata Khadir lagi.


"Iya, Ambar itu emang nakal, jadi biarin aja. Semua orang pasti di jahili dia" kata Thalib.

__ADS_1


Orang yang sedang dibicarakan tiba-tiba datang bersama teman akrabnya, Ismet. ketiganya langsung kompak menutup mulut.


"Hahahaha" tawa Ambar saat melihat Sita sudah duduk dibangkunya dulu. Selain itu dia juga tertawa dengan tampilan baru gadis itu.


Sita membalas dengan senyumnya, Ambar membelalakkan mata melihat hal itu.


Sita membalas tawanya yang meledek tadi dengan senyuman? Dan satu hal lagi Sita bahkan tidak menangis melihat wajah Ambar?


"Ngapain kamu duduk dibangku kami!" bentak Ambar dengannya.


Ismet menarik tas temannya dan menunjuk bangku mereka yang dibelakang Sita.


"Kan buk mun udah nyuruh kemarin" Abdul mengingatkan Ambar kembali.


"Oh iya lupa, Hahahaha" jawab Ambar cepat dan duduk dibelakang bangku Sita.


Buk Mun masuk kedalam kelas, guru Doraemon itu ikutan senang melihat Sita akhirnya mau kembali datang kesekolah. Pagi ini mereka belajar perkalian Matematika.


Saat buk Mun menerangkan materi di papan tulis, Sita diam-diam melirik kebelakang melihat Ambar yang tengah asyik melukis pemandangan dan gunung dibuku bagian belakangnya.


Di jam istirahat anak-anak cowok ini asyik memainkan kelereng dilapangan.


"Sita lama libur, pas datang-datang makin cantik aja" ujar Abdul sambil menjentik kelerengnya agar bisa masuk kelubang.


"Iya, aku aja sampe gak tahu kalo itu dia" sahut Ismet.


Ambar hanya diam mendengar perkataan teman-temannya. Baginya sama saja, memang sih wajah cantik Sita jadi semakin bisa dilihat dengan jelas karena poni yang selama ini menutupi wajahnya ikut dikucir.


"Aku jadi suka ama Sita, aku Sita yah" kata Abdul.


"Cieeeeee" ledek semua teman-temannya.


Khaidir menepuk pundak abdul "Aku dong, aku juga suka dia"


"Apaan sih, gigi kamu tuh rapiin dulu" bentak Ismet.

__ADS_1


"Iya nih si tonggos ikut-ikut aja, cuma Ismet yang boleh suka dia" ujar Ambar.


"Loh kenapa cuma Ismet!" kata semuanya kompak.


"Trus kenapa? Kalian gak suka?!" ancam Ismet dengan mereka.


Semua hanya diam dan berpura-pura melanjutkan permainan kembali. Selesai jam istirahat Ismet dan Ambar kembali kebangku mereka. Sita langsung merapikan rambutnya sambil terus menundukkan kepala. Ismet tersenyum sumringah dan memukul meja Sita dengan keras sampai-sampai gadis itu terkejut dan mengangkat kepala.


"Sita gak pernah keluar kelas, bangku Sita gak bakal di curi kok"


Sita membuang mukanya malu karena Ismet berbicara begitu dekat dengannya.


"Hahaha" tawa Ambar melihat ekspresi Sita "Aku nangis mah gak mau tanggung jawab ya" kata Ambar dan bergegas duduk dibangkunya.


"Sita gak lapar?" tanya Ismet lagi. Sita hanya menjawab dengan gelengan kepala "Kita bisa jadi temankan?" tanya Ismet sambil menyodorkan tangannya.


Sita tidak membalas salamannya dan tetap menundukkan kepala.


"Pfuuuufttt" anak-anak dikelas kompak menahan tawa karena respon Sita. Karena malu Ismet memukul meja Sita dengan keras. Tujuannya sih untuk menggertak teman-temannya yang lain, tapi Sita terkejut dan menatap Ismet dengan wajah ketakutan.


"Hayooo siapa yang berani ngeledek Ismet!!" kata Ambar membantu menyulut emosi temannya sambil menendang bangku Sita yang ada didepan.


Satu....dua... Sita kembali menangis, Ismet memandanginya heran. Padahal yang dibentak adalah teman-teman yang lain tapi kenapa Sita yang justru menangis.


"Hayooo, kalian berdua sama aja. Kemarin si Ambar sekarang kamu! Aku gak tanggung jawab ya" kata Abdul.


"Aku juga! Padahal ini hari pertama Sita sekolah setelah dijahatin Ambar" Imay ikut menyalahkan kedua biang onar dikelas mereka.


"Nyebelin banget ini anak, nangis mulu kerjaannya" bentak Ambar dan sekali lagi menendang bangku Sita.


Buk Mun kembali masuk kekelas, senyumnya hilang seketika melihat Sita sudah menangis lagi dibangkunya. Tanpa basa-basi busuk buk Mun menjewer kuping kedua murid yang duduk dibelakang bangku Sita.


"Rasanya kesabaran ibuk mulai habis melihat kenakalan kalian!!" Ambar dan Ismet memegang kuping mereka menahan sakit, bukan sakit tapi lebih tepatnya menahan malu karena se isi kelas pasti sedang mentertawakan mereka didalam hati melihat buk Mun menjewer kuping keduanya tadi.


__ADS_1


__ADS_2