![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
~♡AmbarSita♡~
Keesokannya Sita menunggu Ambar didepan jalan rumah mereka lagi...
"Ambar, aku bisa minta tolong lagi?" tanya Sita dengan ragu.
"Minta tolong apaan?" tanya Ambar heran.
"Gambar lagi"
"Gambar? Harus semua halaman?" tanya Ambar sedikit malas. Soalnya yang kemarin saja tangannya sampai dibuat kelelahan.
"Enggak kok, kamu ganti baju aja ya. Makannya dirumah aku lagi"
"Ah gak usah, kamu lama........"
"Enggak, aku gak dandan kok. Kan kamu bilang gak suka liat aku pake make up"
Ambar mengedip-ngedipkan matanya, tidak percaya ternyata Sita memang mendengarkan perkataannya yang kemarin. Kemudian dia tersenyum dengan sendirinya.
"Yaudah aku tunggu ya" kata Sita yang baru sadar jika mulutnya sudah keceplosan.
Setelah mengganti bajunya, Ambar langsung pergi kerumah Sita. Buk Khadijah dan pak Bahrun sampe heran karena tumben saja anak mereka setelah ganti baju langsung kabur tanpa makan terlebih dahulu.
Selesai makan siang, Ambar dan Sita kembali duduk dihalaman belakang rumah.
"Gambar apaan nih?" tanya Ambar yang sudah begitu siap untuk membantu Sita.
"Nih, buat gambar ini" kata Sita sambil memperlihatkan gambar pahlawan yang ada dibuku PPKN miliknya.
"Niru ini doang?" Sita langsung menganggukkan kepala "Ouh, gampang mah masa kamu gak bisa sih" ujar Ambar dan mulai meniru gambar tokoh pahlwan yang ditunjukkan Sita kepadanya.
Dalam beberapa menit gambarnya pun langsung jadi. Ambar menoleh kearah Sita yang matanya sedang menatap wajah Ambar dengan lekat.
"Sudah" ujar Ambar menghentikan lamunan gadis itu.
"Ahh , Ouh maap, makasih ya" kata Sita gugup.
"Baguuus kan?" tanya Ambar sambil tersenyum. Sita langsung menganggukkan kepalanya.
"Mau aku tambahin kumis atau kacamatanya? Biar keren"
"Hahahaha" tawa keras Sita langsung keluar, gadis itu jadi teringat jika dulu memang kebiasaan Ambar selalu melukiskan semua gambar orang yang ada didalam buku pelajarannya.
"Loh kamu bisa ketawa juga?"
"Hahaha ya bisalah, aku jadi ingat itu kan emang kebiasaan kamu dulunya"
Ambar ikut terkekeh, setelah itu Ambar pun pamit untuk pergi "Yaudah aku mau ke balai dulu ya"
"Ambar, kamu gak suka main game lagi?"
"Suka, tapi malas ke Mandau"
"Maksudnya main game dikomputer aku"
"Oh enggak, takut komputer kamu rusak" jawab Ambar seperti yang pernah Alif peringatkan pada Sita dulu.
"Aku pergi........"
"Sebenarnya tugasnya belum siap sih" kata Sita yang berusaha mencegah Ambar lagi.
"Masih ada?"
"Tugasnya disuruh gambar semua tokoh pahlawan"
"Tugas dari guru kamu rasanya aneh-aneh semua, padahal ini kan pelajaran PPKN, kenapa malah disuruh ngegambar. Jangan-jangan guru kesenian sama guru ppkn kalian lagi saingan?"
"Hahahah mungkin juga, bisa kan tolongin lagi?"
"Yaudah deh" jawab Ambar dan kembali mencari tokoh pahlawan yang ada didalam buku tersebut.
Dihari ketiga, Sita masih terus melakukan hal yang sama, menunggu Ambar dijalan rumah mereka dan meminta bantuannya lagi. Pak Bahrun yang sedang duduk diteras rumahnya langsung menghadang langkah Ambar.
"Heeh... Tumben kamu gak pernah makan siang dirumah, pulang sekolah, ganti baju, trus kabur, perut kamu udah bisa diajak kerja sama?"
"Ambar diet!" jawabnya singkat.
"Haaaalah.... Kamu makan banyak aja badan kamu tetap kurus. Pipi kamu yang makin mengembang, lemak kamu tu disedot pipi semua,sok\-sok an mau diet!"
"Biarin, pipi Ambar ini jadi rebutan emak\-emak desa Peringi hilir tahu gak! Bilang aja bapak iri, soalnya pipi bapak peot sedangkan Ambar tembem gemes imut gini"
__ADS_1
"Itu dulu ibuk\-ibuk disini mau nyiumin kamu, sekarang deh coba kamu suruh lagi, pasti mereka gak akan ada yang mau! Sok kegantengan kamu, ganteng kamu juga karna turunan dari bapak, gak tau terima kasih kamu ini!"
"Berisik, makanya jangan main sama pak Handsome!" jawab Ambar ketus dan berusaha untuk kabur meninggalkan ayahnya.
Tapi pak Bahrun tidak mau membiarkan anaknya pergi begitu saja.
"Siapa tu pak handsome? Oh ya bapak liat kamu juga gak ada mandi disungai lagi, trus...."
"Yee ngapain mandi\-mandi disungai, udah gede juga, malu dong! Ntar keliatan berapa besarnya punya Ambar sama ibuk\-ibuk di desa ini, jadi berpindah ke Ambar semua deh, trus ninggalin suami mereka!"
"**Plaaak**!!"
Tangan pak Bahrun memukul kepala anaknya dengan kuat "Mulut kamu asal ngomong aja!! Trus di balai desa kamu juga enggak pernah lagi ngumpul sama teman\-teman kamu, tumben kamu gak main dengan mereka?!"
"Banyak bener pertanyaannya udah kaya wartawan. Ambar mau pergi ni, mequm!" pamit Ambar dengan cepat dan kabur meninggalkan ayahnya tersebut.
"Heeeh... Bapak beryukur kamu gak makan dirumah, stok beras yang biasanya untuk sehari sekarang bisa bertahan jadi seminggu tahu gak!!" teriak pak Bahrun yang terus berusaha memancing keributan dengan anaknya.
Ambar makan dirumah Sita dengan lahapnya. Buk Ita selalu saja masak makanan yang enak. Hari ini Ambar sampai tambah 5 x karna buk Ita masak ayam balado kesukaannya. Pak Bahrun memang menghemat beras dan lauk selama Ambar tidak makan siang dirumah. Tapi kasihannya pindah ke buk Ita, wanita itu jadi heran sendiri. Padahal suaminya sudah pergi keluar negri tapi kebutuhan makanan mereka tetap aja banyak bahkan jadi meningkat.
Selesai makan siang, keduanya langsung duduk dihalaman belakang.
"Jadi gambar apa lagi ni, enak ya pelajaran anak SMP, ngegambar mulu, kalo aku SMP bisa jadi juara satu"
"Hahaha nih tolong gambarin ini" ujar Sita menyerahkan buku IPA nya.
"Ini kan cuma table kenapa masih minta tolong" tanya Ambar heran.
"Aku pengen kamu yang buatin tablenya dengan rapi"
"Aaah itu namanya kamu cuma mau nyusahin aku!!"
"Tolongin dong, kan tulisan kamu rapi... lagiaan... aku suka kalo liat tangan kamu lagi nulis atau ngegambar"
"Kamu sebenarnya suka liat tangan aku atau wajah aku?"
Sita langsung gugup mendengar pertanyaan Ambar barusan.
"*Oh Tuhaaaaan berarti kemarin\-kemarin Ambar sebenarnya sadar kalo Sita selalu memperhatikan wajahnya*!" gumam Sita didalam hati. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa malunya, dengan cepat Sita menundukkan kepala takut melihat Ambar yang kini menatapnya dengan intens.
"Yaudah mana penggarisnya" kata Ambar lagi. Ambar kembali menuruti permintaan Sita. Gadis itu pun tetap saja matanya tidak bisa lepas memandangi Ambar, meskipun si target sudah mengetahuinya.
"Niih, udah kan?"
"Kalo aku jawab udah kamu mau langsung pergi?"
"Memangnya kenapa?"
"Gak ada sih, sebenarnya aku gak mau kamu pergi karna masih pengen ngobrol sama kamu"
__ADS_1
"Hahaaha padahal dulu kamu irit banget bicaranya, pemalu juga sekarang kok jadi berani gini sih?" tanya Ambar heran.
"Aku sendiri juga bingung, entah kenapa aku jadi senang bisa terus disamping kamu"
Kali ini Ambar yang jadi korban gombalan Sita, tapi saat mengatakan hal itu sama halnya dengan Ambar, gadis cantik itu tidak bermaksud ingin membuat Ambar melayang sama sekali. Sita hanya berusaha mengatakan apa yang ada didalam hatinya.
~**♡AmbarSita♡**~
Hari ini sebenarnya Sita ingin menunggu Ambar seperti biasanya. Tapi Alif datang kerumahnya, mereka akan mengerjakan PR bersama. Jadi dengan terpaksa Sita harus libur dulu memperhatikan wajah Ambarnya.
"Eh tiga hari kamu kemana aja?" tanya Abdul menyapa Ambar yang baru datang kebalai desa.
"Cieee kalian rinduuu yaaaa?" tanya Ambar dengan semua teman\-temannya.
"Heeeh...Tonggos, eh enggak lagi dink, udah sedikit masuk gigi kamu dir, keren behelnya" sapa Ambar dengan Khaidir yang sedang asyik membolak balikkan buku pelajaran dihadapannya.
"Beneran Mbar?" tanya Khaidir dengan wajah sumringah karna giginya mulai dipuji oleh Ambar.
Ismet langsung memperhatikan bentuk gigi Khaidir "Iya sih..." ujarnya setuju dengan perkataan Ambar.
"Berarti aku bisa nih jadi tentara"
"Hahaha kamu mau jadi tentara? Mana ada tentara yang penakut kaya kamu. Ntar kalo ada perang kamu duluan yang ditandu, padahal belum dilempari bom sama musuh" sahut Yudi yang makin hari badannya semakin\-semakin gempal menirukan buk Eli.
"Sok rajin kamu, bawa\-bawa buku ke balai! Mau pamer dengan kami. Sementang kami masih bertahan jadi murid SD!" ketus Ismet pada Thalib dan Khaidir.
"Bukan begitu, aku sama Thalib mau bikin PR, susah materinya" jawab Khadir cepat.
"Halah anak SMP mah tugasnya ngegambar doang! Kemarin kalian disuruh bikin gambar kan?! PPKN disuruh ngegambar, IPA disuruh ngegambar! Kalo gitu mending aku terus jadi murid SD deh"
"Tugas ngegambar? Rasanya gak ada tuh" sahut Thalib.
"Tapi kemarin aku di suruh Sita bikinin tugas kesenian dia, disemua lembaran buku gambar!!"
"Pelajaran kesenian kami bukan ngegambar, tapi main alat musik Pionika"
"Iyaah, sampe sakit bibir aku niup kabelnya, yang gak enaknya bagi yang tidak punya Pionika disuruh pake milik sekolah trus gantian sama anak\-anak lain. Jadi kesal, napasnya bau jigong semua!!" keluh Khaidir membenarkan perkataan Thalib.
"Trus, kenapa Sita nyuruh aku buat ngegambar ya? Tangan aku sampai pegal semalaman"
"Hahaha kamu di tipu sama Sita tuh, dibayar gak?" tanya Ismet.
"Hmmmm Aku dikasi makan sih"
"Ouhh mungkin Sita masih kasihan sama kamu!!!" ujar semua teman\-temannya kompak. Mengingat dulu Ambar memang selalu diberi makanan dan uang oleh Sita.
"Sita mah baik, masih mau menyedekahkan makanannya sama kamu " ujar Abdul dengan lantang.
Ambar menggaruk kepalanya "Gitu ya? Iya juga sih! Gak apa\-apa deh makanan buk Ita juga enak\-enak soalnya" ujar Ambar lagi sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
