AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Ambar Tidak Peduli !


__ADS_3

AmbarSita


*****


Saat tahun ajaran baru dimulai, Ambar cs pun mantap masuk ke SMP tempat dimana teman-teman SD mereka yang dulu kini sudah duduk di bangku kelas tiga.


Sita berdiri didepan kelasnya, memperhatikan anak-anak baru disekolahnya yang sedang menjalani masa orientasi bersama anak-anak osis. Tujuannya adalah mencari orang yang harusnya sekarang ikut kegiatan MOS. Tapi Ambar malah asyik duduk dengan teman-temannya dibelakang sekolah.


"Lif... Ada anak kelas 1 yang gak ikut mos tuh, mereka lagi nongkrong dibelakang sekolah" kata Rizka ketua osis mereka memberitahu Alif.


"Panggil dong! Kan kamu ketua osis nya kok malah lapor aku!" Jawab Alif malas dan berlalu masuk kekelas untuk menemui Sita.


"Gak ikut kegiatan mos?" Tanya Sita heran karna Alif malah ikut duduk disampingnya saat ini.


"Mau liat kamu dulu. Kamu mau makan? Aku beliin......"


"Gak usah, ntar kamu di cariin Rizka loh" potong Sita cepat.


"Baru tadi dia ngelapor kalo ada anak baru yg gak ikut mos"


"Yaudah marahin sana, dia lapor kamu mungkin karna kamu yang paling berani" bujuk Sita dengan temannya itu.


"Ntar lagi aja deh" jawab Alif malas. Dia masih belum ingin pergi meninggalkan Sita sendirian didalam kelas.


Riska ketua osis SMPN 1 Peringi itu datang kekelas 3-A untuk meminta bantuan Alif kembali. Alif memang yang paling berani diantara semua anggota osis lainnya bahkan dirinya sekalipun.


"Tolong kami Lif, itu udah dipanggil sama anak-anak lain tetap aja mereka gak mau dengarin" mohon Riska agar Alif mau turun tangan membantu.


"Ntar aku susul" jawab Alif singkat dan meminta Rizka meninggalkan kelasnya.


"Kenapa sih emangnya?" tanya Sita heran.


"Tau tuh, tiap ada masalah pasti aku terus yang disuruh menghadapi, padahal ketua osis nya siapa coba"


"Sabar, mungkin Rizka nya emang gak bisa menghadapi yang brutal. Makanya minta tolong sama kamu" bujuk Sita agar Alif mau membantu teman-teman osisnya saat ini.


Bujukan Sita berhasil membuat Alif mau menemui Rizka dilapangan. Mereka kemudian pergi menemui anak-anak baru yang sudah berani memberontak dengan aturan sekolah. Baru kali ini Alif jadi merasa beruntung sudah bergabung menjadi anggota Osis saat mengetahui siapa orang yang akan dihukumnya.


"Kenapa kalian malah asyik nongkrong disini?!" bentak Alif dengan Ambar, Ismet, Arul dan Ujang.


"Kalian berdua juga kenapa ikut-ikutan! Tolong kasi contoh yang baik dengan adik-adik kelas kalian ini!" marahnya lagi pada Khaidir dan Thalib. Dua orang yang memang teman satu kelasnya itu tidak berani menjawab.


"Heeh.... Apa kabar tiang... eeh Alif ganteng. Makin keren aja nih kakak kelas kita" ujar Ambar santai meski semua teman-temannya yang lain terlihat begitu pucat. Apalagi si ketua osis juga ada disamping Alif saat ini.


"Kasi hukuman nih?" tanya Alif pada Rizka.


Ketua osis itu sedikit ragu menganggukkan kepalanya tapi Alif memperlihatkan senyuman liciknya. Rizka terpaksa menganggukkan kepala setuju untuk memberikan hukuman kepada Ambar cs.


"Suruh bersihin toilet yang ada dibelakang aja, biar toilet itu bisa di pake lagi" ujar Alof memberi hukumannya.


Ismet tidak setuju, apalagi hari pertama dirinya sebagai murid SMP sudah disuruh menguras wc yang joroknya bukan main. Wajahnya langsung telihat dongkol sambil memandangi Alif sinis.


"Kenapa?! Kamu gak suka!" tanya Alif keras.


"Jangan belagu gitu dong, mentang-mentang kamu osis?!" umpat Ismet sambil berdiri dari duduknya.


Ambar menarik tangan temannya, berusaha menenangkan Ismet yang naik darah melihat perlakuan Alif.


"Udaaah... Lagian kita baru masuk juga Hahaha.... WC mana nih tiang?" kata Ambar masih berusaha untuk tetap terlihat tenang dan bahagia.


Alif dan Rizka langsung mengajak murid-murid baru tersebut ke toilet yang mereka maksud. Toilet yang sudah lama tidak dipakai oleh murid laki-laki itu benar-benarterlihat jorok dan menyeramkan. Ketiganya sampai terpaku, antara jijik dan tidak bisa menerima tugas itu. Tapi kalau ditolak maka guru BP pasti akan bertindak, jadi mau tidak mau ketiganya harus menerima hukuman atas ulah mereka sendiri.


"Jangan sok jijik gitu, toilet ini lebih bagus daripada rumah kamu!" bisik Alif pelan dihadapan Ambar, Alif kemudian berlalu pergi bersama si ketua osis.


"Dia ngomong apaan, mbar?" tanya Ismet penasaran karena wajah Ambar tersenyum mendengar perkataan Alif.

__ADS_1


Ambar tidak menjawab pertanyaan temannya dan lamgsung menyusul Alif yang sudah berjalan jauh bersama ketua osis tersebut. Tangan Ambar menolak punggung cowok yang lebih tinggi 5 cm darinya itu.


"Aku gak masalah disuruh bersihin toiletnya, tapi mulut kamu tolong dijaga! Meskipun perkataan kamu benar, tapi kalo pak Bahrun dengar pasti dia bakal sedih tau gak!" bentak Ambar keras.


"Trus kamu mau apa!!" bentak Alif balik dan melayangkan tinjunya kewajah Ambar.


Saat Ambar akan membalas pukulannya tapi Rizka langsung melerai. Hampir saja keduanya adu jontos, ketiga teman Ambar pun ikut menyusul dan menahan Ambar yang sudah terpancing emosi.


"Ayo ke ruang guru BP sekarang" usul Rizka untuk menyelesaikan masalah dua anak laki-laki yang sedang dipengaruhi rasa emosi tersebut.


Ambar cs ditatar habis-habisan oleh guru BP. Meskipun Alif yang melayangkan tinjunya pertama kali. Tapi tetap saja kesalahan pertama Ambar yang tidak ikut dengan kegiatan masa orientasi dilapangan yang dibahas oleh anggota osis tersebut. Jadi tidak ada kesempatan bagi Ambar untuk membela diri.


Setelah masalahnya selesai, Alif kembali menemui Sita didalam kelas. Khaidir dan Thalib yang sedang bergosip didepan Sita langsung kabur keluar kelas. Soalnya sekarang siapapun yang dekat-dekat dengan Sita bakal dihajar oleh Alif.


"Ribut ya tadi sama Ambar?" tanya Sita pelan saat Alif sudah duduk disampingnya.


"Anak baru yang gak ikut orientasi ternyata si bocah ***** dengan tiga temannya"


"Sabar, kan aku udah bilang Ambar gak usah dilawan. Dia emang dari dulu begitu, susah diatur" ujar Sita untuk menenangkan hati Alif.


Sampai jam pulang dibunyikan Alif tidak berhenti menemani Sita didalam kelas. Cowok itu mengabaikan tugasnya sebagai anggota Osis, baginya Sita lebih penting dari pada kegiatan Mos tersebut. Saat mereka akan keluar dari kelas, Ambar dan Ismet pun lewat. Kedua cowok itu juga sama-sama ingin pulang.


"Heiii kakak kelas" sapa Ambar sumringah pada Sita dan Alif, meskipun Ambar baru terlibat masalah dengan Alif sebelumnya.


Sita hanya diam dan menerima gandengan tangan Alif untuk berjalan lebih cepat dan meninggalkan kedua pengganggu tersebut.


"Aduh Sita makin sombong aja loh" ujar Ismet yang justru ikut-ikutan menyusul Alif dan Sita.


Ambar pun demikian. Kedua orang tersebut memang sama-sama tidak sadar diri, mereka terus saja menguntit meski senyuman mereka tidak direspon sama sekali. Bahkan sampai dipersimpangan yang menjadi pemisah antara Sita dan Alif.


"Hahaha nah kan akhirnya Sita harus jalan bareng aku juga tiang listrik, sini aku gandeng Sita kamu biar gak jatuh" ujar Ambar sambil menyamakan langkahnya disamping Sita.


"Aku antar kerumah ya" kata Alif agar Sita tidak berjalan berduaan dengan Ambar. Sita mengangguk setuju dengan tawaran Alif tersebut.


"Hahaha enak dikamu dong, masa aku sama tiang listrik" ujar Ismet yang malah ikut berjalan menuju kerumah Ambar dan Sita.


Alif memang berniat mengantarkan Sita sampai kerumahnya. Ismet pun akhirnya mengurungkan diri untuk menggoda dua orang yang digosipkan berpacaran itu dan kembali lagi menuju jalan kerumahnya yang sudah dilewatinya sedari tadi.


Kini tinggal Ambar yang berada dibelakang mereka. Alif pun masih terus menggandeng tangan Sita. Sesekali Ambar memperhatikan tangan mereka sambil manyun dengan sendirinya. Ambar kemudian menepuk pundak Sita pelan dari arah belakang dan berusaha tersenyum saat gadis itu menoleh.


"Duluan yaaa" pamit Ambar dan berlari meninggalkan keduanya.


Sita hanya diam, darahnya berdesir saat tubuhnya disentuh oleh Ambar. Rasanya ingin menangis karna entah kenapa dia selalu menjadi orang yang begitu sombong jika Ambar menyapanya didepan umum. Lidahnya selalu kelu untuk menjawab semua perkataan dari Ambar dan anehnya setelah Ambar pergi baru rasa menyesal menyelimuti hati dan pikirannya.


 


~**♡AmbarSita♡**~


 


Keesokannya paginya Sita sengaja berdiri dijalan depan rumahnya. Saat ini Ambar dan dia sudah satu sekolah lagi, jadi otomatis mereka pasti akan kembali berangkat bersama kesekolah seperti waktu SD dulu.


Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 7.35, sepuluh menit lagi bel sekolah mereka akan dibunyikan. Tapi Ambar masih belum juga mencul. Padahal jalan menuju kesekolah mereka membutuhkan waktu sekitar 12-15 menitan jika berjalan kaki karna letak SMP mereka memang cukup jauh.


Pukul 7.45 Ambar pun akhirnya keluar dari halaman rumahnya. Cowok itu tidak menoleh sama sekali dengan Sita yang masih berdiri dipinggir jalan. Mulutnya yang cerewet hilang seketika tidak seperti kemarin. Setelah Ambar berjalan beberapa langkah baru Sita ikut menyusul dari belakang sampai kesekolah mereka.


Untung saja sekolah itu belum ada satpamnya dan guru dikelaspun masih mentolerir murid-muridnya yang terlambat sebanyak tiga kali. Karna ini pertama kalinya bagi Sita datang terlambat maka dia masih bisa selamat.


"Kenapa kamu bisa terlambat tadi?" tanya Alif saat jam istirahat.


"Telat bangun, soalnya kemarin bantuin ibuk" jawab Sita memberi alasan.


Dijam pulang sekolah pun masih sama dengan kemarin. Ambar dan Ismet yang akan pulang kerumah juga kembali menggoda Alif dan Sita. Keduanya juga masih menguntit dari belakang, sifat Ambar yang cuek seperti tadi pagi juga hilang. Mulutnya kembali cerewet untuk menggoda dua orang tersebut. Sampai dipersimpangan pemisah antara mereka kali ini Sita memberi alasan agar Alif tidak perlu mengantarkannya pulang sampai kerumah. Karna Sita begitu ingin pulang bersama Ambar dan mengajak cowok nakal itu berbicara


"Hari ini aku mau pergi sama ibuk" kata Sita pelan. Alif hanya mengangguk dan melepaskan tangan Sita dari genggamannya.

__ADS_1


"Loh tiang listrik gak ngantar tuan putri pulang hari ini?" kaget Ismet saat melihat Alif yang ikutan belok bersama dengannya.


"Yakin nih, Sita ama aku pulangnya, yaudah aku jagain kok tuan putri kamu itu" ujar Ambar ikutan menggoda Alif.


Sita sengaja memperlambat langkahnya agar Ambar berjalan disampingnya seperti kemarin, tapi tidak! cowok itu malah tetap berjalan dibelakang dan mulut cerewetnya malahan ikutan hilang seperti tadi pagi. Sita menghentikan langkahnya dan menoleh pada Ambar. Tujuannya untuk menunggu Ambar kembali menyapanya. Tapi nyatanya Ambar justru tetap berjalan tanpa menoleh sama sekali.


"Ambar" panggil Sita pada cowok yang sudah berjalan didepannya.


Ambar tidak mendengar dan terus saja berjalan meninggalkannya. Tanpa sadar airmata Sita langsung keluar dengan sendirinya. Buk Ita kaget saat menyambut putrinya pulang kerumah.


"Kenapa pulang-pulang nangis?" Sita hanya diam dan masuk kedalam kamar.


"Taa..... ibuk mau kedesa seberang loh" ujar buk Ita ikut menyusul putrinya. Sita tetap diam dan merebahkan tubuhnya kekasur.


"Ada apa? Pulang-pulang cemberut gitu, gak makan siang dulu? Apa ada masalah disekolah?"


"Buk, Ambar marah ya sama Sita?" tanya gadis itu sambil merengek.


"Haa? Ibuk mana tau... Emang nya kenapa?"


"Sita yang salah buk, tiap ada orang lain didekat kami Sita jadi gak berani buat ngomong sama Ambar, mungkin karna itu dia jadi marah kali ya buk?"


"Aduh ibuk mau ngasi komentar atau masukan gimana nih. Lagian kenapa kamu gak mau ngomong sama Ambar kalau ada teman-temannya?"


"Sita malu, soalnya teman-teman Ambar itu banyak buk"


Buk Ita menarik nafas panjang, bingung sendiri dengan kisah remaja seusia anaknya.


"Kalo malu-malu sampe kamu tua ya gak akan bisa ngomong sama Ambar. Yaudah deh ntar kalo ibuk ketemu Ambar, ibu kasi tahu dia ya, biar dia gak salah paham" bujuk buk Ita agar Sita berhenti menangis.


"Benar ya buk.... Bantuin Sita buk"


"Iya, sekarang ganti bajunya trus makan siang, ibuk keseberang dulu ya. Mungkin pulangnya agak dekat-dekat Magrib gak apa-apa kan?" Sita menganggukkan kepalanya. Buk Ita kemudian pergi kedesa seberang tempat adiknya tinggal sambil melihat ibunya yang kini ikutan tinggal dengan paman Sita tersebut.


 


~**♡AmbarSita♡**~


 


Saat hampir magrib, buk Ita pulang dari rumah adiknya. Ditengah perjalanan menuju rumah, wanita paruh baya itu bertemu dengan orang yang membuat anaknya menangis ketika pulang sekolah tadi siang.


"Buuukkk..." sapa Ambar ramah.


"Eeh Ambar, darimana nih?"


"Main bola sama teman-teman buk, dari desa seberang ya buk?"


"Iya, liatin nek Lasa sama pamannya Sita"


Ambar hanya menganggukan kepalanya. Ambar juga sengaja memperlambat langkah kakinya agar buk Ita berjalan duluan. Tapi buk Ita malah berhenti dan kembali menoleh kearah Ambar.


"Oh ya Ambar, Sita itu pengen banget bisa dekat sama Ambar. Tapi kalo ada orang lain didekat kalian dia jadi kikuk sendiri buat ngejawab sapaan Ambar" ujar buk Ita sambil tersenyum menatap Ambar.


"Sita itu anaknya pemalu, jadi tolong dimaklumi aja ya Mbar" sambungnya lagi.


Ambar terdiam mendengar perkataan buk Ita, sampai-sampai mulutnya terbuka sedikit. Selain kebingungan karna tiba-tiba buk Ita ngomongin anaknya. Ambar juga tidak tahu harus merespon bagaimana.


"Ibuk ingin ngasi tahu aja, soalnya Sita jadi sedih, takut Ambar mikir dia sombong"


"Hahaha... Enggak kok buk" jawab Ambar cepat "Ambar tahu kok kalau Sita itu penakut, maksudnya pemalu" jawab Ambar dengan ragu.


"Hahaha... Iya, syukur deh kalo Ambar ngerti. Yaudah ibuk duluan ya, bentar lagi magrib" Ambar kembali menganggukkan kepalanya, meskipun rasa bingungnya masih belum hilang.


__ADS_1


__ADS_2