AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Yang Penting Belajar !


__ADS_3

Sebelum pulang kerumah Ambar langsung mempunyai ide buruk untuk membuat Sita jera dan ogah mengajarinya lagi. Setelah menyusun rencananya dengan baik, Ambar memutuskan pulang dengan senyum merekah. Lesung pipinya dipameri pada semua tumbuhan dijalanan. Sita pun juga sudah kembali lagi dengan kebiasaannya menunggu Ambar pulang dipinggir jalan. Saat melihat Ambar dia langsung menyusul dan menggenggam tangan Ambar erat.


"Makan siang dirumah aja gimana? Ibuk tadi pagi sengaja masak ayam balado buat kamu, mau yaaah?" bujuk Sita dengan lembut.


"NO!!" jawab Ambar tegas dan menolak kening Sita dengan telunjukknya


"Ibuk kecewa loh nanti, dia udah repot-repot masak itu buat kamu"


"Tenang aja, nanti pasti bakal dimakan kok" jawab Ambar dengan santai.


"Yaudah aku pulang dulu yah sayang, Uughh cintah deh aku sama buk Eli!" ujar Ambar gemes dan membelai pipi Sita mesra kemudian kabur pulang kerumahnya.


Sita tersenyum melihat ekpresi wajah kekasihnya tersebut. Padahal tiga hari hubungan mereka sempat putus komunikasi tapi sekarang sudah kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun sayangnya Ambar tidak meminta maaf atau serius menjelaskan kesalahpahaman kemarin pada Sita. Ambar merasa tidak peduli, Sita pun demikian dari pada Ambarnya marah, jadi biarlah dia melupakan status menyakitkan Thalib waktu itu.


 



 



Ditaman belakang rumah buk Ita, Ambar semakin bahagia melihat cemilan dan minuman dingin yang dihidangkan Sita untuknya. Gadis itu sebenarnya sudah mulai sedikit curiga dengan gerak\-gerik Ambar yang begitu bersemangat tidak seperti kemarin.



Ismet, Arul, Ujang bahkan Abdul dan Yudi yang tidak sekolah lagi dengan raut wajah bahagia mengetuk pintu rumah buk Ita. Mereka diajak Ambar untuk ikut belajar juga dengan Sita. Tentu saja semua tidak akan menolak, soalnya dekat dengan Sita adalah impian sejuta umat lelaki Peringi hilir. Selain itu makanan! Ah rumah Sita dari dulu memang banyak makanan sih...



"Buk Itaa" teriak Arul kencang sambil mengetuk\-ngetuk pintu rumah tersebut.



"Kok buk Ita, Sita dong!" kata Ismet kebingungan.



"Kata Ambar gitu, itu kode password masuk kerumah Sita" jawab Arul dengan polosnya.



Teman\-temannya mengangguk "Buk Itaaaaa" teriak semuanya kompak.



Sita langsung menggenggam tangan Ambar saat mendengar suara teriakan cowok\-cowok dari depan rumahnya.



"Wah ada tamu tuh, siapa yaaaa?" ujar Ambar pura\-pura tidak tahu dengan bunyi suara yang berteriak\-teriak tersebut.



"Kamu ajakin teman\-teman kamu juga ya?" tanya Sita dengan curiga.



Ambar hanya mengangkat kedua bahunya kemudian berjalan dengan rasa penuh kemenangan menemui teman\-temannya yang belum juga berhenti meneriaki nama buk Ita.



"Waaaah Ada apa nih rame\-rame main kerumah buk Ita? Mau belajar juga ya? Masuk aja, tuan rumahnya ada dibelakang, Widih datangnya rame\-rame yaaa" sambut Ambar bahagia dan mengajak teman\-temannya menemui Sita yang tengah gugup mengetahui teman\-teman kekasihnya itu ikut bergabung belajar dengan mereka.



Semua mengambil posisi duduk di gazebo taman belakang rumah Sita, Ambar pun demikian. Senyum manisnya masih awet dia tunjukkan.



"Sini dong buk, disini lebih luas daripada bangku itu" panggil Ambar pada kekasihnya.



"Iyaaa disini aja Sita belajarnya" ujar Abdul bersemangat.



"Ah kalo Sita gurunya aku mau balik sekolah lagi nih" kata Abdul lagi.



Arul kemudian mendekati Sita yang masih mematung dibangku taman. Cowok berkulit hitam manis itu mengambil makanan dan minuman yang ada dimeja dan memindahkannya ke tempat mereka duduk. Tanpa basa\-basi semua langsung ikut memakan cemilan. Dalam beberapa detik 1 piring kue coklat dan 1 mangkuk keripik langsung habis tidak tersisa. Bahkan 1 buah cangkir yang disediakan Sita hanya untuk Ambar pun dipake bergilir oleh mereka menghabiskan Es jeruk nya sekalian.



"Gak ada lagi ya?" keluh Yudi tanpa rasa berdosa.



"Huuuus kamu ini" hardik Ismet pelan.



Suara orang berteriak\-teriak kembali terdengar dari depan rumah buk Ita. Ambar menyambut dua temannya kembali, kali ini Khaidir dan Thalib yang datang membawa kuaci untuk cemilan mereka selama belajar dengan Sita. Anak\-anak cowok itu kemudian asyik mengobrol, bermain Ludo bahkan Abdul dan Yudi adu panco di dalam Gazebo. Ambar mendekati Sita yang berubah jadi patung memandangi buku pelajaran ditangannya.



"Senangkan muridnya jadi banyak" kata Ambar meledek.



Cowok itu sengaja mengajak teman\-temannya juga kali ini karna dia tahu Sita tidak akan bisa berkutik jika ada teman\-teman Ambar didekat mereka. Sampai jam 4 Sore Sita hanya memandangi Ambar dan teman\-temannya yang sibuk dengan kegiatan mereka masing\-masing. Buk Ita pun sudah pulang dari desa seberang, wajahnya ikut sumringah melihat teman\-teman Ambar turut bergabung belajar dengan anaknya.



"Oh iya, Ibuk masak ayam balado, kalian mau makan gak?" tanya buk Ita menawarkan makan kepada mereka.



"Mau buk" jawab semuanya bersamaan padahal tidak diberi aba\-aba sama sekali.



Buk Ita menghidangkan makan sore untuk ketujuh cowok dengan beda\-beda sifat tersebut. Mereka makan dengan lahap, hanya Sita yang tidak! Matanya sesekali melirik kearah Ambar. Selesai makan semua menyalami tangan buk Ita satu persatu dan pamit pulang kerumah masing\-masing, lalu belajarnya? Tinggalah mimpi!


~~~**♡AmbarSita♡**~~~



![](contribute/fiction/64817/markdown/5187474/1571810688691.jpg)



~~~**♡AmbarSita♡**~~~


__ADS_1


Selesai sholat magrib, seseorang mengetuk pintu rumah Ambar. Pak Bahrun dan istrinya sedang berzikir diruang tamu, anak gadis mereka Hening juga tengah asyik belajar dibawah kaki ayahnya. Jadi dengan terpaksa Ambar yang beranjak membuka pintu untuk tamu mereka. Wajah Ambar langsung pucat melihat sosok Sita, dengan cepat cowok itu langsung menutup pintu rumahnya kembali.



"Siapa?" tanya pak Bahrun heran karna Ambar tidak mengeluarkan suara sama sekali dengan tamu tersebut.



"Gak ada siapa\-siapa pak, kucing kayanya" jawab Ambar gugup dan masih berdiri didepan pintu. Dia jadi takut pak Bahrun mengecek keluar saat ini.



Gadis yang ada diluar tersenyum mendengar jawaban Ambar kemudian dia kembali mengetuk Pintu.



"Loh tuh diketuk lagi" kali ini buk Khadijah yang mengeluarkan suara.



Ambar membuka pintu rumahnya "Waaaah kamu met, aku pikir kucing, ternyata kamu ngerjain ya!! Haa? Temanin kamu ke rumah pak Handsome? Yaudah yuuk!" teriak Ambar agar kedua orangtuanya berpikir jika Ismet yang datang menemuinya.



Namun sayangnya pak Bahrun justru ikut keluar melihat teman anaknya tersebut '**Plak**!' bunyi tangan pak Bahrun yang memukul kepala Ambar.



"Udah jelas nak Sita yang datang malah bilangin Ismet!" hardik pak Bahrun dan tersenyum memandangi Sita.



"Ada apa nak Sita?" tanya pria itu ramah, nada suaranya juga langsung berubah saat berbicara dengan Sita.



"Maaf Sita ganggu ya pak, tadi sore kami gak serius belajarnya karna rame. Sedangkan Ambar masih ada materi yang belum dikuasainya, jadi Sita datang bantu Ambar belajar lagi" jawab gadis itu begitu sopan kepada ayahnya Ambar.



"Ya Allah, gak perlu repot\-repot nak Sita, yaudah masuk\-masuk" pak Bahrun menyambut gadis itu masuk kedalam rumah.



Buk Khadijah bahkan sampai merapikan kursi rotan milik mereka dan mempersilahkan Sita untuk duduk.



"Hening belajar didalam kamar aja ning, bang Ambar mau belajar sama kak Sita disini" perintah pak Bahrun dengan anak bungsunya.



Ambar menyandarkan punggung kedinding rumahnya yang kayu. Sepertinya Sita tengah balas dendam saat ini. Hening masuk kamar, pak Bahrun juga demikian, buk Khadijah malah merepotkan diri membuat minuman untuk Sita setelah itu ikut masuk kedalam kamar juga. Senyum penuh kemenangan Ambar tadi siang sudah berpindah kewajah Sita.



"Mana bukunya?" tanya Sita bahagia.



Ambar hanya diam dan mengambil buku didalam kamarnya kemudian duduk dihadapan Sita. Dia tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hatinya begitu kesal melihat Sita yang sudah semakin nekat dan berani. Gadis itu menjelaskan materi dengan suara yang begitu lembut dan pelan agar Ambarnya mau mendengarkan.



"Coba kerjain latihannya ya yank.... mbar" pinta Sita gelagapan.




"Aku minta maaf kalo buat kamu kesal saat ini, tapi semua demi kamu juga. Bentar lagi kamu bakal menghadapi ujian" ujar Sita pelan.



"Simpan rasa khawatir kamu itu! besok kan kita masih bisa belajar gak harus malam ini juga datang kerumah aku!" jawab Ambar ketus yang suaranya juga sengaja dia kecilkan agar malaikat pelindung Sita didalam kamar saat ini tidak mendengar.



"Kalo besok kamu masih bawa teman\-teman kamu belajar bareng kita, maka aku akan datang lagi setiap malam kerumah kamu. Aku gak takut kamu mau marah atau gimana! Aku peduli, begini cara aku peduli sama kamu! Aku sayang sama kamu! Aku cuma mau kamu mendapatkan hasil yang terbaik! Terserah apa pendapat kamu tentang rasa sayang aku yang berlebihan ke kamu!" jawab Sita tegas.



Ambar menutupi wajahnya mendengar perkataan Sita, gadis itu benar\-benar berubah karakter dan sifatnya jika dengan Ambar.



"Nih kerjain!" perintah Sita dan menyodorkan bukunya sekali lagi.



Dengan terpaksa Ambar mengambilnya dan mulai mengerjakan tugas yang diperintahkan Sita tadi. Di soal yang ke 5 telinga Ambar semakin berubah warna menjadi merah karna mengerjakan contoh\-contoh soal ujian tersebut. Ambar meletakkan pena untuk merenggangkan otot\-otot badannya. Teh yang dibuatkan buk Khadijah untuk Sita langsung diminum Ambar sampai habis tidak tersisa, setelah itu menyodorkan gelasnya pada Sita.



"Ambil minum!" perintah Ambar pada tamunya.



Sita langsung nurut dan beranjak ke dapur mengambilkan apa yang diminta Ambar.



"Bukan air putih, yang ada warna!" perintah Ambar lagi saat Sita meletakkan gelasnya tadi di atas meja.



Dengan sabar Sita kembali lagi kedapur dan berusaha membuatkan teh untuk Ambar, meski dia kebingungan dimana buk Khadijah menyimpan teh dan gula dirumahnya itu. Karena mendengar suara petikan kompor yang ada didapur buk Khadijah keluar dari dalam kamar.



"Nak Sita udah pulang mbar?" tanya buk Khadijah karna melihat anak sulungnya sudah belajar sendirian.



Saat Ambar akan menjawab pertanyaan ibunya tiba\-tiba suara kaleng jatuh terdengar dari arah dapur. Buk Khadijah melihat siapa yang tengah sibuk didapurnya.



"Loh kenapa nak?" tanya wanita itu dengan nada khawatir.



Suara Sita begitu pelan menjawab pertanyaannya. Ambar hanya mendengarkan suara cemas dari ibunya yang meminta Sita kembali keruang tamu. Tapi sepertinya gadis itu menolak karna dia belum juga keluar dari dapur tersebut, justru buk Khadijah yang datang mendekati Ambar dan mencubit bagian perut anak laki\-lakinya.



"Kenapa gak bilang sama ibuk kalo nak Sita mau bikin teh lagi!" bentaknya sambil merapatkan gigi dan mengecilkan suara.

__ADS_1



Ambar hanya diam dan tidak peduli, hatinya tengah kesal juga saat ini. Sita kemudian kembali dengan membawa secangkir teh untuk Ambar. Buk Khadijah langsung tersenyum dengan manis dan masuk kedalam kamarnya kembali. Sita kemudian duduk dihadapan Ambar, dilihatnya soal latihan yang dikerjakan Ambar masih terjebak di nomor lima.



"Gimana? Sulit ya?" tanya Sita dengan lembut.



Ambar menghembuskan nafas dan memandangi wajah Sita. Dia mengaku kalah, Sifat Sita benar\-benar membuatnya menyerah malam ini.



"Besok aja lanjutin, aku gak bisa dipaksa belajar gini" rengek Ambar pelan. Bahkan sifat cengeng Sita sudah berpindah ketubuhnya.



Sita sampai menutup mulut menahan tawa mendengar suara Ambar yang begitu memelas. Saat ingin membelai wajah ganteng Ambar yang terlihat menggemaskan cowok itu langsung menepis tangan Sita.



"Yaudah tapi janji dulu besok belajarnya berdua aja" ujar Sita sambil menyodorkan jari kelingkingnya.



Ambar langsung mengangguk dan memberi jari kelingkingnya juga.



"Buk\-Pak.... Sita pulang dulu ya" teriak Sita untuk memberitahu kedua orangtua Ambar.



Pak Bahrun dan buk Khadijah langsung keluar menemui dua sejoli tersebut.



"Udah selesai belajarnya? Makasih ya nak Sita mau repot\-repot ngajarin Ambar" kata pak Bahrun ramah.



Sita menganggukkan kepalanya dan menyalami tangan kedua orangtua Ambar.



"Eh mbar, antar dong nak Sita nya pulang" perintah buk Khadijah dengan anaknya yang masih duduk sambil menundukkan kepala memperhatikan buku tebal diatas meja.



"Dekat kok buk, tadi aja dia bisa kesini sendiri" kata Ambar menolak perintah ibunya.



Kedua orangtua tersebut membuka mata mereka besar sebagai bentuk ancaman kepada Ambar. Jadi dengan terpaksa cowok itu akhirnya berdiri dan mengantarkan Sita untuk pulang.



Sita sengaja memperlambat langkah kakinya. Saat sudah jauh dari pekarangan rumah Ambar, gadis itu langsung menarik tangan Ambar dan menggandengnya. Ambar tidak peduli, dia masih kesal dan tidak ingin diajak bicara banyak saat hatinya sedang marah. Sita pun tahu dengan karakter Ambar tersebut. Jadi dari pada mendengar mulut kekasihnya itu nyinyir lebih baik diam saja berjalan disampingnya.



"Makasih ya" kata Sita lembut saat sampai didepan pekarangan rumahnya.



Ambar tidak menjawab dan langsung meninggalkan Sita untuk pergi ke balaidesa menemui Abdul dan Yudi sebagai penunggu setia tempat itu. Sita terpaku melihat langkah Ambar yang makin lama makin menjauh.



"Aiiish tadi katanya pusing, sekarang malah ke balai buat main!" umpat Sita kesal kemudian masuk kedalam rumah.



 


\*\*☆☆☆☆☆☆☆☆☆\*\*


 



Keesokannya Ambar mencegah teman\-temannya untuk ikut lagi dengannya belajar dirumah Sita. Semua tentu saja langsung kecewa apalagi Arul yang paling rakus, dia sedih karna gagal mendapatkan makanan gratis lagi dirumah Sita. Ambar pun pulang kerumahnya dengan lesu.



"Kenapa anak ganteeeeeeng? Cemberut gituuuu? Gak ganteng lagi tuh" sapa Sita dengan penuh senyuman.



"Buk sediain beng\-beng! Kalo enggak nanti Ambar gak mau belajar!" jawab cowok itu dengan lemah dan kabur pulang kerumah.



Sita langsung nurut, dia pergi kewarung 'pacar jadi\-jadian' Ambar untuk membeli satu kotak beng\-beng dan pulang kerumah mempersiapkan diri menyambut kedatangan pacarnya.



Jam sudah menunjukkan pukul 2.10 siang tapi cowok keras kepala itu belum juga datang. Sita sudah risau didalam ruang tamu, mau menjemput Ambar pun dia juga takut akan dimarahi.



"kalo 2.30 Ambar belum datang baru deh Sita liat kesana" gumam Sita dalam hatinya.



Pukul 2.29 Ambar baru datang sambil menenteng buku gambar. Sita langsung bernafas lega, padahal tadi dia sudah mengumpulkan mental untuk menemui Ambar kerumahnya. Sita berusaha tersenyum memandangi Ambar, meski hatinya dongkol juga melihat buku yang dipegang Ambar saat ini. Biarlah! Sabar Sita! Mau marah pun yang ada si Ambar kamu bakal marah balik pastinya.



"Kita langsung belajar atau kamu mau makan beng\-beng dulu? Atau ngegambar sayang? Kamu mau yang mana nih?" tanya Sita dengan ramah dan lembut.



Mungkin costumer service operator seluler sudah kalah dari keramah tamahan dan kelembutan Sita saat membujuk Ambarnya agar mau belajar. Ambar tetap manyun dan memakan beng\-beng yang sudah dibelikan Sita. Kemudian tangannya mulai bermain dibuku gambar yang dibawanya tadi. Kali ini dia ngegambar sosok Ultramen, film super hero favoritenya waktu kecil dulu. Sita hanya diam dan berusaha menunggu mood Ambar muncul untuk belajar, setelah selesai membuat maha karyanya dan mengisi perut dengan 10 bungkus beng\-beng baru Ambar mau membahas materi pelajaran bersama Sita.



Hal itu terus berlanjut setiap harinya, selalu saja ada alasan Ambar untuk menunda waktu belajarnya. Bahkan dia mengambil bibit cabe milik pak Bahrun dan menanamnya ditaman belakang rumah Sita. Kemudian ngemil, setelah itu baru dia mendengarkan Sita menerangkan materi pelajaran!



Atau Ambar membawa sayuran dari hasil kebun milik pak Bahrun dan meminta Sita memasaknya. Sampai akhrinya dia tahu jika Sita sebenarnya tidak bisa memasak. Jadi alasannya untuk menunda belajar semakin banyak. Sita dipaksa untuk masak dulu baru dia mau belajar! Setiap hari gadis itu berkutat didapur memasakkan sesuatu untuk Ambar setelah itu baru mereka belajar.



'*Sabar Sita, ladeni saja si manusia keras kepala itu dengan baik, yang penting Ambar belajar buat persiapan ujian nasionalnya, yang penting Ambar lulus dan mereka bisa satu sekolah lagi*' kata\-kata itu berputar\-putar dikepala Sita, rasa cinta dan pedulinya kepada Ambar sudah tidak perlu diuji ke laboratorium mana pun.

__ADS_1



![](contribute/fiction/64817/markdown/5187474/1571811587149.jpg)


__ADS_2