![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Ambar pergi ketempat yang sudah dikatakannya tadi berharap Sita mengerti jika omongannya itu ditujukan untuk dirinya. Ambar menatap langit bosan juga menunggu karena Sita belum muncul. Merasa sudah hampir 1 jam lebih duduk ditempat itu Ambar akhirnya memutuskan pulang. Bukan karna lelah menunggu tapi laparnya sudah tidak bisa dikompromi.
Saat akan membalikkan badan Sita akhirnya datang. Gadis itu berjalan mendekati Ambar yang berdiri ditempat biasa mereka duduk. Udaranya memang begitu sejuk disana juga begitu sepi karna memang tidak ada warga yang bertujuan kesana selama ini. tapi meskipun tenang dan sejuk hati Sita tidak seperti itu, dia melangkah mendekati Ambar untuk siap menangis dihadapannya.
Ambar menarik nafas panjang karna melihat mata gadis itu berkaca-kaca dan saat sudah dekat Sita menarik lengannya. Airmata langsung membasahi baju sekolah Ambar. Kalau sudah begini Ambar jadi kebingungan. Padahal belum ngomong apa-apa Sita yang baru datang langsung menangis dilengannya. Meskipun perutnya terus berbunyi bahkan mungkin Sita bisa mendengar bunyi tersebut tapi dia tetap tidak mau melepaskan lengan Ambar. Cowok ganteng itu tahu jika dia salah, jadi tidak bisa marah. Ambar tetap diam menunggu sampai Sita tenang dan bisa diajak bicara. Sita akhirnya mengangkat kepala dan memandangi Ambar lama, kemudian menangis lagi saat melihat Ambar tersenyum.
"Loh masih belum habis?" ledek Ambar dengan santainya.
"Kamu ini!!" pukul Sita pada lengan Ambar.
"Ya kenapa? Aku pikir udah selesai nangisnya ternyata masih" jawabnya lagi dan berusaha menyapu air mata Sita "Udahan kan? nih liat ingus kamu banyak banget loh" kata Ambar sambil menunjukkan airmata yang ada ditelujuknya.
"Aku nangis gak ada ingusnya!!" rengeknya lagi.
"Masaa? Dulu ingus kamu juga keluar dari mata waktu SD"
"Itu kamu berusaha membela diri aja sama buk Mun!!"
"Hahahaa..... Masi ingat ya?" Sita hanya diam dan terus menggenggam lengan Ambar.
"Masih marah? Atau mau nyambung lagi nih nangisnya?"
"Tauuuuk!!" jawab Sita judes.
"Kenapa sih kak, nangis trus marah entar pasti nangis lagi" keluh Ambar sambil menarik nafas panjang untuk mengontrol emosinya. Sita tetap diam, dia masih marah dan sebenarnya minta dibujuk "Yaudah kalo diam gini, aku mati nih?!!" ujar Ambar mulai kesal.
"Kamu ini gak ngerti perasaan cewek banget sih, udahlah aku nangis nya dibiarin, bukannya di diemin, dibujuk atau apa kek!! trus sekarang malah balik marah!!"
"Ngapain harus di diemin ntar kalo capek juga berhenti sendiri, ni contohnya"
"Aku nangis lagi nih?!!" ancam Sita dengan keras.
Ambar langsung menatap tajam wajah Sita dia tidak suka melihat atau mendengar rengekan Sita. Tapi mau gimana lagi Sita terlalu cengeng jika bersama Ambar.
"Kamu gak mau minta maaf dengan semua dosa-dosa kamu?" tanya Sita pelan karna dia juga ikutan takut jika Ambar sudah memperlihatkan tatapan sinis.
"Iyaa makanya aku panggil kamu kesini, aku minta maaf soal tas bekal kamu kemarin itu, bukan aku yang buang tapi Arul yang punya kerjaan"
Sita sedikit merapatkan duduknya didekat Ambar.
"Terus?" tanya Sita lagi.
"Yaa itu aja sih"
"ANA?!!" tanya Sita ketus sambil mendekatkan diri lagi sedikit pada Ambar.
"Ana? Ngapain dia?"
"Tadi kamu ngajakin dia ketemuan kan!"
"Jangan pura-pura bego, bilang aja kamu mau marahin aku terus jadi sok-sok-an gak tahu. Kalo aku ngajakin Ana ketemuan kenapa malah kamu yang datang bukan si Ana?"
"Trus kenapa liatin Ana nya?!"
"Yaaaa tadi kan ada teman-teman yang lain, apalagi ada Alif. Males lah ngajakin kamu secara langsung ntar dia minta baku hantam lagi kan repot"
"Boong, alesan aja kan! Sebenarnya kamu emang cinta ya sama Ana?!"
"Haduuuh! Kasian Ujang kalo dia dengar itu, kan dia yang naksir"
"Boong!!!"
"Kalo boong kesurupan penunggu sungai deh aku"
Sita semakin merapatkan duduknya pada Ambar. karena tahu Sita sudah begitu menempel dengannya Ambar langsung menundukkan kepalanya kemudian pura-pura kesurupan.
"Ambaaar!!!" rengek Sita sambil memeluknya.
Ambar tetap mengoceh tidak karuan sambil menggoyang-goyangkan tubuh seperti orang yang benar-benar sedang kerasukan.
"Astaga Ambar, ini siang bolong loh! Di tepi sungai juga jangan gitu dong!!"
Ambar tetap memainkan akting buruknya membuat Sita kembali menangis sambil membacakan ayat kursi.
"Hahahaha" tawa Ambar akhirnya lepas melihat ekspresi cemas cewek yang ada disebelahnya.
"Kamu ini!!! Gak lucu tahu gak! Bener kesurupan baru tau rasa!!"
"Kamu pun bego, begitu aja percaya! Haaaah"
"Ya habis aku tu gak bisa bedain kamu yang mana serius mana becandanya"
"Padahal emang pengen meluk aja kamu kan sok-sok an gak tahu"
"Enggak! Ye ngapain meluk kamu"
"Halah boong!"
"Beneran kalo boong aku kesurupan juga niih" ujar Sita kemudian ikut berakting menirukan gaya Ambar tadi.
Ambar hanya memandanginya dengan tatapan aneh, meskipun Sita mengoceh dan bergerak tidak jelas juga. Tapi Ambar tidak memberi respon dia malah langsung berdiri dari duduknya.
"Loh kok berdiri?" tanya Sita heran mungkin karna aktingnya kurang bagus.
"Rencananya mau aku tinggal" jawab Ambar santai.
Sita langsung menarik tangan Ambar untuk duduk kembali.
"Jahat banget kamu! bukannya ditolongin malah ditinggal! Kalo aku beneran kesurupan gimana?!"
"Ya kalo beneran aku panggil warga, biar direkam trus viral"
"Gak ditolongin?"
"Direkam dulu habis itu baru ditolongi"
Sita memukul lengan Ambar "Trus pengakuan dosa yang lain?" tanya Sita lagi yang kembali ketopik pembahasan mereka.
"Udah itu aja deh kayanya"
__ADS_1
"Jangan ditutupi emang kamu pikir aku gak tahu!"
"Apaan? Perasaan aku sama Ana? Udah dibilang enggak juga" jawab Ambar dengan raut wajag kebingungan.
"Yang lain!!" pinta Sita sekali lagi.
Ambar hanya diam, dia semakin kebingungan apa lagi dosa yang sudah dia lakukan kepada Sita.
"Kemarin bolos?" tanya Sita tajam.
"Enggak! Aku sekolah sampe jam terakhir karna itu aku ngantuk banget pulangnya" Melihat sorot mata Ambar, Sita percaya dengan perkataannya. Kemudian menunggu Ambar mengakui yang lainnya.
"Aduh aku benar-benar lapar nih, udah gak tahan, pulang yuk"
"Gak mauuuu!!" Sita merengek sambil merangkul lengannya erat.
"Tuhan.....Kenapa ada cewe yang begini amat sih, aku lapar!!" ujar Ambar ketus.
"Bodo!!" jawab Sita tidak kalah ketus.
"Aku gak bisa nahan lapar, suka rese trus bisa-bisa makan manusia kamu gak takut?"
"Gak apa-apa deh kalo aku masuk kedalam perut kamu biar makin dekat kitanya"
"Ngaco sudah, ayoo pulang yaaaa?" bujuk Ambar berusaha melepaskan tangan Sita dilengannya. Gadis itu semakin menggenggam erat lengan Ambar. Bahkan sudah menempel seperti dilem perekat oleh Sita.
"Kalo anak buk Khadijah yang ganteng ini mati karna kelaparan kamu harus tanggung jawab ya, buk Khadijah gak bisa bikin satu lagi soalnya"
"Jangan matiii, aku nya gimana?"
"Habis aku lapar banget malah gak dikasi ijin buat pulang ngisi perut"
"Yaudah kamu tunggu disini ntar aku jemput makanan kerumah ya"
"Yaelah ngapain! Repot! Gak usah! Aku aja yang pulang, kamu juga pulang kan Alif biasanya dirumah kamu nih sampe magrib"
"Enggak! Alif udah aku suruh pulang karna mau nemui kamu disini"
"Ouh gitu kalo gak nemui aku berarti bakal dirumah kamu lagi dia sampe sore, enak banget ya kalian!" kata Ambar dengan kesal. Entah kenapa dia malah menunjukkan rasa cemburunya.
"Emang nya kenapa? Kami juga berdua cuma ngobrol, kebanyakan ngebahas pelajaran tuh" Sita memancing Ambar untuk semakin memperlihatkan ekspresi sewotnya. Karna ini pertama kalinya Ambar mau mengeluh tentang kedekatannya dengan Alif. Ambar diam dia tidak mau melanjutkan perdebatan mereka kemudian tertawa tidak jelas entah karna hal apa.
"Kenapa?" tanya Sita heran.
"Gak ada. Yaudah yuk pulang aku lapar!"
Kali ini Sita nurut, Ambar bahkan tidak percaya Sita mau melepaskan genggamannya. Ambar berpikir dia bebas, tapi........
"Yaudah kamu pulang makan, aku tunggu disini!" ujar gadis itu sambil cemberut.
"Loh kamu ngapain disini sendirian?" tanya Ambar heran.
"Aku nunggu kamu balik kesini"
Ambar menutup wajahnya dengan tangan, rasanya tubuhnya semakin lemah menghadapi sifat manja Sita.
"Udah sana cepatan!"
"Aku tunggu, disini!! Sampai kapanpun! Aku bakal tunggu".
Ambar terdiam mendengar perkataan Sita. Dia bingung sendiri mau merespon seperti apa. Rasanya senang mendengar kalimat itu keluar dari mulut orang yang berharga dihidupnya.
"Udaah cepetan, ntar aku larang lagi loh kamu buat pulang" rengek Sita menghentikan lamunan Ambar yang terus menatapnya.
"Bentar ya, jangan kemana-mana" pamit Ambar dan pergi secepat kilat untuk pulang kerumahnya.
Ambar langsung berlari kedapur, mencari masakan buk Khadijah yang sederhana tapi terasa bak bintang lima tersebut.
"Belum ganti baju, gak buka sepatu, langsung makan" tegur buk Khadijah saat melihat anak laki-lakinya makan dengan lahap "Kunyah nasi kamu!! Pelan-pelan makannya, setan yang makan begitu!" hardik buk Khadijah lagi karna Ambar tidak merespon ucapannya barusan.
"Satuuu... Duaaa..." kata Ambar sambil terus mengunyah nasi di mulutnya.
"Ngapain kamu berhitung, makan gak boleh ngomong!!"
"Biar tahu buk 32x kali mengunyahnya" kata Ambar jengkel.
"Dinasehati malah ngelawan, yang tenang makan itu! Gak barokah ntar makanan yang masuk keperut kamu!!"
"Ibuk gak pergi kepengajian?" tanya Ambar yang berusaha sabar, gak Sita, gak buk Khadijah sama saja ngeyelnya.
"Enggak, minggu depan lagi______"
"Pantesan, ceramahnya dilampiaskan ke Ambar!" potong Ambar cepat dan meninggalkan meja makan.
"Heeeh tumben kamu gak nambah mbar, enggak enak ya masakan ibuk hari ini?" teriak buk Khadijah yang nada suaranya sudah berubah lembut.
"Enak" jawab Ambar cepat.
"Syukurlah, kalo kamu gak nambah makan jadi risau sendiri ibuk. Kamu mau kemana lagi?"
"Pergi buk"
"Ganti baju!!! Entar baju kamu kotor, kena getah, ibuk yang repot! Pengennya nyusahin orang tua aja kamu ini" damprat buk Khadijah dan sekali lagi nada bicara ibunya bisa berubah tiap menit.
Mau tidak mau Ambar langsung masuk kekamarnya untuk mengganti baju. Setelah itu kabur untuk pergi menemui Sita. Ditengah perjalanan Ambar masih harus menghadapi benalu lainnya. Temannya Ismet dan Arul sudah merangkul-rangkul pundaknya untuk diajak pergi kebalai desa.
"Aduuh serasa main game hidup aku" kata Ambar yang mulai kesal.
"Main game dimana? Ayoo ke warnet di Mandau" ajak Ismet semangat.
"Gak bisa, aku disuruh pak Bahrun barusan"
"Kemana?"
"Ganti kartu keluarga, katanya bosan punya anak kaya aku"
"Bagus itu bilangin kamu juga gak betah punya bapak kaya dia. Yang lama-lama rambut atasnya udah botak aja"
"Hahaha iya ntar aku sampein deh" ujar Ambar pamit tapi Ismet dan Arul belum mau melepaskannya.
__ADS_1
"Kemana? Emang kami percaya sama omongan kamu! Pak Bahrun aja kalo kamu gak pulang seharian dicariin sama dia pake rotan, gimana kuat dia buang kamu jadi anak" bentak Ismet.
"Aduuuuh, aku ada urusan. Ntar aku nyusul kalian, okeee!"
"Urusan apaan? Kamu beneran suka sama Ana. Tahu gak karna kamu ajakin dia ketemuan si Ujang sampe sekarang gak berhenti-henti ngisap rokok saking frustasinya"
"Iyaa!! Ampe asepnya keluar dari telinga mbar, frustasi berat dia karna tahu saingan sama kamu!" kata Arul ikut memberi informasi kondisi terkini Ujang.
"Kasih tahu sama Ujang aku gak suka ama cewek jelek!!" jawab Ambar cepat dan kabur meninggalkan teman-temannya.
Saat sudah lepas dari Ismet dan Arul, Ambar malah harus berhadapan dengan pak Toni yang baru pulang dari sawahnya.
"Kemana kamu buru-buru?" sapa pak Toni dan menghentikan langkah Ambar lagi.
"Apaan sih bapak, mau cium Ambar ya?!" jawab nya ketus.
"Siapa yang mau cium kamu?! dulu pipi kamu tembem, imut, sekarang enggak lagi"
"Iya nih, pak Bahrun gak ngasi makan makanya gak tembam lagi!"
"Gak ngasi makan gimana, wong bapak kamu tiap hari gosipin kamu sama kami di sawah. Makan kamu banyak, nambahnya bisa berkali-kali tapi gak gendut-gendut juga. Mau dirujuk ke Paranormal kamu kata pak Bahrun"
"Orang mah dirujuk ke rumah sakit ngapain ke paranormal!"
"Rumah sakit gak mempan buat kamu! Dipukul rotan aja gak sakit! Gimana mau disuntik sama dokter. Pak Bahrun mikir tubuh kamu ada setannya makanya mau dibawa paranormal"
"Oh jadi kerjaan kalian di sawah bukannya nanam padi. Pantesan beras sekarang rasanya gak enak soalnya petaninya ngasi bumbu-bumbu gossip!"
"Haha mulut kamu dari kecil sampe sekarang tetap aja gak berubah, nyerocos terus"
Ambar hanya diam dan kembali kabur meninggalkan pengganggu nomor tiga. Jauh dari pak Toni ada seseorang lagi yang memanggilnya.
"Heeh...Heeeeh... Hahahaha!!" tawa pria tua itu sambil menyapanya. Ambar hanya menatap sinis pria tersebut dan kabur secepatnya.
"Asem kamu, belum juga ngomong udah kabur, saya sumpahin jadi Handsome kaya saya kamu ya!!" teriak pak Sayuti kepala desa mereka.
~♡AmbarSita♡~
Nafas Ambar sampai ngos-ngosan berlari untuk menghindari para pengganggu dalam hidupnya. Tapi hatinya langsung patah jadi dua saat melihat gadis yang paling ingin ditemuinya sudah tidak ada ditempat "Haaaah!!!!" gumam Ambar melepaskan oksigen emosi yang mulai bersarang ditubuhnya. Kesal dan capek, padahal dia rela gak makan 'nambah' demi menemui Sita secepatnya tapi malah gadis itu sudah hilang. Saat akan kembali langkahnya terhenti melihat senyum gadis cantik yang sudah berdiri dibelakangnya sambil membawa kantong plastik.
"kemana?" tanya Ambar heran.
"Habis dari warung buk Eli" jawab Sita dan menggandeng tangan Ambar untuk kembali ketempat mereka duduk tadi.
"Kok gak ketemu?" tanya Ambar lagi karena tadi saat akan kembali begitu banyak rintangan yang harus dia hindari.
"Aku liat kamu tapi aku sembunyi, habisnya teman-teman kamu banyak"
"Teman apaan tadi cuma Arul sama Ismet"
"Loh pak Toni sama pak Handsome bukan teman kamu? Aku pikir temanan soalnya akrab"
Ambar hanya tersenyum dan ikut duduk disamping Sita.
"Niih" kata gadis itu sambil menyodorkan kantong plastik yang dibawanya. Ambar melihat isi didalamnya 5 buah beng-beng dan dua kotak susu coklat. Awalnya Ambar tersenyum tapi berubah jadi kaget saat melihat ada kotak rokok plus dengan koreknya.
"Kamu ngerokok?" tanya Ambar cepat.
"Enggak! Itu buat kamu" jawab Sita santai.
Ambar tersenyum simpul berarti Sita melihat apa yang dipegangnya kemarin. Meski jarak mereka jauh sekalipun.
"Kemarin ngerokok kan? Makanya aku beliin sekarang buat kamu, kurang baik apa lagi coba"
"Kamu liat ya?" tanya Ambar ragu.
"Kalo dengan kamu semua terlihat jelas dimata aku! Apapun yang ada didekat tubuh kamu bahkan sorot mata kamu aku bisa lihat!" jawab Sita tegas.
Ambar menelan ludah karena gadis dihadapannya sudah melihatkan raut wajah marah. Ambar kemudian memberikan tepuk tangan untuk meredupkan amarah Sita.
"Keren kamu... Jadi malu sendiri aku"
Sita membalas senyum Ambar dengan tatapan sinis, dia juga terus memandangi wajah cowok itu. Meski bibirnya tersenyum tetap saja Ambar bergidik ngeri melihatnya. Ambar langsung mengalihkan pandangan pada sungai yang sedang mengalir didepan mereka. Gugup karena dia baru ingat janji yang pernah dibuatnya dulu dengan Sita.
"Gak lapar, makan tuh beng-bengnya" kata Ambar dengan pelan sambil sesekali melirik raut wajah Sita yang tidak berubah.
"Buat kamu, kan kesukaan kamu. Aku kalo marah gak bisa makan" jawab Sita tegas.
"Aku udah makan, kamu yang belum. Ntar sakit loh"
"Gak usah sok perhatian!" jawab Sita tegas.
Ambar langsung terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Berusaha berpikir bagaimana cara untuk kabur dari Sita saat ini.
"Kamu gak mau? Kan aku udah beliin buat kamu semuanya" ujar Sita yang nada suaranya sudah mulai lembut lagi.
Ambar hanya tersenyum dan kembali menatapnya.
"Yakiiin?" tanya Ambar sambil tersenyum manis.
"Yakinlah! semua memang buat kamu"
"Iya makasih ya" jawab Ambar pelan namun Sita terus saja tidak berhenti menatap wajah Ambar.
"Aku ganteng ya? Diliatin terus?"
Sita mengangguk yang membuat Ambar tersipu malu dengan jawaban jujurnya.
"Udahan dong, diliatin kamu terus hati aku jadi cenat-cenut"
"Masa sih? Tuuuh rokoknya kan udah aku beliin, kenapa gak dihisap"
"Waaah... Sita nantangin nih?!!" sahut Ambar berpura-pura bahagia.
Sita tersenyum cengengesan dan tetap dia tidak mengubah pandangannya sama sekali. Karna terus dipandangi Ambar jadi salah tingkah. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya Ambar membuka bungkus rokok dan mulai membakarnya.
__ADS_1
Sita kembali tersenyum yang membuat Ambar berpikir Sita memang mengizinkannya untuk merokok. Dengan mantap Ambar menghisap batang rokok tersebut kemudian membuang muka dari hadapan Sita. Ambar beberapa kali menghisap rokok ditangan nya sambil bersiap-siap menunggu reaksi Sita. Dia yakin gadis disampingnya sudah pasti akan merengek lagi jika melihat kenekatan yang dilakukannya. Tapi Ambar tidak suka ditantang karena itu dia mantap menuruti permintaan Sita