AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Trauma ke sekolah


__ADS_3

Keesokan harinya sita memang tidak mau berangkat kesekolah. Semenjak rambutnya dipotong sifat sita yang pemalu menjadi lebih parah malunya, bahkan untuk keluar dari halaman rumahnya saja Sita tidak berani.


"Coba ibuk tanya sama teman-teman Sita, atau guru dikelasnya mungkin aja anak kita emang jadi korban bully temannya disekolah"


"Iya, nanti ibu kesekolah di jam istirahat jadi bisa nanya sekalian dengan teman-teman kelasnya Sita"


 


**~AmbarSita~**


 


Jam sepuluh buk Ita bergegas berangkat kesekolah putrinya. Ambar dan Ismet yang tengah asyik bermain kelereng dilapangan terlihat pucat karena Sita tidak masuk hari ini dan tiba-tiba ibunya datang kesekolah.


"Mampus kita mbar, gimana ini" bisik Ismet ketakutan. Ambar menelan ludah, dia lebih panik dari Ismet, karena memang dia lah pelaku yang selalu membuat gadis cantik itu menangis.


"Assalamualaikum buk" sapa buk Ita dengan guru-guru yang tengah asyik mengobrol diruangannya itu.


"Waalaikumsalam, ibuknya sita ya?" sapa buk Mun yang sudah tahu jika wali murid itu ingin menemuinya, buk Mun mempersilahkan buk Ita duduk didepan mejanya.


"Kenapa Sita gak masuk hari ini buk?"


"Aduh karena itu saya datang kesini buk, kemarin dia pulang-pulang nangis, rambutnya kena permen karet"


"Iya ketika saya masuk kelas pagi-pagi dia juga nangis, saya liat ternyata rambutnya ada permen karet, saya tanya Sita dia gak mau jawab siapa pelakunya, trus saya tanya kenapa nangis dia bilang takut liat wajah teman sekelasnya"


"Takut? Apa anak itu yang nempelin buk?"


"Saya tanya ambar, jawabnya enggak juga, saya mau nasehati Ambar kan jadi bingung soalnya Sita gak bilang dia pelakunya"


"Ambar? Ambaaar?" buk Ita langsung berpikir pernah mendengar nama orang yang disebut wali kelas Sita tadi.


"Iya Ambar emang usil sih anak nya buk, paling berani juga dikelas..."


"Anak buk Khadijah ya?" kata buk Ita memotong pembicaraan buk Mun.


"Iya anak buk Khadijah, tapi Ambar bilang bukan dia pelakunya, mau kita nasihati kan jadi susah juga, nanti Ambarnya merasa disudutkan, coba deh ibu bujuk Sita buat____"


"Udah buk, Sita itu emang begitu. Penakut, cengeng, pendiam juga, pemalu lebih parah lagi. Anak saya karakternya begitu buk, tertutup. Saya pun udah wanti-wanti biar dia mau lebih berani tapi yaa susah, saya juga lelah" keluh buk Ita yang sepertinya juga kebingungan membuat sifat anaknya bisa berubah.


"Enggak apa-apa buk, ajak terus buat bergaul, jalan-jalan ketempat yang rami nanti dia akan berubah dengan sendirinya kalau udah dewasa, Insyaallah"


Selesai bercerita banyak dengan buk Mun, buk Ita akhirnya memutuskan pulang. saat akan pergi buk Ita masih belum puas mencari tahu siapa orang yang sudah membuat putrinya sampai trauma kesekolah. Buk Ita mencoba memanggil anak perempuan yang sedang asyik duduk sambil menikmati jajanannya.


"Adik kecil kelas berapa?" sapa buk Ita ramah.


"Kelas dua buk"


"Oh kebetulan, teman sekelas Sita kan?"


"Iya, kenapa Sita gak masuk buk?" tanya Ana dengan cepat.


"Malu soalnya rambutnya dipotong pendek, Oh ya dikelas ada yang pernah jahilin Sita?"


"Ada buk, Ambar! dia yang buat Sita nangis terus" jawab Ana cepat.


Buk Ita sampai menutup mata saat mendengar nama anak temannya itu kembali disebutkan.


"Ambar ya" kata buk Ita tersenyum kecut "Yaudah makasih ya, Ibuk pulang dulu, belajar yang rajin ya sayang" pamit buk Ita sambil membelai rambut Ana.


Ambar dan ismet yang tengah bersembunyi didalam kelas langsung menghampiri Ana untuk menanyakan apa yang mereka bicarakan tadi.


"Hayoo kamu, Sita sampe gak mau sekolah karena kamu usili terus, ibuknya juga marah tahu"

__ADS_1


"Biarin, toh bukan aku kok yang nempelin permen karet kerambut dia"


"Bukan masalah permen karet aja, tapi kamu juga udah berapa kali buat dia nangis!"


"Dia emang cengeng!!!" bentak Ambar, Ismet langsung menarik tangan Ambar dan mengajaknya pergi.


"Aku jadi takut pulang" kata Ambar sambil duduk dibangkunya.


"Kamu juga sih, besok kalo dia balik kesekolah jangan di usili lagi deh"


"Enggak lagi! Lagian kalo dia nangis berisik banget"


  ~♡♡♡~


 


Sudah seminggu lamanya dan Sita belum juga kembali kesekolah. Buk Ita sudah mengeluarkan semua jurusnya untuk merayu Sita agar mau pergi menuntut ilmu kembali.


Tapi tetap saja dari knalpot bocor sampai tutur kata lembut bak sutra tidak mempan mengembalikan kepercayaan diri anaknya. Buk Ita frustasi, terlebih lagi suaminya mengamini keinginan Sita yang ingin mengurung diri dirumah seharian.


"Jaaah Assalamualaikum" Buk Khadijah berlari menyambut tamu yang tengah memanggilnya dari teras rumah.


"Kenapa ta?"


"Gak ada, bosan dirumah, kamu ngapain?"


"Ini abis masak buat makan siang, ayo masuk"


Buk ita mengikuti temannya masuk kedalam rumah.


"Aku pusing jah, anakku gak mau kesekolah"


"Loh kenapa? Gak suka ama sekolah barunya? Karena di desa?"


"Kamu juga kenapa motong rambut dia!!"


"Soalnya waktu itu kena permen karet, kayanya di tempeli salah satu temannya"


Buk khadijah bergidik mendengar perkataan buk Ita. Dia langsung ingat jika anak mereka berdua teman sekelas. Ditambah lagi anaknya Ambar terkenal usil dan nakal


'sudah pasti dia' umpat buk Khadijah didalam hatinya.


"Gimana ya jah, kalo gak sekolah-sekolah anak aku bisa tinggal kelas dong"


"Minta bantuan buk Mun buat bujuk Sita gimana?"


"Udah, aku juga jadinya segan tiap pagi wali kelas itu datang kerumah jemput Sita biar dia mau kesekolah lagi"


"Teman-temannya?"


"Dia nangis kalo ada teman-teman cewenya datang kerumah, katanya malu rambutnya udah gak cantik lagi"


"Wah kayanya waktu lahir anak kamu kelebihan dapat rasa malunya ta" kata buk Khadijah berusaha menghibur temannya.


"Hahaha iya, padahal bapak sama ibuknya gak pemalu gitu amat"


"Yaudah nanti aku coba suruh anak aku juga bantu buat bujuk anak kamu deh"


"Jaaah, Anak aku kalo liat anak kamu nangis" kata buk Ita tertawa geli dan menepuk pundak temannya.


"Haaa? Masa sih? Kenapa? Apa anak aku jahilin anak kamu?"


"Kata teman-temannya begitu"

__ADS_1


"Eeh kenapa kamu gak bilang langsung aja sama aku"


"Enggaklah, lagian aku juga mikir namanya juga anak-anak, Sita mah emang penakutnya berlebihan karena itu aku diemin aja"


"Ah Ambar emang usil ta, nanti aku nasehati dia suruh minta maaf sama anak kamu"


"Hahaha iya jah"


Tiba-tiba Ambar baru pulang dari sekolahnya terkejut melihat buk Ita sedang mengobrol dengan ibunya.


"Heeeh kamu pernah bikin nangis anak buk Ita ya!!" hardik buk Khadijah sambil mencubit perut anaknya.


"Hahaha kamu ini katanya mau nasehati ini malah langsung dibentak, enggak kok, namanya juga anak-anak ya mbar" kata buk Ita membela Ambar.


"Iyaa.. lagian, lagian Ambar cuma bercanda aja sama Sita, eh dianya aja yang langsung nangis" Ambar juga berusaha menutupi kejahatannya.


"Yaudah kamu minta maaf sana, karena kamu dia gak mau lagi datang kesekolah"


"Iya" Jawabnya sambil memajukan bibir "Sita dimana buk?"


"Ada dirumah, Ambar mau kerumah ketemu Sita?"


"Ntar aja deh buk, sore ya"


"Mau minta maaf aja kamu undur-undur, pergi sekarang!!"


"Iya.. iya..." kata Ambar dan segera keluar dari rumahnya.


 


**~AmbarSita~**


 


Bukannya kerumah buk Ita, Ambar justru kabur kerumah Ismet untuk melindungi diri. Ismet kebingungan melihat temannya datang dengan nafas ngos-ngosan.


"Kenapa kamu?"


"Aku disuruh buk Khadijah minta maaf sama anak baru itu"


"Hayo kamu, Yaudah minta maaf gih biar dia mau sekolah lagi"


"Malu lah, Aku mau ngomong apa?"


"Heh anak baru aku minta maaf ya, bilang gitu aja"


Ambar mengangguk menerima ide temannya, karena dipikirannya memang cukup meminta maaf maka semua masalah akan hilang.


Selesai bermain bola dengan teman-temannya Ambar baru ingat dia belum juga menemui Sita untuk meminta maaf. Jika buk Khadijah mengetahui itu maka dia akan dimarahi lagi.


"Met aku lupa minta maaf sama anak baru itu loh"


"Oh iyaaa, Yaudah ayuk aku temani"


Niat hati Ismet memang ingin menemani teman akrabnya itu. Tapi ibu Ismet muncul sambil membawa ranting kayu ditangannya. Wajahnya bak harimau kelaparan yang melihat kambing kecil ditengah hutan.


"Gak pulang juga kamu?! Disuruh buat antar nasi bapaknya malah kabur!!" teriak ibu Ismet yang jelas diperuntukkan untuk Ismet anak satu-satunya.


"Kayaknya bukan kamu aja yang bakal dipukuli malam ini mbar" ujar Ismet pelan.


Ambar tidak mendengarkan perkataannya karena dia sudah kabur duluan dari pada melihat amukan ibu Ismet yang sama seramnya dengan buk Khadijah ketika marah.


Ambar ingin segerapulang saja kerumah, tapi dilihatnya buk Khadijah tengah sibuk memomong adiknya yangsedang rewel karena demam. Sudah pasti suasana hati buk Khadijah sedang panik dan risau. Jika dia bertanya soal perintahnya tadi yang belum dilaksanakan Ambar maka lengkapsudah aura yang buruk menyelimuti hati ibunya. Ambar memutuskan kembali berusaha memberanikan diri menemui Sita dirumah nek Lasa.

__ADS_1



__ADS_2