![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Sudah pukul 7 malam, hati Sita begitu kecewa karna rencananya gagal total mengucapkan selamat ulang tahun untuk pujaan hatinya. Setelah sholat magrib Sita berdiri didepan halaman rumah. Berharap Ambar lewat atau apapun itu. Dia masih begitu berusaha sebelum tanggal 30 dibulan Mai ini habis. Tiba-tiba suara gelak tawa buk Eli yang melengking terdengar dari halaman rumah Sita. Gadis itu sempat bergidik ngeri saat mendengar suara buk Eli tertawa tapi hantinya langsung berdegup kencang ketika buk Eli menyebut nama orang yang sedang ditunggunya.
Dengan cepat Sita melangkahkan kakinya kewarung buk Eli untuk mengintip apakah telinganya tidak salah dengar. Cowok ganteng yang ditunggunya ternyata memang berada disana. Ambar tengah merayu buk Eli untuk memberinya makan malam karna mau makan dirumah tidak akan diizinkan oleh pak Bahrun.
"Eh nak Sita tumben kewarung malam-malam" sapa buk Eli ramah, bibirnya masih terbuka lebar karna asyik tertawa ria bersama pemuda yang duduk didepannya.
Ambar menoleh kebelakang kemudian dia kembali focus dengan nasi yang baru diberi buk Eli dengannya. Sita begitu ingin memberi kode pada Ambar untuk mengajaknya pergi, tapi Ambar tidak peka sama sekali, dia malah makan dengan lahap.
"Buk beli ini" kata Sita pelan dan menarik salah satu kerupuk yang tergantung didepan warung buk Eli dan menyerahkan uangnya.
"Makasih ya cantik, heeeh kamu numpang nginap dirumah buk Ita aja tuh, kamar pak Alip kan kosong setelah dia nikah. Dari pada nginap didepan warung ibuk, ntar kamu dikira hantu lagi sama petugas ronda"
Sita langsung mengerutkan keningnya mendengar perkataan buk Eli, dia belum tahu jika Ambar di hukum oleh pak Bahrun "Emangnya... Ambar kenapa?" tanya Sita ragu
"Dia di usir sama pak Bahrun, karna ketahuan ngerokok. Gak boleh pulang kerumah"
"Aah apaan sih ibuk" cegah Ambar yang tidak ingin nasib sialnya ikut ditertawai Sita.
"Yaudah nginap dirumah aja, banyak kamar kosong kok" ajak Sita cepat, selain itu hatinya jadi bahagia jika memang pujaan hatinya itu tidur dirumahnya.
"Gak usah! Aku tidur dirumah pak Handsome" jawab Ambar ketus.
"Boleh juga tuh, sekalian minta Dian obatin punggung kamu niih pake salap ini nih" buk Eli menyerahkan sebuah obat ketangan Ambar.
"Makasih buk, makanan nya juga" ucap Ambar dan berlalu meninggalkan warung buk Eli.
Sita ikut menyusul "Ambar" panggil Sita pelan dan menarik tangan Ambar agar cowok itu mau menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Ambar dengan raut wajah malas.
"Kamu ngerokok?"
"Iya tadi, ditawari Abdul" jawabnya pelan.
"Kamu kan tahu kalo___"
"Aiiish tadi aku udah diceramahi pak Bahrun jadi kamu jangan ikut-ikutan ceramah juga"
"Ya karna kamu itu salah Ambar!"
"Ya aku tau aku salah! Puas!!"
"Kamu gak akan mengulanginya lagi kan?"
"Ya tergantung suasana, lagian rokok itu kan gak____"
"Kalo kamu masih ngerokok aku bakal ngerokok juga sama kaya kamu!" potong Sita cepat dan mengancam Ambar untuk membuatnya tidak menyentuh benda merugikan itu lagi.
Ambar hanya diam, matanya memperhatikan Sita dengan sorotan tajam "Yaudah aku mau ke rumah pak Handsome dulu, punggung aku sakit"
"Janji kamu gak akan ngerokok lagi?" cegah Sita dan menggenggam tangan Ambar kuat.
"Iya janji kak Sita, udah ya" jawab Ambar malas.
"Sini aku obatin punggung kamu, tidur dirumah aku aja"
"Gak usah!! Kak Dian aja, ntar kamu elus-elus punggung aku lagi"
Sita tersenyum mendengar perkataan Ambar, tapi tangannya belum lepas menggenggam Ambar "Selamat ulang tahun ya" ujar Sita sambil tersipu malu.
"Ucapan doang! Aku mah butuh beng-beng!"
"Iyaaa, makanya nginep dirumah aku aja, kado sama beng-bengnya ada dirumah"
"Kalo nginap dirumah kamu aku maunya tidur dikamar kamu!" Sita membelalakkan mata dengan perkataan Ambar "Hahaha bencanda" kata Ambar lagi.
"Kalo serius juga gak apa-apa kok" ujar Sita balik menggoda Ambar.
"Wuiih emang berani tidur bareng aku, aku kalo tidur bareng kamu mau nya diatas"
Sita jadi gugup sendiri mendengar perkataan Ambar dan dia juga tidak bisa menjawab godaan Ambar lagi. Dengan seketika tangan Ambar menolak kepala Sita keras "Maksudnya, aku tidurnya diatas kasur, gak mau dilantai!" kata Ambar mencegah Sita berpikiran tidak baik tentangnya "Yaudah aku pergi dulu ya"
"Trus kado sama beng-beng nya?"
"Besok aja, pulang sekolah aku ambil, oh ya makasih ya"
"Bener ya?"
"Iyaaaaa! Masa dikasi kado aku nolak sih"
"Ya mungkin aja, soalnya kamu itu kan manusia aneh"
__ADS_1
"Kalo aneh kenapa kamu masih pegang tangan aku!!" jawab Ambar dan melirik kearah tangannya yang masih dipegang oleh Sita. Gadis itu hanya diam dan tidak peduli dengan perkataan Ambar, hatinya begitu tidak ingin melepaskan genggamannya.
'mana ada orang yang mau membiarkan sumber bahagianya pergi' gumam Sita dalam hatinya.
"Aduh punggung aku sakit ini, butuh diobati secepatnya"
"Mana coba kasi liat dulu"
"Iiih apaan, ntar kamu malah ikut nambah jejak merahnya lagi"
"Enggak, sini aku mau liat" kata Sita memaksa Ambar mengangkat bajunya. Dengan ragu Ambar kemudian melepaskan genggaman Sita dan mengangkat bajunya keatas. Sita bisa melihat tubuh Ambar yang mulai terlihat berotot, selain itu badan Ambar begitu putih, bersih, seperti terawat dengan baik.
"Aduh parahnya! Karna kamu putih memarnya jadi jelas gitu" kata Sita saat Ambar memperlihatkan punggungnya "Pak Bahrun kejam amat ya" ujar Sita lagi sambil menyentuh punggung Ambar yang sakit.
"Aduuuh!!!" Ambar langsung menurunkan bajunya kembali.
"Sakit yaa?"
"Enggak! Kaget disentuh kamu! Dasar!! Ambil kesempatan dalam kesempitan ya kamu! nyentuh-nyentuh punggung aku, kalo antena aku bangun gimana!"
"Astagaaa! Boleh minta pak Bahrun nambah pukulannya gak sih!" ujar Sita geram.
"Hahaha jangan dong, yaudah aku pergi dulu ya"
Sita kembali menarik tangan Ambar untuk mencegahnya pergi "Kenapa lagi?!"
"Gak ada, gak pengen aja biarin kamu pergi"
"Haa? Jangan-jangan kamu jadi nafsu ya liat tubuh aku yang sexy ini?"
"Ternyata bukan cuma wajah kamu yang putih bersih, badan kamu juga, perawatan ya?"
"Hahaha perawatan nyahoook! Uang jajan dikasi pak Bahrun aja cuma cukup beli lontong sayur, gimana mau perawatan"
"Terus kenapa bisa bersih gitu badan kamu? Padahal udah sering dipukul juga"
"Makanya sering-sering mandi wajib!!"
Sita terperangah dengan jawaban Ambar yang terdengar ganjil ditelinganya "Emang kamu mandi wajib? Buat apaan? Cowok ada masa menstruasinya juga?" tanya Sita dengan polos, otaknya tidak bisa berpikir dengan baik atas perkataan Ambar tadi.
"Hahaha Bego.... Begoo... Udah SMA tapi tetap aja poltak, tau gak poltak?"
"Polos-polos tak berotak! Nah kaya kamu ini nih"
"Aku punya otak kok! Abdul tuh yang gak ada otaknya!" ujar Sita ketus
"Wah...Wah...Dengar Abdul mampus! Bisa gelinding-gelinding ditanah dia karna sedih dikatain gak punya otak sama kamu"
"Hahaha emang Abdul Armadillo"
"Sejenis itu sih! udah aku mau pergi, lepas tangannya"
Sita hanya tersenyum dan terus menggenggam tangan Ambar lebih erat lagi. Dengan terpaksa Ambar mengeluarkan kekutan lelakinya untuk melepaskan genggeman Sita dan kabur meninggalkan gadis itu sendirian. Sedangkan ayah Ambar, sibuk mendatangi rumah teman-teman anaknya tersebut satu persatu, mulutnya memang ngusir, tapi hatinya tidak sama sekali. Pak Bahrun mencari anak laki-lakinya untuk diajak pulang, dasar ayah munafik.
Keesokannya setelah pulang sekolah jantung Sita rasanya telah memompa darahnya dengan begitu kuat. Dia begitu kesal karna buk Asma meminta semua murid yang akan ikut olimpiade berkumpul disekolah jam 2 siang nanti. Dengan terpaksa Sita pulang bersama Alif dan meminta cowok itu untuk makan siang dirumahnya saja, agar mereka bisa kembali kesekolah bareng lagi. Rasanya setiap tanggal 31 Mai sita akan mendapatkan kesialan, karna saat sampai dirumahnya, jantungnya serasa ingin berhenti berdetak melihat Ambar duduk dibangku depan teras rumahnya.
"Haduuuh" teriak Ambar keras dan menyapu wajahnya dengan tangan, dia berusaha mengontrol perasaannya saat melihat Alif ikut pulang dengan Sita.
"Ngapain kamu disini?!" tanya Alif ketus.
"Silaturahmi" jawab Ambar santai.
"Udah, Ambar cuma mau ambil paketan ayah dia yang kemarin kok" ujar Sita meredam amarah temannya. Sita menarik tangan Alif untuk ikut masuk kedalam rumah, soalnya takut kalo ditinggal nanti anjing dan kucing itu adu jontos lagi seperti 31 Mai tahun lalu.
__ADS_1
Sita kembali keluar sambil membawa kado dan sekotak beng\-beng. Dia segera menyerahkannya pada Ambar yang masih terpaku dengan sifat Sita tadi. Ambar hanya tersenyum simpul menatap gadis itu kemudian berlalu pergi tanpa mengambil kado yang diberikannya. Sekali lagi ditanggal yang sama Ambar kembali marah, bagi Sita tanggal 31 Mai akan menjadi hari kesialan baginya.
Keesokannya sepulang sekolah Sita sudah menunggu Ambar dipinggir jalan. Dia tahu cowok itu pasti marah, tapi apapun akan dia lakukan kali ini untuk membujuk hati Ambar.
"Siap Sita, sabar, dia mau ngomong apa aja, cukup dengarin! Tetap tenang yang terpenting jangan sampai menangis dengan suara berisik didepan Ambar!" gumam Sita menguatkan mentalnya.
Beberapa menit kemudian Ambar lewat. Tanpa basa\-basi\-busuk Sita tidak memanggil sama sekali tapi langsung menggenggam tangan cowok itu erat.
"Please dengarin aku kali ini, aku mohon maaf kalo buat hati kamu marah, sakit atau apapun namanya. Aku benar\-benar minta maaf Ambar, aku mohon" ujar Sita dengan suara serak dan seketika air matanya mengalir menatap wajah Ambar.
"Haaa? Iya aku maafin kok! Allah aja maha pemaaf, masa aku mahhluk hinanya ini mau sok\-sok an sombong dan dendam sama kamu, ya gak!!" jawab Ambar santai. Padahal dia sendiri kebingungan melihat sikap Sita saat ini.
"Aku beneran Ambar, aku benar\-benar butuh maaf kamu. Aku mohon jangan sampai mengabaikan atau menutup mata sama aku"
Ambar menatap Sita heran "Ah Bego! Aku maafin kamu, meski aku gak tau dosa kamu ke aku itu apa, udah ya aku mau makan nih!"
"Ka\_\_\_kadonya belum kamu terima Ambar" kata Sita ragu.
"Kado? Paketan pak Bahrun bukan?"
"Ambaaar!!!" rengek sita lagi.
"Kamu nangis kaya anak kecil, aku kabur nih!!"
Sita menutup mulutnya cepat sebelum dimarahi oleh cowok pemarah itu "Tunggu disini ya, aku ambilin dulu" pinta Sita sesegukan dan berlalu masuk kedalam rumah.
Beberapa detik kemudian dia kembali dengan mata yang masih basah dan menyerahkan kadonya pada Ambar, cowok itu menarik nafas panjang dan memandangi Sita heran.
"SITA!! Makasih" kata Ambar dengan suara yang terdengar begitu kelelahan "Satu hal lagi, kamu gak perlu melakukan semua ini dengan aku. Kamu juga gak perlu sekhawatir itu kalau aku bakal marah sama kamu. Asalkan kamu tahu, aku juga gak ingin hubungan dan kedekatan kita rusak! Jadi berhenti bersikap bodoh kaya tadi" ujar Ambar tegas.
Air mata Sita yang tadinya sudah berhenti keluar kembali mengalir dipipinya. Sita menahan suara rengeknya keluar, Ambar menghapus air mata gadis dihadapannya itu dengan lembut.
"Mau aku kasi tahu sesuatu sama kamu?" tanya Ambar pelan, Sita hanya mengganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ambar.
"Kamu itu spesial\_\_\_" Ambar kemudian diam, dia tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya. Belum terselesaikan saja hati Sita sudah melonjak kegirangan mendengarnya, melihat rona merah yang tiba\-tiba muncul di pipi Sita Ambar ikutan tersenyum.
"Dihati pak Handsome! Karna itu aku gak berani marah sama kamu, takut di coret jadi warga Peringi aku nya kalo berani marahin kamu" ujar Ambar dengan raut wajah tanpa dosa.
Sita menepis tangan Ambar, wajahnya berubah kesal. Sekarang dia yang justru marah dengan Ambar, tapi berharap Ambar mengemis maaf seperti yang dilakukannya tadi? Ah tidak mungkin! Tunggu Abdul berubah jadi hewan armadillo dulu sepertinya.

__ADS_1