AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Go - Public !


__ADS_3

Minggu pagi pak Bahrun yang sedang asyik menjemur keripik dihalaman kaget melihat Sita menyapanya dengan ramah dan penuh senyuman.


"Ambar nya ada pak?" tanya Sita yang membuat pak Bahrun yang sudah kaget semakin kaget lagi.


Sita memberanikan diri untuk datang kerumah Ambar sekaligus ingin memberitahu semua keluarga pacarnya itu jika dia akan menjadi anggota keluarga Bahrun juga suatu hari nanti. Sepertinya sifat malu dan penakut Sita berangsur hilang setelah berpacaran dengan Ambar.


"Ambaaar? Kenapa dia? Dia gangguin nak Sita?"


"Bukan... Sita mau ngajakin Ambar pergi ke Mandau pak, boleh ya?"


"Haaa? Bo...bole..boleh-boleh. Tu...tunggu ya bapak panggil dia dulu, masuk dulu nak Sita" ujar pak Bahrun gelagapan.


Pria yang mulai menua karena waktu itu langsung masuk kedalam kamar Ambar. Dilihatnya anak laki-lakinya sedang tidur 'plak!' tangan pak Bahrun mendarat ke kaki Ambar yang tidur dengan nyenyak meski jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


"Selesai sholat subuh itu gak boleh tidur lagi!!" hardik pak Bahrun dengan suara yang sengaja dia pelankan. Ambar membuka mata dan bangun karena melihat wajah ayahnya yang menyeramkan "Itu nak Sita nyariin, dia mau ngajakin kamu ke Mandau"


Ambar semakin membuka matanya lebar "Ngapain dia kesini?" tanya Ambar dengan ekspresi kaget sekaligus bingung.


"Heh dengar dia nanti, udah sana siap-siap!!" perintah pak Bahrun dan kembali keluar menemui Sita yang kini asyik mengobrol dengan istri dan anak bungsunya.


"Tunggu bentar ya nak Sita, Ambar lagi siap-siap" kata pak Bahrun dan masuk kedalam kamar.


"Buuuk" panggil pak Bahrun kemudian.


Buk Khadijah langsung datang menemui suaminya didalam kamar. Dilihatnya wajah pak Bahrun begitu sumringah.


"Kenapa nak Sita ngajakin si Ambar pergi pagi-pagi gini?" bisik pak Bahrun ketelinga istrinya.


"Hahaha mereka kan pacaran pak" jawab buk Khadijah pelan.


"Serius? Heee kenapa nak Sita mau sama anak itu, Hahaha. Eh tapi buk Ita bolehin anak kita pacaran sama anak dia?"


"Boleh, kami berdua udah tau lama, lagian anak kita kan ganteng siapa yang gak naksir coba"


"Iyah ganteng kaya bapaknya ya buk?"


Buk Khadijah langsung mengangguk setuju dengan perkataan suaminya. Jika Ambar dengar maka dia tidak akan terima akan hal itu. Saat suara Ambar terdengar diruang tamu, pak Bahrun langsung memanggil anak laki-lakinya.


"Mbar sini dulu"


Ambar pun langsung nurut dan menemui kedua orangtuanya yang senyum-senyum menatapnya didalam kamar mereka.


"Sini duduk dulu" pinta pak Bahrun ramah tidak seperti biasanya, Ambar duduk diantar ayah dan ibunya, pak Bahrun menepuk-nepuk pundaknya bangga.


"Kamu mau kemana sama nak Sita?" tanya pria tua itu mulai mengintrograsi.


"Tau tuh, suka-suka dia aja deh mau dibawa kemana, pagi-pagi udah______"


Pak Bahrun langsung *** mulut anaknya dengan raut wajah kesal.


"Udah syukur dia ngajakin kamu, tau diri sedikit jadi orang!" hardik pak Bahrun pelan.


"Anak gadis orang jangan di apa-apain, Paham! Bapak sama ibuk selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Jaga Sita baik-baik, moga aja kalian jodoh ya gak buk. Walau kasian nak Sita kalo sampe berjodoh sama kamu yang kerja nya tinggal kelas mulu, nakal (bla..bla..bla..)"


Ambar hanya diam mendengar perkataan pak Bahrun yang lebih kearah menjatuhkan dirinya tersebut Kantuknya belum hilang tapi dua makhluk paling berkuasa dirumah itu malah memberinya ceramah selama sepuluh menit. Buk Khadijah melihat penampilan anak lelakinya.


"Mau diajakin ke Mandau ya kamu?"


Ambar hanya mengangkat bahu sebagai jawaban agar ayah dan ibunya segera melepaskannya pergi.


"Pake sepatu baru yang ibuk beli itu ya, jangan pake sandal"


"Ah Ambar rencana mau pinjem sepatu ke sawah bapak!"


'Plak!' tangan pak Bahrun kembali mendarat dikepalanya. Buk Khadijah dan pak Bahrun memang paling peduli dengan penampilan anak-anak mereka. Salah satu contohnya dalam hal pakaian. Jika sudah buluk dan berubah warna, kedua orang tua itu langsung menggantinya dengan yang baru. Jadi saat orang asing melihat Ambar yang memiliki wajah ganteng, putih, bersih, pasti banyak yang tidak percaya jika dia hanyalah anak dari seorang petani yang hidupnya sederhana.


"Butuh berapa uangnya? Bapak gak pernah makan di mall jadi gak tau harga makanan disana" bisik pak Bahrun lagi.


Ambar langsung tersenyum sinis memandangi ayahnya.


"Sini 20rb aja!"


"Heee 20rb cukup beli apa dijaman sekarang! kayanya mahal-mahal deh pak makanan disana, 100! ntar kalo lebih kasi ke bapak kamu lagi. Beliin Sita makanan yang enak, paham!" sanggah buk Khadijah cepat.


Pak Bahrun meronggoh uang yang disimpannya dibawah kasur dan menyerahkannya pada Ambar tapi anak laki-lakinya langsung menolak.


"20rb pak, Ambar beliin dia ale-ale lima, kuaci 1 udah cukup itu!"


"Malu dong, kamu pikir nak Sita level makanannya sama kaya kamu. Oh iya kalian pake apa ke Mandau? Pinjem sepeda buk eli sana biar orang-orang tau kamu pacarnya Sita"


"Iyaa, kan kalo pake sepeda berduan bakal dikira pacaran. Bener kata bapak, ibuk pinjemin?"


Ambar langsung mencegah kedua orangtuanya, raut wajahnya makin kesal melihat ayah dan ibunya.


"Apaan sih, udah sini uangnya 20rb! Gak usah repot-repot ngurusin soal asmara Ambar. Bapak sama ibuk itu udah tua, gak ngerti cara kencan yang ekonomis itu gimana!"


Pak Bahrun dan buk Khadijah kompak bengong mendengar perkataan anaknya. Ambar mengangkat kasur tempat ayahnya menyimpan harta benda pusakanya dan mengambil uang 20rb setelah itu membawa Sita pergi.


"Aku udah ngasi tau paman Alip kita mau pinjem____"


"Naik bus aja!" potong Ambar cepat dan menggandeng tangan Sita untuk pergi ke dermaga, mencari perahu yang akan mengantarkan mereka keluar dari indahnya desa Peringi.


Saat menunggu di halte Ambar hanya diam. Dia memperhatikan orang-orang tua yang sama dengan mereka saat ini, menunggu kedatangan bus untuk mengantarkan mereka.


"Kamu marah ya?" tanya Sita pelan, dia begitu ketakutan. Belum bertemu Alif saja mood Ambar sudah buruk apalagi jika mereka saling bertatap muka. Ambar hanya tersenyum simpul, mengambil tangan Sita dan menggenggamnya erat.


"Aku kesal sama dua pemimpin dirumah tadi" jawab Ambar agar hati kekasihnya tenang.



Kendaraan yang mereka tunggu akhirnya muncul juga. Ditengah perjalanan tangan Sita tidak lepas-lepas dari lengan Ambar. Satu jam lebih lamanya perjalanan mereka menuju ke pusat kota Mandau jika menggunakan kendaraan umum. Sita mengajak Ambar ke mall yang baru saja dibuka di kota tersebut, tempat itu sesuai dengan rekomendasi Alif.


"Alifnya jam 1 nanti datang, kamu udah sarapan? Kita makan dulu gimana?"


"Lah ketemuan Alifnya aja jam 1 trus kenapa jam 7 kamu udah kerumah jemput aku?"


Sita tersenyum sumringah menatap wajah Ambar yang cemberut.


"Sengaja! biar kita kencan dulu, kalo berangkatnya siang ntar waktu kita berdua jadi singkat"


"Mending kita duduk dulu ditepi sungai dari pada kaya orang bego disini"


"Kalo disana mulu nanti kamu bosan"


"Kamu yang bosan bukan?" ujar Ambar ketus.


"Enggak! Asalkan sama kamu aku gak bakal bosan"


"Ya sama, aku juga gak bakal bosan kalo berduaan dengan kamu"


Rona merah dipipi Sita langsung keluar mendengar perkataan Ambar, lengan Ambar makin di genggamnya erat.


"Makan dulu ya sayang" bujuk Sita lembut.


"Aku puasa! Kamu aja" jawab Ambar yang masih jutek.


"Jangan gitu dong, ya ya ya kali ini aja, aku juga belum makan sayang, please"

__ADS_1


Ambar tidak bisa berbohong bahwa perutnya begitu lapar saat ini. Padahal ibuk Negara dirumahnya tadi membuatkan sarapan nasi goreng tapi karna Sita datang begitu pagi kerumahnya otak Ambar langsung blank seketika. Tapi kalau mau makan saat ini pun tidak bisa. Ambarnya malu jika harus Sita yang membayarkan makanan mereka, uang yang diberi pak Bahrun tadi juga tersisa 15ribu dikantongnya. Sita tengah asyik mengotak-atik ponselnya kemudian dia menyerahkan handphonenya pada Ambar. Meminta cowok itu membaca artikel yang baru dibukanya tersebut 'Fakta unik gaya pacaran di Jepang'. Ambar membaca setiap point yang tertulis di artikel tersebut. Setelah itu dia tersenyum dan menyerahkan handphone Sita kembali.


"Udah tau kan! Di Jepang aja yang negaranya lebih maju dari kita pacarannya gak pake gengsi-gengsian, mau di bayarin ceweknya juga gak apa-apa. Nah jadi ayoo kita makan sekarang!"


"Tadi juga ada pointnya mereka 'having sex' kalo pacarannya udah lebih satu bulan. Lah kita udah dua bulan malahan" ujar Ambar datar dengan wajah polosnya.


Sita langsung menelan ludah mendengar perkataan Ambar, gadis itu jadi gugup seketika.


"Di artikel itu juga tertulis kalo mereka gak pamer-pamer kemesraan didepan umum, mesranya didalam kamar aja!" kata Ambar lagi dan melepaskan tangan Sita yang dari tadi menempel dilengannya.


Ambar kemudian tersenyum melihat ekspresi ketakutan Sita bahkan dia nurut saat Ambar melepaskan tangannya. Padahal tadi beberapa kali Ambar berusaha melepaskannya tapi dia selalu menolak dan kembali merangkul lengan Ambar.


"Kenapa kamu? takut ya aku benar-benar melakukan seperti yang ditulis artikel itu?!" goda Ambar sambil mengangkat kepala Sita yang tertunduk malu. Sita menggelengkan kepalanya pelan, Ambar terperangah dengan jawaban gadis itu.


"Haa serius? Aku ini orangnya nekat loh!" goda Ambar lagi. Rasa takut Sita hilang seketika melihat lesung pipi Ambar. Dia balik tersenyum memandangi kekasihnya.


"Kamu mau kita melakukan semua sesuai yang tertulis di artikel itu?"


Pertanyaan Sita mampu membalikkan keadaan. Kali ini Ambar yang dibuat gugup, tapi jiwa lelakinya tidak boleh kalah pikir Ambar saat itu. Dia menatap Sita sambil tersenyum sinis.


"Mau!" jawab Ambar tegas.


"Yaudah ayooo" ujar Sita dan kembali menggenggam lengan Ambar.


Ambar langsung melangkahkan kakinya mengajak Sita pergi. Didepan salah satu restoran Ambar mengajaknya untuk masuk.


"Loh kok kesini?" tanya Sita pura-pura kaget.


"Terus kamu pikir! Tadi kan di artikelnya tertulis gitu, ya kita makan dong!"


"Hahaha tapi katanya_____"


"Ngomong itu lagi aku benar-benar khilap nih!"


"Ya gak apa-apa, biar kita langsung dinikahi!!" jawab Sita lebih tegas lagi.


"Aiiish, dasar cewek_____"


"Cewek apa??!!"


"Gak ada sih, yaudah ayo makan, kita pesan apa nih?" tanya Ambar mengalihkan pembicaraan mereka.


Sita tersenyum penuh kemenangan menatap wajah Ambar. Dia sudah yakin orang yang dicintainya itu tidak akan berani melakukan hal bejat dengan dirinya.


~~~**♡AmbarSita♡**~~~


Setelah makan jam masih menunjukkan pukul 10.30.


"Kemana lagi kita sayang?" tanya Sita dan mengikuti langkah Ambar yang mulai bersemangat.


"Masih lama Alif nya? Suruh kesini sekarang aja"


"Kemarin aku sih yang minta dia buat datang jam 1 siang hahaha" mendengar jawabannya Ambar langsung mengacak-acak rambut Sita gemas.


"Yaah jangan sayang, rambut aku jadi kusut, gak cantik lagi nanti" kata Sita melepaskan tangan Ambar dikepalanya.


"Gak apa-apa biar gak ada yang naksir kamu, cukup aku sendiri aja!"


"Ya kan aku dandan cantik-cantik buat nyenengin mata kamu, biar kamu gak malu juga jalan disamping aku" kata Sita jujur dan merapikan ikatan rambutnya. Tapi gadis itu jadi ribet sendiri setelah melepaskan ikatan rambutnya.


"Ke toilet dulu yuk, aku gak bisa ikat rambut kalo gak di sisir" ajak Sita dan menarik lengan Ambar untuk menemaninya ketoilet.


"Astaga!! Udah rapi kok itu titisan jailangkung!!"


Tapi Sita tidak percaya dan tetap mengajak pacarnya untuk menunggu didepan toilet. 10 menit lamanya Sita didalam toikte. Setelah itu Sita baru keluar dengan rambut yang sudah rapi dan kali ini bibirnya terlihat mengkilap seperti baru diolesi lipgloss.


"Sebenarnya sih enggak, tapi kan kamu yang suka"


"Kapan aku bilang gitu?"


Sita langsung manyun karna Ambar lupa dengan surat yang pernah ditulisnya waktu mereka masih kelas 2 SD dulu.


"Waktu kamu nempelin permen karet dirambut aku, habis itu kamu ngasi surat yang_____"


"Oooh.. Iya iya...Iya in aja deh, Hahaha" potong Ambar cepat. Dia baru ingat jika surat itu bukan dia yang menulisnya melainkan kak Dian jadi Ambar tidak pernah tahu jika isi nya sepeti itu.


"Tapi, aku cintanya sama hati kamu bukan rambut kamu! Jadi jangan khawatir lagi meskipun rambut kamu berantakan, paham?!"


Sita tersenyum dan menganggukkan kepalanya "Jadi kita kemana lagi nih? Timezone?" tanya Sita sekali lagi untuk menentukan tujuan mereka selanjutnya.


"Teman-teman aku lagi main futsal sekarang"


"Digedung waktu itu ya? kita kesana?" tanya Sita bersemangat.


"Ngapain, mereka rame loh!"


"Kamu malu hubungan kita bakal diketahui mereka?" tanya Sita kecewa.


"Enggak! Kamu yang aku takut bakal jadi malu"


"Aku gak malu, lagian aku udah ngasi tau Alif soal hubungan kita, tapi kenapa kamu belum?"


"Kan aku udah ngasi tahu Ismet juga"


"Emang teman kamu Ismet doang?"


"Loh adil kan? Satu-satu!"


"Adil gimana? Teman aku mah memang satu-satunya Alif"


"Hahaha kamu sih sombong dan gak mau mengakui padahal Ana, Iput_____" Ambar tidak bisa melanjutkan kata-katanya karna Sita sudah berjalan duluan dengan raut wajah cemberut.


Ambar segera menyusul gadis tersebut.


"Sini tangannya aku pegang, truck aja gandengan masa kita kalah, jadi kita ke tempat mereka nih? Kamu yakin?" tanya Ambar berusaha membujuk gadis itu.


"Yakiiiin" rengek Sita manja.


"Yaudah sekalian ajak Alif buat ketemuan disana aja ya"


Sita mengangguk dan mengikuti langkah Ambar. Sesampainya didepan gedung futsal yang pernah mereka kunjungi. Suara berisik cowok-cowok yang sedang berlari-lari bahkan teriakan keras terdengar dari luar gedung. Sita begitu gugup tapi genggaman tangan Ambar mampu memberikan kepercayaan diri untuknya. Semua mata cowok-cowok berkisar 15 orang tersebut langsung beralih kearah orang yang baru masuk. Ambar menggandeng kekasihnya dengan mesra. Arul sampai terbatuk dan mendekati temannya yang baru datang tersebut. Dia memandangi kedua sejoli itu dengan heran. Khaidir dan thalib pun ikut datang mendekat. Sita hanya mampu menundukkan kepala


"kenapa rekasi teman-teman Ambar pada lebay semua" gumamnya didalam hati.


"Kam...Kamu ngapain sama Sita?" tanya Arul gelagapan.


Kini cowok-cowok yang tinggal di Peringi hilir datang mendekati mereka, semua juga menanyakan hal yang sama. Ambar melirik kearah pacarnya yang tangannya mulai basah digenggaman Ambar.


"Hahaha kenapa sih kalian, udah sana main lagi. Aku tadi habis kencan sama Sita, jadi karna tahu kalian disini_____"


"KENCAN!!" potong semuanya kompak


"Anjir! Tutup kupingnya sayang, bisa budek nanti" ujar Ambar dan menutup telinga Sita dengan kedua tangannya. Semua teman-temannya semakin membelalakkan mata melihat tangan Ambar yang berpindah ketelinga Sita.


"Aduh si Ambar.... Met sini met, kamu liat teman kamu ini!" panggil Abdul.


"Hahaha udah tau kok, telat kalian, ayoo lanjut lagi" teriak Ismet ditengah lapangan.

__ADS_1


"Waah... Ambar, main belakang ya sama abang Abdul! Jadi gitu, yang dikasi tahu cuma Ismet doang! Anjiir, pantesan pas diajak bergabung kedalam kelompok Anti-Alif kamu nolak ya! Harusnya Anti-Ambar nih waaah keduluan kita guys!" umpat Abdul kesal dan memukul kepala Ambar yang hanya senyum-senyum dengan tingkah teman-temannya.


"Iya nih! Wah kamu mbar jadi niat kamu datang kesini mau pamer sama kami? Gilaak patah hati se-Peringi ini namanya!" komentar Thalib penuh kekecewaan.


"Udah kalian sana main lagi. Pacar aku jadi takut niih!"


"Gak bisa ini, kami minta PJ dong, ya gak guys, setuju gak? Ambar wajib kudu kagak pake sunah ngasi kita PJ ya guys!" ujar Abdul lagi


"Sita nunduk mulu! Klarifikasi dong sama kami-kami, kenapa Sita milih Ambar dari pada kami!"


"Iya! Aku mau dikasi PJ sama kamu mbar untuk mengobati hati aku yang patah karna kamu" sahut Thalib kecewa.


"Keren kamu ya mbar! Berhasil dapatin hati Sita! Cewek yang dulunya sering kamu usili, kamu buat nangis, lah aku sama Ana sampai detik ini masih bertepuk sebelah tangan aja" keluh Ujang lemah.


Semua teman-teman Ambar yang tadinya masih menuntut PJ pada kedua sejoli tersebut langsung menjauh tanpa diberi aba-aba. Bagi mereka jika Ujang sudah curhat soal asmaranya sama hal nya seperti anak Punk di suruh mendengar lagu Balada.


"Kamu jangan kabur mbar, PJ nya masih kami tuntut sampe ke liang lahat loh ya!" teriak Abdul yang kini sudah berada didelam lapangan lagi.


Ambar hanya mengangguk dan meminta Sita duduk. Khaidir, Thalib dan Arul yang tidak ikut bermain juga ikutan duduk didekat Ambar dan Sita. Mereka masih meminta Ambar menceritakan kapan mereka jadian. Dengan sabar Ambar menjawab semua pertanyaan-pertanyaan teman-teman berotak setengahnya itu. Sedangkan Sita hanya diam memandangi kekasihnya yang asyik ngobrol dengan mereka. Setelah selesai bermain semua langsung pergi ke taman yang ada didepan gedung tersebut. Mereka masih menuntut PJ dari Ambar dan Sita.


Tiba-tiba handphone Sita berbunyi, panggilan dari Alif. Sita memperlihatkan handphonenya pada Ambar untuk memberi tahunya.


"Angkat aja, suruh kesini" pinta Ambar lembut.


Sita tetap diam dan duduk disamping Ambar, dia jadi tidak berani membuat gerakan karna semua teman-teman Ambar tengah memandangi mereka sedari tadi. Karna tahu pacarnya gugup Ambar pamit dengan teman-temannya.


"Mbar, nanti malam ke balai ya, kami masih tunggu loh" teriak Khaidir. Untung semua teman-teman Ambar begitu pengertian dan saling mendukung satu sama lain. Anti Alif sudah pasti bubar dan untuk diganti ke Anti-Ambar rasanya tidak akan mungkin.


~~~**♡AmbarSita♡**~~~


"Kata Alif tunggu direstoran didepan gedung futsal aja" kata Sita memberitahu.


Ambar hanya menganggukkan kepala setuju. Lagian perutnya memang sudah lapar kembali, tapi otaknya juga sedang berpikir keras apa yang harus dia bahas dengan Alif nanti. Lima menit kemudian sebuah mobil hitam terparkir didepan halaman resto. Alif keluar dari dalam mobil dan mendekati meja mereka. Ambar langsung menyodorkan tangannya pada Alif dan tersenyum dengan ramah untuk menghilangkan kecanggungan hubungan mereka berdua.


"Udah pesan makanan? Aku tidur di tempat ayahku sama ibuk, jadi pinjem mobil dia soalnya motor tinggal di rumah" ujar Alif sambil duduk dihadapan Ambar dan Sita.


"Ouh gitu, yaudah kita pesan makanan aja sekarang, kami juga belum makan siang" jawab Sita sambil tersenyum ramah dengan temannya itu.


Sambil menunggu makanan mereka datang, dua cowok itu hening tidak bersuara. Justru Sita yang pendiam jadi banyak bicara. Sampai mereka selesai makan baru Alif mengeluarkan suaranya.


"Aku bisa ngomong berdua dengan Ambar?' tanya Alif pada Sita.


"Haa? Kenapa?" tanya Sita yang ragu membiarkan keduanya mengobrol.


"Oh boleh, dimana?" tanya Ambar ramah sambil berdiri dari kursinya.


Sita langsung menggenggam tangan Ambar, jantungnya berdegup begitu kencang, takut keduanya malah baku hantam lagi seperti dulu.


"Udah gak apa-apa, aku kan temannya Alif sekarang, ya gak bro?" ujar Ambar meyakinkan kekasihnya.


Alif menganggukkan kepala dan tersenyum melihat raut wajah Sita. Keduanya kemudian pergi keluar resto. Alif duduk dihadapan Ambar dan tersenyum sinis menatap cowok tersebut.


"Sebenarnya gue gak ada niat buat jadi teman lu, tapi ini semua demi Sita!" ujar Alif ketus.


Ambar tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Alif.


"Kamu sayang banget ya sama Sita sampe mau pura-pura berteman sama aku?" tanya Ambar santai.


"Mungkin rasa sayang gue ke Sita melebihi lu!"


Ambar berusaha untuk terus sabar dengan ucapan Alif yang sekarang ngomongnya sudah pakai Lu-Gua seperti orang Jakarta semenjak dua kakaknya kuliah disana.


"Seandainya lu sakitin Sita sedikit aja maka lu akan berhadapan dengan gua! Paham!"


"Sangat paham" jawab Ambar cepat.


"Sampai kapan pun gua akan terus ada disamping Sita. Mengawasi dia, jadi mau tidak mau lu harus jaga sikap jangan sampai menyakiti Sita!"


"Mohon maaf, siapa yang harusnya ngomong itu sekarang? Aku pacarnya loh, bisa aja aku nyuruh Sita ngejahuin kamu setelah ini"


"Yakin?! Sita bakal nuruti kemauan lu itu!" tanya Alif sinis.


"Sangat yakin! diantara kita aja dia lebih milih aku dari pada kamu. Jadi nyuruh dia menjauhi kamu itu hal yang mudah bagi aku"


Mendengar jawaban Ambar, Alif langsung menarik krah bajunya.


"Kamu mau kita baku hantam disini? Aku sih gak apa-apa, tapi Sita? Kamu ingin buat dia nangis?"


Dengan terpaksa Alif melepaskan tangannya dan kembali ke tempat Sita. Ambar mengikutinya dari belakang.


"Kalian kemana setelah ini?" tanya Alif untuk menghilangkan kecurigaan Sita. Gadis itu hanya diam, matanya masih focus memandangi Ambar yang tengah memperlihatkan senyum palsunya.


"Aku mau pergi juga sama ibuk ke mall. Oh ya makannya biar aku aja yang bayar, tadi Ambar minta gitu saat kami ngomong berduaan. Katanya uangnya gak ada, ya gak bro?"


Ambar semakin tersenyum mendengar sindiran Alif.


"Iya makasih ya bro, tadi juga Sita kok yang bayarin makan kami" jawab Ambar santai.


Alif semakin kesal dengan sikap Ambar yang masih saja terlihat santai. Tujuannya ingin membuat emosi Ambar pecah tapi justru hatinya yang makin panas. Saat Alif akan pergi Ambar langsung menarik tangannya.


"Sekalian kasih uang dong bro, kasian uang aku gak cukup buat bayarin ongkos Sita"


"Loh ya udah Sita pulang bareng aku aja kalo gitu" kata Alif sumringah dan langsung menawarkan diri.


"Gimana sayang? Kamu pulang bareng Alif aja ya" tanya Ambar dan melirik kearah Sita yang tengah heran dengan tingkah keduanya. Sita menggelengkan kepalanya pelan yang membuat Ambar tersenyum sumringah dengan jawabannya.


"Nah kamu liat sendiri kan?!" bisik Ambar ditelinga Alif kemudian meminta Sita untuk berdiri.


"Makasih ya lif, traktirannya!" ujar Ambar dan langsung mengajak Sita pergi.


Sita hanya mengikuti langkah kaki Ambar yang berjalan begitu cepat. Mau bertanya pun dia takut karna wajah Ambar terlihat begitu menyeramkan. Melihat Sita kesusahan mengikuti langkah kakinya Ambar langsung berhenti dan memandangi Sita.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Ambar jutek.


"Tadi.... Alif ngomong apa?" tanya Sita ragu.


"Dia ngasi peringatan. Katanya 'Tolong jaga Sita baik-baik. Aku sayang banget sama dia dan Sita nya cinta banget sama kamu!' itu doang" Sita tetap tidak percaya dengan perkataan Ambar.


"Kenapa kamu gak percaya?" tanya Ambar sinis.


Sita langsung menganggukkan kelapa sebelum kekasihnya itu semakin marah. Ambar tersenyum dan membelai pipinya.


"Ti Amo!" bisik Ambar lembut ditelinga Sita.


Gadis itu langsung tersenyum dan menggandeng pacarnya.


"Aku belum mau pulang, masih pengen berduaan sama kamu yaa" pintanya pada Ambar.


"Kita mau kemana lagi? Kalo balik keperingi gimana?"


"Itu mah namanya pulang, gak mau!!" rengek Sita manja.


"Enggak, duduk di sungai indah kita, kepala aku pusing kena panas"


Sita mengangguk setuju dan mengikuti langkah Ambar menuju ke halte. Menunggu bus yang mengantarkan mereka kembali ke dermaga.


__ADS_1


__ADS_2